15 December 2011

penerjemah mandarin di pengadilan

banyak orang di surabaya yang fasih berbahasa mandarin. namun belum banyak orang yang bisa dimintai jasanya menjadi penerjemah mandarin dalam urusan hukum.

karena itu, aparat penegak hukum sering kali kesulitan menghadapi tersangka atau terdakwa yang berasal dari taiwan atau tiongkok. seperti diketahui, orang-orang dari negeri naga itu juga tidak bisa berbahasa inggris.

karena itu, selama ini pihak kepolisian atau pengadilan biasanya memanfaatkan jasa 'relawan' yang bersedia menjadi penerjemah. salah satunya liauw sin lan alias lanny candra dari yayasan pelita kasih.

"saya beberapa kali duduk di samping terdakwa di pengadilan negeri. mungkin orang mengira saya ini ikut jadi terdakwa. hehehe...," kata," kata lanny pekan lalu.

menurut lanny, menjadi penerjemah mandarin dalam kasus hukum agak berbeda dengan pemandu wisata atau sekadar penerjemahan biasa. sebab, adistem hukum di indonesia yang berbeda dengan negara asal si terdakwa. konsep itu harus bisa dijelaskan dengan baik. untungnya, lanny sendiri sudah 10 tahun lebih mendampingi para tahanan dan terdakwa di penjara-penjara di jatim.

"kita meskipun bukan ahli hukum, tapi harus mengerti hukum. itu akan memudahkan kita ketika mendampingi mereka di persidangan," kata wanita yang aktif melakukan pelayanan rohani dan bakti sosial itu.

selain itu, menurut lanny, seorang penerjemah sebaiknya menguasai beberapa dialek bahasa tionghoa, tidak hanya mandarin sebagai bahasa nasional. ini karena banyak tersangka yang enggan berbahasa mandarin dan hanya mau bicara dalam dialek setempat.

"memang di dunia hukum itu liku-likunya banyak karena kita menghadapi jaringan internasional," kata lanny yang fasih beberapa dialek tionghoa itu.

bagi orang tionghoa di indonesia, menurut dia, bahasanya orang-orang dari tiongkok bagian selatan seperti guangdong, fujian, taiwan, atau hongkong lebih mudah ditangkap ketimbang dialek orang-orang utara.

No comments:

Post a Comment