16 September 2011

Mengapa Dokter Bisa Mati?

Saya terkejut ketika suatu pagi Bu Siti, induk semang saya di Surabaya, melontarkan pertanyaan ini. Pertanyaan yang tidak perlu dijawab karena hanya akan memicu debat panjang soal takdir, teologi, kesehatan, dan macam-macam. Dan, saya tahu, Bu Siti yang sudah lansia ini pun tidak perlu jawaban.

Beberapa bulan lalu, Bu Siti kehilangan adik kandung, seorang dokter spesialis terkenal di Sidoarjo. Dokter ini pintar, banyak pasien, uangnya banyak, tapi anaknya cuma satu dan masih kecil. Dia meninggal akibat penyakit yang sering dia tangani untuk pasien-pasien kelas berat... dan biasanya berhasil.

“Kok begitu cepat sang dokter pergi? Seharusnya kan saya dulu yang dipanggil Allah,” gumam Bu Siti. Bosan saya dengar gumaman yang terkesan protes atas takdir Tuhan itu. Maka, saya selalu pilih menghindar.

Minggu lalu, seorang dokter di kawasan Manyar, Surabaya, kenalan baik Bu Siti, juga meninggal dunia. Perempuan dokter ini terkenal, spesialis penyakit dalam, pasiennya banyak, uangnya banyak, mobil banyak, rumahnya juga banyak. Suaminya juga dokter spesialis yang lebih terkenal lagi.

Suatu pagi Bu Siti mengabarkan kepada saya tentang kematian Bu Dokter itu. Juga bergumam: Mengapa dokter hebat itu bisa meninggal secepat itu? Usianya kan belum 60 tahun? Tenaganya kan masih dibutuhkan masyarakat? Dia biasa menangani puluhan pasien setiap hari kok penyakitnya sendiri tak bisa dijinakkan?

“Sudah ajalnya Bu! Takdir Tuhan! Kalau sudah dipanggil Tuhan, siapa saja, termasuk dokter paling top sekalipun, nggak bisa menolak. Harus menghadap ilahi,” jawab saya memetik isi ceramah seorang ustad di televisi.

Gara-gara sering dipancing dengan pertanyaan retorik ihwal misteri kematian, khususnya dokter-dokter hebat yang ternyata tak berdaya ketika digerogoti penyakit yang notabene biasa dia tangani, akhir-akhir ini saya semakin banyak merenung. Bahwa memang betul dunia ini fana. Hidup itu hanya sementara. Setiap saat, kapan saja, kita akan mati kalau memang saatnya sudah tiba. Bahwa harta sebanyak apa pun, popularitas, reputasi sehebat apa pun, tak ada artinya di mata Tuhan.

Menjelang Lebaran lalu, saya diajak Bu Siti nyekar ke makam anaknya di Ngagel, Surabaya. Tak jauh dari makam pahlawan nasional Bung Tomo. Ibu ini mengatakan beberapa kali:

“Nanti saya akan dimakamkan di sini. Saya sudah pesan makam jauh-jauh hari sebelumnya. Saya akan bersatu kembali dengan anak laki-laki saya yang tidak sempat dewasa!”

No comments:

Post a Comment