21 October 2011

Bos Dahlan Jadi Menteri BUMN



Dahlan Iskan memang luar biasa. Dia baru saja dilantik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai menteri BUMN. Menteri yang mengurus 141 badan usaha milik negara dengan aset sekitar 3.600 triliun.

SBY tentu tahu benar kapasitas seorang Dahlan Iskan, yang sebelumnya menjabat direktur utama PLN. SBY pun tahu persis Pak Dahlan menjalani operasi ganti hati di Tianjin, Tiongkok, 2007. SBY pun tahu kondisi kesehatan Pak Bos, sapaan akrab Dahlan Iskan di lingkungan Jawa Pos Group, yang semakin prima setelah ganti hati.

Setiap minggu Pak Bos keliling dari daerah ke daerah untuk meninjau langsung proyek-proyek PLN. Termasuk jalan kaki ke pegunungan di kawasan Papua. Orang sehat sekalipun, maksudnya yang tidak ganti hati, pun belum tentu bisa melakukan jelajah alam sebanyak Pak Bos.

Hebatnya, seperti biasa, Dahlan Iskan menulis catatan perjalanannya dengan detail, hidup, dan menarik. Jauh lebih menarik ketimbang tulisan wartawan-wartawan mana pun di Jawa Timur. Bahkan, Indonesia. Dahlan Iskan memang jurnalis tulen. Maestro jurnalisme tutur yang belum ada tandingannya di Indonesia, menurut saya.

Melihat upacara pelantikan Pak Dahlan Iskan di televisi, saya langsung ingat tulisan beliau tentang masa ketika merintis karier sebagai koresponden majalah TEMPO di Surabaya. Cerita tentang kegigihannya mencari berita, jalan kaki, menolak amplop, itu bisa dibaca di buku GANTI HATI halaman 188.

Petikannya:

"Saya ingat, meski waktu itu sudah menyandang gelar wartawan majalah TEMPO yang begitu ternama, saya belum punya sepeda, apalagi sepeda motor. Rumah pun masih menyewa di satu gang sempit di belakang pasar Kertajaya, Surabaya. Tidak jauh dari rel kereta api. Rumah separo tembok separo kayu. Yang kamar mandinya dipakai bersama beberapa rumah tangga. Yang airnya dari sumur yang harus ditimba sendiri. Yang kasur tipisnya harus dihampar di lantai.

"Waktu harus wawancara ke daerah industri di Tandes Margomulyo, saya hanya punya uang Rp 75 di saku. Hanya cukup untuk naik bemo berangkatnya saja. Dari Kertajaya ke Jembatan Merah Rp 25, lalu dari Jembatan Merah ke Tandes Rp 50.

"Selesai wawancara saya diberi amplop. Saya tahu isinya pasti uang. Saya menolaknya meski di saku tidak ada lagi uang sepeser pun. Meski Tandes-Kertajaya begitu jauhnya. Saya pulang dengan jalan kaki. Hampir dua jam. Karena beberapa kali harus berhenti untuk menghindar dari panasnya Surabaya."


Catatan pengalaman Dahlan Iskan ketika menjadi wartawan TEMPO ini saya ingat di luar kepala. Saya juga memberikan tanda khusus di buku GANTI HATI karena sangat membekas di hati saya. Sangat sulit membayangkan orang jalan kaki dari Kertajaya ke Tandes yang sekitar 10 km itu di tengah panasnya Surabaya. Saat ini saya hampir tidak menemukan lagi orang Surabaya yang mau jalan kaki barang satu dua kilometer. Kecuali kalau ada lomba gerak jalan Mojokerto-Surabaya.

Sekarang Dahlan Iskan, wartawan sejati yang jalan kaki dua jam karena tak punya uang di saku itu, akhirnya beroleh kemuliaan. Bersakit-sakit dulu, bersenang-senang kemudian. Kemarin (19/10/2011), Pak Bos dipercaya Presiden SBY untuk mengelola uang negara yang begitu banyak: 3.600 triliun.

Andai saja dulu, ketika wawancara di Tandes, Dahlan Iskan menggadaikan idealisme, terima amplop untuk sekadar uang transpor, mungkin Dahlan Iskan tak akan bisa menjadi orang besar. Maestro yang sukses menangani badan usaha milik daerah Jatim, kemudian PT Perusahaan Listrik Negara, setelah sebelumnya sukses membenahi Jawa Pos yang hampir bangkrut pada 1982.

Pelajaran moral:

1. Bersakit-sakit dulu, bersenang-senang kemudian.
2. Jangan terima amplop kalau ingin jadi orang besar.
3. Yang sudah terima amplop, tidak akan jadi orang besar.

Pak Bos, selamat bertugas!
Zhu nin haoyun!

7 comments:

  1. luar biasa, saya merinding membaca kisah ini. dan dahlan iskan memang pantas jadi menteri, bahkan jadi presiden sekalipun, dengan catatan tidak ada upaya setir menyetir dari partai politik pengusungnya

    ReplyDelete
  2. Pak Dahlan Iskan tokoh yang perlu diteladani. Dia sangat terbuka; walaupun dari latar belakang keluarga santri, dia mau bergaul dengan orang apapun, baik Tionghoa atau pribumi, baik kere atau kaya. Dia mau belajar terus, walaupun sudah lewat 50 masih belajar bahasa Cina dan ilmu manajemen dari siapapun. Dia teladan dan panutanku; walaupun aku lulusan universitas ternama di luar negeri, aku masih perlu belajar banyak dari langkah-langkah Pak Dahlan.

    ReplyDelete
  3. met kerja buat pak dahlan!!! good luck!!

    ReplyDelete
  4. benar2 fron hero to zero... aq juga udah baca tulisan2 beliau yg sangat inspiratif. pak dahlan bisa jadi pendorong semangat anak2 kampung untuk maju... org2 miskin pun punya potensi utk maju kalo kerja keras.

    "kerja! kerja! kerja"

    ReplyDelete
  5. best lah orang satu ini
    suwun mas hurek

    ReplyDelete
  6. kita lihat aja apa yg dilakukan pak DI untuk mengubah BUMN. moga2 sukses

    ReplyDelete
  7. pak dahlan org luar yg gak punya beban. beliau mestinya berani membersihkan org2 BUMN yg gak mampu dan bikin masalah...

    ReplyDelete