16 November 2011

Sanggar Clarissa Gedangan



Setelah tiga tahun absen, karena harus mengurus anaknya yang masih balita, Afrisia Syarah Devi kembali menghidupkan Sanggar Clarissa. Sanggar yang bermarkas di Gedangan ini tetap fokus di dunia tari dan modeling.

Pendapa Kecamatan Gedangan setiap akhir pekan, Sabtu dan Minggu, kini lebih meriah dari biasanya. Sekitar 20 anak dan remaja terlihat antusias berlatih aneka jenis tarian. Kadang diselingi dengan latihan lenggang-lenggok layaknya model profesional.

"Saya menghidupkan kembali Sanggar Clarissa karena permintaan dari anak-anak dan orangtua mereka. Katanya, sudah kangen berlatih lagi bersama saya," tutur Devi, sapaan akrab Afrisia Syarah Devi, kepada saya di sela latihan, pekan lalu (13/11/2011).

Devi, yang berdarah Aceh ini, sebetulnya tak asing lagi di kalangan pembina seni tari di Kabupaten Sidoarjo. Sempat menjadi anggota Sanggar Delta Tivikrama, Devi kemudian berguru 'ilmu menari' di Padepokan Bagong Kusudiardjo (almarhum) di Jogjakarta.

Setelah merasa cukup mampu, Devi kemudian merintis sanggar tari di kawasan Gedangan. Misinya sederhana saja: ingin memberikan kesibukan yang positif kepada anak-anak dan remaja di kawasan Gedangan dan sekitarnya. Apalagi, di tahu kalau banyak remaja kita yang punya bakat menari.

"Tapi, karena tidak punya modal, ya, saya minta izin menggunakan pendapa kecamatan untuk latihan. Alhamdulillah, ternyata anak-anak antusias mengikuti latihan-latihan yang saya adakan," kenang Devi.

Dimulai dengan beberapa gelintir siswa, Sanggar Clarissa tumbuh dengan cepat. Devi mengaku sempat kewalahan karena siswanya pernah menembus angka 80 orang. Jumlah yang tidak sedikit untuk ukuran sanggar berusia muda.

"Saya memang sengaja membidik anak-anak dari keluarga kelas menengah ke bawah. Makanya, latihan di pendapa sehingga biayanya bisa sangat murah. Beda kalau saya buka sanggar di ruko atau perumahan," kata ibu lima anak ini seraya tersenyum.

Sayang, perjalanan Sanggar Clarissa sempat terhenti gara-gara Devi harus mengurus anaknya yang masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Awalnya, dia ingin sanggar tetap jalan meski dibimbing oleh instruktur-instruktur lain.

"Tapi rupanya anak-anak itu maunya saya yang terjun langsung. Tentu saja sangat sulit karena anak saya kan masih kecil banget," kata wanita yang pernah terpilih menjadi Pemuda Pelopor tingkat Jawa Timur ini.

Sebagai orang yang bertahun-tahun bergelut dengan dunia tari, Devi sendiri pun mengaku kangen dengan dunia yang asyik ini. Maka, ketika sang buah hati sudah mulai agak besar, dia kembali menghidupkan sanggarnya. Mantan anak-anak asuhnya di Clarissa, yang sempat vakum latihan, pun berdatangan.

"Sekarang kami lagi persiapan untuk mengisi sebuah acara di luar kota," katanya. Meski siswa-siswanya tak sebanyak tiga tahun silam, Devi optimistis sanggarnya akan kembali dijubeli anak-anak dan remaja di Gedangan dan sekitarnya.

Saat ini dia tengah mengembangkan aneka jenis tarian yang dipetik langsung dari kampung halamannya di Aceh. Tarian dari provinsi paling timur ini sangat rancak, dinamis, dan sedang diminati berbagai kalangan. Devi bahkan ingin agar Sidoarjo, khususnya Gedangan, menjadi pusat pembinaan tarian Aceh di Jawa Timur. (*)

3 comments:

  1. Blogwalking... Numpang baca.

    Tetap semangat! d^_^b

    ReplyDelete
  2. numpang nanya sanggar tari clarissa ini tempatnya ada dimana ya? alamatnya? terimakasih

    ReplyDelete
  3. Alamatnya dimana kak? Makasih kak

    ReplyDelete