13 August 2011

Tan Mei Hwa - Bu Nyai Gaul


Tan Mei Hwa lagi santai di rumah.

Di bulan Ramadan 1432 Hijriah ini, wajah Tan Mei Hwa kerap nongol di sejumlah stasiun televisi baik lokal maupun nasional. Sejak menekuni dunia dakwah pada 1993, karir ustazah keturunan Tionghoa ini terus melejit. Gaya ceramahnya yang santai, joke-joke segar, membuat Tan Mei Hwa kerap dijuluki Bu Nyai Gaul oleh ibu-ibu pengajian di Surabaya kian melejit.



Popularitasnya yang kian meluas, tak hanya di kawasan Jawa Timur, membuat Tan Mei Hwa juga dipercaya menjadi bintang iklan beberapa produk. Salah satunya produk tapal gigi alias odol yang diproduksi di Surabaya.

Berikut petikan wawancara LAMBERTUS HUREK dari Radar Surabaya dengan Tan Mei Hwa pekan lalu.

Selamat, tadi saya melihat Anda jadi bintang iklan di koran.

Hehehe.... Kebetulan saya diminta tolong sama teman saya untuk ikut mempromosikan produknya. Setelah saya pertimbangkan kok nggak masalah karena produknya baik, dibutuhkan masyarakat, dan bukan sesuatu yang haram. Lantas, saya ikut sesi foto sebagai bintang iklan itu. Tapi di iklan itu kita menyampaikan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa 1432 Hijriah.

Selain produk tapal gigi, apakah Anda juga diminta jadi bintang iklan untuk produk yang lain?

Hehehe.... Ada lah. Produk makanan franchise yang juga tidak mengandung komponen-komponen yang haram atau meragukan. Saya juga diajak untuk iklan pajak, ajakan ke tanah suci. Alhamdulillah, ternyata banyak orang, khususnya teman-teman dan relasi, mau memberikan kepercayaan kepada saya.

Apa kegiatan side job ini tidak mengganggu kegiatan ceramah Anda?

Nggaklah. Pengambilan gambar untuk iklan di media massa itu kan tidak membutuhkan banyak waktu. Ketika tidak ada jadwal ceramah, baru dilakukan pengambilan gambar. Bagi saya, kegiatan dakwah tetap nomor satu, menjadi prioritas yang paling saya utamakan. Saya kan sudah bilang kalau iklan itu karena kebetulan ada teman yang minta bantuan saya.

Lantas, bagaimana aktivitas dakwah Anda selama bulan Ramadan ini?

Alhamdulillah, untuk bulan Ramadan ini jadwal saya sudah penuh. Saya diundang ke mana-mana, keliling, untuk ceramah. Kebanyakan yang undang saya itu perusahaan-perusahaan, instansi-instansi, dan sebagainya.
Bahkan, saya juga diundang kalangan nonmuslim seperti jemaat kelenteng atau gereja untuk ceramah. Saya sih senang saja karena dapat kesempatan untuk menyampaikan sesuatu di hadapan audiens yang beragam. Sekalian menyampaikan syiar agama yang sejuk kepada masyarakat.

Anda tergolong penceramah ‘pendatang baru’. Belum 10 tahun menekuni dunia dakwah. Lantas, apa kiat Anda sehingga ceramah-ceramah Anda baik di televisi maupun di pengajian-pengajian diminati banyak orang?

Begini ya. Saya selalu berusaha melibatkan audiens. Jadi, mereka merasa dilibatkan, tidak digurui. Saya tahu hampir semua orang tidak suka digurui atau diceramahi. Selain itu, saya selalu berusaha dekat dengan jamaah di mana pun saya memberikan ceramah. Letak panggung harus dekat dengan jamaah. Dan saya tidak pakai podium, karena itu hanya membuat jarak dengan jamaah.

Kemudian ada bumbu-bumbu humor.

Humor itu memang perlu biar tidak tegang. Dan saya berusaha mengambil joke-joke yang sudah populer di masyarakat, khususnya di kalangan ibu-ibu.

Kenapa?

Karena ibu-ibu itulah yang paling tahu harga sembako di pasar, belanja, menyiapkan makanan, mendidik anak-anak, dan sebagainya. Saya punya pengajian khusus ibu-ibu sehingga saya bisa mendengar banyak cerita-cerita dari ibu-ibu itu.

Ada punya semacam rambu-rambu atau pedoman dalam berdakwah?

Jelas ada. Satu hal yang selalu saya pegang adalah tidak boleh menyudutkan orang lain. Juga tidak membeda-bedakan golongan. Sebab, bagi saya, dakwah itu pencerahan, bukan provokasi. Dan, yang tak kalah penting, apa yang kita ucapkan harus bisa menjadi perilakunya sehari-hari. Penceramah itu harus jadi pelaku juga. Jadi, tidak sekadar bicara, tapi harus melakukannya.

Sebagai istri, bagaimana Anda membagi waktu untuk suami dan putra Anda?

Bagaimanapun juga saya ini seorang istri, ibu rumah tangga. Maka, saya tidak boleh meninggalkan kewajiban sebagai istri. Setiap hari saya tetap memasak untuk suaminya. Saya tidak pernah menyuruh pembantu. Masakan terenak itu masakan istri lho. (*)


CV SINGKAT

Nama : Tan Mei Hwa
Julukan : Bu Nyai
Lahir : Surabaya, 27 Juli 1968
Suami : Aris Suparno
Gelar akademis : Sarjana Hukum
Alamat : Benowo, Surabaya
Moto : Memberi manfaat bagi banyak orang. Soal rezeki sudah diatur oleh Allah SWT.


Aktivitas :
-Ceramah, dakwah
-Gelar khitanan massal
-Bakti sosial pembagian dan pengobatan gratis bagi warga lansia
-Bintang iklan (dadakan)


Buka Jasa Konsultasi 
 
Selain rutin memberikan ceramah, Tan Mei Hwa bersama suami, Aris Suparno, juga mengelola Az-Zahra. Lembaga ini bergerak di bidang training, konsultasi, dan majelis zikir. Untuk training dan jasa konsultasi, Tan melayani berbagai perusahaan, termasuk yang nonmuslim.


“Kita terbuka untuk siapa saja,” kata Tan Mei Hwa. Untuk jasa konsultasi, Tan Mei Hwa mengaku tidak memungut biaya. Syaratnya, klien dibatasi satu orang saja per hari. Dengan begitu, masukan yang diberikan kepada klien lebih tepat sasaran.

“Selain itu, konsultan yang kami miliki memang terbatas,” katanya.

Lain lagi dengan majelis zikir. Majelis ini hanya khusus untuk kaum perempuan. Setiap Ahad pagi, Bu Nyai ini menggelar pengajian di rumahnya di kawasan Benowo Surabaya. Gara-gara punya majelis tetap inilah, kemampuan ceramah Tan Mei Hwa terus berkembang. Majelis ini sekaligus ajang ‘penggemblengan’ untuk berdakwah di depan khalayak yang lebih luas.

Di pengajian ibu-ibu itu, Tan juga menerima masukan tentang situasi aktual di masyarakat. Termasuk perkembangan harga bahan-bahan kebutuhan pokok di pasar. Karena itu, jangan heran isi ceramah-ceramah Tan Mei Hwa senantiasa pas dengan situasi yang di hadapi ibu-ibu di rumah.

Bukan itu saja. Az-Zahra juga bergerak di bidang sosial kemanusiaan. Tiap tahun bersama suami punya agenda rutin seperti mengadakan khitanan massal, bantuan sosial, dan pengobatan gratis bagi warga lansia. Hebatnya, semua dana yang digunakan diambil dari kantong pribadinya.

“Uang itu kalau disedehkahkan nggak akan kecil, malah tambah banyak. Saya yakin itu,” ujar sarjana hukum itu. (*)

Dimuat RADAR SURABAYA edisi Minggu 14 Agustus 2011


10 comments:

  1. bu tan emang penceramah yg unik n menarik.

    ReplyDelete
  2. dimana ya kiranya saya dapat download video ceramah bu nyai Tan Mei Hwa? soalnya saya sangat suka dengan gaya ceramahnya

    ReplyDelete
  3. ada alamat lengkap atau telepon yg bisa dihubungi ustadzah Tan Mei Hwa atau alamat yayasan az-Zahra? syukron.

    ReplyDelete
  4. bu nyai ini asyik banget n njawani kalo ceramah

    ReplyDelete
  5. setuju! dakwah yg sejuk sangat dibutuhkan bangsa ini, bukan provokasi!

    ReplyDelete
  6. Asslmkm..
    Saya boleh minta alamat lengkapnya Bu Nyai Tan Mei Hwa??
    saya butuh bngt...
    mohon bantuannya..

    bisa dikirim ke email saya avelyfit@yahoo.com

    ReplyDelete
  7. Bisa hubungi MASJID CHENG HOO SURABAYA
    Jalan Gading Nomor 2 Surabaya
    dekat Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa (THR)

    ReplyDelete
  8. apas ada nomer hp ato rumahnya bsa hub sy di 087755139000

    ReplyDelete
  9. salut sama orang tionghoa yg jadi penceramah terkenal kayak bu tan dan pak anton medan. ini membuktikan bahwa orang tionghoa bisa eksis di berbagai lini, gak hanya di bisnis. terimakasih atas liputannya.

    ReplyDelete
  10. bagaimana cara menghubunginya ...... untuk di undang bos !!!

    ReplyDelete