26 November 2011

Cak Ugeng Pelukis Sembur




Pelukis yang satu ini, Sugeng Prajitno (50 tahun)--- yang lebih suka disapa Cak Ugeng --- memang nyeleneh. Kalau biasanya pelukis-pelukis lain menorehkan cat minyak ke atas kanvas dengan kuas, Cak Ugeng justru pakai mulut. Cat minyak itu dimasukkan ke dalam mulut, dikumur sebentar, kemudian disemburkan ke atas kanvas atau papan yang sudah disediakan.


Sekitar 30 menit kemudian jadilah lukisan-lukisan abstrak dengan tema tertentu. Aksi teatrikal Cak Ugeng kian 'menyeramkan' karena pria kelahiran Perak Timur, Surabaya, ini biasanya bermain-main api di kedua belah tangannya, menempel-nempelkan api di tubuhnya, menyemburkan bensin ke arah api, sehingga terlihat membesar di udara.

Diiringi permainan musik dari beberapa rekannya, Cak Ugeng kemudian mengadakan demo melukis abstrak dengan menyemburkan cat dari mulutnya. Berikut petikan percakapan santai Radar Surabaya dengan Cak Ugeng di studionya, Kampung Seni Pondok Mutiara Sidoarjo, kemarin.

Sejak kapan Anda mulai bikin 'ulah' dengan metode melukis yang tidak umum itu?


Saya mulai sejak 2003. Awalnya sih coba-coba saja, sekadar mencari perhatian. Sebab, saya kan tergolong pelukis pemula yang belum punya nama di Jawa Timur. Saya harus melakukan sesuatu yang tidak umum agar orang mengenal saya.

Saya ini kan seniman yang otodidak. Saya nggak punya background pendidikan seni rupa, ikut sanggar lukis, kursus, dan sebagainya. Sementara pelukis-pelukis lain kan sudah eksis dan punya nama. Maka, saya perlu melakukan sesuatu yang berbeda agar bisa dikenal banyak orang. Eh, ternyata lama-kelamaan kok asyik, dan keterusan sampai sekarang.

Bisa dikatakan Anda mau mencari sensasi?


Pada awalnya sih ada unsur sensasi. Sebab, bagaimanapun juga setahu saya di Indonesia (mungkin juga di negara-negara lain) belum ada seniman yang melukis dengan menyemburkan cat dari mulutnya. Kemudian aksi ini saya perkaya dengan performance art sehingga bisa menjadi sebuah tontonan yang bisa dinikmati banyak orang. Tapi, setelah berjalan selama beberapa tahun, tidak ada lagi unsur cari sensasi. Sekarang sudah sampai ke taraf spiritual karena apa yang saya lakukan ini seperti sebuah laku spiritual bagi saya. Makanya, saya selalu menyembut pertunjukan saya sebagai spiritual painting.

Barangkali Anda menggunakan unsur magic atau ilmu-ilmu tertentu mengingat Anda berkumur cat dan bermain-main api segala?


Oh, tidak ada sama sekali. Ini murni kesenian. Siapa pun bisa melakukannya kalau mau belajar dan mencoba. Saya sendiri pun awalnya hanya coba-coba saja, tapi ternyata bisa dilakukan dengan mudah.

Tapi penampilan Anda yang gondrong, bertelanjang dada, dan sangar saat performance terkesan seperti dukun?


Hehehe.... Itu kan cuma penampilan luar saja. Namanya juga atraksi teratrikal, ya, harus dikemas sedemikian rupa sebagai sebuah tontonan. Tidak ada magic, tidak ada perdukunan. Makanya, saya sudah lama berjuang agar apa yang saya lakukan ini bisa diakui masyarakat, kritisi, dan sesama seniman sebagai bagian dari kesenian.

Artinya, lukisan sembur Anda belum diakui sebagai karya seni?


Masih butuh proses karena apa yang saya lakoni ini memang hal baru. Jangankan masyarakat biasa, seniman-seniman pun banyak yang menganggap lukisan-lukisan hasil semburan itu sebagai karya main-main. Nggak gampang memang meyakinkan orang yang sudah punya ideologi atau paham tertentu tentang kesenian. Tapi saya percaya, suatu ketika masyarakat bisa menerima karya-karya saya.

Biasanya, kapan Anda membuat lukisan dengan teknik semburan ini? Apakah setiap saat atau hanya pada momen-momen tertentu di depan publik saja?


Kalau sehari-hari sih saya bikin lukisan seperti biasa. Memahat, bikin patung, kelola taman, menulis puisi, teater, dan berkomunitas. Sebab, kesenian yang saya tekuni ini memang bermacam-macam. Tapi khusus untuk semburan, biasanya saya lakukan kalau ada even-even khusus seperti Hari Bumi, Hari Lingkungan Hidup, atau East Java Shopping and Culture Carnival seperti di Royal Plaza kemarin.

Berbeda dengan membuat lukisan biasa yang dilakukan di studio atau tempat-tempat yang membutuhkan ketenangan, melukis sembur ini saya kemas sebagai sebuah pertunjukan. Karena itu, saya lakukan di depan banyak orang agar bisa diapresiasi sekaligus jadi alternatif hiburan untuk masyarakat.

Gambar yang muncul di kanvas itu sudah dibayangkan sejak awal?


Tidak. Biasanya, saya hanya punya tema tertentu, misalnya lingkungan hidup. Saya main sembur saja, dan hasilnya baru akan kelihatan setelah lukisannya jadi.

Berapa banyak lukisan sembur yang sudah Anda buat?


Wah, sudah banyak sekali. Sejak muncul ke publik tahun 2003 itu, saya selalu diajak untuk mengisi berbagai acara baik di Surabaya, Sidoarjo, dan beberapa kota lain.

Apa ada kolektor yang membeli lukisan-lukisan sembur itu?


Nah, ini yang belum ada. Karena orang masih banyak orang beranggapan bahwa lukisan yang saya buat dengan semburan itu bukan karya seni. Ini menjadi tantangan bagi saya agar karya-karya spiritual painting ini pun bisa diterima masyarakat. Makanya, untuk kehidupan sehari-hari, saya membuat lukisan yang konvensional. (Lambertus Hurek)

Sumber: Radar Surabaya edisi Minggu, 20 November 2011

No comments:

Post a Comment