17 September 2011

Utha Likumahuwa Dimakan Diabetes




Indonesia kembali kehilangan seorang penyanyi hebat: UTHA LIKUMAHUWA. Pria asal Maluku ini tidak berdaya melawan diabetes, yang kemudian berkomplikasi macam-macam. Saya tidak tega melihat Utha saat muncul di Metro TV beberapa minggu lalu.

Begitu ringkih. Hampir tak ada sisa-sisa ‘kejantanan’ yang dulu identik dengan Utha. Bahkan, ketika tampil di Surabaya beberapa tahun lalu, saya sudah ‘curiga’ dengan tubuh Utha yang tidak normal. Kurus bukan karena diet keras, tapi diabetes.

Hati-hatilah dengan penyakit gula alias kencing manis! Salah satu penyakit paling mematikan di zaman modern ini.

Kematian Utha Likumahuwa mengingatkan kita pada kepergian beberapa penyanyi lawas sebelumnya. Pance Pondaag, hits maker 1980-an, yang stoke. Charles Simbolon, vokalis Trio Ambisi, yang juga digerogoti diabetes. Di Sidoarjo, Malik Buzaid, legenda musik melayu, dedengkot Orkes Melayu Sinar Kemala, juga wassalam gara-gara diabetes.

Si diabetes memang tak pilih-pilih korban. Artis top, pejabat tinggi, dokter spesialis, pendeta, kiai, petani, tukang becak, wartawan, penata letak, nelayan....

Hans Tandra, dokter terkenal di Surabaya yang produktif menulis buku tentang diabetes, mengatakan, “Tiap satu menit ada enam orang yang meninggal akibat penyakit yang berkaitan dengan diabetes. Tiap 10 detik ada satu orang mati karena diabetes.”

Kembali ke Utha Likumahuwa. Sebagaimana penyanyi-penyanyi Ambon lain yang berjaya pada era 1970-an dan 1980-an, Utha bukanlah penyanyi instan. Dia rintis karier dari bawah. Dia punya modal vokal yang berkarakter kuat, ambitus suara lebar. Benar-benar jantan, suara laki-laki.

Utha bisa membawakan lagu apa saja dengan apik. Bergaul luas dengan musisi jazz terbaik negeri ini membuat almarhum Utha punya karakter jazzy. Ini terlihat jelas ketika dia membawakan lagu Esok Masih Ada karya Dodo Zakaria, yang juga meninggal akibat komplikasi diabetes. Sesaat Kau Hadir boleh jadi merupakan lagu paling terkenal, dan bagus, yang pernah dibawakan Utha. Sampai sekarang lagu ini masih enak didengar.

Ketika kuliah di Jember, band-band mahasiswa sedang gandrung Karimata, Krakatau, Emerald, dan band-band populer masa itu yang mengusung fussion. Salah satu nomor milik Utha, Mereka Bukan Kita, sangat populer. Syairnya sangat menantang:

“Sudah tutup saja rindumu
Kancingkan saja bajumu
Kita kan hidup di Indonesia,
bukan di sana
Mereka bukan kita

Tidak usah saling raba-raba
Kata nenek itu berbahaya
Sudah pakai saja celanamu
Kita putuskanlah cinta ini
Sampai di sini....”

Apakah ada penyanyi-penyanyi muda yang punya karakter kuat, berkualitas, kayak Utha Likumahuwa? Tentu ada dan pasti banyak. Sayang, kondisi industri musik sekarang rupanya tidak memungkinkan lagi lahir vokalis-vokalis ala Utha Likumahuwa, Harvei Malaiholo, Yopie Latul, Melky Goeslow, dan sejenisnya.

Saat ini eranya Kucing Garong atau Keong Racun dengan penyanyi-penyanyi tanpa power vokal kuat. Saat ini eranya suara gremeng yang laku di industri kaset/CD/RBT. Maka, penggemar musik Indonesia, khususnya mereka yang pernah mengalami masa-masa kejayaan Utha Likumahuwa, pasti sangat kehilangan nyong Ambon ini.

Selamat jalan, Bung Utha!

No comments:

Post a Comment