31 October 2011

Fu Long Swie Pencipta Ling Tien Kung




Di usia 76 tahun, Fu Long Swie masih segar dan kuat. Setiap hari mantan atlet nasional pada era 1960-an ini aktif berkeliling ke mana-mana untuk memimpin latihan Ling Tien Kung yang kini diikuti ribuan peserta. Fu Long Swie merupakan pencipta gerakan 'senam' yang menekankan empet-empet anus ini.

Oleh LAMBERTUS HUREK


Bicara soal Ling Tien Kung dengan kakek 10 cucu ini seakan tak ada habis-habisnya. Dan, Fu Long Swie tak pernah kehabisan bahan dan analogi untuk menjelaskan manfaat Ling Tien Kung untuk menjaga kebugaran serta meremajakan tubuh. Maklum, sebelum memperkenalkan Ling Tien Kung kepada masyarakat pada 2005, Fu telah lebih dulu membuktikan khasiat 'senam' yang banyak menyerap filosofi dan ilmu kesehatan ala Tiongkok kuno itu.

Berikut petikan percakapan Fu Long Swie dengan Radar Surabaya usai memimpin latihan di Lapangan Ole-Ole, Jalan Raya Ngagel Surabaya, Jumat (28/10/2011) pagi. Didampingi sang istri dan sejumlah instrukturnya, Fu mengaku tak pernah menyangka gerakan Ling Tien Kung ciptaannya bisa berkembang luas ke berbagai kota, bahkan hingga ke luar negeri.

Anda dulu dikenal sebagai atlet nasional. Bagaimana Anda akhir bisa menemukan senam Ling Tien Kung?

Saya koreksi ya. Salah kalau Ling Tien Kung disebut senam. Beda sekali dengan senam-senam lain. Ini metode yang saya ciptakan untuk terapi kesehatan dan penyembuhan penyakit. Maka, orang-orang yang ikut Ling Tien Kung itu datang sambil membawa penyakit. Macam-macam penyakit itu. Tapi setelah mengikuti Ling Tien Kung secara rutin, syukurlah, penyakit-penyakit bawaan mereka perlahan-lahan sembuh.

Nah, saya dulu atlet sprint dan lompat jauh. Saat PON (Pekan Olahraga Nasional) tahun 1961, saya benar-benar memaksakan diri agar melompat sejauh mungkin. Saya harus juara! Tapi pada lompatan terakhir, kaki saya mengalami benturan yang sangat keras. Kaki saya retak sangat parah. Saya tidak bisa apa-apa lagi. Sejak itu saya pensiun sebagai atlet.

Lantas, Anda menekuni pengobatan tradisional?

Oh, tidak. Saya justru jadi guru matematika di SMA Sin Chung Surabaya. Saya memang sangat gemar matematika, khususnya aljabar dan geometri. Tapi sambil mengajar, saya terus berusaha untuk menyembuhkan kaki saya yang sakit parah itu. Saya datang ke banyak dokter, entah sudah berapa orang, tapi tidak ada kemajuan. Ya, sudah, saya kemudian membaca berbagai buku, khususnya buku-buku klasik Tiongkok yang kiranya bermanfaat dan bisa memberikan inspirasi bagi saya.

Apakah Anda kemudian menemukan terapi kesehatan di buku-buku itu?

Di salah satu buku disebutkan bahwa tubuh manusia itu sebetulnya punya sumber energi yang tak pernah padam. Sumber energi itu disebut ku sen bu se. Saya lantas teringat aki di mobil. Mobil kalau akinya lemah atau habis, mana bisa jalan? Saya menganalogikan tubuh manusia itu seperti mobil yang punya semacam 'aki'. Semua organ tubuh manusia dan sistem koordinasinya menerima suplai energi.

Seperti aki mobil, manusia pun menghasilkan arus listrik atau setrum. Arus itu terjadi karena terjadi tegangan pada kutub positif (anoda) dan negatif (katoda). Nah, yang positif ada di anus dan negatif di pusar. Seperti halnya mobil, kalau aki soak, mesin tidak jalan. Kalau aki tubuh rusak, tubuh manusia akan ringkih. Kalau dicas, tubuh kembali penuh energi. Ngecasnya itu dengan empet-empet anus. Ling Tien Kung berasal dari situ.

Mengapa gerakan yang Anda ciptakan didominasi empet-empet anus?

Sebab, kutub positif manusia itu terdapat pada anus. Sedangkan kutub negatif di pusar. Otot-otot di sekitar anus memegang peran penting karena dia yang jadi pengikat energi. Semakin tua, otot-otot itu akan mengendur. Kalau kendur, maka energi yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi organ tubuh menjadi drop. Maka, mulai masuk berbagai penyakit.

Berapa lama Anda akhirnya mendapat kesimpulan seperti itu?


Yah, saya mulai mencari sejak 1961 dan baru ketemu tahun 1985. Dua puluh tahun lebih, tepatnya 24 tahun. Tahun 1985 saya mulai menyusun gerakan-gerakan berdasarkan prinsip anoda dan katoda atau cas aki itu. Tentu saja melalui proses revisi dan sebagainya sampai tercipta Ling Tien Kung yang kita kenal sekarang.

Mengapa disebut Ling Tien Kung?

Itu dari bahasa Tionghoa yang berarti ilmu titik nol. Fisolofinya panjang kalau dijelaskan. Tapi kira-kira ini merupakan ilmu titik awal. Titik awal menuju kesehatan dan kehidupan yang lebih baik.

Uji cobanya di mana?

Saya sendiri yang pertama kali mencoba ilmu ini. Kebetulan waktu itu saya terserang penyakit yang sangat parah. Saya kolaps. Nah, kesempatan itu saya gunakan untuk mempraktikkan Ling Tien Kung. Syukurlah, penyakit-penyakit di dalam badan saya ini akhirnya hilang. Bahkan, saya yang bertahun-tahun tidak bisa berlari, sekarang bisa lari kembali. Saya bersedia uji lari dengan anak-anak muda. Hehehe... Istri saya juga ikut Ling Tien Kung, dan akhirnya semakin sehat.

Sejak kapan Ling Tien Kung diperkenalkan kepada masyarakat?


Sebetulnya tahun 2003 sudah siap. Tapi ada beberapa gerakan yang perlu disempurnakan, termasuk membuat musik pengiring latihan. Kemudian tahun 2005 saya mulai mengadakan latihan di halaman Central Park Mulyosari. Pesertanya sangat sedikit, hanya beberapa orang saja.

Lantas, bagaimana Ling Tien Kung bisa menyebar luas ke mana-mana seperti sekarang?

Saya juga tidak pernah membayangkan perkembangan Ling Tien Kung seperti ini. Saya tidak pernah hitung berapa ribu orang yang melakukan latihan rutin di berbagai daerah. Saya tidak pernah promosi, tidak pernah mengajak orang untuk ikut. Mereka datang sendiri karena dikasih tahu temannya. Nah, sebagian besar orang yang datang latihan itu membawa penyakitnya sendiri-sendiri. Tapi, setelah rajin berlatih, gerakan-gerakannya benar, saya optmistis penyakitnya akan hilang.

Apa syarat mengikuti Lien Tien Kung?

Tidak pakai syarat macam-macam. Cukup datang ke tempat latihan Ling Tien Kung. Tidak pakai iuran, tidak pakai bayar, dan pungutan apa pun. Semuanya gratis. Ilmu ini saya peroleh dari Tuhan secara cuma-cuma, maka saya pun membagikannya secara cuma-cuma pula.

Paling setelah latihan beberapa kali Anda diminta membeli kaos dan training supaya latihan terlihat lebih rapi dan bagus. Yang jelas, kita terbuka untuk siapa saja dari semua suku, etnis, agama, ras, dan sebagainya. Siapa yang ingin sehat, silakan datang. (*)




Nama : Fu Long Swie
Nama lain : Full Long Sweet
Lahir : Singaraja, Bali, 25 Oktober 1935
Istri : Elia Bestari
Anak : 5 orang
Cucu : 10 orang
Hobi : Membaca, mengajar
Moto : Usia senja, badan sehat bahagia

Profesi : Guru Ling Tien Kung
Sekretariat : Kendangsari M/4 Surabaya
Tempat Latihan : Lapangan Ole-Ole, Jalan Raya Ngagel Surabaya

Riwayat Karier :
Atlet lari dan lompat jauh 1960-an
Guru Matematika SMA Sin Chung Surabaya

4 comments:

  1. Apk d kwsn kalibata /ps. Minggu sjakarta selatan sdh ada ?

    ReplyDelete
  2. Pak Fu Long Swie, kemarin saya latihan Ling Tien Kung di Hest palm ternyata ada efeknya bagus. maka untuk melestarikan ciptaan anda saya bantu mendaftarakan hak cipta anda, apakah bapak mau, kebetulan saya seorang advokat di surabaya, Kantor saya di JL.Kedung Doro 92 D Surabaya, gratis pak, jika bapak bersedia silakan datang ke kantor saya, Hormat saya ; Dr. Ir. YUDI WIBOWO SUKINTO.SH.MH.

    ReplyDelete
  3. PAK FU LONG SWIE , PENEMUAN ANDA SANGAT BERMANFAAT TERHADAP UMAT MANUSIA MAKA KARUS DI LINGDUNGI SECARA HUKUM HAK CIPTA, SY JUGA LATIHAN MANFAATNYA LUAR BIASA, MAKA SY TERTARIK MEMBANTU ANDA, JIKA ANDA MAU SY BANTU PENDAFTARAN HAK CIPTA ANDA SECARA GRATIS.ANDA SILAKAN DATANG KE KANTOR ADVOKAT jL.Kedungdoro 92 D Surabaya, salam hormat sy: Dr.Ir. Yudi Wibowo Sukinto.SH.MH.

    ReplyDelete
  4. Pak Fu Long, apa d Jombang ada club Ling tien Kung?

    ReplyDelete