06 August 2011

Melantjong Petjinan Madoera





Setelah sukses menggelar city tour bertajuk Melantjong Petjinan Soerabaia, komunitas Jejak Petjinan pekan lalu mengadakan acara jalan-jalan ke Pulau Madura. Acara bertajuk Melantjong Petjinan Madoera ini diikuti sekitar 40 orang.

Para pelancong ini berasal dari berbagai kalangan, mulai pelajar, mahasiswa, karyawan, fotografer, blogger, hingga dosen dan pemerhati sejarah. “Kebanyakan justru peserta-peserta baru yang belum pernah ikut Melantjong Petjinan Soerabaia. Mereka dapat informasi dari milis, Facebook, maupun blog,” ujar Debby Ariyani, salah satu panitia, kepada Radar Surabaya, Senin (1/8/2011).

Berkumpul di depan Giant Supermarket, Jl Rajawali, rombongan berangkat dengan bus menuju ke Madura melalui Jembatan Suramadu. Perjalanan cukup asyik karena peserta bisa menikmati pemandangan alam di pelosok Madura, khususnya bagian utara, yang selama jarang dilalui kendaraan umum. Jalan raya di pantai utara ini lebih eksotik, penuh tebing-tebing yang indah, sehingga cocok untuk penggemar fotografi.

Salah satu objek kunjungan para turis lokal ini adalah sentra batik khas Madura di kawasan Tanjungbumi. Lintu Tulistyantoro, dosen Universitas Kristen Petra, yang juga peneliti batik madura, ikut memberikan penjelasan seputar ciri khas serta corak batik asal Pulau Garam itu.

Tak sedikit pelancong yang membeli kain batik khas Tanjungbumi untuk koleksi maupun suvenir.
Dari Tanjungbumi, rombongan bergerak ke Pasongsongan, Pantai Lombang, kemudian Museum-Kraton dan Asta Tinggi di Sumenep. Dalam perjalanan pulang ke Surabaya pada hari kedua, rombongan mampir ke TITD Kwan Im Kiong Pamekasan.

Kelenteng Tridharma di Pantai Talangsiring itu dikenal sebagai tempat ibadah yang unik dengan sangat toleran. Bayangkan, di dalam sebuah kompleks di kawasan hutan bakau ada tempat ibadah untuk lima agama sekaligus, yakni Khonghucu, Taoisme, Buddha, Hindu, dan Islam.

Tahun lalu, pengelola Kwan Im Kiong mendapatkan penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri). Belum lama ini, tepatnya 18 Juli 2011, kelenteng yang juga dikenal sebagai Vihara Avalokitesvara ini dikunjungi ribuan jemaat dari berbagai daerah di tanah air untuk mengikuti Kwan Im Shen Dien alias perayaan Dewi Kwan Im mendapat kesempurnaan. Selama dua hari digelar berbagai atraksi seni budaya, termasuk pergelaran wayang kulit semalam suntuk oleh dua dalang asal Ngawi.

Di Sumenep, rombongan pelancong yang dipimpin Paulina Mayasari ini berkunjung ke kompleks makam raja-raja Sumenep, masjid, keraton, dan bangunan-bangunan lain yang arsitekturnya dipengaruhi budaya Tionghoa.

“Pokoknya, ada banyak hal yang bisa diketahui peserta setelah ikut acara melancong ini,” kata Debby.

Dimuat RADAR SURABAYA edisi 2 Agustus 2011

1 comment:

  1. dear Pak Lambertus,

    Perkenalkan nama saya Zay yg berdomisili di Yokohama.

    Saya baru menemukan blog anda malam ini.... senangnya luar biasa...
    Just want to say thank for you... terutama mengingatkan lagu2 jadul tahun 60-70 saat saya masih tinggal di Jember, kota kelahiran saya...

    Thanks again, dan kalau boleh... bisa kah kita tukar opini...karena zaman sekarang sulit sekali untuk mencari orang yang ngerti dengan Pop Indonesia 60's & 70's



    Wassalam,
    zay

    ReplyDelete