13 October 2011

Lupakan Piala Dunia



Indonesia tidak perlu malu kalah dari Qatar. Jujur saja, level sepak bola kita masih kalah jauh dibandingkan Timur Tengah atau Arab. Boleh saja kita bermimpin tembus Piala Dunia. Tapi pemain-pemain kita sama sekali belum memenuhi kualitas minimal untuk bersaing dengan negara-negara langganan Piala Dunia.

Jangankan dengan Qatar, Bahrain, atau Iran, tim nasional Indonesia belum bisa dikatakan hebat di Asia Tenggara. Saya masih ingat gaya permainan timnas ketika dikalahkan Malaysia pada akhir Desember 2010 di ajang tertinggi sepak bola Asia Tenggara. Pada leg pertama, pemain-pemain Indonesia terlihat seperti amatiran. Baru belajar main bola.

Maka, jangan salahkan pemain, pelatih, manajer, atau PSSI ketika kita kandas di kualifikasi Piala Dunia. Alfred Riedl pun pasti tak sanggup membuat Indonesia bisa menang melawan Bahrain, Qatar, Iran, atau Malaysia atau Thailand. Omong kosong kalau Riedl bisa. Orang Indonesia tentu tak akan lupa dengan cara bermain timnas ketika melawan Malaysia di ajang AFF, ketika ditangani Riedl.

Saya kira bukan hanya Indonesia yang sulit menembus Piala Dunia. Semua negara ASEAN pun sangat sulit, bahkan mustahil. Kekuatan sepak bola di Asia masih didominasi Timur Tengah serta Korea-Jepang. Belakangan ditambah Australia.

Yang bisa kita lakukan sekarang adalah membenahi pembinaan pemain-pemain muda. Bibit-bibit muda perlu dibentuk secara sistematis untuk kepentingan jangka panjang. Hasil pembinaan itu mungkin baru bisa dipetik 15 atau 20 tahun mendatang.

Lupakan Bambang Pamungkas, Ponario Astaman, Gonzales, Boaz, dan angkatannya.

Foto: Yahoo Sport

No comments:

Post a Comment