17 October 2011

Budaya Merokok di Flores Timur



Melihat bungkus rokok Commodore secara tak sengaja, saya jadi ingat kampung. Tepatnya budaya merokok di Nusa Tenggara Timur, khususnya Flores dan pulau-pulau sekitarnya. Seperti di tempat-tempat lain di tanah air, orang Flores, khususnya laki-laki, memang sangat doyan merokok. Bahkan, merokok sudah jadi salah satu budaya di Flores.

Ketika ada bapak-bapak lewat di depan rumah, maka orang-orang di kampung saya di Lembata 'diwajibkan' untuk menyapa. Tak hanya menyapa, juga mengajak mampir untuk GOLO BAKO. Ungkapan bahasa Lamaholot ini berarti 'menggulung daun lontar/siwalan' untuk merokok.

"Ama, mo pai golo bako ki," begitu ungkapan basa-basi ala etnis Lamaholot di Flores Timur dan Lembata. Artinya, "Bapak, mari mampir dulu untuk melinting rokok!"

Yang dilinting bukan daun jagung, tapi daun lontar alias siwalan. Seperti diketahui, lontar merupakan tanaman khas di daerah kering macam NTT yang juga menjadi ciri khas bumi Lamaholot. Orang Lamaholot seperti saya sering menyebut dirinya sebagai 'orang-orang lontar'. Bahasa daerahnya: "Tite ata koli lolon hena!"

Artinya: Kita sama-sama berasal dari kebudayaan lontar.

Pohon lontar memang serbaguna. Bisa untuk bahan bangunan karena sangat kuat. Daunnya untuk bikin timba. Niranya untuk gula dan minuman tradisional bernama tuak dan arak. Karena punya kultur lontar, jangan heran bila orang-orang Lamaholot di kawasan Flores Timur sangat doyan minum tuak, yang kemudian berlanjut dengan arak atau miras-miras buatan pabrik macam bir, wiski, dan sebangsanya.

Daun lontar dipakai untuk atap rumah. Bisa juga untuk tikar. Bisa untuk bakul dan sejenisnya. Dan, yang paling penting bagi laki-laki Lamaholot, daun lontar jadi klobot untuk melinting tembakau. Budaya merokok pakai daun koli (lontar) ini sudah berlangsung dari generasi ke generasi.

Rokok buatan sendiri. Tembakaunya pun tak usah beli karena bisa dipetik dari pekarangan atau kebun sendiri. Pada tahun 1980-an dan 1990-an kita bisa dengan mudah melihat bapak-bapak dan kakek-kakek membawa kotak khusus berisi tembakau plus daun koli. Bagian dalam daun siwalan alias lontar alias koli itu digaruk sehingga gampang digulung. Kalau sudah merokok, suasana sangat gayeng. Orang bisa bicara panjang lebar, bahkan sampai lupa waktu.

Begitu kuatnya budaya merokok, orang-orang tua di kampung kurang percaya dengan peringatan pemerintah bahwa 'merokok itu merugikan kesehatan'. Kalau ada ceramah-ceramah kesehatan tentang bahaya rokok, bapak-bapak dan kakek-kakek itu mendengarkan dengan sabar sambil senyam-senyum. Tapi kebanyakan tidak percaya bahwa rokok, atau tepatnya tembakau, itu mengandung begitu banyak bahan kimia berbahaya.

Mengapa kurang yakin? Mereka belum melihat bukti orang-orang yang merokok itu cepat mati atau terkena penyakit-penyakit yang disebutkan dokter. Apalagi usia kakek-kakek yang 'melestarikan' budaya merokok itu selama ini panjang-panjang. Baru meninggal dunia di atas 80 tahun. Hampir tidak ada yang sakit parah kemudian dirawat berbulan-bulan di rumah sakit.

"Bapak Dokter malah lebih dulu meninggal daripada kita-kita. Padahal, Bapak Dokter itu tidak pernah merokok," begitu guyonan yang beredar di kampung-kampung pelosok Flores Timur pada era 1990-an. Tulisan 'peringatan pemerintah' di bungkus rokok pun diangap angin lalu.

Setelah orang Flores banyak merantau ke Malaysia, khususnya Sabah dan Serawak, sejak 1960-an, budaya GOLO BAKO alias ngelinting rokok ini mulai sedikit bergeser. Muncul kebiasaan baru, yang dianggap lebih maju, yakni mengisap rokok lawas merek COMMODORE. Rokok putih ini rasanya kurang populer di Jawa, tapi sangat digilai di pelosok Flores Timur. Warung-warung kecil yang jualan Commodore biasanya laris manis.

Selain Commodore, rokok kretek merek Bentoel sangat digandrungi generasi muda yang mulai makan sekolahan dan terpengaruh gaya hidup perkotaan. Beda dengan di Jawa Timur yang lebih suka rokok Gudang Garam atau Djarum.

Setelah tahun 2000, kakek-kakek penggemar rokok klobot ala Lamaholot dari daun lontar itu satu per satu meninggalkan dunia fana ini. Bukan karena kanker atau penyakit-penyakit berbahaya, tapi karena memang sudah terlalu tua. Budaya merokok masih dilestarikan di kampung, tapi kebanyakan bukan lagi rokok klobot, melainkan rokok-rokok buatan pabrik besar di Jawa Timur.

Sapaan ramah 'AMA, GOLO BAKO KI' pun sudah jarang terdengar di kampung saya. Selain penggemar rokok klobot tinggal sedikit, rokok-rokok pabrikan ini cukup mahal. Harus punya uang baru bisa membeli Bentoel atau Gudang Garam. Beda dengan rokok klobot yang memang gratisan.

No comments:

Post a Comment