20 September 2011

Kelenteng Pao Sian Lian Kong di Sumenep



Oleh Lambertus Hurek

Sejumlah pengusaha asal Surabaya bersama Zhao Yushen, istri Konjen Tiongkok Wang Huagen, dan rombongan berkunjung ke Kelenteng Pao Sian Lian Kong di Sumenep. Tempat ibadat Tridharma (TITD) di Jalan Slamet Riyadi 27, Desa Pabaan, ini menyimpang jejak sejarah Tionghoa di Pulau Madura.


Tidak begitu jelas kapan persisinya TITD Pao Sian Lian Kong Sumenep ini dibangun. Namun, Jap Sen Boen, pengurus sekaligus rohaniwan, meyakini usia kimsin atau rupang Makco Thian Siang Sing Bo yang ada di kelenteng itu sudah berusia kira-kira 190 tahun. Kimsin dewi pelindung para pelaut itu dibawa langsung oleh para perantau asal Fujian di Tiongkok Selatan ke Sumenep.

Kelenteng ini sebagai ungkapan syukur para perantau Hokkian yang berhasil dalam usaha perdagangan di Desa Marengan, Kecamatan Kalianget. Pada masa penjajahan Belanda itu kawasan Marengan, yang berada di dekat pantai, dikenal sebagai pusat perdagangan di Pulau Madura.

Rumah pemujaan untuk Makco itu pun makin lama menjadi jujugan orang Tionghoa di Sumenep dan sekitarnya untuk bersembahyang dan melestarikan adat-istiadat Tionghoa. Kelenteng ini pun kian sesak saja. Kurang bisa menampung warga Tionghoa yang semakin banyak. Karena itu, seorang kapiten Tionghoa di era Hindia Belanda menghibahkan tanahnya di Desa Pabian untuk merelokasi kelenteng. Lokasinya di dekat kediaman sang kapiten yang masih ada sampai sekarang.

Berdiri di atas lahan seluas 2.685 meter persegi, TITD Pao Sian Lian Kong ini memang menarik. Ia punya halaman luas di antara pintu gerbang dan bangunan utama. Tak ada ukiran atau lukisan dinding seperti kelenteng-kelenteng tua lain di Jawa Timur. Di atas pintu utama sebelah kanan dan kiri terdapat kaligrafi dalam aksara Tionghoa (shufa). Menurut Jap, tulisan kanji itu bermakna: ‘keramatnya mendunia’ dan ‘negara dan lautan tenang’.

“Kaligrafi ini masih asli, sekaligus jadi bukti bahwa kelenteng ini sudah berusia ratusan tahun,” ujar Jap seraya menunjuk kaligrafi di atas pintu bagian kiri. (*)



Seperti kelenteng-kelenteng tua lain, Kelenteng Pao Sian Lian Kong sejak dulu jadi jujukan warga Tionghoa dari berbagai daerah di tanah air. Mereka umumnya datang untuk meminta rezeki, sukses berdagang, dan diberi kesehatan oleh Thian (Tuhan).

Di ruang utama TITD Pao Sian Lian Kong terdapat tiga altar: Kongco Hok Tiek Cing Sien, Makco Thian Siang Sing Bo, dan Kongco Kong Tik Cung Ong. Saat ini kondisi ruangan di tempat ibadat Tridharma (TITD) ini terlihat bersih dan rapi. Nyaris tak ada bekas asap atau jelaga.

“Saya memang sengaja memasang keramik di dinding agar kelenteng lebih nyaman dipakai berdoa. Sebelum direnovasi, suasananya mirip kelenteng-kelenteng lain,” ujar Jap Sen Boen, pengurus sekaligus rohaniwan TITD Pao Sian Lian Kong, kepada saya.

Jap bahkan pernah melakukan semacam ‘studi banding’ di Singapura. Dia memperhatikan dengan saksama suasana kelenteng di negara mungil yang mayoritas Tionghoa itu. Ternyata, menurut Jap, jemaat kelenteng di Singapura tidak bisa sembarangan memasang lilin atau hio di depan kimsin atau rupang sang dewa. Lilin itu dibawa keluar dan dipasang di tempat khusus di halaman.

Dengan begitu, ruangan kelenteng tidak menjadi lautan asap ketika banyak orang melakukan sembahyang bersama-sama. “Jujur saja, asap terlalu banyak itu bikin mata perih dan kurang sehat kalau dihirup ke sistem pernapasan kita. Ini yang mulai saya coba terapkan di Sumenep,” ujar Jap seraya tersenyum.

Berdasarkan pengalaman mengurus TITD Pao Sian Lian Kong, Jap Sen Boen mengaku banyak mendapat kesaksian dari orang-orang yang berhasil setelah datang bersembahyang di kelenteng tua di kawasan Pabian, Sumenep, ini. Suatu ketika seorang pengusaha asal Surabaya, yang juga pemilik hotel di kawasan Keputran, sakit parah. Dia mendapat ‘wisik’ untuk mengunjungi Kelenteng Pao Sian Lian Kong.

Hasilnya memang menakjubkan. Penyakit yang dideritanya bersangsur sembuh. Bahkan, usahanya pun makin lancar. Sebagai ucapan terima kasih, pengusaha itu bersedia merenovasi bangunan berusia sekitar 190 tahun yang memang sudah rusak di sana-sini. Mukjizat kesembuhan dan sukses perdagangan pun terus berulang dari waktu ke waktu. Jap kemudian dipercaya untuk mengelola sumbangan jemaat tersebut.

“Jadi, kalau sekarang ini kami sedang melakukan renovasi, itu kan ada sumbangan dari para pengunjung. Itu amanah yang harus saya pertanggungjawabkan kepada mereka,” kata Jap.

Saat ini proses renovasi sedang dilakukan untuk ruangan di belakang altar utama.


Sejatinya, Kelenteng Pao Sian Lian Kong merupakan rumah pemujaan untuk dewi pelindung para pelaut Tionghoa, Thian Siang Sing Bo, yang lebih dikenal dengan Makco. Namun, kelenteng di Jalan Slamet Riyadi 27 Sumenep ini belakangan dikenal luas karena Dewi Kwan Im.

Berbeda dengan kelenteng-kelenteng Makco lainnya, TITD Pao Sian Lian Kong dilengkapi rumah khusus untuk Dewa Kwan Im. Bangunan segidelapan di bagian tengah, belakang ruang utama, itu dicat merah. Ruangannya pun bersih, berlantai keramik, dan selalu terawat. Setiap hari puluhan jemaat, sebagian di antaranya anak-anak muda, datang bergantian untuk bersembahyang dan meditasi.

Saat dikunjungi penulis pada libur Lebaran lalu, tampak empat remaja putri duduk di depan kimsin (patung) sang dewi welas asih. Rupanya mereka sedang mengisi liburan dengan laku meditasi. “Anak-anak muda Tionghoa di Sumenep ini memang banyak yang meditasi rutin di sini,” ujar Jap Sen Boen, pengurus kelenteng.

Jap terlihat sumringah ketika menceritakan keistimewaan kimsin Kwan Im. Patung sang dewi welas asih yang juga dikenal sebagai Avalokitesvara Boddhisatva itu bisa berubah wajah sesuai kondisi jemaat yang datang berdoa. Terutama di bagian mata dan pipi. Ini semacam pertanda atawa isyarat tulus tidaknya niat seseorang.

“Kimsin ini sebetulnya mirip dengan kimsin Dewi Kwan Im di tempat lain. Tapi ada perubahan wajah yang sulit ditebak. Nggak bisa direkayasa,” kata pria yang juga dikenal dengan nama Seno Jaya Manggala itu.

Bila niat seseorang tulus ikhlas, menurut Jap, wajah kimsin Kwan Im yang aslinya putih tulang berubah menjadi kemerah-merahan. Mata sang dewi yang semula sipit berubah lebar. Sang dewi seperti terlihat gembira. Sebaliknya, parah wajah Kwan Im akan murung jika si pengunjung itu punya niat yang kurang baik atau bakal mendapat hal-hal yang tidak mulus dalam usaha.

Gara-gara kimsin Dewi Kwan Im yang unik ini, menurut Jap, banyak sekali warga Tionghoa dari berbagai daerah yang datang berziarah di Kelenteng Pao Sian Lian Kong. Tak hanya perseorangan, para peziarah umumnya datang dengan bus-bus besar. Jemaat asal Jakarta dan sekitarnya termasuk yang paling banyak.

“Kemarin, umat dari Jakarta ada dua bus. Minggu ini ada ratusan orang lagi yang sudah kontak mau datang ke sini,” kata Jap seraya tersenyum.

Bagi pengurus kelenteng macam Jap Sen Boen, kedatangan peziarah dalam jumlah besar, dan teratur, merupakan berkah yang luar biasa untuk sebuah tempat ibadah Tridharma (TITD). Sebab, para peziarah itu secara langsung atau tidak bakal menopang kelangsungan kelenteng. (*)

No comments:

Post a Comment