23 September 2011

Pelukis Harryadjie BS Berpulang




Puluhan seniman Sidoarjo, Jumat (23/9/2011), mengantar jenazah pelukis Harryadjie Bambang Soebagyo (66) ke tempat pemakaman umum Sidokare Indah, Sidoarjo. Pekerja kebudayaan yang kerap disapa Bambang Thelo atau Eyang Tekek ini meninggalkan Rahmaningsih (istri) dan Rainer Haryo Jarot Prabangkasa (anak tunggal).

Kepergian Harryadjie BS yang tiba-tiba tak ayal mengejutkan para seniman, khususnya komunitas pelukis Sidoarjo. Pasalnya, selama ini almarhum tak pernah mengeluh sakit dan setiap hari senang bepergian menggunakan sepeda onthel.

Sejak dulu pria kelahiran Jatinegara, Jakarta, 25 September 1945, ini memang dikenal sebagai onthelis sejati. Dia kerap bersepeda pancal Sidoarjo-Surabaya atau Sidoarjo-Mojokerto pulang pergi.

Kamis (22/9) pagi, Harryadjie bersepeda dari rumahnya di kawasan Sidokare Indah ke Buncitan, dekat kompleks Candi Tawangalun di Sedati. Dia bermaksud menemui Ahmad Syaiful Munir, pelukis yang juga penjaga Candi Tawangalun. “Kita memang ada rencana mengadakan pameran lukisan,” kenang Syaiful.

Malang tak dapat ditolak, di tengah perjalanan Harryadjie jatuh dari sepedanya di kawasan Prasung. Pelukis yang beberapa tahun belakangan ini fokus di green art itu diduga mengalami serangan jantung mendadak. Selama ini almarhum memang tak pernah mengeluh sakit, pun tak pernah berobat ke rumah sakit. Namun, teman-teman dekat dan pihak keluarga sadar kalau organ tubuh Harryadjie tak sebagus 10 tahun silam.

Meski jatuh, rupanya Harryadjie masih siuman. Ini terbukti dari pesan pendek (SMS) yang dikirim ke ponsel Syaiful pada pukul 08.38. “Aku ambruk di pinggir tambak Prasung. Tolong kalau bisa susul aku, ada yang sangat penting yang mau tak sampaikan,” tulis Harryadjie.

Membaca gelagat yang tak enak, Syaiful pun langsung menyusul Harryadjie yang juga guru dan sahabatnya. Tidak ketemu, karena pelukis yang pernah bekerja di Jerman ini sudah dibawa ke sebuah klinik di kawasan Buduran. Pukul 15.24 Harryadjie masih sempat menelepon Syaiful.

“Katanya, kita mungkin tidak akan ketemu lagi,” kata Harryadjie seperti ditirukan Syaiful.

Rupanya, Harryadjie sudah bisa meramal akhir hidupnya. Seniman alumni Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera) ini pun kembali ke pangkuan Sang Khalik. Rahmaningsih sempat membawa Harryadjie ke RSUD Sidoarjo untuk memastikan kondisi suaminya. “Ini hanya untuk memastikan saja, karena waktu di klinik Bapak sudah nggak ada. Nadinya nggak terasa,” kata Rahmaningsih dengan suara bergetar.

Berita kematian Harryadjie BS kontan saja menyebar dengan cepat di kalangan seniman, mahasiswa seni rupa, sanggar-sanggar budaya, dan pengurus Dewan Kesenian Sidoarjo. Sepanjang malam ratusan seniman, tetangga, keluarga, dan kerabat memenuhi rumah duka untuk bertaksyah. Bupati Sidoarjo Saiful Ilah pun tak ketinggalan mengirim karangan bunga.

Maklum, dalam 10 tahun terakhir, almarhum Harryadjie cukup intens berkomunikasi dengan Win Hendrarso (waktu itu bupati Sidoarjo) dan Saiful Ilah (waktu itu wakil bupati). Ketika seniman atau aktivis lain sungkan bertemu pejabat, Harryadjie dengan enteng menelepon dan menemui bupati atau wabup kapan saja. Tak ada kata sungkan atau malu.

“Pak Harryadjie itu orang yang sangat unik. Kesenian itu dijadikan sebagai laku sepanjang hidupnya,” ujar Farid Firdaus, pelukis senior, yang kerap bekerja sama dengan almarhum untuk menggelar pameran seni rupa.

Selain bergelut dengan green art---almarhum biasa memanfaatkan sampah atau barang-barang tak terpakai untuk membuat karya seni---dalam dua tahun terakhir, Harryadjie aktif dalam gerakan penghijauan di kawasan Malang dan Lumajang.

Menurut dia, seniman tidak boleh hanya sekadar melukis atau asyik membuat karya seni, sementara lereng-lereng gunung di Jawa Timur kian gundul. Maka, Harryadjie pun rajin mengumpulkan bibit-bibit (apa saja) untuk ditanam bersama sejumlah aktivis lingkungan.

Meski sibuk dengan gerakan penghijauan, diam-diam Harryadjie terus membuat topeng dari buah-buahan liar untuk acara pemeran bersama di Sidoarjo. Tapi rupanya Tuhan berkehendak lain. Harryadjie meninggal tiba-tiba ketika hendak mengurus persiapan pameran seni rupa.

“Kita benar-benar kehilangan seorang pekerja keras yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk kesenian,” kata Farid Firdaus. (rek)

2 comments:

  1. selamat jalan pak bambang.... moga2 bahagia di alam sana.

    ReplyDelete
  2. beliau dulu sering berproses di PPLH trawas. jasa almarhum sangat besar di green art.

    ReplyDelete