31 October 2011

David Foster Tak Pernah ke Surabaya



Sang hitman, David Foster, datang lagi dan lagi ke Jakarta. Bikin konser, Tuan Foster membawa serta penyanyi-penyanyi kawakan dunia. Siapa tak kenal David Foster, salah satu maestro musik pop dunia?

Sayang, kiat di Surabaya tak pernah dapat kesempatan untuk menyaksikan langsung konser The Hitman. Paling hanya 'mengintip' sejenak lewat liputan sekelebat di televisi atau tulisan singkat di koran. Apakah musik yang ditawarkan Foster di konser sama persis dengan di kaset/CD atau ada banyak improvisasi? Kita yang di Surabaya tak tahu.

"Pokoknya, dahsyat banget deh. Namanya aja David David Foster," ujar seorang penggemar David Foster yang pernah menyaksikan konser Hitman di Jakarta beberapa bulan silam.

Dahsyat! Keren abis! Begitulah kata-kata pujian yang sering kita dengar tentang David Foster. Termasuk ketika kita membaca reportase atau catatan wartawan Kompas, yang rupanya pengagum berat David Foster.

Mengapa David Foster tak pernah konser di Surabaya?
Bukankah Surabaya disebut-sebut kota nomor dua setelah Jakarta?
Mengapa hanya Jakarta yang jadi kota persinggahan penyanyi-penyanyi kelas dunia?

Yah, harus diakui, ini semua karena hitung-hitungan bisnis pertunjukan musik. Sampai saat ini hanya Jakarta yang punya daya beli tiket yang memang tidak murah... untuk ukuran mayoritas orang Indonesia itu. Memang tidak mudah menjual tiket konser musik seharga $50 (sekitar Rp 500.000), $100, $200... di Kota Surabaya.

Bahkan, beberapa promotor musik pernah mengeluh karena sangat sulit menjual tiket Rp 100.000 di Surabaya. Surabaya Symphony Orchestra (SSO) pimpinan Solomon Tong pun sejak didirikan pada 1996 selalu kesulitan menjual tiket VIP yang 'hanya' Rp 200.000. Apalagi harus menjual tiket pertunjukan David Foster yang di atas Rp 1 juta, nilai yang lebih tinggi ketimbang gaji buruh pabrik di Jawa Timur yang rata-rata masih di bawah $100 per bulan.

Log Zhelebour, promotor musik rock terkenal asal Surabaya, dalam beberapa percakapan dengan saya juga menyoroti masalah daya beli tiket di kota-kota luar Jakarta, termasuk Sishui. Log harus kerja sama dengan perusahaan rokok agar bisa menyubsidi penonton. Selama ini saya amati harga tiket yang dijual Mr Ong (nama lain Log Zhelebour alias Ong Oen Log) rata-rata di bawah Rp 20.000 alias hanya $2.

Lantas, kapan orang Surabaya (dan Jawa Timur) dapat kesempatan untuk menyaksikan langsung David Foster dan musisi-musisi kelas dunia lain? Ya, tunggu sampai daya beli masyarakat sudah mendekati Jakarta. Yang pasti, kata orang pintar, sampai sekarang 80% uang yang beredar di Indonesia menumpuk di Jakarta.

Karena itu, Surabaya bukan lagi kota nomor dua, tapi kota nomor 10.

Fu Long Swie Pencipta Ling Tien Kung




Di usia 76 tahun, Fu Long Swie masih segar dan kuat. Setiap hari mantan atlet nasional pada era 1960-an ini aktif berkeliling ke mana-mana untuk memimpin latihan Ling Tien Kung yang kini diikuti ribuan peserta. Fu Long Swie merupakan pencipta gerakan 'senam' yang menekankan empet-empet anus ini.

Oleh LAMBERTUS HUREK


Bicara soal Ling Tien Kung dengan kakek 10 cucu ini seakan tak ada habis-habisnya. Dan, Fu Long Swie tak pernah kehabisan bahan dan analogi untuk menjelaskan manfaat Ling Tien Kung untuk menjaga kebugaran serta meremajakan tubuh. Maklum, sebelum memperkenalkan Ling Tien Kung kepada masyarakat pada 2005, Fu telah lebih dulu membuktikan khasiat 'senam' yang banyak menyerap filosofi dan ilmu kesehatan ala Tiongkok kuno itu.

Berikut petikan percakapan Fu Long Swie dengan Radar Surabaya usai memimpin latihan di Lapangan Ole-Ole, Jalan Raya Ngagel Surabaya, Jumat (28/10/2011) pagi. Didampingi sang istri dan sejumlah instrukturnya, Fu mengaku tak pernah menyangka gerakan Ling Tien Kung ciptaannya bisa berkembang luas ke berbagai kota, bahkan hingga ke luar negeri.

Anda dulu dikenal sebagai atlet nasional. Bagaimana Anda akhir bisa menemukan senam Ling Tien Kung?

Saya koreksi ya. Salah kalau Ling Tien Kung disebut senam. Beda sekali dengan senam-senam lain. Ini metode yang saya ciptakan untuk terapi kesehatan dan penyembuhan penyakit. Maka, orang-orang yang ikut Ling Tien Kung itu datang sambil membawa penyakit. Macam-macam penyakit itu. Tapi setelah mengikuti Ling Tien Kung secara rutin, syukurlah, penyakit-penyakit bawaan mereka perlahan-lahan sembuh.

Nah, saya dulu atlet sprint dan lompat jauh. Saat PON (Pekan Olahraga Nasional) tahun 1961, saya benar-benar memaksakan diri agar melompat sejauh mungkin. Saya harus juara! Tapi pada lompatan terakhir, kaki saya mengalami benturan yang sangat keras. Kaki saya retak sangat parah. Saya tidak bisa apa-apa lagi. Sejak itu saya pensiun sebagai atlet.

Lantas, Anda menekuni pengobatan tradisional?

Oh, tidak. Saya justru jadi guru matematika di SMA Sin Chung Surabaya. Saya memang sangat gemar matematika, khususnya aljabar dan geometri. Tapi sambil mengajar, saya terus berusaha untuk menyembuhkan kaki saya yang sakit parah itu. Saya datang ke banyak dokter, entah sudah berapa orang, tapi tidak ada kemajuan. Ya, sudah, saya kemudian membaca berbagai buku, khususnya buku-buku klasik Tiongkok yang kiranya bermanfaat dan bisa memberikan inspirasi bagi saya.

Apakah Anda kemudian menemukan terapi kesehatan di buku-buku itu?

Di salah satu buku disebutkan bahwa tubuh manusia itu sebetulnya punya sumber energi yang tak pernah padam. Sumber energi itu disebut ku sen bu se. Saya lantas teringat aki di mobil. Mobil kalau akinya lemah atau habis, mana bisa jalan? Saya menganalogikan tubuh manusia itu seperti mobil yang punya semacam 'aki'. Semua organ tubuh manusia dan sistem koordinasinya menerima suplai energi.

Seperti aki mobil, manusia pun menghasilkan arus listrik atau setrum. Arus itu terjadi karena terjadi tegangan pada kutub positif (anoda) dan negatif (katoda). Nah, yang positif ada di anus dan negatif di pusar. Seperti halnya mobil, kalau aki soak, mesin tidak jalan. Kalau aki tubuh rusak, tubuh manusia akan ringkih. Kalau dicas, tubuh kembali penuh energi. Ngecasnya itu dengan empet-empet anus. Ling Tien Kung berasal dari situ.

Mengapa gerakan yang Anda ciptakan didominasi empet-empet anus?

Sebab, kutub positif manusia itu terdapat pada anus. Sedangkan kutub negatif di pusar. Otot-otot di sekitar anus memegang peran penting karena dia yang jadi pengikat energi. Semakin tua, otot-otot itu akan mengendur. Kalau kendur, maka energi yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi organ tubuh menjadi drop. Maka, mulai masuk berbagai penyakit.

Berapa lama Anda akhirnya mendapat kesimpulan seperti itu?


Yah, saya mulai mencari sejak 1961 dan baru ketemu tahun 1985. Dua puluh tahun lebih, tepatnya 24 tahun. Tahun 1985 saya mulai menyusun gerakan-gerakan berdasarkan prinsip anoda dan katoda atau cas aki itu. Tentu saja melalui proses revisi dan sebagainya sampai tercipta Ling Tien Kung yang kita kenal sekarang.

Mengapa disebut Ling Tien Kung?

Itu dari bahasa Tionghoa yang berarti ilmu titik nol. Fisolofinya panjang kalau dijelaskan. Tapi kira-kira ini merupakan ilmu titik awal. Titik awal menuju kesehatan dan kehidupan yang lebih baik.

Uji cobanya di mana?

Saya sendiri yang pertama kali mencoba ilmu ini. Kebetulan waktu itu saya terserang penyakit yang sangat parah. Saya kolaps. Nah, kesempatan itu saya gunakan untuk mempraktikkan Ling Tien Kung. Syukurlah, penyakit-penyakit di dalam badan saya ini akhirnya hilang. Bahkan, saya yang bertahun-tahun tidak bisa berlari, sekarang bisa lari kembali. Saya bersedia uji lari dengan anak-anak muda. Hehehe... Istri saya juga ikut Ling Tien Kung, dan akhirnya semakin sehat.

Sejak kapan Ling Tien Kung diperkenalkan kepada masyarakat?


Sebetulnya tahun 2003 sudah siap. Tapi ada beberapa gerakan yang perlu disempurnakan, termasuk membuat musik pengiring latihan. Kemudian tahun 2005 saya mulai mengadakan latihan di halaman Central Park Mulyosari. Pesertanya sangat sedikit, hanya beberapa orang saja.

Lantas, bagaimana Ling Tien Kung bisa menyebar luas ke mana-mana seperti sekarang?

Saya juga tidak pernah membayangkan perkembangan Ling Tien Kung seperti ini. Saya tidak pernah hitung berapa ribu orang yang melakukan latihan rutin di berbagai daerah. Saya tidak pernah promosi, tidak pernah mengajak orang untuk ikut. Mereka datang sendiri karena dikasih tahu temannya. Nah, sebagian besar orang yang datang latihan itu membawa penyakitnya sendiri-sendiri. Tapi, setelah rajin berlatih, gerakan-gerakannya benar, saya optmistis penyakitnya akan hilang.

Apa syarat mengikuti Lien Tien Kung?

Tidak pakai syarat macam-macam. Cukup datang ke tempat latihan Ling Tien Kung. Tidak pakai iuran, tidak pakai bayar, dan pungutan apa pun. Semuanya gratis. Ilmu ini saya peroleh dari Tuhan secara cuma-cuma, maka saya pun membagikannya secara cuma-cuma pula.

Paling setelah latihan beberapa kali Anda diminta membeli kaos dan training supaya latihan terlihat lebih rapi dan bagus. Yang jelas, kita terbuka untuk siapa saja dari semua suku, etnis, agama, ras, dan sebagainya. Siapa yang ingin sehat, silakan datang. (*)




Nama : Fu Long Swie
Nama lain : Full Long Sweet
Lahir : Singaraja, Bali, 25 Oktober 1935
Istri : Elia Bestari
Anak : 5 orang
Cucu : 10 orang
Hobi : Membaca, mengajar
Moto : Usia senja, badan sehat bahagia

Profesi : Guru Ling Tien Kung
Sekretariat : Kendangsari M/4 Surabaya
Tempat Latihan : Lapangan Ole-Ole, Jalan Raya Ngagel Surabaya

Riwayat Karier :
Atlet lari dan lompat jauh 1960-an
Guru Matematika SMA Sin Chung Surabaya

29 October 2011

Pribumi vs Pendatang Konflik Makam



TRAGEDI: Jenazah almarhum Pak Bambang, warga Perumahan Taman Sarirogo, Sidoarjo, dibawa pulang setelah ditolak rame-rame oleh penduduk lokal Desa Sumput. Padahal, tanah makam itu sudah dibeli oleh warga empat perumahan.


Di era Orde Baru, istilah pribumi dan pendatang (alias nonpribumi) laku keras. Orang Indonesia sangat mahfum maksud istilah ini: nonpribumi itu mengacu pada orang Tionghoa. Warga negara Indonesia keturunan India, Arab, Eropa, atau Amerika... jarang disebut-sebut 'nonpri' alias pendatang.

Kini, setelah Orde Baru bubar pada 20 Mei 1998, dikotomi pribumi vs nonpribumi (pendatang) ini sudah kurang terdengar. Apalagi, budaya, bahasa, dan adat-istiadat warga keturunan Tionghoa sudah dianggap sebagai bagian dari Indonesia.

Ahad, 23 Oktober 2011, terjadi lagi kasus yang mengingatkan saya pada dikotomi pribumi vs nonpribumi (lebih tepat: pendatang) dalam bentuk lain di Sidoarjo. Jenazah almarhum Bambang, yang beragama Islam, etnis Jawa, ditolak ramai-ramai oleh warga Desa Sumput, Kecamatan Sidoarjo, ketika hendak dimakamkan. Warga desa (pribumi) yang juga Islam dan Jawa itu menolak jenazah Bambang karena almarhum adalah penghuni Perumahan Wahyu Taman Sarirogo.

Meski tinggal di desa yang sama, punya hak dan kewajiban sebagai warga negara Indonesia, sejak lama memang terjadi konflik laten antara warga pribumi dan pendatang (perumahan). Penghuni perumahan masih tetap dianggap 'orang lain' (liyan), beda status dengan orang-orang kampung yang nenek moyangnya lebih dulu tinggal di Sumput.

Kasus lahan makam antara warga Sumput dan penghuni Taman Sarirogo ini bukan hal baru. Sejak 1980-an, lebih-lebih 1990-an, ketika perumahan-perumahan tumbuh pesat di Kabupaten Sidoarjo (mulai perumahan kelas sederhana, perumnas, hingga regency dan kelas atas), konflik macam ini sering terjadi. Penghuni perumahan masih tetap dianggap orang luar, pendatang, meskipun sudah bertahun-tahun tinggal di situ. Bahkan, tak sedikit warga perumahan yang jadi pengurus kelurahan/desa atau ketua RT/RW.

Ibarat api dalam sekam, konflik laten ini muncul ke permukaan ketika ada warga perumahan yang meninggal dunia. Kalaupun pihak pengembang sudah membeli tanah makam di desa, belum tentu jalannya mulus. Dalam kasus Taman Sarirogo, misalnya, lahan untuk makam perumahan sudah dibeli. Tapi warga setempat yang pribumi ini tetap saja menolak jenazah yang sudah tinggal masuk ke liang lahat.

Banyaknya kasus warga perumahan-perumahan di Kabupaten Sidoarjo kesulitan lahan makam di desa memang disadari pemerintah kabupaten (pemkab) dan Real Estat Indonesia (REI) sebagai organisasi pengembang. Pada awal 2000-an, ketika bupati Sidoarjo dijabat Win Hendrarso, dibuatlah proyek makam estat yang dikenal sebagai Delta Praloyo Asri di kawasan Lingkar Timur.

Pengembang-pengembang di Sidoarjo urunan dana partisipasi untuk pengadaan tanah makam bersama di Lingkar Timur. Dengan begitu, ketika ada warga perumahan meninggal dunia, bisa dimakamkan di makam estat. Proyek makam estat memang terwujud, tapi warga perumahan-perumahan di 18 kecamatan itu (sebagian besar) tidak mau menggunakan makam estat.

Mengapa?

Di Indonesia ini hanya orang Tionghoa yang sudah turun-temurun memakamkan keluarganya di kompleks makam khusus yang jaraknya jauh, bahkan sangat jauh, dari tempat tinggalnya. Banyak orang Tionghoa Surabaya atau Sidoarjo yang memilih memakamkan keluarganya di Pasuruan atau Malang. Dus, konsep makam estat ini lebih cocok, bahkan sudah biasa dijalani warga Tionghoa.

Beda dengan penghuni perumahan-perumahan yang mayoritas etnis Jawa, Madura, Sunda, Betawi, Tapanuli, dan sebagainya. Orang-orang Jawa, misalnya, tidak biasa memakamkan keluarganya jauh dari tempat tinggalnya. Karena itu, beberapa waktu lalu warga sebuah perumahan di Krian pun menolak memakamkan salah satu jenazah warga perumahan di makam estat Lingkar Timur.

Kasus-kasus yang kembali mencuat di Sidoarjo ini semakin membuka mata kita bahwa integrasi antara kaum pribumi dan pendatang memang bukan perkara gampang. Belum lagi ada masalah kecemburuan sosial ketika warga perumahan dianggap 'lebih punya' ketimbang warga pribumi. Belum lagi anggapan bahwa warga perumahan sekadar 'numpang tidur', tak punya ikatan emosional dengan kampung atau desa setempat. Belum lagi ada perbedaan karakter penghuni perumahan meskipun punya kesamaan agama, suku, ras, atau etnis.

Belajar dari geger tanah makam yang terus berulang, pengembang bersama warga perumahan dan pemkab harus menyediakan lahan khusus untuk warga perumahan yang berlokasi di sekitar perumahan. Lahan milik desa harus dibeli dan disertifikasi. Proyek makam estat di Lingkar Timur terbukti tidak efektif karena tidak sesuai dengan kultur dan keinginan warga perumahan.

27 October 2011

Lomba Mocopat Antargereja



Budaya tradisional sudah lama tergusur, termasuk di lingkungan gereja. Wajah gereja-gereja kita dalam 20 tahun terakhir makin Barat, makin Amerika. Nama-nama gereja yang dulu pakai bahasa Indonesia, belakangan diubah jadi bahasa Inggris. Makin Inggris, Anda dianggap makin modern dan hebat.

Syukurlah, di Surabaya, saya lihat gereja-gereja Katolik masih aktif nguri-uri budaya Jawa. Tiap minggu kelima (setahun empat kali) diadakan misa dalam bahasa Jawa. Tak hanya bahasanya, misa inkulturasi itu juga menampilkan tembang-tembang Jawa, karawitan, busana, dan sebagainya dalam nuansa Jawa.

Ini penting. Sebab, komunitas Katolik pertama di tanah Jawa pada 1904, tepatnya di Sendangsono, Kabupaten Kulonprogo, Jogjakarta, memang menggunakan liturgi Jawa. Sampai sekarang pun saya masih sekali-sekali aktif berkunjung ke Gereja Katolik Promasan, di dekat Senandangsono, untuk ikut misa raya dalam bahasa dan budaya Jawa. Jauh lebih berkesan ketimbang pakai bahasa Indonesia, Inggris, atau Latin.

Setiap kali ikut perayaan ekaristi inkulturasi Jawa, meski bahasa krama inggil saya sangat lemah, saya selalu merasa terharu. Saya merasa bahasa Katolik bukanlah 'agama Londo' (agamanya orang Belanda), agama Barat, tapi sudah meresap ke dalam hati jemaat yang berasal dari etnis Jawa.

Maka, saya sedih melihat begitu banyak gereja (non-Katolik) yang dalam 20 tahun terakhir makin nginggris, makin kebarat-baratan. Makin jauh dari akar budaya asalnya dan ingin memfoto kopi Barat, khususnya Amerika, agar kelihatan lebih hebat dan modern. Dan gembala-gembala alias pendeta-pendeta, yang banyak di antaranya tidak studi teologi dan sejarah gereja secara matang, ikut larut dalam arus globalisasi gereja yang salah kaprah itu.

Belum lama ini, 14 Oktober 2011, diadakan lomba mocopat dan gending di halaman Gereja Katolik Redemptor Mundi, Dukuh Kupang, Surabaya. Ada 44 peserta mocopat dan 12 grup karawitan dari tiga macam gereja: Katolik, Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), dan Gereja Pentakosta Pusat Surabaya (GPPS). Mereka berasal dari 22 kabupaten/kota di Jawa Timur.

"Kita ingin nguri-uri budaya. Dan itu harus kita mulai dari lingkungan Gereja Katolik," kata Romo Eko Budi Susilo, penasihat panitia, yang juga Pastor Paroki Katedral Surabaya, kepada saya.

Romo kelahiran Karanganyar, Jawa Tengah, ini memang pecinta budaya Jawa kelas berat. Saat kuliah di STFT Widya Sasana Malang, dia kerap mengantar temannya, sesama frater, yang sering main wayang kulit. Setelah jadi pastor, Romo Eko aktif nanggap wayang kulit untuk memeriahkan ulang tahun paroki dan acara-acara besar di gereja.

Romo Eko jugalah yang membeli seperangkat gamelan komplet untuk inventaris Paroki Redemptor Mundi Surabaya. Jangan heran, Romo Eko sangat 'disayangi' komunitas pedalangan di Kota Surabaya. Bahkan, dia diangkat jadi penasihat Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Surabaya.

Lomba mocopat yang disaksikan ratusan orang ini terasa sejuk. Para peserta unjuk kebolehan melantunkan tembang wajib Katresnan Tanpa Wates atau Kasih Tanpa Batas, karya GP Sindhunata SJ, pastor yang juga wartawan, budayawan, dan seniman terkemuka di Jogjakarta. Tembang-tembang ini dipetik dari kitab suci alias Alkitab.

Karena itu, mendengar tembang-tembang mocopat yang dilantunkan para seniman gerejawi ini ibarat mendengar sabda Tuhan sendiri. Sabda Tuhan yang disampaikan dalan sentuhan seni tembang Jawa yang sangat dalam.

Syukurlah, tak sedikit peserta mocopat dan gending rohani ini berasal dari kalangan generasi muda di bawah 20 tahun.

"ORA ANA KANG LUWIH LUHUR
TINIMBANG TRESNANING WONG
KANG MASRAHAKE NYAWANE KANGGO MITRA-MITRANE" (Yoh 15:37)

Rahayu!
Berkah Dalem!

24 October 2011

Komodo Masih Jauh




Nama komodo semakin banyak dibicarakan akhir-akhir ini. Ada kampanye yang masif agar binatang purba di kawasan pulau-pulau kecil di Flores Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), ini dijadikan salah satu keajaiban dunia. Sebegitu pentingkah status atau predikat komodo sebagai keajaiban dunia?

Bisa penting karena komodo dan pulau-pulau sekitar, khususnya Flores dan NTT, bakal jadi jujukan wisatawan dunia. Makin banyak turis, tentu saja ekonomi di NTT bisa meningkat. Angka kemiskinan yang tinggi, predikat NTT sebagai Nusa Tetap Tertinggal atau Nasib Tidak Tentu, bisa perlahan-lahan hilang.

Setidaknya, Pulau Komodo, Rinca, dan pulau-pulau kecil yang jadi habitat varanus komodoensis bisa dilirik oranglah. Jangan hanya Bali atau Lombok saja yang dapat kue pariwisata. Mudah-mudahan kampanye gencar, yang didukung penuh Jusuf Kalla, ini berhasil.

Tapi, andaikata tidak berhasil, si komodo ini tetap saja binatang purba yang hanya ada di bumi Indonesia. Dan itu sudah suatu keajaiban dunia, tanpa perlu pemungutan suara, polling SMS, mobilisasi e-mail, dan sebagainya.

Masih banyak cara untuk mempromosikan komodo tanpa harus terjebak permainan pihak-pihak tertentu di luar negeri yang punya kepentingan bisnis di balik proyek 'keajaiban dunia' itu.

Lucu juga kalau status 'keajaiban dunia' diperoleh dari SMS. Kalau SMS-nya kurang, status 'keajaiban' itu hilang, digeser daftar lain yang mungkin kalah bobot dibandingkan binatang purba bernama komodo itu. Aneh binti ajaib!

Sebagai orang NTT, saya tentu saja sangat bangga melihat kampanye besar-besaran untuk si komodo. Sejak jadi provinsi sendiri pada 20 Desember 1958, komodo menjadi lambang NTT. Tapi, anehnya, orang-orang NTT sendiri hampir tidak pernah melihat langsung binatang komodo itu. Kecuali tentu saja penduduk Pulau Komodo, Rinca, Labuan Bajo, dan sebagian Kabupaten Manggarai.

Mengapa begitu?

Karena di NTT tidak ada kebun binatang. Komodo-komodo itu biasanya dikirim untuk koleksi kebun binatang di Jawa, Sumatera, atau luar negeri. Saya sendiri, yang asli NTT, pertama kali melihat komodo justru di Kebun Binatang Surabaya, Jawa Timur.

Meskipun punya banyak kelebihan dan keunikan sebagai satwa langka, bagaimanapun juga komodo adalah binatang buas yang sangat berbahaya. Kalau tidak diawasi, ditempatkan di ruang khusus, si komodo bisa mengamuk dan memangsa manusia. Saya kira, itu yang jadi pertimbangan mengapa pemerintah daerah di NTT tidak pernah 'mensosialisasikan' komodo kepada warga NTT sendiri.

Selain itu, warga NTT sendiri asing dengan komodo karena biaya perjalanan ke Labuan Bajo dan Pulau Komodo memang sangat mahal. Belum lagi biaya konsumsi, penginapan, dan sebagainya. Jauh lebih mahal biaya transportasi dari Lembata atau Flores Timur atau Kupang ke Komodo ketimbang ke Jawa. Bahkan, lebih mahal ketimbang ongkos merantau ke Malaysia Timur.

Maka, ketimbang buang-buang uang hanya untuk melihat binatang komodo, orang-orang NTT lebih suka buang-buang uang untuk bayar calo TKI ke Sabah dan Sarawak di Malaysia Timur. Merantau ke Malaysia dianggap punya prospek ekonomi yang jelas ketimbang jalan-jalan ke Pulau Komodo.

Ini memang pikiran khas orang melarat di kampung-kampung NTT.

Pemda NTT sendiri setahu saya sejak dulu kurang optimal menjadikan Pulau Komodo dan sekitarnya sebagai pusat wisata unggulan NTT. Baru-baru ini saja setelah ada proyek 'keajaiban dunia' baru ada geliat.

Tapi bagaimana dengan infrastruktur pendukung? Jadwal pesawat reguler? Akomodasi atau perhotelan? Kesiapan warga Manggarai Barat dan kepulauan menjadi tuan rumah bagi wisatawan dalam dan luar negeri? Ini masih harus digarap betul oleh pemda NTT, Manggarai Barat, dan pemkab-pemkab di Pulau Flores.

Stagnannya pariwisata di Pulau Komodo sebetulnya bukan salah pemda-pemda di Flores dan NTT semata. Ini juga tak lepas dari karakternya sebagai wisata petualangan [saya biasa sebut wisata uji nyali] dengan konsumen yang memang terbatas. Sangat berbeda dengan karakter pariwisata di Pulau Bali atau Singapura yang fun dan rekreatif.

Orang-orang di Surabaya, juga kota-kota lain di Jawa, misalnya, lebih suka melancong ke Bali atau Singapura. Selain transportasinya lebih lancar, pasti, dan murah, objek wisata yang bisa dinikmati pun lebih menghibur dan aman.

Orang-orang Indonesia juga cenderung lebih suka menikmati suasana kota yang jauh lebih modern ketimbang yang ada di Indonesia. Itu pula sebabnya arus pelancong Indonesia ke Tiongkok, Taiwan, Eropa, dan Amerika Serikat kian meningkat.

Maka, jangan heran turis yang datang ke Pulau Komodo kebanyakan orang Eropa, Amerika, atau Jepang yang memang suka petualangan dan sudah bosan dengan suasana kota yang modern, canggih, dan artifisial.

21 October 2011

Bos Dahlan Jadi Menteri BUMN



Dahlan Iskan memang luar biasa. Dia baru saja dilantik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai menteri BUMN. Menteri yang mengurus 141 badan usaha milik negara dengan aset sekitar 3.600 triliun.

SBY tentu tahu benar kapasitas seorang Dahlan Iskan, yang sebelumnya menjabat direktur utama PLN. SBY pun tahu persis Pak Dahlan menjalani operasi ganti hati di Tianjin, Tiongkok, 2007. SBY pun tahu kondisi kesehatan Pak Bos, sapaan akrab Dahlan Iskan di lingkungan Jawa Pos Group, yang semakin prima setelah ganti hati.

Setiap minggu Pak Bos keliling dari daerah ke daerah untuk meninjau langsung proyek-proyek PLN. Termasuk jalan kaki ke pegunungan di kawasan Papua. Orang sehat sekalipun, maksudnya yang tidak ganti hati, pun belum tentu bisa melakukan jelajah alam sebanyak Pak Bos.

Hebatnya, seperti biasa, Dahlan Iskan menulis catatan perjalanannya dengan detail, hidup, dan menarik. Jauh lebih menarik ketimbang tulisan wartawan-wartawan mana pun di Jawa Timur. Bahkan, Indonesia. Dahlan Iskan memang jurnalis tulen. Maestro jurnalisme tutur yang belum ada tandingannya di Indonesia, menurut saya.

Melihat upacara pelantikan Pak Dahlan Iskan di televisi, saya langsung ingat tulisan beliau tentang masa ketika merintis karier sebagai koresponden majalah TEMPO di Surabaya. Cerita tentang kegigihannya mencari berita, jalan kaki, menolak amplop, itu bisa dibaca di buku GANTI HATI halaman 188.

Petikannya:

"Saya ingat, meski waktu itu sudah menyandang gelar wartawan majalah TEMPO yang begitu ternama, saya belum punya sepeda, apalagi sepeda motor. Rumah pun masih menyewa di satu gang sempit di belakang pasar Kertajaya, Surabaya. Tidak jauh dari rel kereta api. Rumah separo tembok separo kayu. Yang kamar mandinya dipakai bersama beberapa rumah tangga. Yang airnya dari sumur yang harus ditimba sendiri. Yang kasur tipisnya harus dihampar di lantai.

"Waktu harus wawancara ke daerah industri di Tandes Margomulyo, saya hanya punya uang Rp 75 di saku. Hanya cukup untuk naik bemo berangkatnya saja. Dari Kertajaya ke Jembatan Merah Rp 25, lalu dari Jembatan Merah ke Tandes Rp 50.

"Selesai wawancara saya diberi amplop. Saya tahu isinya pasti uang. Saya menolaknya meski di saku tidak ada lagi uang sepeser pun. Meski Tandes-Kertajaya begitu jauhnya. Saya pulang dengan jalan kaki. Hampir dua jam. Karena beberapa kali harus berhenti untuk menghindar dari panasnya Surabaya."


Catatan pengalaman Dahlan Iskan ketika menjadi wartawan TEMPO ini saya ingat di luar kepala. Saya juga memberikan tanda khusus di buku GANTI HATI karena sangat membekas di hati saya. Sangat sulit membayangkan orang jalan kaki dari Kertajaya ke Tandes yang sekitar 10 km itu di tengah panasnya Surabaya. Saat ini saya hampir tidak menemukan lagi orang Surabaya yang mau jalan kaki barang satu dua kilometer. Kecuali kalau ada lomba gerak jalan Mojokerto-Surabaya.

Sekarang Dahlan Iskan, wartawan sejati yang jalan kaki dua jam karena tak punya uang di saku itu, akhirnya beroleh kemuliaan. Bersakit-sakit dulu, bersenang-senang kemudian. Kemarin (19/10/2011), Pak Bos dipercaya Presiden SBY untuk mengelola uang negara yang begitu banyak: 3.600 triliun.

Andai saja dulu, ketika wawancara di Tandes, Dahlan Iskan menggadaikan idealisme, terima amplop untuk sekadar uang transpor, mungkin Dahlan Iskan tak akan bisa menjadi orang besar. Maestro yang sukses menangani badan usaha milik daerah Jatim, kemudian PT Perusahaan Listrik Negara, setelah sebelumnya sukses membenahi Jawa Pos yang hampir bangkrut pada 1982.

Pelajaran moral:

1. Bersakit-sakit dulu, bersenang-senang kemudian.
2. Jangan terima amplop kalau ingin jadi orang besar.
3. Yang sudah terima amplop, tidak akan jadi orang besar.

Pak Bos, selamat bertugas!
Zhu nin haoyun!

20 October 2011

Saksi Yehuwa Open House




Saksi Yehuwa baru saja mengadakan open house di Jalan Jemursari 20 Surabaya. Di kawasan Surabaya selatan ini terdapat balai kerajaan, semacam gereja atau rumah ibadat untuk denominasi yang berpusat di Amerika Serikat itu.

Sulit dibayangkan acara open house atau pameran itu bisa dilakukan Saksi Yehuwa di era Orde Baru. Sebab, gereja yang satu ini dilarang pemerintah sejak 1976. Tentu saja, atas desakan gereja-gereja arus utama (mainstream) yang dianut rakyat Indonesia yang kristiani. Saksi Yehuwa dulu dianggap ‘gereja sesat’, ‘berbahaya’, dan seterusnya.

Tapi berkat reformasi, khususnya setelah Abdurrahman Wahid menjadi presiden, Saksi Yehuwa tak lagi ilegal. Pada 2001 Saksi Yehuwa dinyatakan sebagai institusi legal. Punya hak hidup di negara Pancasila. Status Saksi Yehuwa dengan demikian menjadi sama dengan Katolik Roma, Katolik Bebas, Protestan, Baptis, Pentakosta, Karismatik, Adven Hari Ketujuh, Bala Keselamatan, Mormon, Anglikan, Ortodoks Siria, dan sebagainya.

Sebagai gereja yang terus bergerak di bawah tanah selama 25 tahun, dengan gaya dakwahnya yang khas di bawah arahan Menara Pengawal di USA, jemaat Saksi Yehuwa tentu saja sudah bisa bernapas lagi. Tidak perlu lagi main kucing-kucingan. Tidak perlu takut berurusan dengan hamba hukum karena Saksi Yehuwa memang sah.

Gereja-gereja lain (Katolik, Protestan, Pentakosta Karismatik, Baptis, Advent, dll) bakal kehilangan jemaat gara-gara menyeberang ke Saksi Yehuwa? Rasanya kok berlebihan. Buktinya, di Amerika Serikat sekalipun, yang sangat bebas dalam dakwah agama, Saksi Yehuwa tak pernah jadi mayoritas.

Saksi Yehuwa tetap saja sekte kecil, tapi pedas. Kecil-kecil cabai rawit! Selalu bikin pedas gereja-gereja arus utama.

Setelah 10 tahun diakui di Indonesia, Saksi Yehuwa pun tak serta-merta menarik domba-domba dari gereja lain. Yang justru terus berebut domba, dilanda perpecahan, justru gereja-gereja yang mainstream, khususnya aliran ‘Haleluya’. Pendeta Anu yang kecewa di Gereja A memboyong jemaat dari mana-mana untuk bikin Gereja B. Gereja B pecah lagi jadi C, D, E, sampai Z, dan seterusnya.

Gereja-gereja tumbuh sangat pesat di Indonesia, sementara pertumbuhan jemaat (kuantitas) stagnan. Buktinya, dari dulu persentase orang Kristen di Indonesia rata-rata kurang dari 10 persen. Persentase umat kristiani pun ada kemungkinan berkurang karena terjadi kebangkitan kembali Tionghoa setelah reformasi.

Orang-orang Tionghoa yang sejak Orde Baru ramai-ramai ke gereja, akhir-akhir ini kembali ke kelenteng atau vihara. Contohnya Bu Yuli, yang dulu aktif di Gereja Katedral Surabaya, kini malah jadi bos sebuah kelenteng besar.

Yah, begitulah, roda kehidupan keagamaan pun sering naik turun kayak roda pedati. Saksi Yehuwa yang dulu di bawah tanah sekarang bergerak ke atas mengikuti roda reformasi. Itulah gunanya reformasi dan demokrasi. Semua aliran dan keyakinan dapat tempat dan punya hak hidup.

19 October 2011

Bisnis Curang RBT




Meskipun sangat terlambat, pemerintah akhirnya menindak mafia penyedot pulsa. Bisnis haram yang telah merugikan jutaan pengguna ponsel di Indonesia. Bisnis curang bekerja sama dengan operator yang tidak bertanggung jawab.

Sebagai pengguna setia Telkomsel, saya sendiri sudah lama dirugikan dengan bisnis tuyul pulsa ini. Tapi saya diam saja. Repot kalau harus melawan mafia pulsa ini. Bisa-bisa kita tidak bisa kerja. Maka, saya sangat senang ketika kasus lawas ini akhirnya diperhatikan pemerintah.

Suatu ketika saya iseng mencoba RBT alias NSP (nada sambung pribadi) yang ditawarkan Telkomsel via internet. Saya pilih lagu lawas, tahun 1980-an, yang saya nilai bagus dan cocok di hati. Apa yang terjadi? Ternyata si mafia yang bekerja dengan Telkomsel ini malah mengaktifkan lagu dangdut koplo.

Saya pun mengetik UNREG, tapi tidak bisa langsung nonaktif. Sementara pulsa sudah tersedot banyak. Beberapa hari kemudian barulah UNREG itu berhasil. Sebagai konsumen setia Telkomsel, saya jelas-jelas dirugikan.

Bisnis musik ala RBT memang fenomenal, tapi juga aneh. Di masa lalu, orang membeli kaset atau CD atau VCD untuk menikmati lagu-lagu dari artis favoritnya. Lha, RBT ini membeli cuplikan musik atau lagu, tapi tidak didengar sendiri. Yang dengar justru orang lain yang akan menelepon kita. Belum tentu si penelepon itu senang dengan RBT di ponsel kita.

Mungkin inilah yang disebut wolak-walike jaman. Zaman di mana akal sehat sudah jungkir balik tak karuan. Masyarakat diiming-imingi dengan tawaran SMS premium, RBT, sayembara ini-itu… padahal ujung-ujungnya pulsa tersedot habis.

Anehnya, pemerintah terkesan membiarkan saja praktik bisnis jahat ini berlangsung selama bertahun-tahun. Anehnya, para operator seperti Telkomsel merasa tak terlibat permainan curang ini. Anehnya, rakyat Indonesia pengguna HP pun membiarkan diri dicurangi selama bertahun-tahun.

18 October 2011

Surabaya 40 Celcius



Hari ini (18/10/2011), saya merasa Surabaya lebih panas dari biasanya. Maka, saya pun cepat-cepat melihat angka di termometer saya yang buatan Tiongkok itu. Wow, benar saja. Suhu udara 40 Celcius!

Dua pekan lalu, temperatur di luar sempat menembus 41 Celcius. Angka 40 atau 41 jelas sangat berbicara. Bahwa Surabaya yang dikenal sebagai ‘kota panas’ itu makin panas saja. Kalau dulu suhu paling panas hanya berkisar 36-37 Celcius.

Lantas, mengapa bisa sepanas ini? Jawaban akhirnya diperoleh dari Badan Meteorologi, Kimatologi, dan Geofisika (BMKG) Surabaya. Katanya, kenaikan suhu ini gara-gara posisi matahari yang saat ini tepat berada di atas Kota Surabaya dan sekitarnya. Sang surya sedang bergerak ke selatan khatulistiwa.

Karena itu, perlahan-lahan suhu di Surabaya bakal kembali panas seperti biasanya, bukan panas ekstrem ala Afrika macam sekarang. Perjalanan matahari ke selatan itu butuh waktu tiga minggu atau satu bulan atau dua bulan. Maka, kita yang tinggal di Surabaya, Sidoarjo, Bangkalan, dan sekitarnya diminta sabar.

Bulan November mendatang, masih menurut BMKG, diharapkan hujan mulai mengguyur Surabaya meskipun musim hujan belum bisa dipastikan kapan. Terus terang saja, saat ini masyarakat Jawa Timur sangat merindukan hujan. Kekeringan di mana-mana. Air bersih susah. Waduk-waduk kering. Sungai tinggal sampah-sampah di dasar.

Hari ini koran KOMPAS memuat foto Waduk Dawuhan di Madiun yang kering-kerontang. Padahal, waduk ini harus mengairi sekitar 3.000 hektare sawah. Bayangkan jika kekeringan dan kepnasan semacam ini terus berlanjut sampai berbulan-bulan ke depan!

Saya teringat tulisan Cak Anis, wartawan senior, yang pada 1990-an sempat berkunjung ke Hadramaut di Yaman Selatan. Tempat asal masyarakat keturunan Arab di Indonesia. Menurut Cak Anis, kondisi di Hadramaut jauh lebih ekstrem ketimbang Surabaya. Hujan hanya turun dua kali setahun. Wow!

17 October 2011

Budaya Merokok di Flores Timur



Melihat bungkus rokok Commodore secara tak sengaja, saya jadi ingat kampung. Tepatnya budaya merokok di Nusa Tenggara Timur, khususnya Flores dan pulau-pulau sekitarnya. Seperti di tempat-tempat lain di tanah air, orang Flores, khususnya laki-laki, memang sangat doyan merokok. Bahkan, merokok sudah jadi salah satu budaya di Flores.

Ketika ada bapak-bapak lewat di depan rumah, maka orang-orang di kampung saya di Lembata 'diwajibkan' untuk menyapa. Tak hanya menyapa, juga mengajak mampir untuk GOLO BAKO. Ungkapan bahasa Lamaholot ini berarti 'menggulung daun lontar/siwalan' untuk merokok.

"Ama, mo pai golo bako ki," begitu ungkapan basa-basi ala etnis Lamaholot di Flores Timur dan Lembata. Artinya, "Bapak, mari mampir dulu untuk melinting rokok!"

Yang dilinting bukan daun jagung, tapi daun lontar alias siwalan. Seperti diketahui, lontar merupakan tanaman khas di daerah kering macam NTT yang juga menjadi ciri khas bumi Lamaholot. Orang Lamaholot seperti saya sering menyebut dirinya sebagai 'orang-orang lontar'. Bahasa daerahnya: "Tite ata koli lolon hena!"

Artinya: Kita sama-sama berasal dari kebudayaan lontar.

Pohon lontar memang serbaguna. Bisa untuk bahan bangunan karena sangat kuat. Daunnya untuk bikin timba. Niranya untuk gula dan minuman tradisional bernama tuak dan arak. Karena punya kultur lontar, jangan heran bila orang-orang Lamaholot di kawasan Flores Timur sangat doyan minum tuak, yang kemudian berlanjut dengan arak atau miras-miras buatan pabrik macam bir, wiski, dan sebangsanya.

Daun lontar dipakai untuk atap rumah. Bisa juga untuk tikar. Bisa untuk bakul dan sejenisnya. Dan, yang paling penting bagi laki-laki Lamaholot, daun lontar jadi klobot untuk melinting tembakau. Budaya merokok pakai daun koli (lontar) ini sudah berlangsung dari generasi ke generasi.

Rokok buatan sendiri. Tembakaunya pun tak usah beli karena bisa dipetik dari pekarangan atau kebun sendiri. Pada tahun 1980-an dan 1990-an kita bisa dengan mudah melihat bapak-bapak dan kakek-kakek membawa kotak khusus berisi tembakau plus daun koli. Bagian dalam daun siwalan alias lontar alias koli itu digaruk sehingga gampang digulung. Kalau sudah merokok, suasana sangat gayeng. Orang bisa bicara panjang lebar, bahkan sampai lupa waktu.

Begitu kuatnya budaya merokok, orang-orang tua di kampung kurang percaya dengan peringatan pemerintah bahwa 'merokok itu merugikan kesehatan'. Kalau ada ceramah-ceramah kesehatan tentang bahaya rokok, bapak-bapak dan kakek-kakek itu mendengarkan dengan sabar sambil senyam-senyum. Tapi kebanyakan tidak percaya bahwa rokok, atau tepatnya tembakau, itu mengandung begitu banyak bahan kimia berbahaya.

Mengapa kurang yakin? Mereka belum melihat bukti orang-orang yang merokok itu cepat mati atau terkena penyakit-penyakit yang disebutkan dokter. Apalagi usia kakek-kakek yang 'melestarikan' budaya merokok itu selama ini panjang-panjang. Baru meninggal dunia di atas 80 tahun. Hampir tidak ada yang sakit parah kemudian dirawat berbulan-bulan di rumah sakit.

"Bapak Dokter malah lebih dulu meninggal daripada kita-kita. Padahal, Bapak Dokter itu tidak pernah merokok," begitu guyonan yang beredar di kampung-kampung pelosok Flores Timur pada era 1990-an. Tulisan 'peringatan pemerintah' di bungkus rokok pun diangap angin lalu.

Setelah orang Flores banyak merantau ke Malaysia, khususnya Sabah dan Serawak, sejak 1960-an, budaya GOLO BAKO alias ngelinting rokok ini mulai sedikit bergeser. Muncul kebiasaan baru, yang dianggap lebih maju, yakni mengisap rokok lawas merek COMMODORE. Rokok putih ini rasanya kurang populer di Jawa, tapi sangat digilai di pelosok Flores Timur. Warung-warung kecil yang jualan Commodore biasanya laris manis.

Selain Commodore, rokok kretek merek Bentoel sangat digandrungi generasi muda yang mulai makan sekolahan dan terpengaruh gaya hidup perkotaan. Beda dengan di Jawa Timur yang lebih suka rokok Gudang Garam atau Djarum.

Setelah tahun 2000, kakek-kakek penggemar rokok klobot ala Lamaholot dari daun lontar itu satu per satu meninggalkan dunia fana ini. Bukan karena kanker atau penyakit-penyakit berbahaya, tapi karena memang sudah terlalu tua. Budaya merokok masih dilestarikan di kampung, tapi kebanyakan bukan lagi rokok klobot, melainkan rokok-rokok buatan pabrik besar di Jawa Timur.

Sapaan ramah 'AMA, GOLO BAKO KI' pun sudah jarang terdengar di kampung saya. Selain penggemar rokok klobot tinggal sedikit, rokok-rokok pabrikan ini cukup mahal. Harus punya uang baru bisa membeli Bentoel atau Gudang Garam. Beda dengan rokok klobot yang memang gratisan.

16 October 2011

Gita Smala Konser Die Jahreszeiten



Tak hanya Paduan Suara Mahasiswa ITS Surabaya yang hebat. Pekan lalu, Paduan Suara SMAN 5 Surabaya yang dikenal dengan Gita Smala bikin konser hebat di auditorium SMA Kristen Petra 1 Surabaya. Konser Gita Smala ini ‘hebat’ karena mereka sudah bisa membawakan repertoar-repertoar berat sekelas Die Jahreszeiten karya Joseph Haydn.

Sebanyak 47 penyanyi Gita Smala membawakan 38 komposisi yang tingkat kesulitannya tinggi itu. Mereka konser bareng Coro Semplice (19 orang) dan Lista Symphony Orchestra (45 orang). Setahu saya sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah ada, paduan suara tingkat SMA bikin koser diiringi orkes simfoni. Apalagi pakai repertoar kelas berat.

Salut buat Gita Smala! Salut buat para pembina! Salut buat kepala sekolah dan guru-guru yang memberi ruang kepada para siswa untuk mengembangkan ekstrakurikuler paduan suara di sekolah. Sebab, di SMA-SMA lain---yang prestasi akademiknya kalah jauh dengan SMAN 5 Surabaya---para siswa sulit mendapat peluang untuk ikut paduan suara. Apalagi dapat dukungan dana dan materi untuk memajukan kor sekolah.

Die Jahreszeiten memang tema yang fenomenal di dunia paduan suara dan simfoni. Penonton biasanya punya kesan mendalam setelah melihat konser. Kesan yang tak akan hilang selama bertahun-tahun, bahkan sepanjang hayat. Anggota kor dan musisi tentu punya pengalaman yang lebih mendalam lagi.

Saya yang hanya tahu komposisi MUSIM BERGANTI, salah satu nomor Die Jahreszeiten, yang diindonesikan untuk lagu wajib lomba paduan suara mahasiswa di Jawa Timur pada 1990-an, masih teringat lagu ini. Komposisi panjang yang asyik. Tapi juga rawan salah bila kurang konsentrasi.

Gara-gara Die Jahreszeiten pula, Solomon Tong akhirnya bertekad mendirikan sebuah orkes simfoni di Surabaya. Tekad, atau lebih tepat dendam bertahun-tahun, yang baru terwujud pada akhir Desember 1996. Ada apa dengan Die Jahreszeiten dan Solomon Tong?

Dirigen dan guru musik terkenal ini beberapa kali bercerita kepada saya. Ketika masih muda, Solomon Tong bersama dua saudaranya diajak memperkuat paduan suara yang akan konser bersama orkes simfoni di THR (Taman Hiburan Rakyat). Orkes simfoni itu dipimpin Tino Kerdejk, pemusik asal Belanda yang sangat terkenal di Jawa Timur, bahkan Indonesia, pada era 1950-an hingga 1970-an.

Meneer Tino ini seorang maestro musik klasik. Komposer hebat. Pelatih paduan suara yang hebat. Pemusik hebat. Dirigen hebat. Semua yang hebat-hebat di bidang musik disandang Tino. Juga hebat dalam memikat nona-nona cakep tempo doeloe!

Konser Die Jahreszeiten bersama Meneer Tino itu, menurut Solomon Tong, sangat dahsyat. Itulah pertama kali Pak Tong merasakan hebatnya paduan suara bila main bersama symphony orchestra. “Saya ingin suatu ketika punya symphony orchestra dan paduan suara berkualitas,” kata Pak Tong.

Saya yakin para anggota Gita Smala pun punya kesan mendalam dengan Die Jahreszeiten. Siapa tahu kelak ada yang jadi dirigen, komposer, atau pembina musik klasik di Surabaya. Paling tidak di tangan anak-anak muda inilah kita masih percaya bahwa musik klasik tak akan pernah mati. Selalu tumbuh generasi baru dari masa ke masa.

14 October 2011

PSM ITS Menang di Italia





Paduan suara mahasiswa dan pelajar di Jawa Timur dalam beberapa tahun terakhir makin berprestasi. Bahkan, kor-kor ini menang dalam festival di luar negeri. Jelas prestasi yang harus kita apresiasi karena persaingan paduan suara di level dunia sangat ketat.

Dibandingkan era 1980-an dan 1990-an, ketika saya masih aktif di paduan suara mahasiswa (PSM), kor-kor di era 2000-an benar-benar dahsyat. Kalau dulu, di zaman Orde Baru, PSM-PSM hanya berkutat di lomba atau festival regional atau nasional, atau sekadar nyanyi di Cintaku Negeriku TVRI setiap tanggal 17, sekarang orientasinya tingkat dunia.

Maka, komposisi atau repertoar yang disiapkan pun jauh lebih sulit. Butuh latihan intensif dan didukung penyanyi-penyanyi berkualitas. Juga butuh pemusik dan pelatih berkualitas tinggi. Bukan sekadar pelatih kor kelas acara wisuda atau dies natalis perguruan tinggi.

Belum lama ini PSM ITS Surabaya alias ITS Student Choir meraih golden diploma di ajang The Rimini International Choral Competition, Italia, 6-9 Oktober 2011. Menampilkan empat komposisi nusantara, ITS mendapat poin 94,6. Lagu-lagu yang dinyanyikan diaransemen rancak, tingkat kesulitan tinggi: Marencong-rencong (Bugis), Lu Lumbu (Banyuwangi), Ugo-Ugo (Banyuwangi), Trading Dangdo (Batak).

Sudah biasa kor mahasiswa membawakan lagu-lagu daerah dengan aneka gaya. Tapi saya lihat akhir-akhir ini bobot aransemen SATB (sopran, alto, tenor, bas) yang dibuat pendekar-pendekar kor Jawa Timur jauh lebih sulit ketimbang era 1990-an. Apalagi kor-kor sekarang tak hanya bernyanyi, tapi juga membawakan aneka gerak tarian dengan dinamika yang variatif. Ini tentu tidak mudah.

Sekali lagi, PSM ITS kembali membuktikan diri sebagai salah satu paduan suara mahasiswa papan atas di Indonesia. Bahkan, di Asia Tenggara dan dunia. Salut buat ITS yang sukses melakukan regenerasi dan kaderisasi paduan suara. Bukan apa-apa, masalah terbesar kor-kor di sekolah atau kampus adalah regenerasi.

Kalau tahun ini kita punya 40-60 anggota yang kualitasnya di atas rata-rata, belum tentu tahun depan kita bisa mendapat sumber daya yang sama. Sebab, seleksi masuk ITS, misalnya, tidak menuntut calon mahasiswa bisa membaca notasi atau punya suara bagus.

Selamat buat PSM ITS Surabaya!

Trawas Yang Sejuk



Surabaya akhir-akhir ini menjadi kota terpanggang. Suhu udara siang hari mencapai 38-41 derajat Celcius. Betapa beratnya orang-orang yang kerjanya di lapangan seperti reporter, sales, pedagang kaki lima, atau tukang becak.

Karena panasnya, ada kebutuhan untuk ‘mendinginkan’ diri sejenak di kawasan pegunungan. Orang-orang Surabaya yang kaya biasanya punya vila di Prigen, Tretes, Trawas, Pacet, atau Batu. Di tempat-tempat itu kita bisa menikmati cuaca yang jauh berbeda dengan Surabaya.

Bagaimana dengan orang-orang yang tidak kaya seperti saya? Ada pilihan ke kawasan Trawas juga, tepatnya di Seloliman. Di situ ada Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PLLH), Sumur Jolotundo, atau bumi perkemahan di kompleks Narotama.

Saya pilih Narotama karena kawasan hutan milik Perhutani ini dihuni beberapa warga Desa Seloliman yang saya kenal akrab. Sudah seperti keluarga. Ada rumah panggung dari bambu, beratap alang-alang, dinaungi pohon-pohon tinggi. Ada aliran listrik mikrohidro yang dibuat PPLH, tapi jarang digunakan di bumi perkemahan.

“Orang Surabaya minta supaya tetap gelap. Katanya, mereka ingin suasana ndeso, pakai lampu minyak tanah,” kata Mbak Gembuk, pemilik rumah panggung dan warung paling laris di dekat Jolotundo. Mbak Gembuk, putrinya Bu Jono ini, langganan tetap saya. Saya bahkan punya kamar spesial di bagian samping, bisa melihat pemandangan di jurang.

Kemarin, saya berkesempatan mampir di Seloliman, di vila bambu alias rumah panggung itu. Masih suasana purnama, banyak sekali pengunjung dari Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Pasuruan…. Sebagian besar memang cari suasana sejuk, desa, alami.

Malam itu saya tidur di tempat tidur bambu di bagian tengah. Tengah malam, selepas pukul 00.00, dingin banget rasanya. Temperatur bergerak dari 24 derajat Celcius, kemudian 23, kemudian mendekati subuh ke 22. Saya pun kedinginan. Meski sudah pakai selimut, jaket, tetap saja tembus. Tapi saya senang karena bisa ‘balas dendam’ panasnya Kota Surabaya.

Kembali ke Surabaya, suhu bergerak cepat dari 32 derajat Celcius, 36, 37… kemudian 38 lagi. Cuaca yang begini inilah yang membuat Trawas, Tretes, dan Pacet selalu menjadi jujukan orang Surabaya untuk sekadar ngadem.

13 October 2011

Lupakan Piala Dunia



Indonesia tidak perlu malu kalah dari Qatar. Jujur saja, level sepak bola kita masih kalah jauh dibandingkan Timur Tengah atau Arab. Boleh saja kita bermimpin tembus Piala Dunia. Tapi pemain-pemain kita sama sekali belum memenuhi kualitas minimal untuk bersaing dengan negara-negara langganan Piala Dunia.

Jangankan dengan Qatar, Bahrain, atau Iran, tim nasional Indonesia belum bisa dikatakan hebat di Asia Tenggara. Saya masih ingat gaya permainan timnas ketika dikalahkan Malaysia pada akhir Desember 2010 di ajang tertinggi sepak bola Asia Tenggara. Pada leg pertama, pemain-pemain Indonesia terlihat seperti amatiran. Baru belajar main bola.

Maka, jangan salahkan pemain, pelatih, manajer, atau PSSI ketika kita kandas di kualifikasi Piala Dunia. Alfred Riedl pun pasti tak sanggup membuat Indonesia bisa menang melawan Bahrain, Qatar, Iran, atau Malaysia atau Thailand. Omong kosong kalau Riedl bisa. Orang Indonesia tentu tak akan lupa dengan cara bermain timnas ketika melawan Malaysia di ajang AFF, ketika ditangani Riedl.

Saya kira bukan hanya Indonesia yang sulit menembus Piala Dunia. Semua negara ASEAN pun sangat sulit, bahkan mustahil. Kekuatan sepak bola di Asia masih didominasi Timur Tengah serta Korea-Jepang. Belakangan ditambah Australia.

Yang bisa kita lakukan sekarang adalah membenahi pembinaan pemain-pemain muda. Bibit-bibit muda perlu dibentuk secara sistematis untuk kepentingan jangka panjang. Hasil pembinaan itu mungkin baru bisa dipetik 15 atau 20 tahun mendatang.

Lupakan Bambang Pamungkas, Ponario Astaman, Gonzales, Boaz, dan angkatannya.

Foto: Yahoo Sport

08 October 2011

Pendeta Liem Ie Tjiauw 1939 - 2011




Jasad Liem Ie Tjiauw (72) memang sudah kembali menjadi abu, setelah diperabukan di Krematorium Eka Praya, Kembang Kuning, Surabaya, Jumat (7/10) pagi. Namun, pendeta emeritus Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pregolan Bunder ini tetap dikenal oleh ribuan jemaatnya.

Sebagai gembala senior yang melayani jemaat GKI Pregbun (Pregolan Bunder) sejak 16 September 1969 hingga wafat pada Selasa (4/10/2011), Pendeta Liem Ie Tjiauw jelas punya ribuan jemaat. Tak hanya di Surabaya dan sekitarnya, jemaat GKI Pregbun kemudian tersebar di kota-kota lain, bahkan mancanegara. Maklum, Pendeta Liem sudah melayani dua tiga generasi selama 42 tahun penggembalaannya.

Beberapa jemaat GKI Pregbun mengaku terkesan dengan sikap almarhum yang ramah, tapi juga tegas dan disiplin. Memang, pendeta-pendeta ‘angkatan lama’ yang pernah mencicipi pendidikan Belanda dikenal punya karakter tegas dan disiplin. Karena itu, Pendeta Liem sangat disegani, tapi juga sangat disayangi umatnya.

Selain itu, rohaniwan kelahiran Magelang, 16 September 1939, ini punya kelebihan di bidang homilitika. Yakni, public speaking atau seni berkhotbah di depan jemaat. Sebagai pendeta kristiani yang bertugas menyampaikan firman Tuhan, Liem dikaruniai talenta berkhotbah. Begitu bicara di depan mimbar, jemaat seperti dibuat terpaku dengan gaya dan materi khotbah ayah tiga anak dan kakek empat cucu itu.

“Pendeta-pendeta itu kan sangat banyak dan selalu bertambah setiap saat. Tapi belum ada yang bisa menyamai, apalagi menandingi Pendeta Liem Ie Tjiauw,” ujar Markus Sajogo, pengacara senior, yang sejak 1951 menjadi jemaat GKI Pregbun Surabaya.

“Saya rasa, kemampuan berkhotbah almarhum itu merupakan talenta atau bakat yang diberikan Tuhan sendiri. Tidak bisa dipelajari. Dan yang ngomong begini bukan hanya saya, tapi juga jemaat-jemaat lain.”

Apa yang membuat khotbah Pendeta Liem sangat menarik? Markus mengibaratkan pengkhotbah dengan pilot pesawat terbang. Seorang pilot harus bisa take-off dengan mulus, terbang dengan nyaman, dan landing dengan mulus pula. Di mata Markus Sajogo, pengkhotbah-pengkhotbah sekarang ini kebanyakan hanya mulus saat take-off, tapi tidak jelas landing-nya.

“Penumpang kadang-kadang bingung kapan landing-nya. Nah, Pendeta Liem ini memang sangat luar biasa. Landing-nya bagus, sehingga ada sesuatu yang dibawa jemaat ketika pulang ke rumah,” kata Markus.

Karena bakat homilitika itulah, Pendeta Liem Ie Tjiauw kerap diundang oleh umat kristiani dari berbagai gereja di luar negeri. Di antaranya, Amerika Serikat, Australia, dan Selandia Baru. (rek)

Low Trust di Gereja



Makin banyak penjahat di Surabaya---tiap hari kita baca di koran---sehingga masyarakat akhir-akhir ini makin paranoid. Makin sulit mempercayai orang lain. Bahkan, tetangga sendiri pun dicurigai. Kalau 10 tahun lalu Indonesia digolongkan low trust society, mungkin sekarang ini sudah mendekati distrust society.

Tetangga dicurigai. Teman segereja tidak dipercaya. Omongan presiden diragukan. Anggota parlemen apa lagi. Situasi yang kalau terus dibiarkan bisa sangat berbahaya. Low trust society berarti kita kehilangan modal sosial untuk maju dan berkembang lebih cepat.

Saya teringat low trust society, konsep Fukuyama ini, setelah datang ke Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pregolan Bunder Surabaya, Sabtu pagi (8/10/2011). Saya hendak meminjam foto almarhum Pendeta Liem Ie Tjiauw yang jasadnya baru dikremasi kemarin di Kembang Kuning. Foto semasa hidup ini perlu untuk melengkapi tulisan obituari saya di surat kabar.

Saya memperkenalkan diri, kemudian menyampaikan tujuan saya. Dan staf GKI Pregbun menerima saya dengan baik. Setelah membongkar dokumen selama 10 menit, pegawai perempuan itu menemukan sebuah buku yang ada foto Pendeta Liem bersama keluarga. “Puji Tuhan,” kata saya. Ini yang saya cari.

Buku kecil itu semakin berbobot karena ada tulisan Pendeta Eka Darma Putra tentang sahabatnya, Pendeta Liem. Saya langsung minta pinjam buku kecil itu. “Buat memperkaya tulisan saya tentang almarhum,” kata saya.

Staf GKI Pregbun keberatan. Alasannya logis: buku itu hanya satu. Meski tidak mengatakannya, saya bisa meraba-raba apa yang dia pikirkan. “Bagaimana kalau hilang? Apakah saya bisa dipercaya? Apakah saya bisa mengembalikan buku itu?”

Saya pun beberapa kali menjamin bahwa buku itu pasti akan segera saya kembalikan setelah membuat tulisan obituari Pendeta Liem Ie Tjiauw. Toh, untuk apa saya menyimpannya? Tetap saja Mbak Staf itu tidak mengizinkan. Saya menyerah.

Saya pun makin sadar bahwa tak ada gunanya lagi meyakinkan pengurus GKI itu. Mungkin tampang saya memang sangat meragukan, sehingga sulit dipercaya. Jangan-jangan dia mengira saya ini wartawan palsu yang hanya berpura-pura menulis obituari pendeta senior itu.

Maka, saya pun mengambil langkah darurat. Empat halaman buku kecil itu saya potret dengan kamera digital. “Terima kasih, Mbak,” kata saya, lalu pulang.

Untuk kesekian kalinya, saya berhasil membuktikan konsep LOW TRUST SOCIETY itu.

06 October 2011

Rumah Singgah Bahtera Kasih Sidoarjo

Oleh ANDREAS SOERONO
Mahasiswa Universitas Kristen Petra Surabaya

Sebuah rumah di Jalan Monginsidi 29 Sidoarjo sekilas seperti rumah biasa. Namun, siapa sangka bangunan tersebut adalah satu-satunya rumah singgah di Sidoarjo.

Bahkan, dari depan terlihat seperti rumah kosong. Namun, saat masuk lebih ke dalam, ada sebuah ruangan besar untuk memuat puluhan orang. Berjajar meja ala warung lesehan. Di belakang tampak sebuah halaman dengan beragam tanaman liar dan tanaman buah.

"Kita punya kolam lele di seberang," ujar Paul Tanesib (30), pengurus rumah tersebut. Rumah singgah yang belum punya nama itu sebetulnya sudah mulai berpoperasi sejak empat tahun lalu. Kecuali para pengurus dan penghuni, tak banyak orang yang tahu aktivitas layanan sosial kemanusiaan itu.

Paul mengatakan, awalnya mereka membuka sebuah rumah singgah di kawasan Jenggolo. Tapi dua tahun berikutnya pindah ke Jalan Monginsidi 29 sampai sekarang. "Tempat ini pun masih ngontrak,” ujar Paul di ruang tamu pekan lalu.

Yayasan Bahtera Kasih yang berpusat di Bandung menjadi pencetus pembuatan rumah singgah di Sidoarjo. Paul yang berasal dari Nusa Tenggara Timur kemudian dipercaya mengelola rumah tersebut. Jam buka mulai pukul 10.00 hingga 14.00. Namun, rumah tidak buka setiap hari. Hanya Rabu hingga Jumat saja.

"Kita sengaja tidak buka tiap hari. Kita toleransi dengan warung-warung di sekitar," ungkap Paul. Paul tidak sendiri. Seorang istri dan seorang ibu (rekan Paul) selalu siap mengurus rumah singgah.

Tepat pukul 10.00 beberapa orang masuk. Siapa gerangan mereka? Tidak lain anak jalanan, pemulung, pengemis, tukang ngamen, dan kaum duafa lainnya. Mereka datang dari berbagai kawasan di Sidoarjo maupun luar Sidoarjo.

Dulu pengurus rumah singgah membagi kupon ke jalan raya agar orang-orang jalanan tahu ada sebuah bangunan tempat mereka mampir, makan, istirahat, atau bikin program. Namun, saat ini mereka tak perlu ambil kupon lagi.

"Mereka datang tinggal duduk dan makan. Semua sudah Tuhan beri," ujar Paul. Rumah tersebut memang khusus untuk melayani wong cilik.

Menurut Paul, rumah singgah ini sangat terbuka bagi siapa saja. Hanya, sesuai visi dan misi, pihaknya lebih mengutamakan orang-orang yang tidak mampu membeli makanan. Tanpa memandang usia. Tua-muda, bahkan pelajar yang kurang mampu pun boleh masuk di sana. Terkadang para pelajar berganti baju terlebih dahulu sebelum masuk rumah singgah.


"Setiap bulan kami mendapat sumbangan sekitar Rp 5 juta untuk operasional sehari-hari. Puji Tuhan, dana itu cukup untuk menggerakkan rumah singgah ini setiap hari," ujar Paul Tanesib, bapak satu anak, yang setiap hari mengelola rumah singgah untuk wong cilik ini.

Karena tidak punya donatur atau sponsor besar, menurut Paul, pihaknya harus pandai-pandai berhemat agar pelayanan ini bisa berjalan dari hari ke hari. Beberapa kali mereka tak punya uang untuk membayar tagihan listrik dan air. Eh, ternyata ada saja orang-orang yang terbebani untuk membantu. Tahu-tahu tagihan listrik dan air itu sudah lunas.

Paul sangat percaya bahwa semua itu karena berkat dan campur tangan Tuhan sendiri. Kejadian-kejadian seperti ini, yakni munculnya bantuan yang tidak terduga-duga, kerap dialami rumah singgah binaan Yayasan Bahtera Kasih Bandung ini.

Tidak hanya jadi tempat mampir mangan lan ngombe, menurut Paul, rumah singgah ini menjadi ajang sosialisasi wong cilik yang selama ini berjuang di jalanan demi mempertahankan hidup. Paul hanya ingin orang-orang yang datang ke sana merasakan damai sejahtera dan kasih Tuhan.

Raut muka orang-orang yang datang ke sana sebelumnya tampak lusuh. Namun, senyuman pun muncul kala mereka melahap sesendok ‘nasi gratis dari Tuhan’. "Mas, makan dulu," sapa seorang pedagang rongsokan kepada Paul.

Semakin siang suasana semakin ramai. Namun, ketenangan tetap terjaga. "Rumah singgah memang tempatnya orang-orang istirahat. Jadi, tenang suasananya," ujar Paul.

Pengurus rumah singgah berencana memberikan modal kerja dan pembinaan hidup agar mereka ini tidak lagi hidup di jalanan, namun punya usaha sendiri untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. "SDM sudah ada. Tapi terhalang dana," ungkap alumnus Sekolah Tinggi Immanuel Madiun itu.

Paul berharap memiliki sebuah yayasan yang akan menangani kaum duafa tersebut dengan baik. Paul terus berusaha agar kaum duafa tak lagi hidup di bawah tekanan kehidupan yang berat dan ditolak di keluarga mereka.

"Saya berharap bisa memulihkan kehidupan mereka," pungkasnya. (*)

Dimuat Radar Surabaya, 3-4 Oktober 2011

03 October 2011

Surabaya Makin Panas




Sejak dulu Surabaya memang terkenal sebagai kota yang panas. Penyanyi Franky Sahilatua (almarhum) pada 1970-an mengabadikan ‘Surabaya yang panas’ dalam hitnya, Bis Kota. Jadi, kalau orang sering komplain ‘Surabaya panas’, berarti dia ketinggalan informasi.

Saya belum punya data akademis berapa suhu (temperatur) udara Kota Surabaya sejak tahun 1930, 1940, kemudian 1960, 1970, 1980, 1990, 2000, kemudian 2010. Kalau ada catatannya, kita akan lebih muda membandingkan kondisi Surabaya. Apakah sama panas, kurang panas, lebih panas, atau memang semakin panas.

Tapi saya sendiri, yang sudah 10 tahun lebih tinggal di Surabaya (termasuk empat tahun di Sidoarjo), merasakan Surabaya hari ini, Oktober 2011, lebih panas ketimbang katakanlah empat atau lima tahun lalu. Mungkin terkena dampak pemanasan global alias global warming.

Bulan lalu, saking panasnya Surabaya, iseng-iseng saya membeli termometer buatan Tiongkok yang harganya cuma Rp 16.000. Dengan termometer sederhana itu, saya sering memantau suhu Kota Surabaya akhir-akhir ini. Wow, memang panas banget! Melebihi angka yang sering ditulis di koran atau diumumkan di radio yang berasal dari BMG Juanda atau BMG Tanjungperak.

Senin 3 Oktober 2011, siang, saya merasa Surabaya benar-benar panas. Dan ketika mampir di kawasan Jalan Arjuna untuk ngopi di dekat PN Surabaya, beberapa orang lain pun mengeluhkan hal yang sama. Bahwa panasnya Surabaya saat ini lebih panas ketimbang beberapa tahun lalu.

“Anda pernah mengukur suhu udara di Surabaya?” tanya saya kepada salah satu pengunjung warkop di dekat pengadilan.

“Nggak pernah. Tapi rasanya memang lebih panas,” kata orang itu.

Tiba di Ngagel, saya mencoba mengukur suhu udara di luar rumah di siang yang terik itu. Wow, sangat mengagetkan. Ternyata angkanya tembus 50 derajat Celcius! Benar-benar panas membakar. Bisa saja lebih dari 50 Celcius, tapi kebetulan termometer made in China itu mentok di angka 50! Range-nya termometer itu -40 sampai 50 derajat Celcius saja.

Suhu di dalam ruangan, yang tidak dipasang kipas angin atau AC, sekitar 32-33 derajat Celcius. Malam hari suhu Surabaya di alam terbuka berkisar 26-27 Celcius. Suhu di dalam ruangan sekitar 30 atau 29 Celcius.

Bukan hanya Surabaya yang mengalami kenaikan suhu. Teman-teman dari Malang, kota yang dulu terkenal sejuk, pun kabarnya tidak lagi sesejuk tahun 1980-an dan 1970-an. Bahkan, ada yang bilang suhu siang hari di Malang makin ‘mendekati’ Surabaya.

Orang-orang Surabaya yang biasa istirahat di kawasan pegunungan macam Tretes, Trawas, atau Pacet pun merasa telah terjadi peningkatan temperatur. Yang pasti, suhu udara lebih tinggi ketimbang 10 tahun atau 20 tahun lalu. Inilah tanda-tanda bahwa bumi kita, alam raya, semakin tua dan tidak bersahabat karena terus-menerus dieksploitasi.

Mudah-mudahan kita yang sadar bahwa bumi ini makin panas mau tergerak untuk berbuat sesuatu. Bikin penghijauan, pelihara, taman, tidak menggunduli hutan… go green lah!