13 September 2011

Susi Air Luar Biasa



Susi Air saat mendarat di Lewoleba, Lembata, NTT.


Merpati sudah lama kewalahan melayani rute penerbangan perintis di kawasan Indonesia Timur. Maskapai penerbangan plat merah ini mengaku selalu rugi mengangkut penumpang, misalnya, dari Kupang ke kota-kota kecil yang tersebar di Pulau Flores atau Alor, Sumba, atau Rote. Karena itu, sejak dulu tidak ada penerbangan berjadwal tetap di NTT.

Syukurlah, setelah reformasi, masuklah Trans Nusa, maskapai swasta spesialis yang mau melayani masyarakat di kawasan terpencil. Tapi dalam perkembangan, ada saja ganjalan antara Trans Nusa dan pemerintah daerah. Manajemen Trans Nusa pernah ngambek gara-gara Pemerintah Kabupaten Lembata tidak mau menebang pohon kelapa di Lapangan Terbang (Lapter) Wunopito, Lewoleba. Trans Nusa pun cabut.

Bukan hanya dari Lewoleba, Trans Nusa juga menghentikan penerbangan ke beberapa lapter di Pulau Flores. Orang-orang Flores yang mobilitasnya tinggi, misalnya pejabat atau pengusaha, pun kalang kabut. Seperti kembali ‘zaman kegelapan’ ketika harus naik feri atau kapal laut ke Kupang yang perlu waktu delapan hingga 10 jam. Bandingkan dengan kapal terbang mini yang cukup 30 atau 40 menit saja.

Masyarakat dan pemda NTT kemudian meminta tolong---lebih tepat: mengemis---kepada siapa lagi kalau bukan Merpati, maskapai perintis yang berjasa membuka isolasi wilayah udara NTT sejak 1970-an. Ternyata sulit. Alasannya pasti bisnis. Melayani penerbangan di NTT bakal rugi. Besar pasak daripada tiang. Armada pesawat terbatas. Dan alasan-alasan klasik lainnya.

Nah, di tengah kegundahan itu datanglah Susi Air. Maskapai penerbangan milik Bu Susi, juragan ikan dari Pangandaran, Jawa Barat, ini tiba-tiba datang memberi solusi. Susi Air bersedia melayani beberapa rute yang sudah ditinggal maskapai sebelumnya. Susi bahkan menyediakan pesawat yang jauh lebih gres, modern, dengan pilot dan kopilot internasional. Pilot dan kopilot Susi Air memang orang bule muda, ramah, dan menyenangkan.

Berbeda dengan naik pesawat besar di Bandara Juanda atau Bandara Soekarno-Hatta, menumpang Susi Air ibarat naik bus mini bermuatan 14 orang. Para penumpang serasa seperti keluarga sendiri. Apalagi, dari 12 penumpang itu biasanya ada dua atau tiga orang yang berasal dari satu daerah yang bahasanya sama, misalnya bahasa Lamaholot. Maka, sepanjang penerbangan sekitar 30-40 menit itu kita bisa mendengar cerita-cerita atau guyonan dalam bahasa daerah Flores Timur.

Juga cerita menarik tentang kiprah seorang Susi Pudjiastuti yang sukses menjadi juragan pesawat setelah sebelumnya sukses sebagai juragan ikan. Beberapa penumpang seolah merasa sudah kenal dekat Bu Susi. Padahal, informasi tentang Bu Susi biasanya hanya bersumber dari koran, televisi, atau internet.

“Untung ada Bu Susi! Bu Susi itu pahlawan untuk kita orang di NTT,” kata seorang penumpang Susi Air jurusan Kupang-Lewoleba pada akhir Desember 2010. “Kalau sonde (tidak) ada Bu Susi, bandara di Lewoleba dan Larantuka akan kembali jadi kebun alang-alang,” tambah yang lain.

Suasana kekeluargaan, hangat, informal, juga selalu dibangun oleh pilot dan kopilot Susi Air. Kedua orang bule ini selalu tersenyum, menyapa semua penumpang dengan ramah. Menjelang lepas landas, sang kopilot selalu mengatakan, “Selamat pagi Bapak dan Ibu sekalian. Kita akan terbang ke Lewoleba kira-kira selama 40 menit. Silakan menikmati penerbangan bersama Susi Air.!”

Para penumpang Susi Air, saya kira, tak akan pernah lupa aksen si penerbang bule yang khas itu. Yah, keduanya memang merangkap sebagai pramugari, teknisi, ground handling, atau semacam pemandu wisata. Kita dibuat kerasan terbang bersama Susi Air. Apalagi pesawat-pesawat Susi Air ini, meskipun kecil, terasa sangat nyaman dan stabil. Tidak bikin jantung deg-degan kendati kadang-kadang harus membelah awan yang tebal.

Bandingkan dengan pramugari-pramugari maskapai kita yang terbang dari Surabaya ke Kupang, misalnya Lion Air, Sriwijaya Air, atau Mandala. Senyum gadis-gadis manis yang hampir semuanya Jawa ini kurang alamiah, terkesan dipaksakan. Beda banget dengan ‘pramugari’ yang merangkap kopilot dan pilot Susi Air. Saya sering melihat pramugari Lion Air marah-marah hanya karena si penumpang belum memasukkan tasnya ke atas bagasi.

Jadi, siapa bilang orang Indonesia, khususnya Jawa, ramah dan murah senyum? Kita perlu belajar banyak dari bule-bule yang bekerja di 38 armada pesawat Susi Air itu. Bule-bule itu memang bekerja dengan hati. Bukan hanya karena dibayar mahal oleh Bu Susi. Beda dengan pilot-pilot kita, orang Indonesia, Yinni ren, yang selalu mengambil jarak dengan penumpang.

Yah, sejak dulu saya memang melihat bahwa orang-orang bule (Eropa dan Amerika) punya apresiasi tinggi terhadap masyarakat pelosok di Indonesia Timur. Begitu banyak misionaris Barat yang tidak mau pulang kampung setelah pensiun. Mereka memilih dimakamkan di Lembata, Flores, Alor, Sumba, atau Timor. Padahal, mereka-mereka ini berlatar belakang keluarga berada, beberapa di antaranya pemilik pabrik seperti mendiang Pater Willem van de Leur SVD asal Belanda.

Beda banget dengan latar belakang nona-nona pramugari yang sebetulnya bukan dari keluarga berada di Jawa. Rumah orang tua mereka banyak yang masuk gang kecil di kampung-kampung di Pulau Jawa. Tapi, ketika dapat kesempatan jadi pramugari, tingkah polahnya berubah. Seakan-akan si pramugari itu pemilik pesawat Lion Air atau Mandala atau Sriwijaya. Wuedan tenan!

Mudah-mudahan manajemen Susi Air, khususnya Bu Susi, tetap menjaga standar kualitas dan keramahan maskapai Susi Air. Dan terus melayani rute-rute di pelosok NTT dan Indonesia Timur umumnya. Saya mengucapkan simpati dan dukacita mendalam atas tragedi kecelakaan Susi Air di Papua.

4 comments:

  1. seperti itulah potret pramugari indonesia

    ReplyDelete
  2. salut sama bu susi... selamat jadi menteri kelautan...

    ReplyDelete
  3. gak semua pramugari indonesia jelek n gak sopan. garuda aq kira bagus. lion air yg memang perlu pelatihan dan pematangan lagi.

    ReplyDelete
  4. Jangan terlalu menyudutkan lion air, mungkin ketidak ramah an itu hanya oknum. Krn utk alasan keselamatan memang perlu tegas. Mungkin di lion air terlalu banyak pramugari nya yg cantik sehingga banyak yg menggoda.

    ReplyDelete