01 December 2011

Wisata Lokal yang Sepi



Pantai wisata Parangtritis, Jogjakarta.



Sejak bulan lalu, hampir setiap hari, banyak iklan di surat kabar yang mempromosikan wisata akhir tahun. Setelah saya cek, hampir 100% iklan itu mengajak orang Indonesui untuk melancong ke luar negeri.

Eropa, Amerika, dan negara-negara Asia, khususnya Tiongkok, Taiwan, Hongkong, atau Makau, masih jadi favorit. Timur Tengah laris dengan wisata rohani, khususnya tempat-tempat ziarah yang dianggap penting untuk umat kristiani. Misalnya, Yerusalem, Bethlehem, Mesir, dan sebagainya.

Lantas, adakah iklan-iklan yang mempromosikan tempat-tempat wisata dalam negeri? Tidak ada. Biro-biro perjalanan wisata sejak dulu memang sangat jarang mempromosikan destinasi lokal atau nasional. Orang Indonesia selalu dikondisikan untuk jalan-jalan ke luar negeri, kemudian membagikan pengalaman lewat tulisan atau foto-foto di media massa.

Seakan-akan destinasi asing itu begitu hebatnya. Tulisan-tulisan tentang perjalanan pun ibarat iklan pariwisata yang lebih hebat ketimbang iklan asli yang dibuat negara tersebut. Karena itu, saya tidak pernah membaca tulisan-tulisan macam itu. Saya lebih suka membaca tulisan-tulisan Agustinus Wibowo, yang juga doyan jalan-jalan ke negara yang 'tidak lazim' macam Afghanistan, Pakistan, Tajikistan, Turkmenistan, dan negara-negara lain yang 'sangat menantang'.

Taman Nasional Komodo di Kabupaten Manggarai Barat, NTT, sempat mencuat gara-gara polemik seputar New7Wonder yang kontroversial itu. Tiba-tiba saja orang rajin bicara binatang purba yang memang sangat langka itu. Sayang, seperti biasa, semuanya 'omdo': omong doang. Tak ada usaha yang sistematis dan serius untuk menggairahkan pariwisata di dalam negeri. Padahal, kata orang-orang Barat, Indonesia ini punya kekayaan alam, kekayaan budaya... yang bisa menghidupkan bisnis pariwisata.

"Sulit Bung, fasilitas pendukung wisata di dalam negeri belum memadai," kata Bung Eddy, pelaku bisnis pariwisata. Fasilitas itu macam-macam: penerbangan reguler, kemudahan transportasi, akomodasi, dan sebagainya.

Bukankah semua provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia sudah punya Dinas Pariwisata?

"Hehehe... Dinas Pariwisata di mana-mana cuma sekadar pajangan. Bahkan, jadi semacam dinas untuk menampung pejabat-pejabat di daerah yang sengaja 'dibuang'. Dinas Pariwisata tidak pernah dikelola secara profesional. Anda ini kayak nggak tahu aja," tukas Bung Eddy.

Komentar Bung Eddy tidak memang tidak mengada-ada. Saya melihat sendiri suasana kerja di dinas-dinas pariwisata di Jawa Timur. Benar-benar jauh dari profesional. Kantornya tidak menarik, pegawai-pegawai dan pejabat-pejabatnya kurang kompeten di bidang pariwisata. Belum bicara alokasi anggaran.

"Anggaran untuk pariwisata itu di mana-mana paling rendah di semua kabupaten," kata seorang mantan pejabat di Surabaya. "Bagaimana kita mau mengangkat pariwisata di dalam neger?"

Kementerian Pariwisata, ketika menterinya masih Jero Wacik, memperkenalkan jargon KENALI NEGERIMU, CINTAIMU NEGERIMU. Tapi, seperti biasa, jargon pejabat tetap saja jargon. Tanpa ada perbaikan infrastuktur dan fasilitas-fasilitas pendukung, kita akan sulit menandingi arus kunjungan wisatawan ke Singapura, misalnya. Negara tetangga superkecil yang sebenarnya tidak punya kekayaan alam sehebat Indonesia.

1 comment:

  1. Aduh Bung Hurek, sampeyan kan paham sifat manusia. Beruk dihutan disusui.
    Jika dua nonik rumahan ngobrol: Eh, Yee liburan kemana ? Ik diajak papi n mami ke Norwegia, Swedia n Finnlandia. Nah, Yee kemana ? Papi bilang mau ke Sabu, Rote n Waingapu. Eh, bilang2 Sabu n Rote itu apaan sih.
    Mana yang lebih gengsi dari kedua orang nonik tersebut ?

    ReplyDelete