27 October 2011

Lomba Mocopat Antargereja



Budaya tradisional sudah lama tergusur, termasuk di lingkungan gereja. Wajah gereja-gereja kita dalam 20 tahun terakhir makin Barat, makin Amerika. Nama-nama gereja yang dulu pakai bahasa Indonesia, belakangan diubah jadi bahasa Inggris. Makin Inggris, Anda dianggap makin modern dan hebat.

Syukurlah, di Surabaya, saya lihat gereja-gereja Katolik masih aktif nguri-uri budaya Jawa. Tiap minggu kelima (setahun empat kali) diadakan misa dalam bahasa Jawa. Tak hanya bahasanya, misa inkulturasi itu juga menampilkan tembang-tembang Jawa, karawitan, busana, dan sebagainya dalam nuansa Jawa.

Ini penting. Sebab, komunitas Katolik pertama di tanah Jawa pada 1904, tepatnya di Sendangsono, Kabupaten Kulonprogo, Jogjakarta, memang menggunakan liturgi Jawa. Sampai sekarang pun saya masih sekali-sekali aktif berkunjung ke Gereja Katolik Promasan, di dekat Senandangsono, untuk ikut misa raya dalam bahasa dan budaya Jawa. Jauh lebih berkesan ketimbang pakai bahasa Indonesia, Inggris, atau Latin.

Setiap kali ikut perayaan ekaristi inkulturasi Jawa, meski bahasa krama inggil saya sangat lemah, saya selalu merasa terharu. Saya merasa bahasa Katolik bukanlah 'agama Londo' (agamanya orang Belanda), agama Barat, tapi sudah meresap ke dalam hati jemaat yang berasal dari etnis Jawa.

Maka, saya sedih melihat begitu banyak gereja (non-Katolik) yang dalam 20 tahun terakhir makin nginggris, makin kebarat-baratan. Makin jauh dari akar budaya asalnya dan ingin memfoto kopi Barat, khususnya Amerika, agar kelihatan lebih hebat dan modern. Dan gembala-gembala alias pendeta-pendeta, yang banyak di antaranya tidak studi teologi dan sejarah gereja secara matang, ikut larut dalam arus globalisasi gereja yang salah kaprah itu.

Belum lama ini, 14 Oktober 2011, diadakan lomba mocopat dan gending di halaman Gereja Katolik Redemptor Mundi, Dukuh Kupang, Surabaya. Ada 44 peserta mocopat dan 12 grup karawitan dari tiga macam gereja: Katolik, Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), dan Gereja Pentakosta Pusat Surabaya (GPPS). Mereka berasal dari 22 kabupaten/kota di Jawa Timur.

"Kita ingin nguri-uri budaya. Dan itu harus kita mulai dari lingkungan Gereja Katolik," kata Romo Eko Budi Susilo, penasihat panitia, yang juga Pastor Paroki Katedral Surabaya, kepada saya.

Romo kelahiran Karanganyar, Jawa Tengah, ini memang pecinta budaya Jawa kelas berat. Saat kuliah di STFT Widya Sasana Malang, dia kerap mengantar temannya, sesama frater, yang sering main wayang kulit. Setelah jadi pastor, Romo Eko aktif nanggap wayang kulit untuk memeriahkan ulang tahun paroki dan acara-acara besar di gereja.

Romo Eko jugalah yang membeli seperangkat gamelan komplet untuk inventaris Paroki Redemptor Mundi Surabaya. Jangan heran, Romo Eko sangat 'disayangi' komunitas pedalangan di Kota Surabaya. Bahkan, dia diangkat jadi penasihat Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Surabaya.

Lomba mocopat yang disaksikan ratusan orang ini terasa sejuk. Para peserta unjuk kebolehan melantunkan tembang wajib Katresnan Tanpa Wates atau Kasih Tanpa Batas, karya GP Sindhunata SJ, pastor yang juga wartawan, budayawan, dan seniman terkemuka di Jogjakarta. Tembang-tembang ini dipetik dari kitab suci alias Alkitab.

Karena itu, mendengar tembang-tembang mocopat yang dilantunkan para seniman gerejawi ini ibarat mendengar sabda Tuhan sendiri. Sabda Tuhan yang disampaikan dalan sentuhan seni tembang Jawa yang sangat dalam.

Syukurlah, tak sedikit peserta mocopat dan gending rohani ini berasal dari kalangan generasi muda di bawah 20 tahun.

"ORA ANA KANG LUWIH LUHUR
TINIMBANG TRESNANING WONG
KANG MASRAHAKE NYAWANE KANGGO MITRA-MITRANE" (Yoh 15:37)

Rahayu!
Berkah Dalem!

1 comment:

  1. Bagus artikel ini. Pancen para pandita sing seneng niru-niru budaya Amrik iku kudu dikethak endase.

    ReplyDelete