30 September 2011

Petinggi Penang ke Surabaya




Karim Raslan, wartawan asal Malaysia itu, selalu menyebut dirinya tukang cerita. Tapi Karim jelas bukan tukang cerita atau wartawan biasa. Karim bahkan mirip diplomat yang berhasil menjadi jembatan persahabatan Indonesia-Malaysia, khususnya Malaysia dengan Kota Surabaya.

Setelah membawa Wakil Perdana Menteri Malaysia ke Surabaya, kemarin Encik Karim ini menggandeng rombongan pejabat dari Penang, salah satu dari 11 negara bagian di Malaysia, ke Surabaya. Rombongan Penang dipimpin Lim Guan Eng, ketua menteri atau semacam gubernur di Indonesia. Menarik karena gubernur Penang ini Pak Lim yang keturunan Tionghoa.

Yang Amanat Berhormat Tuan Lim Guan Eng ditemani beberapa pejabat tinggi Penang: Mokhtar bin Mohd Jait, Abdul Halim bin Hussain, Mustafa Kamal bin Mohd Yusoff, Abdul Aziz bin Tunku Ibrahim, kemudian Lee Kah Choon. Orang Melayu Malaysia ini selalu pakai BIN untuk merujuk nama ayahnya. Maka, nama-nama orang Melayu Malaysia ini pun panjang sekali.

Tuan Lim bertemu pejabat-pejabat penting di Surabaya. Kemudian pengusaha Tionghoa Surabaya yang tergabung dalam Perhimpunan Pengusaha Tionghoa Indonesia (Perpit) Jawa Timur. Kebetulan perkumpulan pengusaha Tionghoa ini dipimpin marga Lim alias Lin (dalam bahasa Mandarin) juga, sehingga mereka ibarat keluarga sendiri. Sesama anggota marga Lim. Hanya saja, Tuan Lim Guan Eng di Penang, Malaysia, sementara Liem Ouyen atau Ridwan Harjono di Surabaya.

“Kita ngobrol-ngobrol santai, makan malam, di Hotel Shangri-La. Nah, dari omong-omong santai itu mungkin suatu saat nanti kita bisa kerja sama di bidang bisnis atau investasi. Yang penting, sama-sama untunglah,” kata Liem Ouyen, pengusaha dari Jalan Kembang Jepun Surabaya, yang selama ini menjadi juru bicara pengusaha Tionghoa di Jawa Timur.

Tuan Lim, sang gubernur Penang, terlihat ramah, banyak senyum. Dia banyak memuji perkembangan Kota Surabaya yang makin hijau, punya banyak taman, dan punya prospek cerah di masa depan. Sebaliknya, orang-orang Surabaya juga memuji Malaysia yang maju pesat, sehingga mampu memberi makan kepada jutaan orang Indonesia yang jadi TKI.

Namanya saja wartawan, tukang cerita, Karim Raslan tak lupa mengajak Tuan Lim Guan Eng ke markas surat kabar Jawa Pos di Jalan Ahmad Yani 88 Surabaya. Bincang santai, akrab, diskusi kecil tentang perkembangan media massa, kebebasan pers, kemudian makan nasi rawon khas Jawa Timur.

Indonesia dan Malaysia, entah itu Penang, Selangor, Johor, Sabah, Serawak… sebetulnya punya banyak kesamaan. Bahasanya mirip, selera humor dan selera makan mirip. Juga adat istiadat, bahkan agama mayoritas Islam. Sayang, dalam 20 tahun terakhir Indonesia ketinggalan terlalu jauh, sehingga tak mampu memberi perkerjaan yang layak kepada rakyatnya. Malaysia pun berjasa menanmpung berjuta-juta TKI itu.

Hubungan kedua negara, yang katanya serumpun ini, pun tidak selalu mulus. Pemicunya hanya gara-gara soal sepele. Maka, peranan orang-orang Malaysia macam Karim Raslan menjadi sangat penting untuk merekatkan kembali persahabatan antara kedua negara. Apalagi biasanya orang macam Karim Raslan lebih dipercaya dan didengar ketimbang pejabat-pejabat tinggi atau orang-orang di kedutaan besar Malaysia.

23 September 2011

Pelukis Harryadjie BS Berpulang




Puluhan seniman Sidoarjo, Jumat (23/9/2011), mengantar jenazah pelukis Harryadjie Bambang Soebagyo (66) ke tempat pemakaman umum Sidokare Indah, Sidoarjo. Pekerja kebudayaan yang kerap disapa Bambang Thelo atau Eyang Tekek ini meninggalkan Rahmaningsih (istri) dan Rainer Haryo Jarot Prabangkasa (anak tunggal).

Kepergian Harryadjie BS yang tiba-tiba tak ayal mengejutkan para seniman, khususnya komunitas pelukis Sidoarjo. Pasalnya, selama ini almarhum tak pernah mengeluh sakit dan setiap hari senang bepergian menggunakan sepeda onthel.

Sejak dulu pria kelahiran Jatinegara, Jakarta, 25 September 1945, ini memang dikenal sebagai onthelis sejati. Dia kerap bersepeda pancal Sidoarjo-Surabaya atau Sidoarjo-Mojokerto pulang pergi.

Kamis (22/9) pagi, Harryadjie bersepeda dari rumahnya di kawasan Sidokare Indah ke Buncitan, dekat kompleks Candi Tawangalun di Sedati. Dia bermaksud menemui Ahmad Syaiful Munir, pelukis yang juga penjaga Candi Tawangalun. “Kita memang ada rencana mengadakan pameran lukisan,” kenang Syaiful.

Malang tak dapat ditolak, di tengah perjalanan Harryadjie jatuh dari sepedanya di kawasan Prasung. Pelukis yang beberapa tahun belakangan ini fokus di green art itu diduga mengalami serangan jantung mendadak. Selama ini almarhum memang tak pernah mengeluh sakit, pun tak pernah berobat ke rumah sakit. Namun, teman-teman dekat dan pihak keluarga sadar kalau organ tubuh Harryadjie tak sebagus 10 tahun silam.

Meski jatuh, rupanya Harryadjie masih siuman. Ini terbukti dari pesan pendek (SMS) yang dikirim ke ponsel Syaiful pada pukul 08.38. “Aku ambruk di pinggir tambak Prasung. Tolong kalau bisa susul aku, ada yang sangat penting yang mau tak sampaikan,” tulis Harryadjie.

Membaca gelagat yang tak enak, Syaiful pun langsung menyusul Harryadjie yang juga guru dan sahabatnya. Tidak ketemu, karena pelukis yang pernah bekerja di Jerman ini sudah dibawa ke sebuah klinik di kawasan Buduran. Pukul 15.24 Harryadjie masih sempat menelepon Syaiful.

“Katanya, kita mungkin tidak akan ketemu lagi,” kata Harryadjie seperti ditirukan Syaiful.

Rupanya, Harryadjie sudah bisa meramal akhir hidupnya. Seniman alumni Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera) ini pun kembali ke pangkuan Sang Khalik. Rahmaningsih sempat membawa Harryadjie ke RSUD Sidoarjo untuk memastikan kondisi suaminya. “Ini hanya untuk memastikan saja, karena waktu di klinik Bapak sudah nggak ada. Nadinya nggak terasa,” kata Rahmaningsih dengan suara bergetar.

Berita kematian Harryadjie BS kontan saja menyebar dengan cepat di kalangan seniman, mahasiswa seni rupa, sanggar-sanggar budaya, dan pengurus Dewan Kesenian Sidoarjo. Sepanjang malam ratusan seniman, tetangga, keluarga, dan kerabat memenuhi rumah duka untuk bertaksyah. Bupati Sidoarjo Saiful Ilah pun tak ketinggalan mengirim karangan bunga.

Maklum, dalam 10 tahun terakhir, almarhum Harryadjie cukup intens berkomunikasi dengan Win Hendrarso (waktu itu bupati Sidoarjo) dan Saiful Ilah (waktu itu wakil bupati). Ketika seniman atau aktivis lain sungkan bertemu pejabat, Harryadjie dengan enteng menelepon dan menemui bupati atau wabup kapan saja. Tak ada kata sungkan atau malu.

“Pak Harryadjie itu orang yang sangat unik. Kesenian itu dijadikan sebagai laku sepanjang hidupnya,” ujar Farid Firdaus, pelukis senior, yang kerap bekerja sama dengan almarhum untuk menggelar pameran seni rupa.

Selain bergelut dengan green art---almarhum biasa memanfaatkan sampah atau barang-barang tak terpakai untuk membuat karya seni---dalam dua tahun terakhir, Harryadjie aktif dalam gerakan penghijauan di kawasan Malang dan Lumajang.

Menurut dia, seniman tidak boleh hanya sekadar melukis atau asyik membuat karya seni, sementara lereng-lereng gunung di Jawa Timur kian gundul. Maka, Harryadjie pun rajin mengumpulkan bibit-bibit (apa saja) untuk ditanam bersama sejumlah aktivis lingkungan.

Meski sibuk dengan gerakan penghijauan, diam-diam Harryadjie terus membuat topeng dari buah-buahan liar untuk acara pemeran bersama di Sidoarjo. Tapi rupanya Tuhan berkehendak lain. Harryadjie meninggal tiba-tiba ketika hendak mengurus persiapan pameran seni rupa.

“Kita benar-benar kehilangan seorang pekerja keras yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk kesenian,” kata Farid Firdaus. (rek)

20 September 2011

Kelenteng Sri Wulan di Jember




Sejak era reformasi bergulir 13 tahun lalu, perlahan-lahan terjadi kebangkitan kembali tradisi dan budaya Tionghoa. Kelenteng-kelenteng tua yang rusak sudah direnovasi, bahkan di beberapa daerah dibangun kelenteng baru. Salah satu kelenteng baru itu terletak di kawasan wisata Pantai Papuma, Jember.

Di pantai berpasir putih ini telah berdiri kelenteng baru bernama TITD Sri Wulan. “Kelenteng di Pantai Papuma ini sangat menarik karena didukung pemandangan pantai yang indah dengan debur ombaknya,” kata Ronny Haryono, arsitek TITD Sri Wulan Jember, kepada saya.

Menurut Ronny, proses pembangunan kelenteng di Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, ini sebenarnya tidak terlalu sulit. Ukuran, bentuk bangunan, hingga aksesoris Tionghoa sama saja dengan kelenteng-kelenteng lain. Apalagi, pria asal Tuban ini sudah beberapa kali terlibat dalam renovasi maupun pembangunan kelenteng di Jawa maupun Kalimantan.

Yang agak pelik di Pantai Papuma ini, menurut Ronny, adalah membawa bahan-bahan bangunan ke lokasi. Dia bersama para tukang harus sangat hati-hati karena dekat laut. Itu membutuhkan teknik dan seni tersendiri.

“Tapi kebetulan saya sendiri memang sangat suka tantangan. Makanya, Kelenteng Sri Wulan itu sangat berkesan bagi saya sebagai arsiteknya,” kata Ronny seraya tersenyum.

Meski begitu, Ronny meyakinkan bahwa akses jalan ke TITD Sri Wulan Jember sudah dibuat sedemikian rupa agar tidak membahayakan pengunjung. Karena itu, jemaat tidak perlu khawatir datang ke sana untuk bersembahyang sekaligus menikmati wisata pantai yang masih sangat alami itu. Salah satu pertimbangan utama dalam mendirikan tempat ibadah adalah keamanan dan mudah dijangkau.

“Jadi, jangan khawatir datang ke Kelenteng Sri Wulan. Pemandangannya justru sangat unik dan berbeda dengan kelenteng-kelenteng lain di Jawa Timur,” ujar mantan anggota TNI Angkatan Laut ini.

Ronny sendiri mengaku tak menyangka akhirnya mendapat kepercayaan sebagai arsitek sebuah kelenteng baru. Sebagai orang Jawa, dan bukan pengusaha, sebelumnya dia tak punya jaringan dengan pengusaha Tionghoa sekaligus pengurus kelenteng. Tapi rupanya aktivitasnya dalam merenovasi sejumlah kelenteng dalam beberapa tahun terakhir ternyata sudah tersebar di kalangan para pengelola kelenteng.

“Saya kemudian dikontak dan diminta membuat kelenteng di Pantai Papuma. Sekarang sudah jadi dan digunakan oleh warga Tionghoa yang ingin sembahyangan,” kata pria berkulit gelap ini. (hurek)

Kelenteng Pao Sian Lian Kong di Sumenep



Oleh Lambertus Hurek

Sejumlah pengusaha asal Surabaya bersama Zhao Yushen, istri Konjen Tiongkok Wang Huagen, dan rombongan berkunjung ke Kelenteng Pao Sian Lian Kong di Sumenep. Tempat ibadat Tridharma (TITD) di Jalan Slamet Riyadi 27, Desa Pabaan, ini menyimpang jejak sejarah Tionghoa di Pulau Madura.


Tidak begitu jelas kapan persisinya TITD Pao Sian Lian Kong Sumenep ini dibangun. Namun, Jap Sen Boen, pengurus sekaligus rohaniwan, meyakini usia kimsin atau rupang Makco Thian Siang Sing Bo yang ada di kelenteng itu sudah berusia kira-kira 190 tahun. Kimsin dewi pelindung para pelaut itu dibawa langsung oleh para perantau asal Fujian di Tiongkok Selatan ke Sumenep.

Kelenteng ini sebagai ungkapan syukur para perantau Hokkian yang berhasil dalam usaha perdagangan di Desa Marengan, Kecamatan Kalianget. Pada masa penjajahan Belanda itu kawasan Marengan, yang berada di dekat pantai, dikenal sebagai pusat perdagangan di Pulau Madura.

Rumah pemujaan untuk Makco itu pun makin lama menjadi jujugan orang Tionghoa di Sumenep dan sekitarnya untuk bersembahyang dan melestarikan adat-istiadat Tionghoa. Kelenteng ini pun kian sesak saja. Kurang bisa menampung warga Tionghoa yang semakin banyak. Karena itu, seorang kapiten Tionghoa di era Hindia Belanda menghibahkan tanahnya di Desa Pabian untuk merelokasi kelenteng. Lokasinya di dekat kediaman sang kapiten yang masih ada sampai sekarang.

Berdiri di atas lahan seluas 2.685 meter persegi, TITD Pao Sian Lian Kong ini memang menarik. Ia punya halaman luas di antara pintu gerbang dan bangunan utama. Tak ada ukiran atau lukisan dinding seperti kelenteng-kelenteng tua lain di Jawa Timur. Di atas pintu utama sebelah kanan dan kiri terdapat kaligrafi dalam aksara Tionghoa (shufa). Menurut Jap, tulisan kanji itu bermakna: ‘keramatnya mendunia’ dan ‘negara dan lautan tenang’.

“Kaligrafi ini masih asli, sekaligus jadi bukti bahwa kelenteng ini sudah berusia ratusan tahun,” ujar Jap seraya menunjuk kaligrafi di atas pintu bagian kiri. (*)



Seperti kelenteng-kelenteng tua lain, Kelenteng Pao Sian Lian Kong sejak dulu jadi jujukan warga Tionghoa dari berbagai daerah di tanah air. Mereka umumnya datang untuk meminta rezeki, sukses berdagang, dan diberi kesehatan oleh Thian (Tuhan).

Di ruang utama TITD Pao Sian Lian Kong terdapat tiga altar: Kongco Hok Tiek Cing Sien, Makco Thian Siang Sing Bo, dan Kongco Kong Tik Cung Ong. Saat ini kondisi ruangan di tempat ibadat Tridharma (TITD) ini terlihat bersih dan rapi. Nyaris tak ada bekas asap atau jelaga.

“Saya memang sengaja memasang keramik di dinding agar kelenteng lebih nyaman dipakai berdoa. Sebelum direnovasi, suasananya mirip kelenteng-kelenteng lain,” ujar Jap Sen Boen, pengurus sekaligus rohaniwan TITD Pao Sian Lian Kong, kepada saya.

Jap bahkan pernah melakukan semacam ‘studi banding’ di Singapura. Dia memperhatikan dengan saksama suasana kelenteng di negara mungil yang mayoritas Tionghoa itu. Ternyata, menurut Jap, jemaat kelenteng di Singapura tidak bisa sembarangan memasang lilin atau hio di depan kimsin atau rupang sang dewa. Lilin itu dibawa keluar dan dipasang di tempat khusus di halaman.

Dengan begitu, ruangan kelenteng tidak menjadi lautan asap ketika banyak orang melakukan sembahyang bersama-sama. “Jujur saja, asap terlalu banyak itu bikin mata perih dan kurang sehat kalau dihirup ke sistem pernapasan kita. Ini yang mulai saya coba terapkan di Sumenep,” ujar Jap seraya tersenyum.

Berdasarkan pengalaman mengurus TITD Pao Sian Lian Kong, Jap Sen Boen mengaku banyak mendapat kesaksian dari orang-orang yang berhasil setelah datang bersembahyang di kelenteng tua di kawasan Pabian, Sumenep, ini. Suatu ketika seorang pengusaha asal Surabaya, yang juga pemilik hotel di kawasan Keputran, sakit parah. Dia mendapat ‘wisik’ untuk mengunjungi Kelenteng Pao Sian Lian Kong.

Hasilnya memang menakjubkan. Penyakit yang dideritanya bersangsur sembuh. Bahkan, usahanya pun makin lancar. Sebagai ucapan terima kasih, pengusaha itu bersedia merenovasi bangunan berusia sekitar 190 tahun yang memang sudah rusak di sana-sini. Mukjizat kesembuhan dan sukses perdagangan pun terus berulang dari waktu ke waktu. Jap kemudian dipercaya untuk mengelola sumbangan jemaat tersebut.

“Jadi, kalau sekarang ini kami sedang melakukan renovasi, itu kan ada sumbangan dari para pengunjung. Itu amanah yang harus saya pertanggungjawabkan kepada mereka,” kata Jap.

Saat ini proses renovasi sedang dilakukan untuk ruangan di belakang altar utama.


Sejatinya, Kelenteng Pao Sian Lian Kong merupakan rumah pemujaan untuk dewi pelindung para pelaut Tionghoa, Thian Siang Sing Bo, yang lebih dikenal dengan Makco. Namun, kelenteng di Jalan Slamet Riyadi 27 Sumenep ini belakangan dikenal luas karena Dewi Kwan Im.

Berbeda dengan kelenteng-kelenteng Makco lainnya, TITD Pao Sian Lian Kong dilengkapi rumah khusus untuk Dewa Kwan Im. Bangunan segidelapan di bagian tengah, belakang ruang utama, itu dicat merah. Ruangannya pun bersih, berlantai keramik, dan selalu terawat. Setiap hari puluhan jemaat, sebagian di antaranya anak-anak muda, datang bergantian untuk bersembahyang dan meditasi.

Saat dikunjungi penulis pada libur Lebaran lalu, tampak empat remaja putri duduk di depan kimsin (patung) sang dewi welas asih. Rupanya mereka sedang mengisi liburan dengan laku meditasi. “Anak-anak muda Tionghoa di Sumenep ini memang banyak yang meditasi rutin di sini,” ujar Jap Sen Boen, pengurus kelenteng.

Jap terlihat sumringah ketika menceritakan keistimewaan kimsin Kwan Im. Patung sang dewi welas asih yang juga dikenal sebagai Avalokitesvara Boddhisatva itu bisa berubah wajah sesuai kondisi jemaat yang datang berdoa. Terutama di bagian mata dan pipi. Ini semacam pertanda atawa isyarat tulus tidaknya niat seseorang.

“Kimsin ini sebetulnya mirip dengan kimsin Dewi Kwan Im di tempat lain. Tapi ada perubahan wajah yang sulit ditebak. Nggak bisa direkayasa,” kata pria yang juga dikenal dengan nama Seno Jaya Manggala itu.

Bila niat seseorang tulus ikhlas, menurut Jap, wajah kimsin Kwan Im yang aslinya putih tulang berubah menjadi kemerah-merahan. Mata sang dewi yang semula sipit berubah lebar. Sang dewi seperti terlihat gembira. Sebaliknya, parah wajah Kwan Im akan murung jika si pengunjung itu punya niat yang kurang baik atau bakal mendapat hal-hal yang tidak mulus dalam usaha.

Gara-gara kimsin Dewi Kwan Im yang unik ini, menurut Jap, banyak sekali warga Tionghoa dari berbagai daerah yang datang berziarah di Kelenteng Pao Sian Lian Kong. Tak hanya perseorangan, para peziarah umumnya datang dengan bus-bus besar. Jemaat asal Jakarta dan sekitarnya termasuk yang paling banyak.

“Kemarin, umat dari Jakarta ada dua bus. Minggu ini ada ratusan orang lagi yang sudah kontak mau datang ke sini,” kata Jap seraya tersenyum.

Bagi pengurus kelenteng macam Jap Sen Boen, kedatangan peziarah dalam jumlah besar, dan teratur, merupakan berkah yang luar biasa untuk sebuah tempat ibadah Tridharma (TITD). Sebab, para peziarah itu secara langsung atau tidak bakal menopang kelangsungan kelenteng. (*)

17 September 2011

Utha Likumahuwa Dimakan Diabetes




Indonesia kembali kehilangan seorang penyanyi hebat: UTHA LIKUMAHUWA. Pria asal Maluku ini tidak berdaya melawan diabetes, yang kemudian berkomplikasi macam-macam. Saya tidak tega melihat Utha saat muncul di Metro TV beberapa minggu lalu.

Begitu ringkih. Hampir tak ada sisa-sisa ‘kejantanan’ yang dulu identik dengan Utha. Bahkan, ketika tampil di Surabaya beberapa tahun lalu, saya sudah ‘curiga’ dengan tubuh Utha yang tidak normal. Kurus bukan karena diet keras, tapi diabetes.

Hati-hatilah dengan penyakit gula alias kencing manis! Salah satu penyakit paling mematikan di zaman modern ini.

Kematian Utha Likumahuwa mengingatkan kita pada kepergian beberapa penyanyi lawas sebelumnya. Pance Pondaag, hits maker 1980-an, yang stoke. Charles Simbolon, vokalis Trio Ambisi, yang juga digerogoti diabetes. Di Sidoarjo, Malik Buzaid, legenda musik melayu, dedengkot Orkes Melayu Sinar Kemala, juga wassalam gara-gara diabetes.

Si diabetes memang tak pilih-pilih korban. Artis top, pejabat tinggi, dokter spesialis, pendeta, kiai, petani, tukang becak, wartawan, penata letak, nelayan....

Hans Tandra, dokter terkenal di Surabaya yang produktif menulis buku tentang diabetes, mengatakan, “Tiap satu menit ada enam orang yang meninggal akibat penyakit yang berkaitan dengan diabetes. Tiap 10 detik ada satu orang mati karena diabetes.”

Kembali ke Utha Likumahuwa. Sebagaimana penyanyi-penyanyi Ambon lain yang berjaya pada era 1970-an dan 1980-an, Utha bukanlah penyanyi instan. Dia rintis karier dari bawah. Dia punya modal vokal yang berkarakter kuat, ambitus suara lebar. Benar-benar jantan, suara laki-laki.

Utha bisa membawakan lagu apa saja dengan apik. Bergaul luas dengan musisi jazz terbaik negeri ini membuat almarhum Utha punya karakter jazzy. Ini terlihat jelas ketika dia membawakan lagu Esok Masih Ada karya Dodo Zakaria, yang juga meninggal akibat komplikasi diabetes. Sesaat Kau Hadir boleh jadi merupakan lagu paling terkenal, dan bagus, yang pernah dibawakan Utha. Sampai sekarang lagu ini masih enak didengar.

Ketika kuliah di Jember, band-band mahasiswa sedang gandrung Karimata, Krakatau, Emerald, dan band-band populer masa itu yang mengusung fussion. Salah satu nomor milik Utha, Mereka Bukan Kita, sangat populer. Syairnya sangat menantang:

“Sudah tutup saja rindumu
Kancingkan saja bajumu
Kita kan hidup di Indonesia,
bukan di sana
Mereka bukan kita

Tidak usah saling raba-raba
Kata nenek itu berbahaya
Sudah pakai saja celanamu
Kita putuskanlah cinta ini
Sampai di sini....”

Apakah ada penyanyi-penyanyi muda yang punya karakter kuat, berkualitas, kayak Utha Likumahuwa? Tentu ada dan pasti banyak. Sayang, kondisi industri musik sekarang rupanya tidak memungkinkan lagi lahir vokalis-vokalis ala Utha Likumahuwa, Harvei Malaiholo, Yopie Latul, Melky Goeslow, dan sejenisnya.

Saat ini eranya Kucing Garong atau Keong Racun dengan penyanyi-penyanyi tanpa power vokal kuat. Saat ini eranya suara gremeng yang laku di industri kaset/CD/RBT. Maka, penggemar musik Indonesia, khususnya mereka yang pernah mengalami masa-masa kejayaan Utha Likumahuwa, pasti sangat kehilangan nyong Ambon ini.

Selamat jalan, Bung Utha!

16 September 2011

Prostitusi di Tlocor Sidoarjo




Selain dikenal sebagai salah satu dusun terpencil di Kabupaten Sidoarjo, kampung Tlocor di Desa Kedungpandan, Kecamatan Jabon, sejak dulu punya citra yang kurang baik. Maklum, kampung tambak di muara Sungai Porong itu terdapat kompleks pelacuran liar.

Sebagaimana rumah-rumah penjaga tambak, kompleks pelacuran kelas teri itu awalnya hanya terdiri dari satu dua gubuk sederhana dari anyaman bambu (gedhek) di tengah pinggir tambak. Makin lama gubuk-gubuk mesum itu pun bertambah seiring meningkatnya permintaan. Kini, sebagian gubuk masih tetap dari gedhek, sementara beberapa di antaranya sudah semipermanen.

Ketika Tlocor dan Desa Kedungpandan, Kecamatan Jabon, masih terisolasi, belum ada jalan sebagus sekarang, tak banyak yang tahu keberadaan kompleks pekerja seks komersial (PSK) ini. Apalagi, jumlah PSK yang mangkal di Tlocor sangat sedikit ketimbang ‘kompleks’ liar lainnya di Tangkis Porong yang marak pada malam hari.

“Kompleks di Tlocor itu tadinya kayak prostitusi terselubung. Tapi karena dibiarkan terus, ya, akhirnya membesar dan terus bertahan. Maklum, ada saja pria hidung belang yang nekat main-main ke sana meskipun jalannya benar-benar jelek,” ujar Bambang Subagyo, pelukis senior yang kerap bertualang ke Tlocor untuk memancing sejak akhir 1980-an.

Pihak berwajib, khususnya Pemkab Sidoarjo, bukannya tidak tahu ada kompleks prostitusi liar di Tlocor, sekitar 400 meter dari dermaga baru sekarang. Beberapa kali petugas Satpol PP dikerahkan ke sana untuk menertibkan warung-warung yang juga menyediakan minuman keras itu. Tapi, setelah ditinggal petugas berwajib, gubuk-gubuk mesum itu pun eksis lagi. Pola kucing-kucingan dengan aparat keamanan ini terus berlangsung selama bertahun-tahun.

“Kompleks itu sempat tutup cukup lama. Tapi namanya juga orang cari uang, ya, begitu ada peluang bisnis ini dihidupkan lagi,” kata seorang warga Tlocor belum lama ini. Kondisi jalan raya Porong-Tlocor yang sangat buruk juga membuat aparat keamanan sulit mengontrol warung remang-remang di pinggir tambak ini secara rutin.

Kini, wajah Tlocor dan sekitarnya semakin berubah. Jalan raya kian mulus, ada dermaga baru, objek wisata Pulau Sarina dan Pulau Dem, hingga kolam-kolam pemancingan dan depot ikan segar. Lantas, bagaimana nasib belasan gubuk mesum itu?

Rupanya, para PSK yang rata-rata STW alias berusia 30 tahun ke atas itu masih juga setia ‘buka warung’. Hanya saja, pada bulan Ramadan lalu, para PSK senior ini memilih pulang kampung untuk menjalankan ibadah puasa di kampung halaman amsing-masing.

“Sebenarnya kompleks PSK di sini sudah lama sekarat karena nggak ada konsumen. Nggak seramai lima atau enam tahun lalu,” ujar seorang pria 40-an tahun yang mengaku bernama Ahmad. Setelah Tlocor semakin mudah diakses oleh orang luar, termasuk komunitas sepeda sehat setiap Ahad pagi, warga Kedungpandan ini mengaku risi dengan keberadaan kompleks PSK itu.

“Kita sih sejak dulu ingin agar kompleks itu ditutup. Siapa sih yang mau kalau kampungnya ada kompleks pelacuran?” tukas Ahmad dengan nada tinggi.

Sayang, aspirasi warga yang sudah lama disuarakan itu hingga saat ini belum kunjung terealisasi. “Kita sih menyerahkan kepada pemerintah saja untuk mengambil tindakan,” tambahnya.

Yah, keberadaan kompleks PSK liar di Tlocor nicaya kontraproduktif dengan upaya pemkab menjadikan Tlocor dan Kedungpandan sebagai pusat wisata pantai dan bakau di Kabupaten Sidoarjo. Warga asli pun sudah lama tak ingin kampung halamannya dijadikan lahan untuk bisnis esek-esek.

“Cewek-cewek nakal itu (PSK) kan semuanya pendatang dari luar. Jadi, warga sini tidak akan diuntungkan dengan kompleks itu,” ujar Ahmad. (*)

Pulau Sarinah di Muara Sidoarjo




Aliran lumpur Lapindo ke muara Sungai Porong sejak 29 Mei 2006 akhirnya membentuk sebuah pulau baru di kawasan Kedungpandan, Kecamatan Jabon. Pulau Sarinah, yang dikelola Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS), diharapkan mengangkat citra Tlocor dan potensi wisata pantai di Sidoarjo.

Selain jalan raya yang mulus dari pinggir tangkis Kali Porong, Dusun Tlocor sudah punya dermaga sebagai tempat sandar perahu wisata. Berbeda dengan dermaga buatan Pemkab Sidoarjo di Dusun Kepetingan, kampung nelayan di kawasan Buduran, yang seadanya, dermaga Tlocor ini jauh lebih bagus.

Di sisi kiri-kanan dermaga ada areal yang sangat luas untuk parkir atau sekadar kongko-kongko menikmati pemandangan Pulau Dem di depan mata. Pulau Dem sendiri juga pulau hasil sedimentasi material dari Kali Porong yang sudah terjadi sejak zaman Hindia Belanda. Pulau kecil itu saat ini dikelola beberapa juragan tambak dan ditempati beberapa warga.

Berbeda dengan Pulau Dem yang terbentuk secara alamiah selama puluhan tahun, Pulau Sarinah di Tlocor ini bisa langsung ‘jadi’ dalam waktu singkat. Hanya dalam tempo sekitar lima tahun, pulau buatan BPLS ini sudah mencapai luas sekitar 80 hektare dengan ketinggian dua sampai tiga meter. Setiap hari luas Sarinah terus bertambah mengingat lumpur Lapindo terus dialirkan ke Sungai Porong. Jarak Pulau Sarinah dari Dermaga Tlocor hanya sekitar lima kilometer.

Namanya juga pulau baru, tentu saja tak banyak pemandangan alam yang bisa dinikmati di Sarinah. Sempat ada gerakan penghijauan dengan menanam mangrove, tapi hasilnya masih menunggu beberapa tahun lagi. Hanya saja, Sarinah ini kerap dikunjungi warga yang penasaran dengan pulau buatan BPLS dan Lapindo Brantas itu. “Yah, sekaligus untuk wisata mangrove. Kita juga ingin menikmati suasana alam di pesisir Sidoarjo,” ujar Bobby, warga Gedangan, yang pernah berwisata ke Pulau Sarinah.

Nah, keberadaan Pulau Sarinah, Dermaga Tlocor, kemudian jalan raya yang semulus tol itulah yang kemudian menciptakan lapangan ekonomi baru bagi warga Tlocor dan Kedungpandan umumnya. Warga yang selama bertahun-tahun terisolasi, mayoritas jadi penjaga atau pengelola tambak, atau nelayan, kini mencoba menekuni usaha wisata kecil-kecilan. Perahu-perahu nelayan pun disewakan untuk mengantar wisatawan atau penggemar mancing ke Pulau Sarinah.

Cukup membayar Rp 50 ribu, kita bisa berlayar ke Pulau Sarinah dan menikmati wisata mangrove selama tiga jam. Tak puas? Kita bisa menyewa Rp1 50 ribu sampai Rp 200 ribu untuk memancing selama satu hari penuh. Selama perjalanan dari Dermaga Tlocor menuju Sarinah, pengunjung dapat menikmati pemandangan di kanan-kiri sungai berupa hutan bakau yang didominasi oleh jenis api-api (Avicenia sp), khususnya jenis Avicenia alba dan Avicenia marina.

“Kalau mereka yang hobi memancing, biasanya bisa seharian penuh di sana. Tapi kalau cuma lihat-lihat pemandangan laut, paling cuma tiga jam sudah pulang,” ucap Jafar, salah satu pemilik perahu.

Sayang, meski infrastruktur jalan dan dermaga di Tlocor ini sudah cukup lama dioperasikan, sampai sekarang geliat wisata pantai di pesisir Kabupaten Sidoarjo ini belum begitu terasa. Lihat saja. Pada hari biasa jarang ada wisatawan yang datang menyewa perahu atau sekadar kongko-kongko di kawasan dermaga baru itu. Biasanya, pengunjung baru ramai pada akhir pekan atau hari-hari libur nasional.

“Makanya, kita minta tolong pemkab untuk lebih aktif mempromosikan potensi wisata di daerah Tlocor ini. Sayang kalau fasilitas yang sudah ada ini tidak dimanfaatkan,” kata salah satu warga setempat. (rek)

Mengapa Dokter Bisa Mati?

Saya terkejut ketika suatu pagi Bu Siti, induk semang saya di Surabaya, melontarkan pertanyaan ini. Pertanyaan yang tidak perlu dijawab karena hanya akan memicu debat panjang soal takdir, teologi, kesehatan, dan macam-macam. Dan, saya tahu, Bu Siti yang sudah lansia ini pun tidak perlu jawaban.

Beberapa bulan lalu, Bu Siti kehilangan adik kandung, seorang dokter spesialis terkenal di Sidoarjo. Dokter ini pintar, banyak pasien, uangnya banyak, tapi anaknya cuma satu dan masih kecil. Dia meninggal akibat penyakit yang sering dia tangani untuk pasien-pasien kelas berat... dan biasanya berhasil.

“Kok begitu cepat sang dokter pergi? Seharusnya kan saya dulu yang dipanggil Allah,” gumam Bu Siti. Bosan saya dengar gumaman yang terkesan protes atas takdir Tuhan itu. Maka, saya selalu pilih menghindar.

Minggu lalu, seorang dokter di kawasan Manyar, Surabaya, kenalan baik Bu Siti, juga meninggal dunia. Perempuan dokter ini terkenal, spesialis penyakit dalam, pasiennya banyak, uangnya banyak, mobil banyak, rumahnya juga banyak. Suaminya juga dokter spesialis yang lebih terkenal lagi.

Suatu pagi Bu Siti mengabarkan kepada saya tentang kematian Bu Dokter itu. Juga bergumam: Mengapa dokter hebat itu bisa meninggal secepat itu? Usianya kan belum 60 tahun? Tenaganya kan masih dibutuhkan masyarakat? Dia biasa menangani puluhan pasien setiap hari kok penyakitnya sendiri tak bisa dijinakkan?

“Sudah ajalnya Bu! Takdir Tuhan! Kalau sudah dipanggil Tuhan, siapa saja, termasuk dokter paling top sekalipun, nggak bisa menolak. Harus menghadap ilahi,” jawab saya memetik isi ceramah seorang ustad di televisi.

Gara-gara sering dipancing dengan pertanyaan retorik ihwal misteri kematian, khususnya dokter-dokter hebat yang ternyata tak berdaya ketika digerogoti penyakit yang notabene biasa dia tangani, akhir-akhir ini saya semakin banyak merenung. Bahwa memang betul dunia ini fana. Hidup itu hanya sementara. Setiap saat, kapan saja, kita akan mati kalau memang saatnya sudah tiba. Bahwa harta sebanyak apa pun, popularitas, reputasi sehebat apa pun, tak ada artinya di mata Tuhan.

Menjelang Lebaran lalu, saya diajak Bu Siti nyekar ke makam anaknya di Ngagel, Surabaya. Tak jauh dari makam pahlawan nasional Bung Tomo. Ibu ini mengatakan beberapa kali:

“Nanti saya akan dimakamkan di sini. Saya sudah pesan makam jauh-jauh hari sebelumnya. Saya akan bersatu kembali dengan anak laki-laki saya yang tidak sempat dewasa!”

15 September 2011

Konjen Tiongkok Gelar Halalbihalal




Meski baru bertugas sebagai konsul jenderal (konjen) Tiongkok sejak Juni 2009, Wang Huagen tak asing lagi bagi berbagai elemen masyarakat di Jawa Timur. Maklum, konjen berusia 57 tahun ini dikenal sangat luwes dan senang bertemu dengan berbagai kalangan masyarakat, mulai pengusaha, pejabat, pelajar, mahasiswa, hingga satpam dan tukang kebun.

Berkaitan dengan perayaan Idul Fitri 1432 Hijriah, Konjen Tiongkok Wang Huagen mengundang semua karyawan, satuan pengamanan (satpam), serta aparat kepolisian yang bertugas di konjen RRT untuk mengikuti acara santap malam bersama di Hotel Java Paragon. Suasana terasa gayeng, seakan tak ada jarak antara Wang Huagen sebagai diplomat senior dengan anak buahnya.

Sekitar 30 undangan berkali-kali memberikan aplaus meriah karena kali ini Pak Konjen mencoba membacakan pidato dalam bahasa Indonesia. Artikulasinya cukup jelas dan lancar meski Wang Huagen mengaku belum lama belajar bahasa Indonesia. Para karyawan kian sumringah karena semuanya menerima angpao istimewa dari suami Zhao Yuezhen ini.

Dalam pidatonya, Wang Huagen mengucapkan selamat Idul Fitri kepada semua karyawannya dan seluruh umat Islam di Jawa Timur. Dia berharap semoga momen istimewa ini bisa semakin mempererat hubungan kerja sama di antara masyarakat Indonesia dan Tiongkok. Wang juga mengaku tidak asing lagi dengan umat Islam yang populasinya cukup banyak dan punya sejarah panjang di negeri Tiongkok.

SEPERTINYA BARU PERTAMA KALI INI ANDA BERPIDATO DALAM BAHASA INDONESIA?

Saya memang sedang belajar bahasa Indonesia. Itu dia guru saya (menunjuk Wang Dandan, atase konjen RRT sekaligus penerjemah resmi). Bahasa Indonesia sangat penting dalam mendukung tugas-tugas saya di sini. Tapi saya belum lancar bicara dalam bahasa Indonesia.

TAPI UCAPAN ANDA SAAT PIDATO TADI SUDAH TERDENGAR LANCAR UNTUK UKURAN ORANG ASING?

Oh ya, terima kasih. (Konjen Wang Huagen kemudian memanggil Wang Dandan, atasenya untuk menerjemahkan wawancara khusus dengan Radar Surabaya.)

SUDAH BERAPA KALI ANDA MENGGELAR HALALBIHALAL?

Yah, sejak mulai bertugas di Surabaya saya mengadakan perayaan Idul Fitri dengan semua karyawan dan petugas keamanan. Saya bertugas di sini sejak tahun 2009. Jadi, sudah tiga tahun berturut-turut. Acaranya tidak besar, hanya di lingkungan Konjen Tiongkok saja, untuk mengucapkan terima kasih kepada mereka karena sudah membantu kelancaran tugas-tugas saya.

NGOMONG-NGOMONG, BERAPA BANYAK UMAT ISLAM DI TIONGKOK?

Cukup banyak, sekitar 20 juta. Ada provinsi atau daerah otonomi yang populasi umat Islamnya sangat banyak seperti di Xinjiang. Kemudian di kota-kota besar di Tiongkok pasti ada masjid-masjid dan islamic center untuk kegiatan umat Islam. Jadi, kalau orang Indonesia yang mau berwisata atau kuliah di Tiongkok tidak usah khawatir mencari makanan-makanan halal. Di mana-mana ada restoran yang menyediakan makanan dan minuman untuk umat Islam.

DI INDONESIA, ADA TRADISI MUDIK UNTUK MERAYAKAN LEBARAN DAN LIBUR CUKUP PANJANG. BAGAIMANA DENGAN DI TIONGKOK?

Secara nasional memang tidak ada libur Lebaran, tapi penduduk yang beragama Islam dikasih kesempatan untuk libur. Mereka bebas melaksanakan salat Idul Fitri, silaturahmi, dan mengadakan pesta Lebaran. Suasana Lebaran juga sangat ramai di masjid-masjid yang berada di kota besar.

Saya sendiri punya pengalaman khusus karena pernah tinggal di dekat penjual-penjual daging kambing yang beragama Islam. Daging yang mereka jual enak-enak. Hehehe.... (rek)

13 September 2011

Susi Air Luar Biasa



Susi Air saat mendarat di Lewoleba, Lembata, NTT.


Merpati sudah lama kewalahan melayani rute penerbangan perintis di kawasan Indonesia Timur. Maskapai penerbangan plat merah ini mengaku selalu rugi mengangkut penumpang, misalnya, dari Kupang ke kota-kota kecil yang tersebar di Pulau Flores atau Alor, Sumba, atau Rote. Karena itu, sejak dulu tidak ada penerbangan berjadwal tetap di NTT.

Syukurlah, setelah reformasi, masuklah Trans Nusa, maskapai swasta spesialis yang mau melayani masyarakat di kawasan terpencil. Tapi dalam perkembangan, ada saja ganjalan antara Trans Nusa dan pemerintah daerah. Manajemen Trans Nusa pernah ngambek gara-gara Pemerintah Kabupaten Lembata tidak mau menebang pohon kelapa di Lapangan Terbang (Lapter) Wunopito, Lewoleba. Trans Nusa pun cabut.

Bukan hanya dari Lewoleba, Trans Nusa juga menghentikan penerbangan ke beberapa lapter di Pulau Flores. Orang-orang Flores yang mobilitasnya tinggi, misalnya pejabat atau pengusaha, pun kalang kabut. Seperti kembali ‘zaman kegelapan’ ketika harus naik feri atau kapal laut ke Kupang yang perlu waktu delapan hingga 10 jam. Bandingkan dengan kapal terbang mini yang cukup 30 atau 40 menit saja.

Masyarakat dan pemda NTT kemudian meminta tolong---lebih tepat: mengemis---kepada siapa lagi kalau bukan Merpati, maskapai perintis yang berjasa membuka isolasi wilayah udara NTT sejak 1970-an. Ternyata sulit. Alasannya pasti bisnis. Melayani penerbangan di NTT bakal rugi. Besar pasak daripada tiang. Armada pesawat terbatas. Dan alasan-alasan klasik lainnya.

Nah, di tengah kegundahan itu datanglah Susi Air. Maskapai penerbangan milik Bu Susi, juragan ikan dari Pangandaran, Jawa Barat, ini tiba-tiba datang memberi solusi. Susi Air bersedia melayani beberapa rute yang sudah ditinggal maskapai sebelumnya. Susi bahkan menyediakan pesawat yang jauh lebih gres, modern, dengan pilot dan kopilot internasional. Pilot dan kopilot Susi Air memang orang bule muda, ramah, dan menyenangkan.

Berbeda dengan naik pesawat besar di Bandara Juanda atau Bandara Soekarno-Hatta, menumpang Susi Air ibarat naik bus mini bermuatan 14 orang. Para penumpang serasa seperti keluarga sendiri. Apalagi, dari 12 penumpang itu biasanya ada dua atau tiga orang yang berasal dari satu daerah yang bahasanya sama, misalnya bahasa Lamaholot. Maka, sepanjang penerbangan sekitar 30-40 menit itu kita bisa mendengar cerita-cerita atau guyonan dalam bahasa daerah Flores Timur.

Juga cerita menarik tentang kiprah seorang Susi Pudjiastuti yang sukses menjadi juragan pesawat setelah sebelumnya sukses sebagai juragan ikan. Beberapa penumpang seolah merasa sudah kenal dekat Bu Susi. Padahal, informasi tentang Bu Susi biasanya hanya bersumber dari koran, televisi, atau internet.

“Untung ada Bu Susi! Bu Susi itu pahlawan untuk kita orang di NTT,” kata seorang penumpang Susi Air jurusan Kupang-Lewoleba pada akhir Desember 2010. “Kalau sonde (tidak) ada Bu Susi, bandara di Lewoleba dan Larantuka akan kembali jadi kebun alang-alang,” tambah yang lain.

Suasana kekeluargaan, hangat, informal, juga selalu dibangun oleh pilot dan kopilot Susi Air. Kedua orang bule ini selalu tersenyum, menyapa semua penumpang dengan ramah. Menjelang lepas landas, sang kopilot selalu mengatakan, “Selamat pagi Bapak dan Ibu sekalian. Kita akan terbang ke Lewoleba kira-kira selama 40 menit. Silakan menikmati penerbangan bersama Susi Air.!”

Para penumpang Susi Air, saya kira, tak akan pernah lupa aksen si penerbang bule yang khas itu. Yah, keduanya memang merangkap sebagai pramugari, teknisi, ground handling, atau semacam pemandu wisata. Kita dibuat kerasan terbang bersama Susi Air. Apalagi pesawat-pesawat Susi Air ini, meskipun kecil, terasa sangat nyaman dan stabil. Tidak bikin jantung deg-degan kendati kadang-kadang harus membelah awan yang tebal.

Bandingkan dengan pramugari-pramugari maskapai kita yang terbang dari Surabaya ke Kupang, misalnya Lion Air, Sriwijaya Air, atau Mandala. Senyum gadis-gadis manis yang hampir semuanya Jawa ini kurang alamiah, terkesan dipaksakan. Beda banget dengan ‘pramugari’ yang merangkap kopilot dan pilot Susi Air. Saya sering melihat pramugari Lion Air marah-marah hanya karena si penumpang belum memasukkan tasnya ke atas bagasi.

Jadi, siapa bilang orang Indonesia, khususnya Jawa, ramah dan murah senyum? Kita perlu belajar banyak dari bule-bule yang bekerja di 38 armada pesawat Susi Air itu. Bule-bule itu memang bekerja dengan hati. Bukan hanya karena dibayar mahal oleh Bu Susi. Beda dengan pilot-pilot kita, orang Indonesia, Yinni ren, yang selalu mengambil jarak dengan penumpang.

Yah, sejak dulu saya memang melihat bahwa orang-orang bule (Eropa dan Amerika) punya apresiasi tinggi terhadap masyarakat pelosok di Indonesia Timur. Begitu banyak misionaris Barat yang tidak mau pulang kampung setelah pensiun. Mereka memilih dimakamkan di Lembata, Flores, Alor, Sumba, atau Timor. Padahal, mereka-mereka ini berlatar belakang keluarga berada, beberapa di antaranya pemilik pabrik seperti mendiang Pater Willem van de Leur SVD asal Belanda.

Beda banget dengan latar belakang nona-nona pramugari yang sebetulnya bukan dari keluarga berada di Jawa. Rumah orang tua mereka banyak yang masuk gang kecil di kampung-kampung di Pulau Jawa. Tapi, ketika dapat kesempatan jadi pramugari, tingkah polahnya berubah. Seakan-akan si pramugari itu pemilik pesawat Lion Air atau Mandala atau Sriwijaya. Wuedan tenan!

Mudah-mudahan manajemen Susi Air, khususnya Bu Susi, tetap menjaga standar kualitas dan keramahan maskapai Susi Air. Dan terus melayani rute-rute di pelosok NTT dan Indonesia Timur umumnya. Saya mengucapkan simpati dan dukacita mendalam atas tragedi kecelakaan Susi Air di Papua.

12 September 2011

Bandara Trunojoyo di Sumenep





Saya baru saja mengujungi Bandara Trunojoyo di Sumenep, kota paling ujung di Pulau Madura. Bandar udara yang lebih cocok disebut lapangan terbang perintis ini berada di areal persawahan yang luas. Dibandingkan 18 bandara kecil di Nusa Tenggara Timur (NTT), kondisi Bandara Trunojoyo jelas lebih bagus.

Landas pacu, terminal penumpang, kantor bandara... lebih bagus di Sumenep ini ketimbang di Bandara Wunopito, Lembata, NTT, misalnya. Sayang, Bandara Trunojoyo Sumenep ini sampai sekarang tidak berfungsi. Ada lapangan terbang, yang dibangun mahal, tapi tak ada penerbangan ke Madura.

Ketika saya mampir saat libur Lebaran lalu, 30 Agustus 2011, empat petugas sedang tidur-tidur. Satu petugas lagi duduk di depan komputer. Tak jelas apa yang sedang dia kerjakan. Mau kerja apa kalau tak ada pesawat yang datang. “Belum ada penerbangan, Bang,” kata seorang petugas ramah.

Beberapa tahun lalu lapangan terbang kecil di daerah Pabian, tak jauh dari Kelenteng Makco dan Gereja Katolik di Jalan Slamet Riyadi ini dipakai untuk latihan calon-calon pilot Merpati. Tak heran, di terminal ada stiker bertuliskan MERPATI FLYING SCHOOL. Berkat latihan itu, Bandara Trunojoyo seolah-olah berfungsi sebagai lapangan terbang. Sayang, latihan ini dihentikan sehingga Bandara Trunojoyo kembali sepi.

Berbeda dengan NTT, provinsi kepulauan dengan 432 pulau, sehingga penerbangan perintis dengan pesawat-pesawat kecil mutlak diperlukan, Jawa Timur punya kultur daratan. Angkutan darat baik kendaraan umum maupun kendaraan pribadi dengan mudah menjangkau 38 kabupaten/kota. Termasuk empat kabupaten di Pulau Madura, setelah Jembatan Suramadu beroperasi pada 2006.

Orang Madura lebih memilih naik mobil atau bus dari Surabaya ke Sumenep selama empat jam. Buat apa, misalnya, naik pesawat kecil dari Surabaya ke Sumenep kalau harus bayar mahal? Mungkin hanya pengusaha kaya atau pejabat yang butuh cepat. Dan itu rupanya kurang prospektif dari sisi bisnis.

Tak hanya Bandara Trunojoyo Sumenep yang mangkrak. Bandara kecil di Jember pun tidak berfungsi. Bandara lain di Banyuwangi baru saja difungsikan, tapi apakah bisa awet seperti bandara-bandara kecil di NTT? Kita lihat saja nanti.

Bandara kecil yang punya prospek di Jawa Timur mungkin hanya di Pulau Bawean. Tapi apakah memang dibutuhkan oleh orang-orang Bawean yang sebagian besar TKI? Ini juga perlu survei dan perhitungan yang sangat cermat dari Pemkab Gresik kalau ingin membangun sebuah bandara kecil di Pulau Bawean. Jangan sampai mangkrak seperti di Sumenep atau Jember.

07 September 2011

Dari Surabaya ke Sumenep



Dermaga Talango di Pulau Puteran, Kabupaten Sumenep.

Libur Lebaran tahun 2011 ini saya manfaatkan untuk tur keliling Madura. Start dari Surabaya, lewat Jembatan Suramadu, masuk Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep, dan kalianget di ujung pulau garam itu. Bahkan, saya juga sempat berkeliling di Pulau Puteran.

Kabupaten Sumenep memang punya banyak pulau kecil. Pulau terdekat adalah Puteran. Ada delapan desa, punya kecamatan sendiri: Kecamatan Talango. Menyeberang ke sana cukup bayar Rp 5.000 dengan perahu motor kecil. Jalan raya sudah aspal, tapi kurang mulus.

Sejak Jembatan Suramadu, sepanjang 5,4 kilometer diresmikan Presiden SBY pada 2009, pengunjung Pulau Madura memang bertambah. Sebab, Madura sudah menjadi ‘satu daratan’ dengan Pulau Jawa. Apalagi di musim musik Lebaran, lalu lintas ramai sekali. Sepeda motor, mobil pribadi, kendaraan umum.

Sayang, empat pemerintah kabupaten di Madura rupanya kurang antisipatif. Ketika Suramadu dioperaskan, jalan raya utama di Madura sepanjang kira-kira 200 kilometer (di bagian selatan) tidak diperhatikan. Kondisi jalan pun hampir sama dengan Madura pra-Suramadu. Jalanan tidak mulus. Banyak lubang. Kurang lebar.

Melintas dari Bangkalan hingga Sumenep, saya akhirnya bisa maklum bahwa pada dasarnya Madura itu ‘bukan Jawa’ alias di luar Pulau Jawa meski masuk Jawa Timur. Karena itu, kondisi infastruktur, pembangunan, dan sebagainya masih kalah jauh dibandingkan Jawa. Melintas di jalan raya Pulau Madura tak beda jauh dengan melintas di Pulau Timor, Pulau Flores, Pulau Sumbawa, atau Pulau Lembata.

Contoh sederhana urusan makan minum alias kuliner. Betapa bedanya menu yang disajikan di depot-depot atau warung-warung di sepanjang jalan raya Madura dengan Jawa, misalnya sepanjang Surabaya-Malang. Di Madura, kita sulit mencari soto madura atau sate madura. Kita juga sulit mendapatkan warung yang menyediakan nasi yang baik.

Mungkin karena beras mahal atau apa, nasi di warung-warung di Madura umumnya tidak mekar alias keras. Padahal, kondisi fisik depot di daerah Blega yang ada posko kepolisian itu cukup bagus. “Susah kita cari makanan yang enak di sini,” kata teman saya asal Surabaya.

Makanan-minuman yang lumayan baik baru saya temui di Sumenep. Itu pun terbatas sekali. Geser sedikit ke Kalianget, dekat pelabuhan, lagi-lagi kita kembali harus menyantap nasi yang tidak mekar. Ini juga sekali lagi menunjukkan bahwa Madura bukan Jawa. Dan kita harus bisa legawa, ikhlas, dan pasrah menerima kenyataan.

Syukurlah, saya sangat menikmati suasana Sumenep. Kota kecil yang indah dan teratur. Ada panggung besar di depan Masjid Jamik, yang bersejarah itu, untuk memeriahkan malam takbiran. Oh ya, masyarakat Sumenep berlebaran pada 31 Agustus 2011 sesuai pengumuman pemerintah.

Tak jauh dari masjid ada pendapat antik dan bekas keraton. Bangunan berarsitektur Tionghoa ini, menurut catatan sejarah, dibuat oleh tukang-tukang asal Tiongkok. Masih di dalam kota ada kompleks makam keluarga raja-raja Sumenep yang disebut Asta Tinggi.

Sebagai aktivitas Jejak Petjinan, tentu saja saya tak lupa mampir ke Kelenteng Pao Sian Lian Kong di Jalan Slamet Riyadi 27 Pabian, Sumenep. Saya diterima dengan hangat oleh Bapak Jap Sen Boen, pengurus sekaligus rohaniwan kelenteng terkenal itu.

Seperti umumnya kelenteng-kelenteng di Indonesia, TITD Pao Sian Lian Kong dipersembahkan kepada Makco Thian Siang Sing Boo, sang dewi pelindung para pelaut. Saat ini Pak Jap dan kawan-kawan sedang melakukan renovasi setelah sukses memperbaiki kelenteng berusia 160 tahun itu. rupang atau kimsin Makco sendiri, menurut Pak Jap, sudah berusia 190 tahun.

“Saya nggak ngarang. Anda bisa lihat di atas itu ada kaligrafi Tionghoa yang menunjukkan kapan kelenteng ini dibangun,” ujar Pak Jap sembari menunjuk shufa (kaligrafi) di atas pintu masuk altar Makco.

Di bagian tengah terdapat bangunan segidelapan khusus untuk Dewi Kwan Im, atau disebut juga Avalokitesvara. Kimsin Dewi Kwan Im di Sumenep ini, menurut Pak Jap, punya keistimewaan yang membuat begitu banyak orang Tionghoa dari berbagai daerah menyempatkan diri datang berkunjung. Sehari sebelum kedatangan saya, ada dua bus besar membawa rombongan Tionghoa dari Jakarta. Dua bus berikutnya menyusul dua hari kemudian.

Apa kesitimewaan kimsin Kwan Im itu?

Pak Jap alias Seno Jaya Manggala menjelaskan, patung Kwan Im itu bisa memberikan isyarat apakah seseorang yang datang itu bermaksud baik, tulus, gundah gulana, dan sebagainya. Kalau bermaksud baik, wajah Kwan Im yang aslinya putih akan berubah menjadi kemerah-merahan. Mata sang dewi yang sipit pun berubah lebar.

Saya pun diajak masuk untuk menemui Dewi Kwan Im, dewi welas asih. “Coba Anda perhatikan baik-baik bagian wajah dan matanya,” kata Pak Jap. Biasa saja.

“Coba geser ke kiri. Perhatikan bagian wajah Dewi Kwan Im.”

“Wow, jadi kemerah-merahan.”

“Artinya, kamu punya niat baik dan tulus. Insyaallah, permohonan kamu dikabulkan, rezekimu lancar!” kata Pak Jap sembari tersenyum lebar.

Syukurlah. Mudah-mudahan rezeki saya lancar seperti yang diisyaratkan tadi. Saya kemudian memotret beberapa bagian kelenteng karena memang TITD yang satu ini benar-benar sulit dicari fotonya. Bahkan, di era internet ini belum ada yang memuat di blog atau website resmi.

Rupanya, orang-orang Tionghoa yang gemar melakukan wisata kelenteng itu bukan penggemar Facebook atau blogger yang suka memosting foto-foto suasana Kelenteng Pao Sian Lian Kong Sumenep. Maklum, yang senang mampir ke kelenteng itu sebagian besar laoren-laoren Tionghoa. Sementara yang muda-muda lebih suka nongkrong di mal, plaza, atau jalan-jalan ke Singapura, Hongkong, USA, atau Macau.

“Memang di mana-mana anak muda Tionghoa itu sudah jarang yang pigi sembahyang di kelenteng. Di Sumenep ini, anak-anak muda Tionghoa lebih banyak yang pigi ke sebelah itu,” kata Pak Jap. ‘Sebelah itu’ maksudnya Gereja Katolik Santa Maria Gunung Karmel yang memang bertetangga dengan Kelenteng Pao Sian Lian Kong.

“Orang-orang Khonghucu di Sumenep ini tinggal yang tua-tua. Yang muda-muda banyak yang Katolik, Kristen, atau Buddha. Saya punya anak juga ikut Buddha Theravada,” kata Pak Jap.

Mudik di Jawa vs Mudik di Flores




Arus mudik dan arus Lebaran sudah selesai. Tapi fenomena mudik di Pulau Jawa, mulai ujung barat hingga ke ujung timur, yang begitu masif selalu bikin saya geleng-geleng kepala. Padahal, mudik ini selalu terjadi tiap tahun menjelang Lebaran. Bayangkan, 20 juta sampai 30 juta orang ramai-ramai pulang ke kampung halamannya.

Berjuang di tengah kemacetan jalan raya. Panas terik. Bahaya kecelakaan. Haus dan lapar. Harus membawa anak-anak kecil dan barang-barang. Luar biasa orang Jawa ini! Biar bumi bergoncang, mudik harus dilakukan! Demi Lebaran. Demi kampung halaman. Demi orangtua, kakek-nenek, kerabat, sanak saudara di rumah.

Hampir semua orang Indonesia memang senang pulang kampung. Kembali ke rumah masa kecil. Tapi sulit menandingi orang Jawa. "Ah, mudik itu kan tradisinya orang Jawa. Kita di luar Jawa sih nggak begitu," kata kenalan saya, seorang haji asal NTB. Dia tidak pernah mudik Lebaran meskipun duitnya lebih dari cukup untuk membeli tiket pesawat bersama istri dan anak-anaknya.

Ahmad, orang Sulawesi di Surabaya, haji juga, pun tak ikut mudik. Bersama istrinya yang Jawa, dia malah mudik bareng ke kampung halaman istrinya di Jawa Tengah. Bahkan, sudah 20 tahun lebih Pak Haji ini tidak sempat pulang kampung di Sulawesi. Tiket pesawat mahal? Ah, rasa-rasanya dia bisa menyisihkan sedikit uangnya untuk kembali ke kampung beberapa tahun sekalilah. Tapi ini tidak dilakukan.

Kalau penduduk di Pulau Jawa (dan Madura)---mulai suku Betawi, Sunda, Jawa, Madura, Tionghoa---punya tradisi mudik Lebaran, apakah orang NTT (Nusa Tenggara Timur), khususnya Flores, juga mudik Lebaran? Ramai-ramai pulang kampung untuk natalan di rumah masa kecil di kampung?

Saya selalu ditanya seperti itu. Lalu, saya mencoba menjawab sekenanya saja karena tradisi mudik Natal memang tidak ada di NTT, khususnya Flores. Orang-orang Flores yang kerja di Kupang, ya, tetap natalan di Kupang. Tahun baru juga di Kupang. Yang kerja di Jawa, apalagi, natalan di Jawa karena harga tiket pesawat memang mahal. Ada juga satu dua orang yang mudik, tapi tak pernah massal ala mudik Lebaran di Pulau Jawa.

Ketika saya mudik Natal 2010, misalnya, di kampung halaman saya tidak ada orang-orang Kupang yang balik kampung. Yang natalan di kampung, ya, hanya penduduk kampung. Dari sini, saya pun membenarkan pernyataan Pak Haji dari NTB di Surabaya itu: Mudik itu bukan tradisi orang NTT atau NTB! Mudik sudah mendarah daging di Pulau Jawa. Sulit membayangkan Pulau Jawa tanpa arus mudik Lebaran.

Jawa memang sebuah pulau yang luas dengan daratan yang rata. Jalan raya mulus dari ujung ke ujung sejak zaman Belanda. Bus-bus besar, bus kecil, mobil pribadi... kereta api berlimpah. Mudik pakai sepeda motor pun sebetulnya efektif untuk perjalanan di bawah 200 kilometer. Bahkan, saya sering menemukan orang yang mudik dengan sepeda pancal.

Beda dengan NTT yang provinsi kepulauan. Mudik harus pakai kapal laut yang jumlahnya terbatas. Kupang ke Flores perlu sembilan jam, bahkan 14 jam di laut. Itu pun kapal-kapal penyebarangan alias feri sering dilarang berlayar setiap menjelang Natal dan tahun baru karena ombak terlalu besar. Bahaya bila kapal-kapal ke Pulau Lembata, misalnya, dipaksa berlayar.

Bagaimana kalau mudik pakai kapal terbang Susi Air, Merpati, atau Trans Nusa? Tiket Rp 650.000 terlalu mahal untuk rakyat NTT yang miskin. Itu pun jumlah penumpang hanya 10 sampai 14 orang. Lupakan saja mudik pakai pesawat terbang.

Maka, saya biasa menggunakan argumentasi kendala transportasi, harus langgar laut, untuk menjelaskan mengapa orang NTT tidak punya tradisi mudik. Tapi, setelah saya cermati lebih jauh, alasan ini pun kurang kuat. Arugumentasi ini patah. Mengapa?

Orang-orang dari pelosok Lembata yang kerja di Larantuka atau Maumere atau Waiwerang pun dari dulu setahu saya tidak pernah mudik Natal atau mudik Lebaran. Padahal, transportasi laut dari Larantuka ke Lembata sangat lancar. Lama perjalanan pun hanya sekitar dua tiga jam saja. Toh, setahu saya banyak sekali orang Lembata yang bertahun-tahun tidak pulang kampung selama 10 atau 20 tahun.

Jangan jauh-jauh di Larantuka atau Maumere, orang-orang kelahiran Ile Ape yang sudah 'hijrah' ke Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata, pun dari dulu jarang yang mudik ke kampung halaman untuk merayakan Natal dan Tahun Baru. Padahal, Lewoleba itu bertetangga langsung dengan Ile Ape. Kalau ke Bungamuda, atau Mawa, atau Atawatung... ya hanya 20 atau 25 kilometer saja.

Karena tidak pernah mudik, berbeda dengan orang-orang Jawa yang memelihara tradisi mudik dari generasi ke generasi, ikatan orang Lembata (NTT umumnya) dengan kampung halaman makin lama makin longgar. Generasi pertama---yang asli kelahiran kampung-kampung di Ile Ape---biasanya masih punya ikatan dengan kampung. Masih ikut cawe-cawe dalam urusan adat, koda kiring, dagel, nebo, dan sebagainya.

Generasi kedua---anak-anak yang lahir di Lewoleba---sudah kendor ikatannya dengan kampung. Tidak bisa lagi berbicara bahasa Lamaholot, bahasa daerah di Kabupaten Lembata dan Kabupaten Flores Timur. Tidak ada kepentingan untuk pulang kampung.

Generasi kedua alias anaknya perantau generasi pertama itu biasanya menikah dengan orang bukan Ile Ape. Atau, sesama generasi kedua keturunan Ile Ape. Atau, orang yang benar-benar bukan Lamaholot, bahkan bukan NTT.

06 September 2011

Buka Puasa Bersama Ibu Shinta Nuriyah



Tahun ini untuk ketiga kalinya Paroki Hati Kudus Yesus (HKY) ‘Katedral’ Surabaya mengadakan acara buka bersama warga kurang mampu. Mereka adalah keluarga besar Warung Broto, komunitas warung dan unit usaha koperasi sederhana, yang dikelola oleh Paroki HKY. Seperti tahun lalu, buka bersama di Aula Pasmar Jalan Opak Surabaya ini dihadiri Ibu Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, istri almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Hajatan kebersamaan lintas agama, ras, etnis, dan budaya ini memang digagas oleh Shinta Nuriyah ketika masih menjadi Ibu Negara pada tahun 2000. Gerakan bertajuk Sahur Keliling dan Buka Bersama Ibu Shinta Nuriyah ini berlangsung di berbagai kota di tanah air dengan target keluarga-keluarga kurang mampu.

Sejak tahun 2000 itu pula Romo Eko Budi Susilo dipercaya sebagai koordinator sahur keliling dan buka bersama di Kota Surabaya. Saya sendiri termasuk relawan sahur keliling dan buka bersama Ibu Shinta Nuriyah di Surabaya sejak 2000.

“Jadi, acara buka bersama dan sahur keliling bersama Ibu Shinta Nuriyah ini sudah berjalan selama 11 tahun. Dan itu masih kita pertahankan dan kembangkan sampai sekarang,” ujar Romo Eko Budi Susilo, yang saat ini menjabat kepala Paroki HKY Surabaya.

Diawali tari remo sebagai ucapan selamat datang untuk Ibu Shinta Nuriyah dan rombongan, keluarga besar nahdliyin, Romo Eko kemudian menyampaikan welcome speech. Pastor yang juga ‘orang dekat’ almarhum Gus Dur ini pertama-tama mengucapkan selamat kepada Ibu Shinta Nuriyah yang baru saja menerima anugerah Bintang Mahaputra Adipradana dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sekitar 200 anggota Warung Broto dan keluarga besarnya, panitia, undangan, pun bertepuk tangan meriah. Sementara Ibu Shinta, yang duduk di kursi roda, tersenyum lebar.

Romo Eko mengucapkan terima kasih atas komitmen Ibu Shinta Nuriyah dalam gerakan lintas budaya dan agama untuk mempertahakan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan bhinneka tunggal ika. Empat pilar kebangsaan ini harus dijaga oleh semua elemen bangsa Indonesia mengingat akhir-akhir ini muncul sejumlah gerakan yang merongrong empat pilar itu.




Seperti biasa, sebelum bedug magrib tiba, Ibu Shinta Nuriyah memberikan tausyiah alias ceramah pengantar berbuka puasa. Dengan bahasa yang sederhana, di hadapan para tukang becak, tukang kayu, tukang koran, pembantu rumah tangga, dan anak-anak sekolah itu, Ibu Shinta mengingatkan pentingnya menjaga empat pilar kebangsaan. Bhinneka tunggal ika, Pancasila, NKRI, UUD 1945 sudah menjadi harga mati bagi bangsa Indonesia.

Ibu Shinta juga mengajak keluarga besar Warung Broto untuk menyanyikan lagu Satu Nusa Satu Bangsa. “Saya juga senang karena tadi saya disambut dengan tari remo. Kemarin di Mojokerto saya disambut dengan tarian barongsai. Di kelenteng pun saya disambut dengan meriah,” tutur Ibu Shinta yang juga senang berdialog dengan wong cilik itu.

Mantan Ibu Negara yang juga cendekiawan muslim ini ingin menekankan bahwa bangsa Indonesia ini sejatinya memang majemuk. Pluralistik. Agama yang dipeluk macam-macam. Budaya, bahasa, adat istiadat pun berbeda.

“Tapi kita semua, walaupun berbeda-beda, tapi.... Tapi apa???” tukas Ibu Shinta Nuriyah. “Tetap satu!!!” sahut anak-anak dengan suara keras.

Begitulah. Gerakan sahur keliling dan buka bersama Ibu Shinta Nuriyah ini memang tak pernah lepas dari semangat untuk merawat bhinneka tunggal ika. Semangat menjaga keberagaman di antara sesama anak bangsa. Selain itu, Ibu Shinta selalu mendorong para wong cilik di komunitas Warung Broto untuk berhemat, rajin menabung, memikirkan masa depan, dan berusaha untuk maju dan maju.

Jangan heran, dalam setiap dialognya dengan abang becak, dia selalu bertanya apakah orang itu punya kebiasaan merokok. Baginya, merokok bukan hanya merugikan kesehatan diri sendiri dan orang lain (perokok pasif), tapi juga membuat orang tidak bisa menyisihkan penghasilan---yang sudah sedikit itu---untuk menabung.

Ibu Shinta Nuriyah terlihat antusias dan ikut gembira ketika memberi sisa tabungan dua penabung terbesar di Warung Broto. Nilainya meningkat tajam ketimbang tahun lalu, di atas Rp 10 juta.

“Anggota Warung Broto yang tahun lalu hanya 90-an, sekarang pun naik dua kali lipat menjadi 180 orang,” kata Romo Eko Budi Susilo. (rek)

05 September 2011

Wisata Pantai Tlocor Sidoarjo



SEPULUH atau lima tahun silam nama Tlocor identik dengan perkampungan terpencil di muara Sungai Porong. Memang ada akses jalan raya ke Tlocor, tapi kondisinya sangat buruk. Karena itu, hampir tak ada orang Sidoarjo, kecuali warga Tlocor dan sekitarnya, yang nekat menempuh jalan darurat itu. Biasanya, hanya pemancing-pemancing nekat yang berani ‘menantang’ jalanan Tlocor yang berantakan itu.

“Bukan apa-apa. Kalau sampai ban bocor, kita terpaksa harus menuntut sepeda motor karena nggak ada jasa tambal ban di jalan. Mencari perkampungan warga pun sulit karena memang jauh-jauh,” kata Haryadi Subagyo, kemarin. Pelukis senior ini sejak 1990-an senang berkelana, memancing, dan membuat sketsa di tambak-tambak Tlocor.

Jika musim hujan, menurut Haryadi, jalan raya dari Kalisogo, eks lahan pembuangan akhir, hingga muara sungai di Tlocor praktis tak bisa dilalui mobil atau sepeda motor biasa, kecuali jeep atau trail. Di musim kemarau, jalanan itu membentuk cekungan yang dalam. Itu sebabnya, Tlocor dan kawasan Kedungpandan sering diidentikkan sebagai desa-desa terisolasi bersama Tambak Bromo, Kepetingan, ataupun Pucukan. Kampung-kampung ini hanya didiami para penjaga tambak maupun keturunannya.

“Itulah asyiknya Sidoarjo. Kabupaten yang bertetangga dengan Surabaya, tapi punya kampung-kampung antik dan terpencil seperti Pucukan atau Tlocor,” kata Haryadi seraya ngakak.

Kini, isolasi Tlocor, Kalisogo, Kedungpandan, bahkan Pulau Dem di depan Tlocor tinggal kisah masa lalu. Jalan raya dari arah timur Kali Porong hingga muara sungai sudah begitu mulus dan lebar. Bahkan, kemulusannya tak kalah dengan jalan tol. Boleh dikata, saat ini jalan sepanjang 10-12 kilometer ini paling mulus dan bagus kualitasnya di Kabupaten Sidoarjo.

“Itu semua tidak lepas dari tragedi semburan lumpur Lapindo. Kalau nggak ada Lapindo, ya, mungkin Tlocor nggak akan pernah jadi seperti sekarang,” ujar warga setempat yang sekarang membuka usaha warung ikan bakar.

Semburan lumpur panas sejak 29 Mei 2006 itu rupanya membawa berkat tersamar (blessing in disguise) bagi warga Tlocor dan sekitarnya. Sebab, pakar-pakar Lapindo Brantas, tim nasional penanggulangan lumpur, badan penanggulangan lumpur, pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten mulai merambah kawasan di sepanjang Sungai Porong untuk mencari lokasi pembuangan lumpur. Lumpur itu akhirnya disalurkan ke sungai, kemudian mengalir hingga muara di Kedungpandan dan Pulau Dem.

Dari situlah pemerintah pusat dan Lapindo sadar kalau ternyata di Sidoarjo masih ada dusun-dusun terpencil, tersisolasi, dengan rumah-rumah sederhana (dari gedhek) di sepanjang tangkis Kali Porong hingga muara. Dan, ketika BPLS dan Lapindo sudah tak punya cara jitu untuk menghentikan semburan, maka mau tidak mau jalan raya di samping tanggul sungai harus diperbaiki agar petugas dan pemerintah bisa dengan mudah memantau situasi pembuangan air lumpur dari Kali Porong ke muara.

“Dulu kan menteri-menteri sering datang untuk melihat pembuangan air lumpur. Makanya, beliau-beiau itu tahu sendiri kondisi jalan raya ke arah Tlocor,” ujar Ahmad, juga warga Kedungpandan.

Pemkab Sidoarjo pun rupanya tak ingin mendapat citra buruk gara-gara pejabat-pejabat teras di Jakarta menikmati jalan raya yang kondisinya sangat parah justru di kawasan yang masih tetangga metropolis Surabaya. Kira-kira begitu.

03 September 2011

Jejak Tionghoa di Madura



Pendapa Keraton Sumenep yang dibuat tukang-tukang asal Tiongkok.

Jejak Tionghoa bisa ditemukan dengan mudah di tanah air, termasuk Pulau Madura. Belum lama ini komunitas Jejak Petjinan mengadakan wisata sejarah bertajuk Melantjong Petjinan Madoera ke Bangkalan, Pamekasan, dan Sumenep.

Pada 1958, sejarawan asal Surabaya, Ong Hok Ham (sekarang almarhum) bersama Dr William Skinner dari Cornell University, Amerika Serikat, pernah melakukan riset di Pulau Madura. Kedua pakar ini menemukan banyak fakta menarik. Meski masyarakat Tionghoa di Madura nyaris sudah terasimilasi total dalam kultur lokal---beragama Islam, berbahasa dan berbudaya Madura, fisik seperti bumiputra---jejak-jejak Tionghoa masih bisa diendus.

Kota Sumenep, menurut Ong, menunjukkan pengaruh Tionghoa yang besar. Ini terlihat dari bangunan keraton dan masjid yang kental dengan nuansa Tionghoa. Dekorasi pada pintu masjid Sumenep menunjukkan bahwa pembuatnya adalah tukang-tukang Tionghoa.

Atap keraton juga demikian. Bentuknya memperlihatkan pengaruh Tionghoa. “Mungkin para tukang Tionghoa itu diminta membuat atap keraton bergaya Madura, tapi tukang-tukang itu mengikuti intuisi ketionghoannya. Dan hasilnya adalah setengah Indonesia dan setengah Tionghoa,” tulis almarhum Ong Hok Ham dalam buku Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa.

Selain keraton dan masjid, pengaruh Tionghoa juga bisa dilihat pada bentuk dan atap rumah-rumah di Sumenep. Bagi Ong, pengaruh Tionghoa di Sumenep ini tidak mengherankan karena Sumenep merupakan kota di Madura yang punya penduduk Tionghoa terbanyak. Ketika masih berlaku wijkenstelsel---sistem perkampungan berdasar kelompok etnis, di mana orang Tionghoa tinggal di pecinan---di Sumenep terdapat dua wijk (perkampungan) Tionghoa. Satu wijk di dalam kota Sumenep dan satu lagi di Pabean.

Menurut salah satu sumber yang dikutip Ong, orang Tionghoa datang ke Sumenep karena dipanggil Panembahan Sumenep pada 1790. Saat itu sang panembahan memerlukan tukang-tukang untuk mendirikan keraton dan masjid Sumenep. Sesudah bangunan keraton dan masjid itu selesai, para tukang asal negeri naga itu dikonsentrasikan di Desa Pajurangan.

Tukang-tukang yang semuanya laki-laki itu kemudian menikah dengan perempuan setempat. Mereka pun otomatis memeluk agama Islam, sehingga kemudian melahirkan generasi ‘peranakan’ yang terasimilasi dengan kultur lokal.

Ada juga versi lain yang menyebutkan, nenek moyang orang peranakan di Sumenep berasal dari Semarang. Saat itu terjadi pemberontakan orang Tionghoa disusul pembunuhan massal warga Tionghoa.

Beberapa orang Tionghoa dari Semarang bersembunyi di pesisir Sumenep. Mereka kemudian mengganti nama seperti penduduk Madura umumnya dan menganut agama Islam.

“Cerita ini mungkin benar karena pada 1740 memang ada pemberontakan Tionghoa. Dan di Semarang memang ada pembunuhan besar-besaran terhadap orang Tionghoa,” papar sejarawan yang biasa menulis namanya dengan Onghokham (tanpa spasi) itu.

Maka, Ong menyimpulkan bahwa warga peranakan di Sumenep bisa jadi keturunan tukang-tukang Tionghoa dan orang-orang Tionghoa pelarian dari Semarang.

Masih menurut Ong, panembahan-panembahan yang sangat berkuasa di Sumenep juga mengadakan politik asimilasi terhadap orang-orang Tionghoa di Sumenep. Maksudnya untuk memberi perlindungan kepada orang-orang Tionghoa yang sudah menikah dengan wanita setempat dan sudah berganti nama. Oleh panembahan, mereka diberi izin berdagang, tinggal di pedalaman, dan tanah.

Orang-orang peranakan di Sumenep itu juga terdapat di pulau-pulau kecil seperti Pulau Raas, Pulau Sapudi, dan Pulau Kangean. Begitu hebatnya proses asimilasi selama beberapa generasi, kini kita tak bisa lagi mengidentifikasi mereka sebagai keturunan Tionghoa.

Jejak Tionghoa di Sumenep juga terdapat di kawasan Pajurangan. Asimilasi dengan kultur lokal pun sudah sangat jauh. Mereka tak bisa berbahasa Tionghoa dan juga tak bisa menulis dalam aksara Tionghoa. Hal yang sebetulnya umum bagi orang-orang Tionghoa yang lahir di Indonesia.

Di Pajurangan ini terdapat beberapa orang Tionghoa beragama Islam dan menggunakan nama Islam layaknya penduduk Madura. Makam-makam Tionghoa kurang terawat dengan baik. Padahal, tradisi Tionghoa sangat menekankan perawatan makam orang tua atau leluhur. Sehingga, suatu ketika camat setempat mengingatkan warga Tionghoa untuk merawat makam-makam leluhur mereka.

Ong Hok Ham dalam tulisannya mengaku terkesan dengan sebuah kampung Tionghoa yang sangat indah dan penting dari sudut sejarah. Sebab, bentuk rumah-rumah di sana dapat dikata hampir masih asli Tionghoa. Kampung itu terletak di tepi laut dan menghadap ke laut. Sebuah wujud pecinan yang masih asli dari imigran Tionghoa.

Orang-orang Tiongkok yang datang ke Asia Tenggara memang selalu membuat kampung Tionghoa di tepi laut atau sungai dengan rumah menghadap ke air. Kelenteng juga harus menghadap ke sungai atau laut. Di Pajurangan tidak ada kelenteng, tapi ada satu arca Siwa yang menghadap ke laut.

“Daerah Sumenep sebetulnya penting untuk sejarah orang Tionghoa di Indonesia,” kata Ong. (rek)