03 October 2011

Surabaya Makin Panas




Sejak dulu Surabaya memang terkenal sebagai kota yang panas. Penyanyi Franky Sahilatua (almarhum) pada 1970-an mengabadikan ‘Surabaya yang panas’ dalam hitnya, Bis Kota. Jadi, kalau orang sering komplain ‘Surabaya panas’, berarti dia ketinggalan informasi.

Saya belum punya data akademis berapa suhu (temperatur) udara Kota Surabaya sejak tahun 1930, 1940, kemudian 1960, 1970, 1980, 1990, 2000, kemudian 2010. Kalau ada catatannya, kita akan lebih muda membandingkan kondisi Surabaya. Apakah sama panas, kurang panas, lebih panas, atau memang semakin panas.

Tapi saya sendiri, yang sudah 10 tahun lebih tinggal di Surabaya (termasuk empat tahun di Sidoarjo), merasakan Surabaya hari ini, Oktober 2011, lebih panas ketimbang katakanlah empat atau lima tahun lalu. Mungkin terkena dampak pemanasan global alias global warming.

Bulan lalu, saking panasnya Surabaya, iseng-iseng saya membeli termometer buatan Tiongkok yang harganya cuma Rp 16.000. Dengan termometer sederhana itu, saya sering memantau suhu Kota Surabaya akhir-akhir ini. Wow, memang panas banget! Melebihi angka yang sering ditulis di koran atau diumumkan di radio yang berasal dari BMG Juanda atau BMG Tanjungperak.

Senin 3 Oktober 2011, siang, saya merasa Surabaya benar-benar panas. Dan ketika mampir di kawasan Jalan Arjuna untuk ngopi di dekat PN Surabaya, beberapa orang lain pun mengeluhkan hal yang sama. Bahwa panasnya Surabaya saat ini lebih panas ketimbang beberapa tahun lalu.

“Anda pernah mengukur suhu udara di Surabaya?” tanya saya kepada salah satu pengunjung warkop di dekat pengadilan.

“Nggak pernah. Tapi rasanya memang lebih panas,” kata orang itu.

Tiba di Ngagel, saya mencoba mengukur suhu udara di luar rumah di siang yang terik itu. Wow, sangat mengagetkan. Ternyata angkanya tembus 50 derajat Celcius! Benar-benar panas membakar. Bisa saja lebih dari 50 Celcius, tapi kebetulan termometer made in China itu mentok di angka 50! Range-nya termometer itu -40 sampai 50 derajat Celcius saja.

Suhu di dalam ruangan, yang tidak dipasang kipas angin atau AC, sekitar 32-33 derajat Celcius. Malam hari suhu Surabaya di alam terbuka berkisar 26-27 Celcius. Suhu di dalam ruangan sekitar 30 atau 29 Celcius.

Bukan hanya Surabaya yang mengalami kenaikan suhu. Teman-teman dari Malang, kota yang dulu terkenal sejuk, pun kabarnya tidak lagi sesejuk tahun 1980-an dan 1970-an. Bahkan, ada yang bilang suhu siang hari di Malang makin ‘mendekati’ Surabaya.

Orang-orang Surabaya yang biasa istirahat di kawasan pegunungan macam Tretes, Trawas, atau Pacet pun merasa telah terjadi peningkatan temperatur. Yang pasti, suhu udara lebih tinggi ketimbang 10 tahun atau 20 tahun lalu. Inilah tanda-tanda bahwa bumi kita, alam raya, semakin tua dan tidak bersahabat karena terus-menerus dieksploitasi.

Mudah-mudahan kita yang sadar bahwa bumi ini makin panas mau tergerak untuk berbuat sesuatu. Bikin penghijauan, pelihara, taman, tidak menggunduli hutan… go green lah!

7 comments:

  1. saya kira semarang saja yang tambah panas...bang Hurek, padahal saya bukan termasuk yang percaya issue pemanasan global buatan amerika itu....wkwkwkwk....

    ReplyDelete
  2. memang di mana2 panas apalagi kemaau kayak sekarang..

    ReplyDelete
  3. Wah masa sampai 50, kan lebih daripada Arab. Mungkin karena mengukurnya di bawah sinar matahari, jadi suhunya naik karena panas radiasi. Kalau mau mengukur suhu udara luar yang betul, jangan termometernya kena sinar matahari langsung. Coba ukur suhu udara di bawah pohon atau di bawah atap teras rumah.

    Panasnya Surabaya karena semakin banyak gedung bertingkat yang memakai AC, jadi yang di dalam makin adem, yang di luar makin panas. Juga karena kekurangan pohon dan paru2 kota.

    ReplyDelete
  4. panassssss.... bikin org cepet marah.

    ReplyDelete
  5. Ada benarnya Cak Amrik. Setelah saya ukur ulang, suhu tidak sampai 50 Celcius. Yang benar berkisar 38--41 Celcius. Tapi rasanya memang panas kereng. Puanas banget, khususnya para pekerja lapangan yang harus keliling ke mana-mana pada siang hari.

    Saya kira, suhu Surabaya memang semakin mengarah ke Afrika yang sangat panas itu. Karena jarak 41 dengan 50 Celcius sebenarnya tidak terlalu jauh.

    Ada semacam lingkaran setan di kota-kota panas macam Surabaya. Orang rame-rame pasang AC agar ruangan kerja atau rumahnya adem, sejuk. Tapi, dengan memasang AC, maka panas pada saat bersamaan dibuang ke udara. Dan itu tentu ikut menyumbang kenaikan temperatur di kota.

    Kompleks dan ruwet persoalan lingkungan yang kita hadapi di Indonesia. Tapi orang lebih suka membahas politisi yang makin rajin korupsi berjamaah. Matur suwun.

    ReplyDelete
  6. Jaraknya 41 dan 50 itu jauh lho Bung. Saya pernah ke padang pasir di India, yang suhunya 40 celcius lebih. Bedanya 1 derajat C itu besar. 28 itu masih sejuk. 33 sudah panas, walaupun hanya 5 derajat. Sumuk itu karena kelembaban di Indonesia juga tinggi.

    ReplyDelete
  7. motor n mobil yg banyak ikut menyumbang panas...

    ReplyDelete