08 October 2011

Pendeta Liem Ie Tjiauw 1939 - 2011




Jasad Liem Ie Tjiauw (72) memang sudah kembali menjadi abu, setelah diperabukan di Krematorium Eka Praya, Kembang Kuning, Surabaya, Jumat (7/10) pagi. Namun, pendeta emeritus Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pregolan Bunder ini tetap dikenal oleh ribuan jemaatnya.

Sebagai gembala senior yang melayani jemaat GKI Pregbun (Pregolan Bunder) sejak 16 September 1969 hingga wafat pada Selasa (4/10/2011), Pendeta Liem Ie Tjiauw jelas punya ribuan jemaat. Tak hanya di Surabaya dan sekitarnya, jemaat GKI Pregbun kemudian tersebar di kota-kota lain, bahkan mancanegara. Maklum, Pendeta Liem sudah melayani dua tiga generasi selama 42 tahun penggembalaannya.

Beberapa jemaat GKI Pregbun mengaku terkesan dengan sikap almarhum yang ramah, tapi juga tegas dan disiplin. Memang, pendeta-pendeta ‘angkatan lama’ yang pernah mencicipi pendidikan Belanda dikenal punya karakter tegas dan disiplin. Karena itu, Pendeta Liem sangat disegani, tapi juga sangat disayangi umatnya.

Selain itu, rohaniwan kelahiran Magelang, 16 September 1939, ini punya kelebihan di bidang homilitika. Yakni, public speaking atau seni berkhotbah di depan jemaat. Sebagai pendeta kristiani yang bertugas menyampaikan firman Tuhan, Liem dikaruniai talenta berkhotbah. Begitu bicara di depan mimbar, jemaat seperti dibuat terpaku dengan gaya dan materi khotbah ayah tiga anak dan kakek empat cucu itu.

“Pendeta-pendeta itu kan sangat banyak dan selalu bertambah setiap saat. Tapi belum ada yang bisa menyamai, apalagi menandingi Pendeta Liem Ie Tjiauw,” ujar Markus Sajogo, pengacara senior, yang sejak 1951 menjadi jemaat GKI Pregbun Surabaya.

“Saya rasa, kemampuan berkhotbah almarhum itu merupakan talenta atau bakat yang diberikan Tuhan sendiri. Tidak bisa dipelajari. Dan yang ngomong begini bukan hanya saya, tapi juga jemaat-jemaat lain.”

Apa yang membuat khotbah Pendeta Liem sangat menarik? Markus mengibaratkan pengkhotbah dengan pilot pesawat terbang. Seorang pilot harus bisa take-off dengan mulus, terbang dengan nyaman, dan landing dengan mulus pula. Di mata Markus Sajogo, pengkhotbah-pengkhotbah sekarang ini kebanyakan hanya mulus saat take-off, tapi tidak jelas landing-nya.

“Penumpang kadang-kadang bingung kapan landing-nya. Nah, Pendeta Liem ini memang sangat luar biasa. Landing-nya bagus, sehingga ada sesuatu yang dibawa jemaat ketika pulang ke rumah,” kata Markus.

Karena bakat homilitika itulah, Pendeta Liem Ie Tjiauw kerap diundang oleh umat kristiani dari berbagai gereja di luar negeri. Di antaranya, Amerika Serikat, Australia, dan Selandia Baru. (rek)

1 comment:

  1. Hari ini saya mengenang Oom Liem, tepat di hari HUT beliau. Benar beliau mempunyai talenta yang luar biasa dalam berkotbah, bahkan membuat seorang anak kecil yang masih usia balita, mengingat dan terkesan terus, saat itu masih di GKI Gombong sekitar th 64, 38 th kemudian keinginan saya untuk berjumpa beliau Tuhan kabulkan, kami dapat berjumpa di Bandung, saat oom Liem melayani di GKI Kebonjati dan GKI Taman Cibunut pada Oktober 2003.. Selamat beristirahat di keabadian bersama Bapa di Surga. Suatu hari kita akan berjumpa kembali........

    ReplyDelete