14 December 2011

hp tiongkok di negara konsumen

Apa boleh buat, rupanya kita sudah ditakdirkan sebagai bangsa konsumen. bukan produsen. Lihat saja saat ini: berbagai barang di toko, mal, plaza, khususnya yang terkait gaya hidup sebagian besar impor.

Telepon seluler (hp) impor. mobil. motor. laptop. komputer. bahkan barang kecil-kecil macam pisau, penitian bolpoin, gunting, mainan anak saat ini dikuasai made in china.

Tiongkok memang piawai membuat barang-barang murah. apa saja dari peniti hingga motor, hp, komputer, hingga mesin pembangkit listrik. Murahnya bukan main. Mesin perahu nelayan di sidoarjo misalnya yang buatan cungkuo lima kali lebih murah ketimbang made in japan.

Bulan lalu ada bursa hp china di kawasan waru, dekat bandara juanda. saya mampir. Akhirnya, tergoda dengan huawei g6611. harganya cuma 200 ribu. Padahal, huawei ini punya fitur lengkap. Internetnya bagus, bisa dipakai ngeblog seperti yang saya lakukan ketika menulis catatan ini. Kekuatannya bagaimana?

Kalau kita banting ya pasti rusak. TTergantung perawatannya aja, kata si nona spg huawei cengengesan.

Begitulah. Barang-barang made in china memang terkenal dengan imejnya yang buruk. Murah tapi mutu tidak dijamin. dipakai beberapa kali kemudian jadi sampah. Kemudian beli lagi. Toh murah meriah.

HP huawei sendiri dirilis saat piala dunia 2010. Waktu itu harganya 750-an ribu. Kurang setahun Kemudian tinggal 230-an di pasar kaki lima. Ini makin memperburuk citra produk-produk tiongkok.

Saya sering merenung sendiri: mengapa manusia-manusia indonesia tidak bisa bikin hp murah? Laptop murah? komputer murah?

Mengapa kita selalu melecehkan produk2 tiongkok yang justru sangat menolong orang indonesia yang penghasilannya sedikit? Kita sering terlalu pintar bicara, jago kecam, tapi lupa berproduksi. Sementara di depan mata kita produk-produk asing berseliweran di jalan raya kayak toyota, daihatsu, honda, yamaha, suzuki, dan entah apa lagi.

Sebuah bangsa yang mengabaikan produksi, begitu kira-kira kata pramoedya ananta tour, niscaya menjadi objek pasar bangsa-bangsa lain.

4 comments:

  1. Sebenarnya jaman sekarang mau bikin pabrik handphone itu mudah, gak lebih rumit daripada bikin TV. Indonesia kan ada pabrik TV, radio (National Gobel, joint venture dengan Panasonic) yang dikelola dengan manajemen sistem Jepang. Ini bukan teknologi tinggi lagi, melainkan low-value-added manufacturing. Tapi kalau mau bersaing di bidang manufaktur dengan Tiongkok, susah bo, karena negara Tiongkok mengandalkan strategi merkantilisme, dengan sengaja menurunkan nilai mata uangnya agar bisa ekspor dan memberi makan semilyar lebih penduduknya. Jadi ya semacam subsidi pemerintah untuk industri manufaktur lah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf Mas, sampeyan kok seperti Yang Mulia Mantan Presiden RI Bapak Prof. Dr. Ing.Habibie, semuanya dianggap gampang, kecuali bikin pesawat terbang. Kalau pesawat terbang value-added ( wertschoepfung )
      jauh lebih tinggi begitukah ? Jadi kita tidak perlu tanam cabai atau bikin garam ? Satu kapal terbang bisa beli ratusan juta ton garam dan cabai, begitukah logikanya ? Jadi semua penduduk Indonesia dididik jadi insinyur teknologi tinggi, bagus sekali jika mampu. Kalau semuanya gampang, cobalah bikin sendiri, supaya kita tidak perlu mengimport peniti, jarum, pukat ikan, bolpoin, dll dari negara China.
      Sampeyan tulis Tiongkok sengaja menurunkan nilai mata uangnya, kok cara pikirnya seperti Obama. Jika yang sampeyan tulis benar adanya, maka saya akan ber-teriak2 Alhamdulillah. Saya ini hidup di Tiongkok, tetapi terima uang pension berupa Euro. Tahun 2002 sampai 2011 kalau saya tukar uang Euro ke Renminbi, kurs-nya 1 banding 11 sampai 14.
      Sekarang kalau tukar hanya dapat 1 banding 7. Malah kadang2 dibawah 7. Berapa persenkah naiknya nilai kurs RMB terhadap Euro atau US$ ? Toh RRT masih sanggup memberi makan kenyang kepada penduduknya. Bikin mobil juga gampang, teknologi uzur, sejak zaman Daimler, Benz dan Henry Ford, lho kok tadi pagi Yang Mulia Presiden RI Bapak Jokowi pergi kepabrik mobil Proton di Malaysia, minta tolong supaya Proton sudi buka pabrik mobil di Indonesia ? Padahal Proton tahun 1983 cuma nyontek dari Mitsubishi Lancer. Orang2 China di Tiongkok sifatnya juga selalu menganggap semuanya serba gampang, keminter, nge-khiang, istilah engkoh2 Surabaya. Mereka mulai coba2 nyontek bikin mobil, design Eropa dan Jepang pun ditiru tanpa malu.
      Walaupun hasilnya mula2 jelek, tetapi pelan2 diperbaiki, sehingga mobil2 China produksi tahun 2014, kualitas dan modelnya tidak kalah lawan Proton atau Tata, dan harganya murah terjangkau oleh masyarakat menengah. Orang Cina keminter ( sok pinter ) tetapi mereka berusaha, membikin, merealisasikan apa yang ada dibenaknya.
      Orang Indonesia pinter sungguh2, tetapi kepinterannya hanya disimpan diotak, tangannya tidak bergerak, hanya bibir dan lidah yang bergoyang.

      Delete
    2. Matur nuwun Xiangshen selalu nulis komentar yg mendalam dengan argumentasi, data, serta analisis yg bagus. Semoga selalu sehat dan diberkati Tuhan di negeri Zhongguo agar bisa mengupas berbagai isu di Yinni. Selamat menikmati teh pahit.

      Delete
  2. Mobil Made in Germany memang sangat bagus, orang Jerman sangat bangga. Bolehlah mereka bangga, tetapi mereka harus fair, jika mengkritik mobil Made in China.
    Mobil pertama saya adalah VW Kodok produksi tahun 1970, lalu Toyota Cressida,
    Mitsubishi Pajero, Lada Taiga, Hyundai Accent, Chrysler Voyager, Opel Sintra, Renault Modus, dan sekarang saya memiliki mobil Made in China, Zhongtai.
    Dulu saya tidak pernah takut mengendarai mobil2 : Jerman, Jepang, Russia, Korea, Amerika atau Prancis. Selalu merasa aman, save, percaya seratus persen kepada orang bule dan Jepang. Karena zaman itu tidak ada YouTube, jadi tidak pernah melihat hasil Crash-Test di Video. Sekarang melalui YouTube baru saya sadar, bahwa VW kodok tahun 1970 kalau di Crash juga tinggal buntutnya, seperti mobil China. Opel juga sami mawon, mungkin karena diproduksi di GM Amerika.
    Ketika orang China tahun 2011 ingin menjual mobil Zhong-hua dan Jiangling ke Eropa, maka oleh orang Jerman di Crash Test, hasilnya fatal, tinggal buntutnya.
    Mobil Made in China ditertawai, diejek, tidak boleh dijual di Eropa, kecuali di-Holland. Terus ditayangkan di TV, dengan komentar : Mau mati naik mobil China ? Dibuatlah perbandingan, lihat hasil Crash Test BMW serie 7. BMW cuma penyet hidungnya. BMW 7 harganya yang termurah 97.000 ,- Euro, sedangkan Zhonghua harganya 8000,- Euro. Mana boleh membandingkan Muhammad Ali dengan Tan Kok Liem atau Djoni Bolang. Mobil China saya sekarang Zhongtai memang harus diakui, kualitasnya jelek sekali, tetapi murah, asal bisa jalan, tergantung pengemudinya, alon alon asal kelakon. Tetangga saya naik Mercedes
    S Class baru gres juga mati, karena nabrak pohon dipinggir jalan.

    ReplyDelete