06 September 2011

Buka Puasa Bersama Ibu Shinta Nuriyah



Tahun ini untuk ketiga kalinya Paroki Hati Kudus Yesus (HKY) ‘Katedral’ Surabaya mengadakan acara buka bersama warga kurang mampu. Mereka adalah keluarga besar Warung Broto, komunitas warung dan unit usaha koperasi sederhana, yang dikelola oleh Paroki HKY. Seperti tahun lalu, buka bersama di Aula Pasmar Jalan Opak Surabaya ini dihadiri Ibu Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, istri almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Hajatan kebersamaan lintas agama, ras, etnis, dan budaya ini memang digagas oleh Shinta Nuriyah ketika masih menjadi Ibu Negara pada tahun 2000. Gerakan bertajuk Sahur Keliling dan Buka Bersama Ibu Shinta Nuriyah ini berlangsung di berbagai kota di tanah air dengan target keluarga-keluarga kurang mampu.

Sejak tahun 2000 itu pula Romo Eko Budi Susilo dipercaya sebagai koordinator sahur keliling dan buka bersama di Kota Surabaya. Saya sendiri termasuk relawan sahur keliling dan buka bersama Ibu Shinta Nuriyah di Surabaya sejak 2000.

“Jadi, acara buka bersama dan sahur keliling bersama Ibu Shinta Nuriyah ini sudah berjalan selama 11 tahun. Dan itu masih kita pertahankan dan kembangkan sampai sekarang,” ujar Romo Eko Budi Susilo, yang saat ini menjabat kepala Paroki HKY Surabaya.

Diawali tari remo sebagai ucapan selamat datang untuk Ibu Shinta Nuriyah dan rombongan, keluarga besar nahdliyin, Romo Eko kemudian menyampaikan welcome speech. Pastor yang juga ‘orang dekat’ almarhum Gus Dur ini pertama-tama mengucapkan selamat kepada Ibu Shinta Nuriyah yang baru saja menerima anugerah Bintang Mahaputra Adipradana dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sekitar 200 anggota Warung Broto dan keluarga besarnya, panitia, undangan, pun bertepuk tangan meriah. Sementara Ibu Shinta, yang duduk di kursi roda, tersenyum lebar.

Romo Eko mengucapkan terima kasih atas komitmen Ibu Shinta Nuriyah dalam gerakan lintas budaya dan agama untuk mempertahakan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan bhinneka tunggal ika. Empat pilar kebangsaan ini harus dijaga oleh semua elemen bangsa Indonesia mengingat akhir-akhir ini muncul sejumlah gerakan yang merongrong empat pilar itu.




Seperti biasa, sebelum bedug magrib tiba, Ibu Shinta Nuriyah memberikan tausyiah alias ceramah pengantar berbuka puasa. Dengan bahasa yang sederhana, di hadapan para tukang becak, tukang kayu, tukang koran, pembantu rumah tangga, dan anak-anak sekolah itu, Ibu Shinta mengingatkan pentingnya menjaga empat pilar kebangsaan. Bhinneka tunggal ika, Pancasila, NKRI, UUD 1945 sudah menjadi harga mati bagi bangsa Indonesia.

Ibu Shinta juga mengajak keluarga besar Warung Broto untuk menyanyikan lagu Satu Nusa Satu Bangsa. “Saya juga senang karena tadi saya disambut dengan tari remo. Kemarin di Mojokerto saya disambut dengan tarian barongsai. Di kelenteng pun saya disambut dengan meriah,” tutur Ibu Shinta yang juga senang berdialog dengan wong cilik itu.

Mantan Ibu Negara yang juga cendekiawan muslim ini ingin menekankan bahwa bangsa Indonesia ini sejatinya memang majemuk. Pluralistik. Agama yang dipeluk macam-macam. Budaya, bahasa, adat istiadat pun berbeda.

“Tapi kita semua, walaupun berbeda-beda, tapi.... Tapi apa???” tukas Ibu Shinta Nuriyah. “Tetap satu!!!” sahut anak-anak dengan suara keras.

Begitulah. Gerakan sahur keliling dan buka bersama Ibu Shinta Nuriyah ini memang tak pernah lepas dari semangat untuk merawat bhinneka tunggal ika. Semangat menjaga keberagaman di antara sesama anak bangsa. Selain itu, Ibu Shinta selalu mendorong para wong cilik di komunitas Warung Broto untuk berhemat, rajin menabung, memikirkan masa depan, dan berusaha untuk maju dan maju.

Jangan heran, dalam setiap dialognya dengan abang becak, dia selalu bertanya apakah orang itu punya kebiasaan merokok. Baginya, merokok bukan hanya merugikan kesehatan diri sendiri dan orang lain (perokok pasif), tapi juga membuat orang tidak bisa menyisihkan penghasilan---yang sudah sedikit itu---untuk menabung.

Ibu Shinta Nuriyah terlihat antusias dan ikut gembira ketika memberi sisa tabungan dua penabung terbesar di Warung Broto. Nilainya meningkat tajam ketimbang tahun lalu, di atas Rp 10 juta.

“Anggota Warung Broto yang tahun lalu hanya 90-an, sekarang pun naik dua kali lipat menjadi 180 orang,” kata Romo Eko Budi Susilo. (rek)

No comments:

Post a Comment