24 October 2011

Komodo Masih Jauh




Nama komodo semakin banyak dibicarakan akhir-akhir ini. Ada kampanye yang masif agar binatang purba di kawasan pulau-pulau kecil di Flores Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), ini dijadikan salah satu keajaiban dunia. Sebegitu pentingkah status atau predikat komodo sebagai keajaiban dunia?

Bisa penting karena komodo dan pulau-pulau sekitar, khususnya Flores dan NTT, bakal jadi jujukan wisatawan dunia. Makin banyak turis, tentu saja ekonomi di NTT bisa meningkat. Angka kemiskinan yang tinggi, predikat NTT sebagai Nusa Tetap Tertinggal atau Nasib Tidak Tentu, bisa perlahan-lahan hilang.

Setidaknya, Pulau Komodo, Rinca, dan pulau-pulau kecil yang jadi habitat varanus komodoensis bisa dilirik oranglah. Jangan hanya Bali atau Lombok saja yang dapat kue pariwisata. Mudah-mudahan kampanye gencar, yang didukung penuh Jusuf Kalla, ini berhasil.

Tapi, andaikata tidak berhasil, si komodo ini tetap saja binatang purba yang hanya ada di bumi Indonesia. Dan itu sudah suatu keajaiban dunia, tanpa perlu pemungutan suara, polling SMS, mobilisasi e-mail, dan sebagainya.

Masih banyak cara untuk mempromosikan komodo tanpa harus terjebak permainan pihak-pihak tertentu di luar negeri yang punya kepentingan bisnis di balik proyek 'keajaiban dunia' itu.

Lucu juga kalau status 'keajaiban dunia' diperoleh dari SMS. Kalau SMS-nya kurang, status 'keajaiban' itu hilang, digeser daftar lain yang mungkin kalah bobot dibandingkan binatang purba bernama komodo itu. Aneh binti ajaib!

Sebagai orang NTT, saya tentu saja sangat bangga melihat kampanye besar-besaran untuk si komodo. Sejak jadi provinsi sendiri pada 20 Desember 1958, komodo menjadi lambang NTT. Tapi, anehnya, orang-orang NTT sendiri hampir tidak pernah melihat langsung binatang komodo itu. Kecuali tentu saja penduduk Pulau Komodo, Rinca, Labuan Bajo, dan sebagian Kabupaten Manggarai.

Mengapa begitu?

Karena di NTT tidak ada kebun binatang. Komodo-komodo itu biasanya dikirim untuk koleksi kebun binatang di Jawa, Sumatera, atau luar negeri. Saya sendiri, yang asli NTT, pertama kali melihat komodo justru di Kebun Binatang Surabaya, Jawa Timur.

Meskipun punya banyak kelebihan dan keunikan sebagai satwa langka, bagaimanapun juga komodo adalah binatang buas yang sangat berbahaya. Kalau tidak diawasi, ditempatkan di ruang khusus, si komodo bisa mengamuk dan memangsa manusia. Saya kira, itu yang jadi pertimbangan mengapa pemerintah daerah di NTT tidak pernah 'mensosialisasikan' komodo kepada warga NTT sendiri.

Selain itu, warga NTT sendiri asing dengan komodo karena biaya perjalanan ke Labuan Bajo dan Pulau Komodo memang sangat mahal. Belum lagi biaya konsumsi, penginapan, dan sebagainya. Jauh lebih mahal biaya transportasi dari Lembata atau Flores Timur atau Kupang ke Komodo ketimbang ke Jawa. Bahkan, lebih mahal ketimbang ongkos merantau ke Malaysia Timur.

Maka, ketimbang buang-buang uang hanya untuk melihat binatang komodo, orang-orang NTT lebih suka buang-buang uang untuk bayar calo TKI ke Sabah dan Sarawak di Malaysia Timur. Merantau ke Malaysia dianggap punya prospek ekonomi yang jelas ketimbang jalan-jalan ke Pulau Komodo.

Ini memang pikiran khas orang melarat di kampung-kampung NTT.

Pemda NTT sendiri setahu saya sejak dulu kurang optimal menjadikan Pulau Komodo dan sekitarnya sebagai pusat wisata unggulan NTT. Baru-baru ini saja setelah ada proyek 'keajaiban dunia' baru ada geliat.

Tapi bagaimana dengan infrastruktur pendukung? Jadwal pesawat reguler? Akomodasi atau perhotelan? Kesiapan warga Manggarai Barat dan kepulauan menjadi tuan rumah bagi wisatawan dalam dan luar negeri? Ini masih harus digarap betul oleh pemda NTT, Manggarai Barat, dan pemkab-pemkab di Pulau Flores.

Stagnannya pariwisata di Pulau Komodo sebetulnya bukan salah pemda-pemda di Flores dan NTT semata. Ini juga tak lepas dari karakternya sebagai wisata petualangan [saya biasa sebut wisata uji nyali] dengan konsumen yang memang terbatas. Sangat berbeda dengan karakter pariwisata di Pulau Bali atau Singapura yang fun dan rekreatif.

Orang-orang di Surabaya, juga kota-kota lain di Jawa, misalnya, lebih suka melancong ke Bali atau Singapura. Selain transportasinya lebih lancar, pasti, dan murah, objek wisata yang bisa dinikmati pun lebih menghibur dan aman.

Orang-orang Indonesia juga cenderung lebih suka menikmati suasana kota yang jauh lebih modern ketimbang yang ada di Indonesia. Itu pula sebabnya arus pelancong Indonesia ke Tiongkok, Taiwan, Eropa, dan Amerika Serikat kian meningkat.

Maka, jangan heran turis yang datang ke Pulau Komodo kebanyakan orang Eropa, Amerika, atau Jepang yang memang suka petualangan dan sudah bosan dengan suasana kota yang modern, canggih, dan artifisial.

1 comment:

  1. Gambaran yang menarik dan jujur dari seorang putra daerah. Mohon ijin share mas Hurek...

    ReplyDelete