20 October 2011

Saksi Yehuwa Open House




Saksi Yehuwa baru saja mengadakan open house di Jalan Jemursari 20 Surabaya. Di kawasan Surabaya selatan ini terdapat balai kerajaan, semacam gereja atau rumah ibadat untuk denominasi yang berpusat di Amerika Serikat itu.

Sulit dibayangkan acara open house atau pameran itu bisa dilakukan Saksi Yehuwa di era Orde Baru. Sebab, gereja yang satu ini dilarang pemerintah sejak 1976. Tentu saja, atas desakan gereja-gereja arus utama (mainstream) yang dianut rakyat Indonesia yang kristiani. Saksi Yehuwa dulu dianggap ‘gereja sesat’, ‘berbahaya’, dan seterusnya.

Tapi berkat reformasi, khususnya setelah Abdurrahman Wahid menjadi presiden, Saksi Yehuwa tak lagi ilegal. Pada 2001 Saksi Yehuwa dinyatakan sebagai institusi legal. Punya hak hidup di negara Pancasila. Status Saksi Yehuwa dengan demikian menjadi sama dengan Katolik Roma, Katolik Bebas, Protestan, Baptis, Pentakosta, Karismatik, Adven Hari Ketujuh, Bala Keselamatan, Mormon, Anglikan, Ortodoks Siria, dan sebagainya.

Sebagai gereja yang terus bergerak di bawah tanah selama 25 tahun, dengan gaya dakwahnya yang khas di bawah arahan Menara Pengawal di USA, jemaat Saksi Yehuwa tentu saja sudah bisa bernapas lagi. Tidak perlu lagi main kucing-kucingan. Tidak perlu takut berurusan dengan hamba hukum karena Saksi Yehuwa memang sah.

Gereja-gereja lain (Katolik, Protestan, Pentakosta Karismatik, Baptis, Advent, dll) bakal kehilangan jemaat gara-gara menyeberang ke Saksi Yehuwa? Rasanya kok berlebihan. Buktinya, di Amerika Serikat sekalipun, yang sangat bebas dalam dakwah agama, Saksi Yehuwa tak pernah jadi mayoritas.

Saksi Yehuwa tetap saja sekte kecil, tapi pedas. Kecil-kecil cabai rawit! Selalu bikin pedas gereja-gereja arus utama.

Setelah 10 tahun diakui di Indonesia, Saksi Yehuwa pun tak serta-merta menarik domba-domba dari gereja lain. Yang justru terus berebut domba, dilanda perpecahan, justru gereja-gereja yang mainstream, khususnya aliran ‘Haleluya’. Pendeta Anu yang kecewa di Gereja A memboyong jemaat dari mana-mana untuk bikin Gereja B. Gereja B pecah lagi jadi C, D, E, sampai Z, dan seterusnya.

Gereja-gereja tumbuh sangat pesat di Indonesia, sementara pertumbuhan jemaat (kuantitas) stagnan. Buktinya, dari dulu persentase orang Kristen di Indonesia rata-rata kurang dari 10 persen. Persentase umat kristiani pun ada kemungkinan berkurang karena terjadi kebangkitan kembali Tionghoa setelah reformasi.

Orang-orang Tionghoa yang sejak Orde Baru ramai-ramai ke gereja, akhir-akhir ini kembali ke kelenteng atau vihara. Contohnya Bu Yuli, yang dulu aktif di Gereja Katedral Surabaya, kini malah jadi bos sebuah kelenteng besar.

Yah, begitulah, roda kehidupan keagamaan pun sering naik turun kayak roda pedati. Saksi Yehuwa yang dulu di bawah tanah sekarang bergerak ke atas mengikuti roda reformasi. Itulah gunanya reformasi dan demokrasi. Semua aliran dan keyakinan dapat tempat dan punya hak hidup.

8 comments:

  1. Bos, ada koreksi nih. Kristen di Indonesia mana ada 87-88%. Mungkin maksudnya 7-8%? Begitu juga yang berebut domba dan dilanda perpecahan bukanlah gereja-gereja yang mainstream (seperti GKI, HKPB, GKJW, GPIB) tetapi gereja-gereja aliran "Haleluya", yang di Amerika disebut gereja pentecostal dan evangelical (pantekosta dan injili).

    ReplyDelete
  2. Bobby, arek Tangerang...2:34 AM, October 21, 2011

    Dear Mas Jurnalis yg beken, dan rekan pembaca blog lainnya...

    Berita yg cukup menarik... di tempatku Saksi Yehuwa itu beribadah dengan senyap, sempat ndak diijinkan ini itu, yo mereka anteng2 aja, nurut aja sama ketetapan pemerintah, sambil ambil langkah praktis biar dapat bribadah dengan aman, walaupun [contohnya] pernah mereka harus menempuh 2 jam perjalanan buat hadir di salah satu kebaktian sekali setahunnya, karena pada waktu itu di Tangerang, ndak boleh ada kebaktian buat 3000-an orang, walaupun cuma 2 hari, dan sewa ballroom hotel (Koko-ku salah satu dari SSY juga soale). Melihat ini dan mendengar cerita2 itu, jadi simpatik juga melihatnya, sementara denominasi lain-lain (termasuk yg ngaku2 Kristen, kok malah bertindak di luar jalan guru mereka, Yesus Kristus. Sementara Saksi-Saksi itu anteng2 dan senyap2 saja, eh tapi kalo lihat kebaktian mereka dari tahun ke tahun di Jakarta, Tangerang, Surabaya, muakin wuakkehh yg datang mendengarkan...

    Kalo kayak persoalan GKI Yasmin yg di Bogor itu [misalnya] menimpa Saksi2 Yehuwa, palingan mereka menarik diri dari masalah itu, sambil mikirin solusi yg paling produktif, udah sukur kalo dikasih tempat / lokasi lain (ini Indonesia Bung! kebebasan beragama masih 'lips service' belaka). Tempat serupa yg diulas di kisah Mas Hurek kali ini juga ada di Tangerang, tapi izin pembangunannya [kira-kira 4 tahun lalu] selain disyaratkan uang IMB yg luar biasa muahhal oleh aparat pemerintah setempat, yang bombastis mengejutkannya, izin IMB tersebut malah ditentang dan diprotes habis2-an oleh gereja2 mainstream dan aliran "Haleluya" seperti komen Mas Hurek, sampe2 pemerintah setempat bingung juga jadine. (Amat lucu, wong sesungguhnya Gereja-Gereja disini aja ditentang sama masyarakat, dan juga ngga sedikit yg pernah ditimpukin batu dan hampir dibakar habis sama masyarakat dari golongan mayoritas, yg akhirnya menjadikan mereka (gereja2) itu agama minoritas dan juga tambahan kalau sebenarnya pemerintah setempat juga tidak mempermudah izin pembangunan gereja2 tersebut, dilala, pas giliran Saksi Yehuwa bangun tempat ibadah mereka, eeh malah penentang terbesar datang dari gereja-gereja mainstream dan "Haleluya" tersebut, kok "jeruk malah ngelawan sesama jeruk yoo" Apa kata dunia, oh Bapak2 Pendeta di Tangerang dan jemaat Bapak2 yg anda provokasi tersebut... LUUCU TENAN!!! :))

    Jangan salah ya kawan pembaca, saya bukan Saksi lho, tapi kok kalo lihat tingkah mereka (para pendeta & umat yg fanatik tersebut) kok jadi isin rasane, aku dulu di sekolah sampe kuliah belajar toleransi beragama, yg katane didukung habis2-an oleh para alim ulama di Indonesia, tapi huh!! sungguh lips service, bahkan sampe jaman sekarang...

    ReplyDelete
  3. Pemuka agama Kristen baik Katolik maupun Protestan yang menganggap / menuduh Saksi Yehuwa atau Mormon dlsb. sesat itu perlu belajar sejarah. Bahwa dulu kepercayaan mereka sebelum disebut agama Kristen, ialah sebuah sekte agama Yahudi, yang oleh pemuka agama Yahudi disebut aliran melenceng, yang oleh penguasa Romawi disebut aliran atheis (tidak bertuhan) karena penganut gereja purba tidak mau menyembah tuhan-tuhan Romawi. Biarlah kebebasan beragama tumbuh dan layu tanpa campur tangan pemerintah. Hapuskan kementrian agama, yang kerjanya hanya mengurusi haji (serahkan swasta dan asosiasi saja, pasti lebih murah dan lancar).

    Begitu juga pemuka agama Islam harus berkaca sebelum menuduh Ahmadiyah itu sesat. Sejarahnya Islam itu kan Nabi Muhammad mendapatkan wahyu setelah dia berinteraksi dengan umat Nasrani dan Yahudi, dan menyerap ajaran-ajaran dari kitab Taurat maupun Injil. Dan di awalnya Islam pun dianggap aliran sesat.

    Jadi semua pemuka dan pemeluk agama jgn merasa benar sendiri dan memaksakan terhadap orang lain, apalagi kalau pakai bunuh-bunuhan. Ini abad ke-21, bukan jaman pertengahan lagi.

    ReplyDelete
  4. Matur suwun konco-konco sing dikasihi Gusti Allah.

    Suwun atas masukan dan koreksi sampeyan2. Bener, maksud saya persentase pemeluk agama di Indonesia relatif tidak berubah. Tidak ada perbedaan signifikan. Islam tetap 87-88 persen, begitu juga agama2 lain.

    Mungkin ke depan penganut Khonghucu bakal berubah signifikan.

    Berkah Dalem

    ReplyDelete
  5. saya rasa org kristen sudah sangat dewasa utk menyikapi gereja2 nyeleneh kayak saksi yehuwa, mormon dsb. gak perlu khawatir berlebihan, toh kita sama2 anak bangsa. lebih bagus lagi kalo kita2 mau ngajak saudara2 itu kembali ke jalan yang benar.

    haleluya!!!!

    ReplyDelete
  6. Dear pembaca "Anonymous" (setelah reply Mas Hurek), Hendaklah kita semua menghindari menghakimi suatu kelompok agama atau gereja tertentu sebagai "nyeleneh", karena ingat Blog Mas Hurek ini adalah Blog publik yg cukup dikenal masyarakat luas. Concern-nya adalah, apakah komentar menurut hemat saya dapat menjadi seolah-olah opini publik, dan komen anda = negatif.

    Sekarang suatu kelompok dapat dikatakan nyeleneh, apabila kelompok tersebut memang keluar dari pakem-pakem asli yg terdapat di dalam Kitab Suci mereka, atau bagi yg Kristen, ya dari Alkitab mereka. Soal apakah Saksi Yehuwa atau yg lainnya itu nyeleneh, hendaknya semua orang memeriksanya apakah apa yg mereka percayai memang ada yg "nyeleneh" dari sudut pandang Alkitab atau tidak, atau, jangan2 anda sendiri yang nyeleneh...

    Salam Damai...

    ReplyDelete
  7. Menggunakan bahasa "nyleneh", "kembali ke jalan yang benar" itu menunjukkan Anonymous dan umat kristen golongannya dia sangat tidak dewasa dalam menyikapi. Asalkan mereka tidak melakukan tindakan kriminal yang merugikan masyarakat, biarlah mereka beribadat menurut kepercayaan mereka, yang mungkin berbeda dari kepercayaan dan pemahaman anda.

    ReplyDelete
  8. Toh pada kenyataannya ndak semua komentar negatif orang ttg Saksi Yehuwa itu bener kok, balik ke diri masing-masing lah. Saya kenal banyak Saksi tp mereka semua gak pernah tuh provokasiin saya buat pindah jalur iman... mungking tergantung dr individu masing-masing jg mengenai bgm cara menyikapinya.
    Oh ya mengenai soal Khonghucu yg sempat disebutkan di atas, sebagai agama minoritas tentunya para penganut sangat berterimakasih thdp Alm. Pak Gusdur yg sdh membukakan jalan kebebasan beragaman di negara ini, sama jg halnya dgn para saksi yg kebebasan beragamanya dibukakan saat kepemimpinan pak gusdur...

    ReplyDelete