06 October 2011

Rumah Singgah Bahtera Kasih Sidoarjo

Oleh ANDREAS SOERONO
Mahasiswa Universitas Kristen Petra Surabaya

Sebuah rumah di Jalan Monginsidi 29 Sidoarjo sekilas seperti rumah biasa. Namun, siapa sangka bangunan tersebut adalah satu-satunya rumah singgah di Sidoarjo.

Bahkan, dari depan terlihat seperti rumah kosong. Namun, saat masuk lebih ke dalam, ada sebuah ruangan besar untuk memuat puluhan orang. Berjajar meja ala warung lesehan. Di belakang tampak sebuah halaman dengan beragam tanaman liar dan tanaman buah.

"Kita punya kolam lele di seberang," ujar Paul Tanesib (30), pengurus rumah tersebut. Rumah singgah yang belum punya nama itu sebetulnya sudah mulai berpoperasi sejak empat tahun lalu. Kecuali para pengurus dan penghuni, tak banyak orang yang tahu aktivitas layanan sosial kemanusiaan itu.

Paul mengatakan, awalnya mereka membuka sebuah rumah singgah di kawasan Jenggolo. Tapi dua tahun berikutnya pindah ke Jalan Monginsidi 29 sampai sekarang. "Tempat ini pun masih ngontrak,” ujar Paul di ruang tamu pekan lalu.

Yayasan Bahtera Kasih yang berpusat di Bandung menjadi pencetus pembuatan rumah singgah di Sidoarjo. Paul yang berasal dari Nusa Tenggara Timur kemudian dipercaya mengelola rumah tersebut. Jam buka mulai pukul 10.00 hingga 14.00. Namun, rumah tidak buka setiap hari. Hanya Rabu hingga Jumat saja.

"Kita sengaja tidak buka tiap hari. Kita toleransi dengan warung-warung di sekitar," ungkap Paul. Paul tidak sendiri. Seorang istri dan seorang ibu (rekan Paul) selalu siap mengurus rumah singgah.

Tepat pukul 10.00 beberapa orang masuk. Siapa gerangan mereka? Tidak lain anak jalanan, pemulung, pengemis, tukang ngamen, dan kaum duafa lainnya. Mereka datang dari berbagai kawasan di Sidoarjo maupun luar Sidoarjo.

Dulu pengurus rumah singgah membagi kupon ke jalan raya agar orang-orang jalanan tahu ada sebuah bangunan tempat mereka mampir, makan, istirahat, atau bikin program. Namun, saat ini mereka tak perlu ambil kupon lagi.

"Mereka datang tinggal duduk dan makan. Semua sudah Tuhan beri," ujar Paul. Rumah tersebut memang khusus untuk melayani wong cilik.

Menurut Paul, rumah singgah ini sangat terbuka bagi siapa saja. Hanya, sesuai visi dan misi, pihaknya lebih mengutamakan orang-orang yang tidak mampu membeli makanan. Tanpa memandang usia. Tua-muda, bahkan pelajar yang kurang mampu pun boleh masuk di sana. Terkadang para pelajar berganti baju terlebih dahulu sebelum masuk rumah singgah.


"Setiap bulan kami mendapat sumbangan sekitar Rp 5 juta untuk operasional sehari-hari. Puji Tuhan, dana itu cukup untuk menggerakkan rumah singgah ini setiap hari," ujar Paul Tanesib, bapak satu anak, yang setiap hari mengelola rumah singgah untuk wong cilik ini.

Karena tidak punya donatur atau sponsor besar, menurut Paul, pihaknya harus pandai-pandai berhemat agar pelayanan ini bisa berjalan dari hari ke hari. Beberapa kali mereka tak punya uang untuk membayar tagihan listrik dan air. Eh, ternyata ada saja orang-orang yang terbebani untuk membantu. Tahu-tahu tagihan listrik dan air itu sudah lunas.

Paul sangat percaya bahwa semua itu karena berkat dan campur tangan Tuhan sendiri. Kejadian-kejadian seperti ini, yakni munculnya bantuan yang tidak terduga-duga, kerap dialami rumah singgah binaan Yayasan Bahtera Kasih Bandung ini.

Tidak hanya jadi tempat mampir mangan lan ngombe, menurut Paul, rumah singgah ini menjadi ajang sosialisasi wong cilik yang selama ini berjuang di jalanan demi mempertahankan hidup. Paul hanya ingin orang-orang yang datang ke sana merasakan damai sejahtera dan kasih Tuhan.

Raut muka orang-orang yang datang ke sana sebelumnya tampak lusuh. Namun, senyuman pun muncul kala mereka melahap sesendok ‘nasi gratis dari Tuhan’. "Mas, makan dulu," sapa seorang pedagang rongsokan kepada Paul.

Semakin siang suasana semakin ramai. Namun, ketenangan tetap terjaga. "Rumah singgah memang tempatnya orang-orang istirahat. Jadi, tenang suasananya," ujar Paul.

Pengurus rumah singgah berencana memberikan modal kerja dan pembinaan hidup agar mereka ini tidak lagi hidup di jalanan, namun punya usaha sendiri untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. "SDM sudah ada. Tapi terhalang dana," ungkap alumnus Sekolah Tinggi Immanuel Madiun itu.

Paul berharap memiliki sebuah yayasan yang akan menangani kaum duafa tersebut dengan baik. Paul terus berusaha agar kaum duafa tak lagi hidup di bawah tekanan kehidupan yang berat dan ditolak di keluarga mereka.

"Saya berharap bisa memulihkan kehidupan mereka," pungkasnya. (*)

Dimuat Radar Surabaya, 3-4 Oktober 2011

2 comments: