18 November 2011

Gelar Dr HC Alim Markus Dicopot




Sejak awal gelar doktor kehormatan (honoris causa) yang diberikan Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) Surabaya untuk pengusaha Alim Markus memang dipersoalkan kalangan internal Untag sendiri. Beberapa alumni menganggap bos Grup Maspion ini tidak pantas dapat gelar doktor HC karena tidak tamat SMP. Padahal, ada syarat pendidikan formal minimal bagi seorang calon penerima doktor HC.

Di sisi lain, pihak rektorat Untag menganggap Alim Markus sangat pantas dapat gelar kehormatan itu. Siapa sih yang tidak tahu kehebatan Pak Markus di dunia usaha? Maspion punya sekitar 50 ribu karyawan yang tersebar di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan kota-kota lain. Pengusaha yang bekerja keras dari bawah ini sukses menghidupi begitu banyak orang.

Dan masih banyak pertimbangan lain mengapa manajemen Untag memutuskan untuk memberikan doktor honoris causa untuk Alim Markus. Tampaknya Alim Markus sendiri pun 'senang' dengan gelar itu. Meski dikelilingi banyak lawyer hebat, punya jaringan kuat dengan ahli-ahli hukum di Surabaya, Jakarta, dan kota-kota lain, rupanya Alim Markus tidak berpikir akan digugat justru oleh orang-orang Untag sendiri.

Alim Markus pun rupanya tak tahu bahwa di manajemen Untag Surabaya sejak lama terjadi konflik internal. Manuver-manuver sering dilakukan para elite Untag untuk menggapai kepentingannya. Maka, pemberian gelar untuk Alim Markus menjadi pintu masuk untuk menggoyang manajemen Untag.

Yang digugat memang Rektor Untag Surabaya, tapi yang kena getah adalah Alim Markus. Bos Maspion, yang sering muncul di televisi sebagai bintang iklan produk-produk Maspion itu, pun masuk koran dengan berita yang tidak enak. "Gelar doktor honoris causa Alim Markus dibatalkan oleh PTUN Surabaya," begitu antara lain berita Jawa Pos halaman depan, Jumat (18/11/2011).

Sudah lama saya heran dengan pengusaha-pengusaha besar di Indonesia, tak hanya Alim Markus, yang tertarik dengan gelar-gelar akademik instan. Untuk apa?

Bukankah tanpa gelar pun mereka sudah sangat berprestasi di dunia usaha?

Bukankah mereka jauh lebih makmur, kaya-raya, punya segalanya ketimbang doktor-doktor dan profesor-profesor lulusan luar negeri sekalipun? Baru-baru ini koran terbitan Jakarta membahas kehidupan peneliti Indonesia, yang gelarnya profesor doktor, yang sangat memprihatinkan. Jangankan membeli mobil-mobil atau rumah mewah, sekadar untuk hidup saja sulit mengandalkan gaji peneliti yang tidak seberapa.

Mungkin pengusaha-pengusaha, yang mau-maunya dikasih gelar itu (kemungkinan besar tidak gratis), melihat DOKTOR HONORIS CAUSA sebagai gelar yang sangat penting. Semacam alat untuk aktualisasi diri. Sebaliknya, kampus-kampus macam Untag Surabaya melihat Alim Markus sebagai pengusaha yang bisa dijadikan aset untuk memajukan universitas.

Sebab, setelah diberi gelar doktor HC, Alim Markus menyatakan keinginannya untuk membangun Alim Markus Entrepreneur Center di kampus Untag Surabaya. Setelah gelar doktor HC ini dicabut PTUN Surabaya, akankah Alim Markus masih tetap mau membangun center itu? Kita lihat saja.

3 comments:

  1. Numpang komentar nih, blog dan artikelnya bagus juga, komentar juga ya di blog saya www.memebee.net

    ReplyDelete
  2. very interesting article :)...

    Maybe its partly pride, to be considered a person with a doctorate degree despite the fact that they did not finish university.
    as in regards to self actualisation: well.... I guess for someone who is that successful, The so called instant honorary / doctorate degree is possibly one of the hardest thing to get, thus to them it's a real self actualisation.

    Kan katanya kalo semua uda terpenuhi (according to maslow), then they will continue to progress to achieve the top of the pyramid :D.

    ReplyDelete
  3. alim markus gak perlu malu, yang malu justru untag sendiri, udah ngasih hadiah kok di minta balik lagi, malu maluin diri sendiri

    ReplyDelete

Silakan menulis komentar Anda di dalam kotak.Terima kasih banyak.