16 September 2011

Pulau Sarinah di Muara Sidoarjo




Aliran lumpur Lapindo ke muara Sungai Porong sejak 29 Mei 2006 akhirnya membentuk sebuah pulau baru di kawasan Kedungpandan, Kecamatan Jabon. Pulau Sarinah, yang dikelola Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS), diharapkan mengangkat citra Tlocor dan potensi wisata pantai di Sidoarjo.

Selain jalan raya yang mulus dari pinggir tangkis Kali Porong, Dusun Tlocor sudah punya dermaga sebagai tempat sandar perahu wisata. Berbeda dengan dermaga buatan Pemkab Sidoarjo di Dusun Kepetingan, kampung nelayan di kawasan Buduran, yang seadanya, dermaga Tlocor ini jauh lebih bagus.

Di sisi kiri-kanan dermaga ada areal yang sangat luas untuk parkir atau sekadar kongko-kongko menikmati pemandangan Pulau Dem di depan mata. Pulau Dem sendiri juga pulau hasil sedimentasi material dari Kali Porong yang sudah terjadi sejak zaman Hindia Belanda. Pulau kecil itu saat ini dikelola beberapa juragan tambak dan ditempati beberapa warga.

Berbeda dengan Pulau Dem yang terbentuk secara alamiah selama puluhan tahun, Pulau Sarinah di Tlocor ini bisa langsung ‘jadi’ dalam waktu singkat. Hanya dalam tempo sekitar lima tahun, pulau buatan BPLS ini sudah mencapai luas sekitar 80 hektare dengan ketinggian dua sampai tiga meter. Setiap hari luas Sarinah terus bertambah mengingat lumpur Lapindo terus dialirkan ke Sungai Porong. Jarak Pulau Sarinah dari Dermaga Tlocor hanya sekitar lima kilometer.

Namanya juga pulau baru, tentu saja tak banyak pemandangan alam yang bisa dinikmati di Sarinah. Sempat ada gerakan penghijauan dengan menanam mangrove, tapi hasilnya masih menunggu beberapa tahun lagi. Hanya saja, Sarinah ini kerap dikunjungi warga yang penasaran dengan pulau buatan BPLS dan Lapindo Brantas itu. “Yah, sekaligus untuk wisata mangrove. Kita juga ingin menikmati suasana alam di pesisir Sidoarjo,” ujar Bobby, warga Gedangan, yang pernah berwisata ke Pulau Sarinah.

Nah, keberadaan Pulau Sarinah, Dermaga Tlocor, kemudian jalan raya yang semulus tol itulah yang kemudian menciptakan lapangan ekonomi baru bagi warga Tlocor dan Kedungpandan umumnya. Warga yang selama bertahun-tahun terisolasi, mayoritas jadi penjaga atau pengelola tambak, atau nelayan, kini mencoba menekuni usaha wisata kecil-kecilan. Perahu-perahu nelayan pun disewakan untuk mengantar wisatawan atau penggemar mancing ke Pulau Sarinah.

Cukup membayar Rp 50 ribu, kita bisa berlayar ke Pulau Sarinah dan menikmati wisata mangrove selama tiga jam. Tak puas? Kita bisa menyewa Rp1 50 ribu sampai Rp 200 ribu untuk memancing selama satu hari penuh. Selama perjalanan dari Dermaga Tlocor menuju Sarinah, pengunjung dapat menikmati pemandangan di kanan-kiri sungai berupa hutan bakau yang didominasi oleh jenis api-api (Avicenia sp), khususnya jenis Avicenia alba dan Avicenia marina.

“Kalau mereka yang hobi memancing, biasanya bisa seharian penuh di sana. Tapi kalau cuma lihat-lihat pemandangan laut, paling cuma tiga jam sudah pulang,” ucap Jafar, salah satu pemilik perahu.

Sayang, meski infrastruktur jalan dan dermaga di Tlocor ini sudah cukup lama dioperasikan, sampai sekarang geliat wisata pantai di pesisir Kabupaten Sidoarjo ini belum begitu terasa. Lihat saja. Pada hari biasa jarang ada wisatawan yang datang menyewa perahu atau sekadar kongko-kongko di kawasan dermaga baru itu. Biasanya, pengunjung baru ramai pada akhir pekan atau hari-hari libur nasional.

“Makanya, kita minta tolong pemkab untuk lebih aktif mempromosikan potensi wisata di daerah Tlocor ini. Sayang kalau fasilitas yang sudah ada ini tidak dimanfaatkan,” kata salah satu warga setempat. (rek)

No comments:

Post a Comment