12 September 2011

Bandara Trunojoyo di Sumenep





Saya baru saja mengujungi Bandara Trunojoyo di Sumenep, kota paling ujung di Pulau Madura. Bandar udara yang lebih cocok disebut lapangan terbang perintis ini berada di areal persawahan yang luas. Dibandingkan 18 bandara kecil di Nusa Tenggara Timur (NTT), kondisi Bandara Trunojoyo jelas lebih bagus.

Landas pacu, terminal penumpang, kantor bandara... lebih bagus di Sumenep ini ketimbang di Bandara Wunopito, Lembata, NTT, misalnya. Sayang, Bandara Trunojoyo Sumenep ini sampai sekarang tidak berfungsi. Ada lapangan terbang, yang dibangun mahal, tapi tak ada penerbangan ke Madura.

Ketika saya mampir saat libur Lebaran lalu, 30 Agustus 2011, empat petugas sedang tidur-tidur. Satu petugas lagi duduk di depan komputer. Tak jelas apa yang sedang dia kerjakan. Mau kerja apa kalau tak ada pesawat yang datang. “Belum ada penerbangan, Bang,” kata seorang petugas ramah.

Beberapa tahun lalu lapangan terbang kecil di daerah Pabian, tak jauh dari Kelenteng Makco dan Gereja Katolik di Jalan Slamet Riyadi ini dipakai untuk latihan calon-calon pilot Merpati. Tak heran, di terminal ada stiker bertuliskan MERPATI FLYING SCHOOL. Berkat latihan itu, Bandara Trunojoyo seolah-olah berfungsi sebagai lapangan terbang. Sayang, latihan ini dihentikan sehingga Bandara Trunojoyo kembali sepi.

Berbeda dengan NTT, provinsi kepulauan dengan 432 pulau, sehingga penerbangan perintis dengan pesawat-pesawat kecil mutlak diperlukan, Jawa Timur punya kultur daratan. Angkutan darat baik kendaraan umum maupun kendaraan pribadi dengan mudah menjangkau 38 kabupaten/kota. Termasuk empat kabupaten di Pulau Madura, setelah Jembatan Suramadu beroperasi pada 2006.

Orang Madura lebih memilih naik mobil atau bus dari Surabaya ke Sumenep selama empat jam. Buat apa, misalnya, naik pesawat kecil dari Surabaya ke Sumenep kalau harus bayar mahal? Mungkin hanya pengusaha kaya atau pejabat yang butuh cepat. Dan itu rupanya kurang prospektif dari sisi bisnis.

Tak hanya Bandara Trunojoyo Sumenep yang mangkrak. Bandara kecil di Jember pun tidak berfungsi. Bandara lain di Banyuwangi baru saja difungsikan, tapi apakah bisa awet seperti bandara-bandara kecil di NTT? Kita lihat saja nanti.

Bandara kecil yang punya prospek di Jawa Timur mungkin hanya di Pulau Bawean. Tapi apakah memang dibutuhkan oleh orang-orang Bawean yang sebagian besar TKI? Ini juga perlu survei dan perhitungan yang sangat cermat dari Pemkab Gresik kalau ingin membangun sebuah bandara kecil di Pulau Bawean. Jangan sampai mangkrak seperti di Sumenep atau Jember.

2 comments:

  1. Digawe lapangan bal-balan ae, cak.

    ReplyDelete
  2. sekarang anda cek bagaimana bandara Jember......

    ReplyDelete