23 August 2011

Pidato SBY Bikin Ngantuk



Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu hambar, kurang garam. Lebih mirip kuliah bersama yang kering. Karena itu, tidak banyak orang Indonesia, kecuali anggota Partai Demokrat, yang senang mendengarnya.

Tahun ini, menteri sekretaris negara sampai membuat surat edaran agar semua anggota parlemen dari pusat sampai kabupaten/kota harus menyimak pidato itu lewat televisi pada 16 Agustus 2011. Toh, banyak anggota dewan yang mangkir.

Di Sidoarjo, misalnya, 15 anggota DPRD absen tanpa alasan jelas. Di daerah-daerah lain di Jawa Timur pun sama saja. Begitu banyak anggota parlemen sengaja mangkir karena malas dengar pidato SBY. Pidato SBY mirip-mirip pidato Presiden Soeharto yang juga kering. Tapi Pak Harto bisa komunikatif ketika memandu temu wicara secara lisan.

Di dunia ini, khususnya di Indonesia, tak banyak orang yang punya bakat pidato. Presiden Sukarno jelas paling top retorikanya. Orator ulung. Tak perlu pakai surat edaran, rakyat ramai-ramai duduk di depan radio hanya untuk dengar pidato sang proklamator. Puluhan ribu orang rela berdesak-desakkan di lapangan demi menyimak pidato Bung Karno.

Setiap tanggal 17 Agustus, Bung Karno menyusun pidato sendiri untuk disampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia. Isi dan cara membawakannya memang luar biasa. Karena itu, seluruh rakyat dengan senang hati menunggu-nunggu pidato Bung Karno. Tidak perlu ada instruksi atau ‘kewajiban’ mendengar pidato Bung Karno.

Kemampuan Presiden Megawati, putri Bung Karno, jauh di bawah bapaknya. Pidato Megawati terkesan sebagai orang yang baru belajar membaca. Vokalnya, intonasinya, bahasa tubuh... kurang asyik. Hampir semua anak Bung Karno tidak mewarisi bakat jenius ayahnya. Gaya public speaking Puan Maharani lebih parah lagi. Tak ada kesan sedikit pun bahwa si Puan ini cucu Bung Karno, negarawan besar kita.

Ini juga membuktikan bahwa intelektualitas, kepemimpinan, wawasan... tidak bisa diwariskan. Sukarno hebat, anak-anaknya gak hebat. Soeharto bisa jadi pemimpin kuat dan efektif, anak-anaknya hanya bisa memanfaatkan kedudukan bapaknya untuk berbinis. Cicit Pak Harto bahkan sekarang jadi terdakwa di pengadilan gara-gara makan psikotropika sabu-sabu.

Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, menurut saya, luar biasa. Ceramah-ceramahnya, baik yang bersifat keagamaan, kebudayaan, kesenian, politik, sepak bola, dan sebagainya selalu enak didengar. Juga berisi. Jauh sebelum jadi presiden, saya sudah tertarik dengan figur Gus Dur. Saya selalu berusaha datang ke tempat Gus Dur memberikan pengajian. Termasuk ke Denanyar, Jombang, kampung halaman almarhum guru bangsa itu.

Dari ceramah-ceramah Gus Dur, kita tahu bahwa beliau ini sejak kecil sudah ‘makan buku’. Sama dengan pemimpin-pemimpin pergerakan macam Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, Tan Malaka, Agoes Salim, Muhammad Yamin, dan seterusnya. Bukan tipe anak-anak pejabat zaman sekarang yang hanya nunut nama besar orang tuanya.

Saking banyaknya buku yang ‘dimakan’ Gus Dur, luasnya wawasan dan pergaulan, ceramah-ceramah Gus Dur memang sangat berbobot. Cara pembawaan santai, humoris, banyak joke, tapi tidak kehilangan esensi. Gak garing! Kehangatan, intimasi, kedalaman... itulah yang tak dipunyai SBY meskipun gelar doktor selalu ditempel di depan namanya. Orator ulung itu aneugerah Tuhan, tidak ada sekolahnya.

Pidato Presiden Amerika Serikat Barack Obama di Jakarta tahun lalu juga istimewa. Obama punya bakat orasi yang luar biasa. Di senyum secara wajar, menceritakan pengalaman masa kecilnya di Jakarta, menirukan ucapan penjual sate, soto, nasi goreng...

Kita, orang Indonesia, pasti senang mendengar pidato Presiden Obama. Dan tak akan pernah melupakan gaya dan materi pidato presiden Amerika Serikat yang pernah menjalani masa kecil di Jakarta ini.

No comments:

Post a Comment