09 December 2011

Intoleransi di Jalan Raya

Minggu pagi (4/12/2011), saya ikut 'mengawal' peserta jalan sehat Hari Jadi Korpri di Sidoarjo. Acara tahunan ini diikuti sekitar 2.000 orang, termasuk Wakil Bupati Sidoarjo Pak Hadi Sutjipto. Ada hiburan dangdut, undiah berhadiah sepeda pancal, sepeda motor, dan sebagainya.

Masyarakat biasanya senang dengan acara-acara macam ini karena ada iming-iming hadiah. Tapi banyak juga yang senang demi kesehatan. Asyik, jalan ramai-ramai! Jalan sehat pun bisa jadi ajang promosi yang efektif di Jawa Timur. Maka, saya lihat ada konter Axis, Teh Pucuk Harum, Anlene, Yamaha, Kopi Ya, koran, dan aneka produk kerajinan.

Namanya juga jalan sehat, tentu saja rombongan menggunakan sebagian ruas jalan raya. Mulai dari alun-alun, Ahmad Yani, Gajah Mada, belok ke Salutan, Diponegoro, Sultan Agung, kembali ke alun-alun. Saya lihat peserta mulai anak-anak hingga lansia, termasuk anggota Taijiquan dan Ling Tien Kung berjalan dengan penuh semangat.

"Kita ingin sehat, Mas. Saya nggak pernah punya mimpi dapat hadiah," kata seorang aktivis taijiquan. Pria 70-an tahun ini memang semangatnya bukan main. Jalannya cepat dan terlihat segar meski usianya tidak lagi muda.

Sayang, pengguna jalan raya, khususnya pengendara mobil, rupanya kurang toleran. Mereka seperti terganggu dengan jalan sehat. Padahal, peserta hanya menggunakan beberapa meter saja badan jalan. Itu pun tidak lama. Acara jalan sehat tidak pernah lebih dari 60 menit karena rutenya memang pendek.

Di Jl Diponegoro, saya mengawal beberapa rombongan peserta untuk menyeberang. Tentu saja lewat zebra cross, bukan menyeberang secara ngawur. Sudah seharusnya pengguna mobil itu mengalah sesaat, kasih kesempatan kepada peserta jalan sehat untuk menyeberang. Tapi beberapa pengendara mobil tidak mau tahu. Nyelonong saja meskipun peserta ramai-ramai mengangkat tangan tanda meminta mobil berhenti.

Saya pun geleng-geleng kepala. Untungnya setiap hari Minggu lalu lintas tidak sepadat hari-hari biasa. Maka, peserta tetap bisa dapat celah untuk menyeberang untuk beralih ke Sultan Agung, kawasan kantor pos. Andaikan jalan sehat ini diadakan pada hari kerja, bisa jadi ada peserta yang tersenggol atau mendapat celaka.

Begitulah. Sudah sangat lama saya merasakan kian tipisnya toleransi di jalan raya. Orang-orang yang jalan kaki sering tidak direken oleh pengendara mobil atau motor. Sangat susah menyeberang, bahkan di zebracross sekalipun. Kita jadi malu ketika ada orang Barat, wisatawan, yang kebetulan datang ke Surabaya, Sidoarjo, atau kota-kota lain di Jawa Timur.

"Saya ngeri nyetir mobil di Surabaya dan Sidoarjo. Rasanya deg-degan," kata Christine, warga negara Swiss, yang sering berkunjung ke Sidoarjo. Yah, kita mau bilang apa?

Kalau tidak salah, di negara-negara lain pejalan kaki sangat dihormati sebagai manusia. Pengendara mobil atau motor otomatis berhenti atau memperlambat laju kendaraan ketika melihat ada orang yang hendak menyeberang di zebracross. Orang Barat atau Singapura atau Hongkong, yang sering dicap individualis oleh kita itu, justru lebih humanis di jalan raya.

Yang terjadi di Surabaya atau Sidoarjo terbalik. Ketika melihat ada orang yang hendak menyeberang di zebracross, mereka justru mempercepat laju kendaraan. Sama sekali tidak memberi kesempatan sedikit pun kepada manusia untuk menyeberang. Orang-orang di Jawa bahkan lebih takut menabrak kucing ketimbang manusia.

Kalau menabrak kucing, bisa kualat, sementara menabrak manusia, ya, tabrak lari. Toh, tidak ada kamera yang merekam peristiwa semacam itu. Di jalan raya itulah, potret manusia Indonesia tergambar dengan sangat jelas.

1 comments:

  1. setuju banget deh eman diluar negeri pejalan kaki sangat dihormati

    ReplyDelete

Silakan menulis komentar Anda di dalam kotak.Terima kasih banyak.