08 October 2011

Low Trust di Gereja



Makin banyak penjahat di Surabaya---tiap hari kita baca di koran---sehingga masyarakat akhir-akhir ini makin paranoid. Makin sulit mempercayai orang lain. Bahkan, tetangga sendiri pun dicurigai. Kalau 10 tahun lalu Indonesia digolongkan low trust society, mungkin sekarang ini sudah mendekati distrust society.

Tetangga dicurigai. Teman segereja tidak dipercaya. Omongan presiden diragukan. Anggota parlemen apa lagi. Situasi yang kalau terus dibiarkan bisa sangat berbahaya. Low trust society berarti kita kehilangan modal sosial untuk maju dan berkembang lebih cepat.

Saya teringat low trust society, konsep Fukuyama ini, setelah datang ke Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pregolan Bunder Surabaya, Sabtu pagi (8/10/2011). Saya hendak meminjam foto almarhum Pendeta Liem Ie Tjiauw yang jasadnya baru dikremasi kemarin di Kembang Kuning. Foto semasa hidup ini perlu untuk melengkapi tulisan obituari saya di surat kabar.

Saya memperkenalkan diri, kemudian menyampaikan tujuan saya. Dan staf GKI Pregbun menerima saya dengan baik. Setelah membongkar dokumen selama 10 menit, pegawai perempuan itu menemukan sebuah buku yang ada foto Pendeta Liem bersama keluarga. “Puji Tuhan,” kata saya. Ini yang saya cari.

Buku kecil itu semakin berbobot karena ada tulisan Pendeta Eka Darma Putra tentang sahabatnya, Pendeta Liem. Saya langsung minta pinjam buku kecil itu. “Buat memperkaya tulisan saya tentang almarhum,” kata saya.

Staf GKI Pregbun keberatan. Alasannya logis: buku itu hanya satu. Meski tidak mengatakannya, saya bisa meraba-raba apa yang dia pikirkan. “Bagaimana kalau hilang? Apakah saya bisa dipercaya? Apakah saya bisa mengembalikan buku itu?”

Saya pun beberapa kali menjamin bahwa buku itu pasti akan segera saya kembalikan setelah membuat tulisan obituari Pendeta Liem Ie Tjiauw. Toh, untuk apa saya menyimpannya? Tetap saja Mbak Staf itu tidak mengizinkan. Saya menyerah.

Saya pun makin sadar bahwa tak ada gunanya lagi meyakinkan pengurus GKI itu. Mungkin tampang saya memang sangat meragukan, sehingga sulit dipercaya. Jangan-jangan dia mengira saya ini wartawan palsu yang hanya berpura-pura menulis obituari pendeta senior itu.

Maka, saya pun mengambil langkah darurat. Empat halaman buku kecil itu saya potret dengan kamera digital. “Terima kasih, Mbak,” kata saya, lalu pulang.

Untuk kesekian kalinya, saya berhasil membuktikan konsep LOW TRUST SOCIETY itu.

1 comment:

  1. Hhmm... kalau mas Hurek datang tetapi buku yang tinggal satu-satunya tsb sudah tidak ada karena dihilangkan peminjam sebelum mas Hurek...

    ReplyDelete