18 October 2011

Surabaya 40 Celcius



Hari ini (18/10/2011), saya merasa Surabaya lebih panas dari biasanya. Maka, saya pun cepat-cepat melihat angka di termometer saya yang buatan Tiongkok itu. Wow, benar saja. Suhu udara 40 Celcius!

Dua pekan lalu, temperatur di luar sempat menembus 41 Celcius. Angka 40 atau 41 jelas sangat berbicara. Bahwa Surabaya yang dikenal sebagai ‘kota panas’ itu makin panas saja. Kalau dulu suhu paling panas hanya berkisar 36-37 Celcius.

Lantas, mengapa bisa sepanas ini? Jawaban akhirnya diperoleh dari Badan Meteorologi, Kimatologi, dan Geofisika (BMKG) Surabaya. Katanya, kenaikan suhu ini gara-gara posisi matahari yang saat ini tepat berada di atas Kota Surabaya dan sekitarnya. Sang surya sedang bergerak ke selatan khatulistiwa.

Karena itu, perlahan-lahan suhu di Surabaya bakal kembali panas seperti biasanya, bukan panas ekstrem ala Afrika macam sekarang. Perjalanan matahari ke selatan itu butuh waktu tiga minggu atau satu bulan atau dua bulan. Maka, kita yang tinggal di Surabaya, Sidoarjo, Bangkalan, dan sekitarnya diminta sabar.

Bulan November mendatang, masih menurut BMKG, diharapkan hujan mulai mengguyur Surabaya meskipun musim hujan belum bisa dipastikan kapan. Terus terang saja, saat ini masyarakat Jawa Timur sangat merindukan hujan. Kekeringan di mana-mana. Air bersih susah. Waduk-waduk kering. Sungai tinggal sampah-sampah di dasar.

Hari ini koran KOMPAS memuat foto Waduk Dawuhan di Madiun yang kering-kerontang. Padahal, waduk ini harus mengairi sekitar 3.000 hektare sawah. Bayangkan jika kekeringan dan kepnasan semacam ini terus berlanjut sampai berbulan-bulan ke depan!

Saya teringat tulisan Cak Anis, wartawan senior, yang pada 1990-an sempat berkunjung ke Hadramaut di Yaman Selatan. Tempat asal masyarakat keturunan Arab di Indonesia. Menurut Cak Anis, kondisi di Hadramaut jauh lebih ekstrem ketimbang Surabaya. Hujan hanya turun dua kali setahun. Wow!

No comments:

Post a Comment