06 December 2011

Perpit Pecah, Kiki Barki Bikin Kongres



Perhimpunan Pengusaha Tionghoa Indonesia (Perpit) dilanda perpecahan. Konflik yang awalnya hanya sekadar bisik-bisik internal kini mencuat ke permukaan. Kedua kubu Perpit saling memasang iklan di media massa dan mengklaim sebagai paling sah.

Melalui kuasa hukumnya, Otto Cornelis Kaligis, Perpit versi Tahir memasang iklan besar-besar di koran pada Senin (5/12) lalu. OC Kaligis menilai kongres Perpit versi Kiki Barki di Jakarta pada 7 Desember 2011 di Sun City Restaurant, Jakarta, sebagai 'tidak sah dan ilegal.

Alasannya: "kongres itu dibuat oleh pihak-pihak yang tidak berwenang secara hukum dan telah mengatasnamakan Perkumpulan Perpit yang sah".

Seperti diketahui, kedua kubu Perpit yang diperkuat pengusaha-pengusaha besar keturunan Tionghoa terlibat sengketa kepengurusan sejak setahun terakhir. Baik kubu Tahir maupun Kiki Barki mengklaim sebagai pengurus Perpit ang sah. Sengketa pun sampai ke meja pengadilan.

Gugatan perdata dilayangkan melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan nomor perkara 339/Pdt.G/2010/PN.Jkt.Pst. Hingga saat ini, menurut OC Kaligis, sengketa perdata ini belum berkekuatan hukum tetap. "Perkara tersebut sedang dalam proses pemeriksaan di tingkat banding," tegas Kaligis.

Menanggapi kisruh Perpit di tingkat pusat, Liem Ouyen dari Perpit Jawa Timur menanggapinya dengan santai. Menurut dia, Perpit Jatim tetap mengikuti kongres yang diadakan kubu Kiki Barki pada 7 Desember 2011. "Sebab, yang melantik kepengurusan Perpit Jatim di Surabaya, ya, Kiki Barki. Jadi, kami tetap datang ke kongres karena diundang secara resmi," ujar Liem Ouyen kepada saya.

Perpit Jatim, yang berkantor di markas Yayasan Bhakti Persatuan, Jl Kertajaya Indah Timur 31 Surabaya, ini bahkan mengirim tujuh delegasi ke kongres di Jakarta. Selain Liem Ouyen, terdapat nama-nama seperti Ridwan S Harjono (ketua), Budi Wijaya, Sutrisno Alim, Ming-Ming, dan Arief Harsono. Mereka tetap komit mendukung Kiki Barki sebagai ketua umum DPP Perpit periode 2012-2015.

"Cara berorganisasi orang-orang Jakarta itu memang beda dengan kita di Surabaya. Jadi, kelihatan seperti tegang terus. Kalau kita di Perpit Jatim sih sejak dulu selalu seia sekata," kata Liem Ouyen lantas tertawa kecil.

1 comment:

  1. Sebenarnya perhimpunan pengusaha Tionghoa ini tidak tepat jaman. Sebaiknya pengusaha itu berorganisasi menurut industrinya, profesional menurut profesinya, yang tidak memandang kelompok etnis. Kalau mau berkumpul secara etnis kan sudah ada INTI, perhimpunan marga, dll. seperti orang Batak dan Padang juga begitu. Kalau terkotak-kotak begitu malah mudah jadi target kebencian. Kalau mau bertemu informal, sebenarnya lebih baik, seperti "meetup" kalau di USA.

    ReplyDelete