16 September 2011

Prostitusi di Tlocor Sidoarjo




Selain dikenal sebagai salah satu dusun terpencil di Kabupaten Sidoarjo, kampung Tlocor di Desa Kedungpandan, Kecamatan Jabon, sejak dulu punya citra yang kurang baik. Maklum, kampung tambak di muara Sungai Porong itu terdapat kompleks pelacuran liar.

Sebagaimana rumah-rumah penjaga tambak, kompleks pelacuran kelas teri itu awalnya hanya terdiri dari satu dua gubuk sederhana dari anyaman bambu (gedhek) di tengah pinggir tambak. Makin lama gubuk-gubuk mesum itu pun bertambah seiring meningkatnya permintaan. Kini, sebagian gubuk masih tetap dari gedhek, sementara beberapa di antaranya sudah semipermanen.

Ketika Tlocor dan Desa Kedungpandan, Kecamatan Jabon, masih terisolasi, belum ada jalan sebagus sekarang, tak banyak yang tahu keberadaan kompleks pekerja seks komersial (PSK) ini. Apalagi, jumlah PSK yang mangkal di Tlocor sangat sedikit ketimbang ‘kompleks’ liar lainnya di Tangkis Porong yang marak pada malam hari.

“Kompleks di Tlocor itu tadinya kayak prostitusi terselubung. Tapi karena dibiarkan terus, ya, akhirnya membesar dan terus bertahan. Maklum, ada saja pria hidung belang yang nekat main-main ke sana meskipun jalannya benar-benar jelek,” ujar Bambang Subagyo, pelukis senior yang kerap bertualang ke Tlocor untuk memancing sejak akhir 1980-an.

Pihak berwajib, khususnya Pemkab Sidoarjo, bukannya tidak tahu ada kompleks prostitusi liar di Tlocor, sekitar 400 meter dari dermaga baru sekarang. Beberapa kali petugas Satpol PP dikerahkan ke sana untuk menertibkan warung-warung yang juga menyediakan minuman keras itu. Tapi, setelah ditinggal petugas berwajib, gubuk-gubuk mesum itu pun eksis lagi. Pola kucing-kucingan dengan aparat keamanan ini terus berlangsung selama bertahun-tahun.

“Kompleks itu sempat tutup cukup lama. Tapi namanya juga orang cari uang, ya, begitu ada peluang bisnis ini dihidupkan lagi,” kata seorang warga Tlocor belum lama ini. Kondisi jalan raya Porong-Tlocor yang sangat buruk juga membuat aparat keamanan sulit mengontrol warung remang-remang di pinggir tambak ini secara rutin.

Kini, wajah Tlocor dan sekitarnya semakin berubah. Jalan raya kian mulus, ada dermaga baru, objek wisata Pulau Sarina dan Pulau Dem, hingga kolam-kolam pemancingan dan depot ikan segar. Lantas, bagaimana nasib belasan gubuk mesum itu?

Rupanya, para PSK yang rata-rata STW alias berusia 30 tahun ke atas itu masih juga setia ‘buka warung’. Hanya saja, pada bulan Ramadan lalu, para PSK senior ini memilih pulang kampung untuk menjalankan ibadah puasa di kampung halaman amsing-masing.

“Sebenarnya kompleks PSK di sini sudah lama sekarat karena nggak ada konsumen. Nggak seramai lima atau enam tahun lalu,” ujar seorang pria 40-an tahun yang mengaku bernama Ahmad. Setelah Tlocor semakin mudah diakses oleh orang luar, termasuk komunitas sepeda sehat setiap Ahad pagi, warga Kedungpandan ini mengaku risi dengan keberadaan kompleks PSK itu.

“Kita sih sejak dulu ingin agar kompleks itu ditutup. Siapa sih yang mau kalau kampungnya ada kompleks pelacuran?” tukas Ahmad dengan nada tinggi.

Sayang, aspirasi warga yang sudah lama disuarakan itu hingga saat ini belum kunjung terealisasi. “Kita sih menyerahkan kepada pemerintah saja untuk mengambil tindakan,” tambahnya.

Yah, keberadaan kompleks PSK liar di Tlocor nicaya kontraproduktif dengan upaya pemkab menjadikan Tlocor dan Kedungpandan sebagai pusat wisata pantai dan bakau di Kabupaten Sidoarjo. Warga asli pun sudah lama tak ingin kampung halamannya dijadikan lahan untuk bisnis esek-esek.

“Cewek-cewek nakal itu (PSK) kan semuanya pendatang dari luar. Jadi, warga sini tidak akan diuntungkan dengan kompleks itu,” ujar Ahmad. (*)

No comments:

Post a Comment