20 September 2011

Kelenteng Sri Wulan di Jember




Sejak era reformasi bergulir 13 tahun lalu, perlahan-lahan terjadi kebangkitan kembali tradisi dan budaya Tionghoa. Kelenteng-kelenteng tua yang rusak sudah direnovasi, bahkan di beberapa daerah dibangun kelenteng baru. Salah satu kelenteng baru itu terletak di kawasan wisata Pantai Papuma, Jember.

Di pantai berpasir putih ini telah berdiri kelenteng baru bernama TITD Sri Wulan. “Kelenteng di Pantai Papuma ini sangat menarik karena didukung pemandangan pantai yang indah dengan debur ombaknya,” kata Ronny Haryono, arsitek TITD Sri Wulan Jember, kepada saya.

Menurut Ronny, proses pembangunan kelenteng di Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, ini sebenarnya tidak terlalu sulit. Ukuran, bentuk bangunan, hingga aksesoris Tionghoa sama saja dengan kelenteng-kelenteng lain. Apalagi, pria asal Tuban ini sudah beberapa kali terlibat dalam renovasi maupun pembangunan kelenteng di Jawa maupun Kalimantan.

Yang agak pelik di Pantai Papuma ini, menurut Ronny, adalah membawa bahan-bahan bangunan ke lokasi. Dia bersama para tukang harus sangat hati-hati karena dekat laut. Itu membutuhkan teknik dan seni tersendiri.

“Tapi kebetulan saya sendiri memang sangat suka tantangan. Makanya, Kelenteng Sri Wulan itu sangat berkesan bagi saya sebagai arsiteknya,” kata Ronny seraya tersenyum.

Meski begitu, Ronny meyakinkan bahwa akses jalan ke TITD Sri Wulan Jember sudah dibuat sedemikian rupa agar tidak membahayakan pengunjung. Karena itu, jemaat tidak perlu khawatir datang ke sana untuk bersembahyang sekaligus menikmati wisata pantai yang masih sangat alami itu. Salah satu pertimbangan utama dalam mendirikan tempat ibadah adalah keamanan dan mudah dijangkau.

“Jadi, jangan khawatir datang ke Kelenteng Sri Wulan. Pemandangannya justru sangat unik dan berbeda dengan kelenteng-kelenteng lain di Jawa Timur,” ujar mantan anggota TNI Angkatan Laut ini.

Ronny sendiri mengaku tak menyangka akhirnya mendapat kepercayaan sebagai arsitek sebuah kelenteng baru. Sebagai orang Jawa, dan bukan pengusaha, sebelumnya dia tak punya jaringan dengan pengusaha Tionghoa sekaligus pengurus kelenteng. Tapi rupanya aktivitasnya dalam merenovasi sejumlah kelenteng dalam beberapa tahun terakhir ternyata sudah tersebar di kalangan para pengelola kelenteng.

“Saya kemudian dikontak dan diminta membuat kelenteng di Pantai Papuma. Sekarang sudah jadi dan digunakan oleh warga Tionghoa yang ingin sembahyangan,” kata pria berkulit gelap ini. (hurek)

No comments:

Post a Comment