07 September 2011

Mudik di Jawa vs Mudik di Flores




Arus mudik dan arus Lebaran sudah selesai. Tapi fenomena mudik di Pulau Jawa, mulai ujung barat hingga ke ujung timur, yang begitu masif selalu bikin saya geleng-geleng kepala. Padahal, mudik ini selalu terjadi tiap tahun menjelang Lebaran. Bayangkan, 20 juta sampai 30 juta orang ramai-ramai pulang ke kampung halamannya.

Berjuang di tengah kemacetan jalan raya. Panas terik. Bahaya kecelakaan. Haus dan lapar. Harus membawa anak-anak kecil dan barang-barang. Luar biasa orang Jawa ini! Biar bumi bergoncang, mudik harus dilakukan! Demi Lebaran. Demi kampung halaman. Demi orangtua, kakek-nenek, kerabat, sanak saudara di rumah.

Hampir semua orang Indonesia memang senang pulang kampung. Kembali ke rumah masa kecil. Tapi sulit menandingi orang Jawa. "Ah, mudik itu kan tradisinya orang Jawa. Kita di luar Jawa sih nggak begitu," kata kenalan saya, seorang haji asal NTB. Dia tidak pernah mudik Lebaran meskipun duitnya lebih dari cukup untuk membeli tiket pesawat bersama istri dan anak-anaknya.

Ahmad, orang Sulawesi di Surabaya, haji juga, pun tak ikut mudik. Bersama istrinya yang Jawa, dia malah mudik bareng ke kampung halaman istrinya di Jawa Tengah. Bahkan, sudah 20 tahun lebih Pak Haji ini tidak sempat pulang kampung di Sulawesi. Tiket pesawat mahal? Ah, rasa-rasanya dia bisa menyisihkan sedikit uangnya untuk kembali ke kampung beberapa tahun sekalilah. Tapi ini tidak dilakukan.

Kalau penduduk di Pulau Jawa (dan Madura)---mulai suku Betawi, Sunda, Jawa, Madura, Tionghoa---punya tradisi mudik Lebaran, apakah orang NTT (Nusa Tenggara Timur), khususnya Flores, juga mudik Lebaran? Ramai-ramai pulang kampung untuk natalan di rumah masa kecil di kampung?

Saya selalu ditanya seperti itu. Lalu, saya mencoba menjawab sekenanya saja karena tradisi mudik Natal memang tidak ada di NTT, khususnya Flores. Orang-orang Flores yang kerja di Kupang, ya, tetap natalan di Kupang. Tahun baru juga di Kupang. Yang kerja di Jawa, apalagi, natalan di Jawa karena harga tiket pesawat memang mahal. Ada juga satu dua orang yang mudik, tapi tak pernah massal ala mudik Lebaran di Pulau Jawa.

Ketika saya mudik Natal 2010, misalnya, di kampung halaman saya tidak ada orang-orang Kupang yang balik kampung. Yang natalan di kampung, ya, hanya penduduk kampung. Dari sini, saya pun membenarkan pernyataan Pak Haji dari NTB di Surabaya itu: Mudik itu bukan tradisi orang NTT atau NTB! Mudik sudah mendarah daging di Pulau Jawa. Sulit membayangkan Pulau Jawa tanpa arus mudik Lebaran.

Jawa memang sebuah pulau yang luas dengan daratan yang rata. Jalan raya mulus dari ujung ke ujung sejak zaman Belanda. Bus-bus besar, bus kecil, mobil pribadi... kereta api berlimpah. Mudik pakai sepeda motor pun sebetulnya efektif untuk perjalanan di bawah 200 kilometer. Bahkan, saya sering menemukan orang yang mudik dengan sepeda pancal.

Beda dengan NTT yang provinsi kepulauan. Mudik harus pakai kapal laut yang jumlahnya terbatas. Kupang ke Flores perlu sembilan jam, bahkan 14 jam di laut. Itu pun kapal-kapal penyebarangan alias feri sering dilarang berlayar setiap menjelang Natal dan tahun baru karena ombak terlalu besar. Bahaya bila kapal-kapal ke Pulau Lembata, misalnya, dipaksa berlayar.

Bagaimana kalau mudik pakai kapal terbang Susi Air, Merpati, atau Trans Nusa? Tiket Rp 650.000 terlalu mahal untuk rakyat NTT yang miskin. Itu pun jumlah penumpang hanya 10 sampai 14 orang. Lupakan saja mudik pakai pesawat terbang.

Maka, saya biasa menggunakan argumentasi kendala transportasi, harus langgar laut, untuk menjelaskan mengapa orang NTT tidak punya tradisi mudik. Tapi, setelah saya cermati lebih jauh, alasan ini pun kurang kuat. Arugumentasi ini patah. Mengapa?

Orang-orang dari pelosok Lembata yang kerja di Larantuka atau Maumere atau Waiwerang pun dari dulu setahu saya tidak pernah mudik Natal atau mudik Lebaran. Padahal, transportasi laut dari Larantuka ke Lembata sangat lancar. Lama perjalanan pun hanya sekitar dua tiga jam saja. Toh, setahu saya banyak sekali orang Lembata yang bertahun-tahun tidak pulang kampung selama 10 atau 20 tahun.

Jangan jauh-jauh di Larantuka atau Maumere, orang-orang kelahiran Ile Ape yang sudah 'hijrah' ke Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata, pun dari dulu jarang yang mudik ke kampung halaman untuk merayakan Natal dan Tahun Baru. Padahal, Lewoleba itu bertetangga langsung dengan Ile Ape. Kalau ke Bungamuda, atau Mawa, atau Atawatung... ya hanya 20 atau 25 kilometer saja.

Karena tidak pernah mudik, berbeda dengan orang-orang Jawa yang memelihara tradisi mudik dari generasi ke generasi, ikatan orang Lembata (NTT umumnya) dengan kampung halaman makin lama makin longgar. Generasi pertama---yang asli kelahiran kampung-kampung di Ile Ape---biasanya masih punya ikatan dengan kampung. Masih ikut cawe-cawe dalam urusan adat, koda kiring, dagel, nebo, dan sebagainya.

Generasi kedua---anak-anak yang lahir di Lewoleba---sudah kendor ikatannya dengan kampung. Tidak bisa lagi berbicara bahasa Lamaholot, bahasa daerah di Kabupaten Lembata dan Kabupaten Flores Timur. Tidak ada kepentingan untuk pulang kampung.

Generasi kedua alias anaknya perantau generasi pertama itu biasanya menikah dengan orang bukan Ile Ape. Atau, sesama generasi kedua keturunan Ile Ape. Atau, orang yang benar-benar bukan Lamaholot, bahkan bukan NTT.

No comments:

Post a Comment