30 September 2011

Petinggi Penang ke Surabaya




Karim Raslan, wartawan asal Malaysia itu, selalu menyebut dirinya tukang cerita. Tapi Karim jelas bukan tukang cerita atau wartawan biasa. Karim bahkan mirip diplomat yang berhasil menjadi jembatan persahabatan Indonesia-Malaysia, khususnya Malaysia dengan Kota Surabaya.

Setelah membawa Wakil Perdana Menteri Malaysia ke Surabaya, kemarin Encik Karim ini menggandeng rombongan pejabat dari Penang, salah satu dari 11 negara bagian di Malaysia, ke Surabaya. Rombongan Penang dipimpin Lim Guan Eng, ketua menteri atau semacam gubernur di Indonesia. Menarik karena gubernur Penang ini Pak Lim yang keturunan Tionghoa.

Yang Amanat Berhormat Tuan Lim Guan Eng ditemani beberapa pejabat tinggi Penang: Mokhtar bin Mohd Jait, Abdul Halim bin Hussain, Mustafa Kamal bin Mohd Yusoff, Abdul Aziz bin Tunku Ibrahim, kemudian Lee Kah Choon. Orang Melayu Malaysia ini selalu pakai BIN untuk merujuk nama ayahnya. Maka, nama-nama orang Melayu Malaysia ini pun panjang sekali.

Tuan Lim bertemu pejabat-pejabat penting di Surabaya. Kemudian pengusaha Tionghoa Surabaya yang tergabung dalam Perhimpunan Pengusaha Tionghoa Indonesia (Perpit) Jawa Timur. Kebetulan perkumpulan pengusaha Tionghoa ini dipimpin marga Lim alias Lin (dalam bahasa Mandarin) juga, sehingga mereka ibarat keluarga sendiri. Sesama anggota marga Lim. Hanya saja, Tuan Lim Guan Eng di Penang, Malaysia, sementara Liem Ouyen atau Ridwan Harjono di Surabaya.

“Kita ngobrol-ngobrol santai, makan malam, di Hotel Shangri-La. Nah, dari omong-omong santai itu mungkin suatu saat nanti kita bisa kerja sama di bidang bisnis atau investasi. Yang penting, sama-sama untunglah,” kata Liem Ouyen, pengusaha dari Jalan Kembang Jepun Surabaya, yang selama ini menjadi juru bicara pengusaha Tionghoa di Jawa Timur.

Tuan Lim, sang gubernur Penang, terlihat ramah, banyak senyum. Dia banyak memuji perkembangan Kota Surabaya yang makin hijau, punya banyak taman, dan punya prospek cerah di masa depan. Sebaliknya, orang-orang Surabaya juga memuji Malaysia yang maju pesat, sehingga mampu memberi makan kepada jutaan orang Indonesia yang jadi TKI.

Namanya saja wartawan, tukang cerita, Karim Raslan tak lupa mengajak Tuan Lim Guan Eng ke markas surat kabar Jawa Pos di Jalan Ahmad Yani 88 Surabaya. Bincang santai, akrab, diskusi kecil tentang perkembangan media massa, kebebasan pers, kemudian makan nasi rawon khas Jawa Timur.

Indonesia dan Malaysia, entah itu Penang, Selangor, Johor, Sabah, Serawak… sebetulnya punya banyak kesamaan. Bahasanya mirip, selera humor dan selera makan mirip. Juga adat istiadat, bahkan agama mayoritas Islam. Sayang, dalam 20 tahun terakhir Indonesia ketinggalan terlalu jauh, sehingga tak mampu memberi perkerjaan yang layak kepada rakyatnya. Malaysia pun berjasa menanmpung berjuta-juta TKI itu.

Hubungan kedua negara, yang katanya serumpun ini, pun tidak selalu mulus. Pemicunya hanya gara-gara soal sepele. Maka, peranan orang-orang Malaysia macam Karim Raslan menjadi sangat penting untuk merekatkan kembali persahabatan antara kedua negara. Apalagi biasanya orang macam Karim Raslan lebih dipercaya dan didengar ketimbang pejabat-pejabat tinggi atau orang-orang di kedutaan besar Malaysia.

No comments:

Post a Comment