25 August 2011

Pastor Eko Budi Susilo Gelar Buka Puasa Bersama

Uskup Surabaya Mgr Sutikno Wisaksono, Ibu Shinta Abdurrahman Wahid, dan Romo Eko Budi Susilo saat buka puasa bersama di halaman Gereja Katedral Surabaya.


Seperti tahun-tahun sebelumnya, di bulan Ramadan ini Romo Eko Budi Susilo (50) ikut sibuk mengurus sahur keliling dan buka puasa bersama. Pastor Katolik yang memimpin Gereja Hati Kudus Yesus (Katedral) Surabaya itu memang dipercaya sebagai salah satu koordinator ‘sahur keliling dan buka bersama’ yang digagas Ny Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid.

Program sahur keliling dan buka bersama ini bermaksud menyapa kaum duafa yang tersebar di berbagai kota di tanah air. Sejak awal istri almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mantan presiden Republik Indonesia, itu merangkul tokoh-tokoh lintas agama dan etnis untuk menjalin kebersamaan di antara sesama anak bangsa. Dan Romo Eko selalu ketiban sampur untuk menjadi koordinator di Kota Surabaya dan sekitarnya.

Bisa diceritakan sejarah sahur keliling dan buka puasa Anda tangani?

Itu merupakan program dari Ibu Shinta Nuriyah, istri almarhum Gus Dur, ketika beliau masih menjadi ibu negara pada tahun 2000. Tepatnya pada bulan Ramadan 1421 Hijriah. Acara sahur keliling ini diadakan di Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Banten, Jogjakarta, Surabaya, dan Medan. Nah, di Surabaya ini kita diminta Bu Shinta untuk membantu menyukseskan sahur keliling itu.

Dana untuk sahur keliling itu dari mana?

Ya, dari sumbangan umat, donatur, dan sebagainya. Saya umumkan di gereja kalau ada program sahur keliling dari Bu Shinta, dan ternyata respons umat sangat bagus. Mereka rame-rame menyumbang makanan, air minum, untuk keperluan sahur keliling itu. makanan-minuman itu dikumpulkan di gereja, kemudian menjelang sahur didistribusikan kepada warga di sejumlah titik yang telah ditentukan. Tentu saja, sebelumnya panitia sudah koordinasi dengan takmir masjid dan kelompok-kelompok masyarakat agar program ini tepat sasaran.

Program yang sudah berjalan 11 tahun ini apakah lancar-lancar saja?

Puji Tuhan, sampai sekarang tetap berjalan. Umat juga tetap antusias menyampaikan sumbangan dan turun langsung sebagai sukarelawan. Ini sungguh-sungguh mengharukan dan membanggakan kita semua. Hanya saja, setiap tahu selalu ada evaluasi terhadap program sahur keliling itu agar lebih efektif.

Ibu Shinta hanya beberapa saat menjadi ibu negara. Apakah setelah Gus Dur lengser program lintas agama ini tetap jalan?

Tetap jalan karena acara sahur keliling atau buka bersama ini benar-benar program dari bawah. Program yang murni digagas oleh Bu Shinta. Dan sama sekali tidak menggunakan anggaran atau fasilitas dari pemerintah. Karena itu, meskipun Bu Shinta tidak lagi menjadi ibu negara, ya, jalan terus. Bedanya, kalau dulu kalau ke mana-mana beliau selalu dikawal oleh paspampres, sekarang seperti warga negara biasa. Tapi semangat kebersamaan, pluralisme, bhinneka tunggal ika, persaudaraan sejati... tetap menjadi benang merah dalam setiap kegiatan kami.

Ada kesan bahwa acara sahur keliling ini tidak semeriah pada tiga tahun pertama?

Sebetulnya tetap meriah, hanya tidak mendapat liputan seluas ketika Bu Shinta masih menjadi ibu negara. Ketika Gus Dur masih menjadi presiden, otomatis acara-acara ibu negara dipublikasi di televisi dan media-media lain. Sekarang meskipun publikasinya kurang, di lapangan program ini terus berjalan. Kita memang sudah berkomitmen untuk mendukung program lintas agama yang sangat baik ini.

Setelah sahur keliling, dalam tiga atau empat tahun terakhir Anda dan Bu Shinta bikin kegiatan buka bersama kaum duafa. Apakah fokusnya memang sudah berubah?

Sahur keliling masih jalan, tapi dikoordinasi di Gereja Aloysius Gonzaga Surabaya. Saya lebih fokus ke buka bersama kaum duafa. Ini karena setelah dievaluasi oleh Bu Shinta, ternyata banyak warga kurang mampu yang tidak terjangkau di sahur keliling.

Harus diakui, selama ini banyak warga mampu yang memanfaatkan kesempatan untuk bertemu langsung dengan Bu Shinta. Padahal, Bu Shinta itu maunya fokus menemui orang-orang yang benar-benar tidak mampu. Karena itu, kita memperluas acara sahur keliling ini dengan buka bersama kaum duafa. Di situ Bu Shinta memberikan tausiyah dan motivasi kepada mereka untuk semakin maju dan berkembang. (lambertus hurek)




Giat Melestarikan Budaya Jawa

Ada suasana yang berbeda dalam perayaan Hari Kemerdekaan RI di halaman parkir Gereja Redemptor Mundi, Jl Dukuh Kupang Barat I/7 Surabaya, Rabu (17/8/2011) malam. Empat pastor tampil sebagai punakawan untuk mengisi adegan goro-goro pergelaran wayang kulit dengan dalang Ki Surono Gondo Taruna itu.

Mereka adalah Romo Sumarno sebagai Semar, Romo Budi Nuroto (Gareng), Romo Eko Budi Susilo (Petruk), dan Romo Paulus Gusti Purnomo (Bagong). Celetukan romo-romo, yang sehari-hari bertugas memimpin misa atau berkhotbah, ini mengundang gelak tawa hadirin. Romo Eko Budi Susilo tampil kocak dengan memimpin aba-aba dalam bahasa ‘Inggris Timur’.

“Ngompooool, grak!” teriak Petruk alias Romo Eko.

Maka, romo-romo yang lain kompak memeriksa bagian depan celana masing-masing, jangan-jangan ada yang nompol. Tidak ketemu. Akhirnya, Bagong, Gareng, dan Semara mendatangi si Semar yang diperankan Romo Eko. Kain di depan celana Romo Eko pun dibuka. Penonton yang sebagian besar umat Paroki Redemptor Mundi pun tertawa ngakak.

“Ngompoool iku artine kumpul,” ujar Semar dengan logat Madura.

Sebagai putra asli Karanganyar, Jawa Tengah, sejak kecil Eko Budi Susilo memang tak asing lagi dengan dunia pewayangan. Maklum, wayang-wayang kondang di tanah air banyak yang berasal dari kampung halamannya. Karena itu, Romo Eko paham betul tokoh-tokoh pewayangan berikut karakter-karakter fisik maupun suara yang khas.

Ketika masih kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana di Malang, kampus khusus untuk para calon pastor, minatnya terhadap wayang seakan mendapat penyaluran. Sebab, salah satu mahasiswa bernama Yustinus Slamet Riyadi, ternyata sangat jago memainkan wayang kulit. Di kala senggang, Yustinus yang sekarang jadi pastor di Malang ini selalu berlatih wayang, olah suara, hingga menggerak-gerakkan wayang dengan sabetan yang dahsyat.

Meski berstatus frater alias calon pastor, Yustinus diiizinkan atasannya untuk tampil mendalang di depan khalayak ramai. “Saya yang jadi sopirnya. Kami ke berbagai daerah untuk pentas wayang kulit semalam suntuk. Itu pengalaman yang sangat berkesan,” kenangnya.

Maka, ketika sudah menjadi pastor pun, Romo Eko selalu berusaha melestarikan kebudayaan Jawa, nguri-uri budaya, di paroki tempat dia bertugas. Obsesi itu akhirnya kesampaian ketika Romo Eko menjadi pemimpin Paroki Redemptor Mundi beberapa tahun lalu. Dia berhasil mengadakan perangkat karawitan untuk dimainkan jemaat dan warga sekitar.

“Sampai sekarang kelompok karawitan yang saya dirikan itu masih eksis. Mereka juga ikut mengisi acara tujuh belasan kemarin,” katanya. (rek)

No comments:

Post a Comment