16 October 2011

Gita Smala Konser Die Jahreszeiten



Tak hanya Paduan Suara Mahasiswa ITS Surabaya yang hebat. Pekan lalu, Paduan Suara SMAN 5 Surabaya yang dikenal dengan Gita Smala bikin konser hebat di auditorium SMA Kristen Petra 1 Surabaya. Konser Gita Smala ini ‘hebat’ karena mereka sudah bisa membawakan repertoar-repertoar berat sekelas Die Jahreszeiten karya Joseph Haydn.

Sebanyak 47 penyanyi Gita Smala membawakan 38 komposisi yang tingkat kesulitannya tinggi itu. Mereka konser bareng Coro Semplice (19 orang) dan Lista Symphony Orchestra (45 orang). Setahu saya sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah ada, paduan suara tingkat SMA bikin koser diiringi orkes simfoni. Apalagi pakai repertoar kelas berat.

Salut buat Gita Smala! Salut buat para pembina! Salut buat kepala sekolah dan guru-guru yang memberi ruang kepada para siswa untuk mengembangkan ekstrakurikuler paduan suara di sekolah. Sebab, di SMA-SMA lain---yang prestasi akademiknya kalah jauh dengan SMAN 5 Surabaya---para siswa sulit mendapat peluang untuk ikut paduan suara. Apalagi dapat dukungan dana dan materi untuk memajukan kor sekolah.

Die Jahreszeiten memang tema yang fenomenal di dunia paduan suara dan simfoni. Penonton biasanya punya kesan mendalam setelah melihat konser. Kesan yang tak akan hilang selama bertahun-tahun, bahkan sepanjang hayat. Anggota kor dan musisi tentu punya pengalaman yang lebih mendalam lagi.

Saya yang hanya tahu komposisi MUSIM BERGANTI, salah satu nomor Die Jahreszeiten, yang diindonesikan untuk lagu wajib lomba paduan suara mahasiswa di Jawa Timur pada 1990-an, masih teringat lagu ini. Komposisi panjang yang asyik. Tapi juga rawan salah bila kurang konsentrasi.

Gara-gara Die Jahreszeiten pula, Solomon Tong akhirnya bertekad mendirikan sebuah orkes simfoni di Surabaya. Tekad, atau lebih tepat dendam bertahun-tahun, yang baru terwujud pada akhir Desember 1996. Ada apa dengan Die Jahreszeiten dan Solomon Tong?

Dirigen dan guru musik terkenal ini beberapa kali bercerita kepada saya. Ketika masih muda, Solomon Tong bersama dua saudaranya diajak memperkuat paduan suara yang akan konser bersama orkes simfoni di THR (Taman Hiburan Rakyat). Orkes simfoni itu dipimpin Tino Kerdejk, pemusik asal Belanda yang sangat terkenal di Jawa Timur, bahkan Indonesia, pada era 1950-an hingga 1970-an.

Meneer Tino ini seorang maestro musik klasik. Komposer hebat. Pelatih paduan suara yang hebat. Pemusik hebat. Dirigen hebat. Semua yang hebat-hebat di bidang musik disandang Tino. Juga hebat dalam memikat nona-nona cakep tempo doeloe!

Konser Die Jahreszeiten bersama Meneer Tino itu, menurut Solomon Tong, sangat dahsyat. Itulah pertama kali Pak Tong merasakan hebatnya paduan suara bila main bersama symphony orchestra. “Saya ingin suatu ketika punya symphony orchestra dan paduan suara berkualitas,” kata Pak Tong.

Saya yakin para anggota Gita Smala pun punya kesan mendalam dengan Die Jahreszeiten. Siapa tahu kelak ada yang jadi dirigen, komposer, atau pembina musik klasik di Surabaya. Paling tidak di tangan anak-anak muda inilah kita masih percaya bahwa musik klasik tak akan pernah mati. Selalu tumbuh generasi baru dari masa ke masa.

3 comments:

  1. Hello Mr. Hurek,

    my name is Margo Wening, and I very recently discovered a photo in your blog from March 2010 of a village sign with my name on it
    which surprised me a lot! Could you please tell me if that sign is real, where it is located and any other info you might have for me ?

    Also, I would appreciate it very much if you would translate the text accompanying that particular image on the Internet :
    Peresmian pura oleh bupati juga dihadiri sejumlah pejabat pemkab dan

    Thank you so much for your response !

    Regards,

    Margo Wening
    Netherlands

    ReplyDelete
  2. The sign is for a Hindu place of worship. It is high Javanese. Wening is "clear" or "pure", as in water or mind. Margo is written in Javanese script as Marga but is read "Margo" ("o" as in "caught" not as in "go") and spelled thus in roman letters. I don't know what it means exactly, but in Indonesian it means a clan or community. So it may simply mean a pure community. Your parents must be of Javanese descent.

    ReplyDelete
  3. Margo Wening, the sentence simply means "the inauguration of the (Hindu) temple was also attended by several municipal officials and ..."

    The location of the temple is in Sidoarjo, East Java, and it is unusual because the vast majority of East Javans are Muslims.

    ReplyDelete