13 November 2011

Peter Rohi Bikin Ulah Lagi



Siapa orang NTT yang paling terkenal di Surabaya? Sudah pasti Peter A. Rohi. Aktivis, wartawan, pencinta sejarah, dan pengagum Bung Karno itu selalu bikin 'heboh' pada peringatan Hari Pahlawan, Hari Pancasila, dan momentum-momentum sejarah lainnya.

Menjelang Hari Pahlawan ini, Peter Rohi bersama beberapa temannya di Sukarno Institute mengajak Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini untuk memasang prasasti di kantor pos besar Kebonrojo. Prasasti yang ditandatangani Bu Wali Kota itu bertuliskan:

"Di Sini Tempat Bersekolah Dr Ir Soekarno, Penggali Pancasila, Proklamator, Presiden Pertama RI."

Tak ada yang baru dengan informasi itu. Bung Karno memang dulu bersekolah di HBS (Hogere Burger School) Surabaya. Gedung HBS itu sekarang jadi kantor pos besar. Namun, yang jadi menarik, kemudian diliput puluhan wartawan koran dan televisi adalah gerakan Peter Rohi dan kawan-kawan yang berinisiatif membuat prasasti, kemudian minta tanda tangan wali kota, kemudian dipasang menjelang Hari Pahlawan.

Surabaya itu kota pahlawan. Karena itu, menurut Peter Rohi, tempat-tempat yang ada kaitan erat dengan para pahlawan atau pelaku sejarah harus dikenal warga. Jangan sampai generasi mendatang kehilangan jejak-jejak sejarah.

Semangat itu pula yang dilakukan Peter Rohi dkk saat 'menemukan' rumah masa kecil Bung Karno di kawasan Pandean. Ini untuk membuktikan bahwa Bung Karno itu memang lahir di Kota Surabaya, bukan Blitar seperti yang ditulis sejumlah buku. Gebrakan kecil Peter Rohi akhirnya sukses menarik perhatian masyarakat Surabaya, dan Jawa Timur umumnya.

"Syukurlah, apa yang kami lakukan ini sudah mulai diakui oleh negara. Bu Risma, wali kota Surabaya, sangat antusias mendukung setiap langkah kami," kata Peter Rohi yang berasal dari Pulau Sabu di selatan Kupang, NTT, itu.

Lantas, mengapa hanya aktif mengangkat situs-situs yang ada kaitan dengan Bung Karno?

"Karena saya kan direktur Sukarno Institute. Hehehe. Tentu saja, kami fokus bergerak untuk mengangkat tempat-tempat yang ada kaitannya dengan Bung Karno," ujar Peter Rohi.

Saya pun mengirim SMS kepada Pak Peter Rohi: "Wah, hebat sekali Angalai ini. Orang Sabu, tapi bisa bikin geger Surabaya. Sukarno Institute makin ngetop saja!"

"Itu karena orang Sabu suka minum tuak... berpikir dan bertindak lebih cepat. Soekarno Institute ini sudah diundang dalam konferensi-konferensi dunia," jawab Peter Rohi.

Saya kirim SMS lagi: "Tuak Lembata bikin mabuk, tuak Sabu bikin pintar. Hehehe."

Peter Rohi: "Soalnya orang Lembata kalau minum tuak overdosis na."

Hehehe.....

Peter Rohi sejak dulu memang sangat bangga dengan kampung halamannya di Pulau Sabu. Pulau di bagian selatan yang masyarakatnya mengandalkan hidup dari tanaman lontar alias siwalan. Nira tanaman ini dijadikan gula, tuak, dikonsumsi sehari-hari.

"Orang Sabu itu tidak perlu makan nasi. Cukup dikasih minum tuak (manis) saja sudah kenyang," kata Pak Peter.

No comments:

Post a Comment