18 November 2011

Pak Krisnadi Bahas Pulau Buru



Kamis (17/11/2011), saya mampir ke sebuah toko buku bekas di kawasan Baliwerti, Surabaya. Begitu banyak buku-buku bagus yang gak laku, kemudian diobral habis-habisan, di situ. Diskon bisa sampai 60-70 persen.

"Kalau gak obral, gak akan ada yang beli. Kalau dikilokan, kasihan, gak ada harga sama sekali. Maklum, kami kalah saingan sama toko-toko buku baru dan bermodal kuat," kata seorang ibu 50-an tahun, pengurus toko buku.

Toko buku ini terletak di samping konter kaus sepak bola dan alat-alat musik itu. Hanya 200-an meter dari Jalan Tunjungan, pusat bisnis utama di Kota Surabaya. Para pemburu buku-buku bekas ini umumnya mahasiswa dan orang-orang berkantong tipis macam saya.

Saya tertegun menyaksikan sebuah buku bersampul gelap berjudul TAHANAN POLITIK PULAU BURU (1969-1979). Terbitan LP3ES Jakarta, tahun 2000. Buku yang terbilang lama, tapi saya belum pernah baca. Nama pengarangnya: I.G. Krisnadi.

I.G. Krisnadi? Kayaknya saya pernah kenal nama ini di Jember. Saya pun lekas membaca biodata pengarang di sampul belakang. Oh Tuhan, ternyata Pak Krisnadi, dosen Fakultas Sastra Universitas Jember. Di fotonya, Pak Krisnadi berkumis dengan pandangan mata menerawang.

Gak nyangka kalau Pak Krisnadi berhasil menulis buku sejarah tahanan politik di Pulau Buru dengan dukungan literatur yang sangat kaya. Begitu banyak bahan yang membuat pembaca bisa mengetahui pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang dilakukan rezim Orde Baru dengan membuang begitu banyak intelektual, wartawan, budayawan, sastrawan, komponis macam Subronto Kusumo Atmadjo, pelukis, novelis Pramoedya Ananta Tour... ke Pulau Buru.

Bagaimana para tapol ini dipaksa kerja roda membuka jalan raya, bikin sawah, mencari ikan, hingga pekerjaan-pekerjaan khas petani, nelayan, atau tukang. Kutipan tulisan Pramoedya memperkaya buku karya Pak Krisnadi ini.

Saya mengenal Pak Krisnadi di Jember bukan sebagai seorang penulis buku sejarah atau intelektual di Fakultas Sastra Unej. Saya hanya tahu pria kelahiran Klaten, 28 Februari 1962, ini hanyalah dosen biasa di Unej. Yang saya tahu, Pak Krisnadi bersama istri (Mbak Dwi) dan anak-anaknya rajin ikut doa lingkungan dan pendalaman iman di Wilayah I Paroki Santu Yusuf Jember.

Mahasiswa-mahasiswi dan dosen Unej, yang beragama Katolik, memang sejak dulu aktif dalam kegiatan gerejawi. Latihan kor atau paduan suara sehderhana, bikin acara natalan, pendalaman iman, hingga sembahyang untuk merayakan ulang tahun kelahiran atau pernikahan seseorang. Guyub banget!

Dan Pak Krisnadi, juga Pak Sudjarwadi, yang profesor, kemudian Pak Yoseph Suparjana yang dosen senior, aktif di dalamnya. Hubungan di antara kami, jemaat lingkungan, begitu guyub layaknya sebuah keluarga besar. Saya yang mahasiswa, yang bacaanku masih sangat sedikit, bisa bicara panjang lebar dengan Pak Prof Sudjarwadi atau Pak Krisnadi tentang berbagai isu.

Wah, masa-masa muda yang sulit dilupakan!

Oh, ternyata Pak Krisnadi, yang dulu saya anggap biasa-biasa saja di Wilayah I Paroki Jember itu, ternyata cendekiawan yang luar biasa. Mampu menghasilkan sebuah buku bermutu yang layak dibaca siapa saja yang ingin tahu sejarah tahanan politik di Pulau Buru di masa Orde Baru itu.

Saya sangat yakin Pak Krisnadi akan sukses di dunia akademik yang tengah digelutinya di Fakultas Sastra Universitas Jember. Mudah-mudahan segera jadi doktor dan profesor, Pak!

Saya juga terkesan dengan informasi di buku ini bahwa Pak Krisnadi sedang menekuni studi tentang kebudayaan Jawa. Saya dukung 100 persen. Rahayu! Berkah Dalem!

No comments:

Post a Comment