07 September 2011

Dari Surabaya ke Sumenep



Dermaga Talango di Pulau Puteran, Kabupaten Sumenep.

Libur Lebaran tahun 2011 ini saya manfaatkan untuk tur keliling Madura. Start dari Surabaya, lewat Jembatan Suramadu, masuk Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep, dan kalianget di ujung pulau garam itu. Bahkan, saya juga sempat berkeliling di Pulau Puteran.

Kabupaten Sumenep memang punya banyak pulau kecil. Pulau terdekat adalah Puteran. Ada delapan desa, punya kecamatan sendiri: Kecamatan Talango. Menyeberang ke sana cukup bayar Rp 5.000 dengan perahu motor kecil. Jalan raya sudah aspal, tapi kurang mulus.

Sejak Jembatan Suramadu, sepanjang 5,4 kilometer diresmikan Presiden SBY pada 2009, pengunjung Pulau Madura memang bertambah. Sebab, Madura sudah menjadi ‘satu daratan’ dengan Pulau Jawa. Apalagi di musim musik Lebaran, lalu lintas ramai sekali. Sepeda motor, mobil pribadi, kendaraan umum.

Sayang, empat pemerintah kabupaten di Madura rupanya kurang antisipatif. Ketika Suramadu dioperaskan, jalan raya utama di Madura sepanjang kira-kira 200 kilometer (di bagian selatan) tidak diperhatikan. Kondisi jalan pun hampir sama dengan Madura pra-Suramadu. Jalanan tidak mulus. Banyak lubang. Kurang lebar.

Melintas dari Bangkalan hingga Sumenep, saya akhirnya bisa maklum bahwa pada dasarnya Madura itu ‘bukan Jawa’ alias di luar Pulau Jawa meski masuk Jawa Timur. Karena itu, kondisi infastruktur, pembangunan, dan sebagainya masih kalah jauh dibandingkan Jawa. Melintas di jalan raya Pulau Madura tak beda jauh dengan melintas di Pulau Timor, Pulau Flores, Pulau Sumbawa, atau Pulau Lembata.

Contoh sederhana urusan makan minum alias kuliner. Betapa bedanya menu yang disajikan di depot-depot atau warung-warung di sepanjang jalan raya Madura dengan Jawa, misalnya sepanjang Surabaya-Malang. Di Madura, kita sulit mencari soto madura atau sate madura. Kita juga sulit mendapatkan warung yang menyediakan nasi yang baik.

Mungkin karena beras mahal atau apa, nasi di warung-warung di Madura umumnya tidak mekar alias keras. Padahal, kondisi fisik depot di daerah Blega yang ada posko kepolisian itu cukup bagus. “Susah kita cari makanan yang enak di sini,” kata teman saya asal Surabaya.

Makanan-minuman yang lumayan baik baru saya temui di Sumenep. Itu pun terbatas sekali. Geser sedikit ke Kalianget, dekat pelabuhan, lagi-lagi kita kembali harus menyantap nasi yang tidak mekar. Ini juga sekali lagi menunjukkan bahwa Madura bukan Jawa. Dan kita harus bisa legawa, ikhlas, dan pasrah menerima kenyataan.

Syukurlah, saya sangat menikmati suasana Sumenep. Kota kecil yang indah dan teratur. Ada panggung besar di depan Masjid Jamik, yang bersejarah itu, untuk memeriahkan malam takbiran. Oh ya, masyarakat Sumenep berlebaran pada 31 Agustus 2011 sesuai pengumuman pemerintah.

Tak jauh dari masjid ada pendapat antik dan bekas keraton. Bangunan berarsitektur Tionghoa ini, menurut catatan sejarah, dibuat oleh tukang-tukang asal Tiongkok. Masih di dalam kota ada kompleks makam keluarga raja-raja Sumenep yang disebut Asta Tinggi.

Sebagai aktivitas Jejak Petjinan, tentu saja saya tak lupa mampir ke Kelenteng Pao Sian Lian Kong di Jalan Slamet Riyadi 27 Pabian, Sumenep. Saya diterima dengan hangat oleh Bapak Jap Sen Boen, pengurus sekaligus rohaniwan kelenteng terkenal itu.

Seperti umumnya kelenteng-kelenteng di Indonesia, TITD Pao Sian Lian Kong dipersembahkan kepada Makco Thian Siang Sing Boo, sang dewi pelindung para pelaut. Saat ini Pak Jap dan kawan-kawan sedang melakukan renovasi setelah sukses memperbaiki kelenteng berusia 160 tahun itu. rupang atau kimsin Makco sendiri, menurut Pak Jap, sudah berusia 190 tahun.

“Saya nggak ngarang. Anda bisa lihat di atas itu ada kaligrafi Tionghoa yang menunjukkan kapan kelenteng ini dibangun,” ujar Pak Jap sembari menunjuk shufa (kaligrafi) di atas pintu masuk altar Makco.

Di bagian tengah terdapat bangunan segidelapan khusus untuk Dewi Kwan Im, atau disebut juga Avalokitesvara. Kimsin Dewi Kwan Im di Sumenep ini, menurut Pak Jap, punya keistimewaan yang membuat begitu banyak orang Tionghoa dari berbagai daerah menyempatkan diri datang berkunjung. Sehari sebelum kedatangan saya, ada dua bus besar membawa rombongan Tionghoa dari Jakarta. Dua bus berikutnya menyusul dua hari kemudian.

Apa kesitimewaan kimsin Kwan Im itu?

Pak Jap alias Seno Jaya Manggala menjelaskan, patung Kwan Im itu bisa memberikan isyarat apakah seseorang yang datang itu bermaksud baik, tulus, gundah gulana, dan sebagainya. Kalau bermaksud baik, wajah Kwan Im yang aslinya putih akan berubah menjadi kemerah-merahan. Mata sang dewi yang sipit pun berubah lebar.

Saya pun diajak masuk untuk menemui Dewi Kwan Im, dewi welas asih. “Coba Anda perhatikan baik-baik bagian wajah dan matanya,” kata Pak Jap. Biasa saja.

“Coba geser ke kiri. Perhatikan bagian wajah Dewi Kwan Im.”

“Wow, jadi kemerah-merahan.”

“Artinya, kamu punya niat baik dan tulus. Insyaallah, permohonan kamu dikabulkan, rezekimu lancar!” kata Pak Jap sembari tersenyum lebar.

Syukurlah. Mudah-mudahan rezeki saya lancar seperti yang diisyaratkan tadi. Saya kemudian memotret beberapa bagian kelenteng karena memang TITD yang satu ini benar-benar sulit dicari fotonya. Bahkan, di era internet ini belum ada yang memuat di blog atau website resmi.

Rupanya, orang-orang Tionghoa yang gemar melakukan wisata kelenteng itu bukan penggemar Facebook atau blogger yang suka memosting foto-foto suasana Kelenteng Pao Sian Lian Kong Sumenep. Maklum, yang senang mampir ke kelenteng itu sebagian besar laoren-laoren Tionghoa. Sementara yang muda-muda lebih suka nongkrong di mal, plaza, atau jalan-jalan ke Singapura, Hongkong, USA, atau Macau.

“Memang di mana-mana anak muda Tionghoa itu sudah jarang yang pigi sembahyang di kelenteng. Di Sumenep ini, anak-anak muda Tionghoa lebih banyak yang pigi ke sebelah itu,” kata Pak Jap. ‘Sebelah itu’ maksudnya Gereja Katolik Santa Maria Gunung Karmel yang memang bertetangga dengan Kelenteng Pao Sian Lian Kong.

“Orang-orang Khonghucu di Sumenep ini tinggal yang tua-tua. Yang muda-muda banyak yang Katolik, Kristen, atau Buddha. Saya punya anak juga ikut Buddha Theravada,” kata Pak Jap.

No comments:

Post a Comment