19 August 2011

Konser Kemerdekaan SSO Kurang Meriah



Konser kemerdekaan Surabaya Symphony Orchestra (SS0) tahun 2011 ini kurang greget dibandingkan tahun-tahun lalu. Penonton tak seramai biasanya. Kursi undangan VIP/VVIP pun saya lihat berkurang.

Maka, wartawan yang biasanya tak dapat kursi, hanya berdiri sepanjang konser, atau mengisi tempat duduk penonton yang ‘kabur’ duluan, kini dikasih tempat di bagian belakang. Itu pun yang datang meliput hanya dua orang: saya dan seorang teman fotografer lagi.

Sebetulnya tidak hanya konser ke-68 SSO ini saja yang kurang meriah. Di kampung-kampung pun acara tujuh belasan tak seheboh biasanya. Apakah karena bulan Agustus 2011 ini bersamaan dengan Ramadan, bulan puasa untuk umat Islam? Tidak juga. Tahun 2010 juga bersamaan dengan bulan puasa, tapi gebyar tujuh belasan sangat terasa.

Secara umum, saya kira, ‘suasana kebatinan’ orang Indonesia saat ini memang sedang resah. Resah melihat politisi-politisi dengan mudahnya merampok uang negara, memperkaya diri. Rakyat biasa begitu sulit mencari uang Rp 1.000.000 sebulan, sementara seorang Muhammad Nazaruddin dengan mudah mendapatkan Rp 10.000.000.000 sehari.

Politisi-polisi di parlemen baik di pusat dan daerah pun lebih doyan korupsi ketimbang membuat rakyat Indonesia makmur dan sejahtera. Maka, meskipun Indonesia sudah merdeka 66 tahun, negaranya tetap tak maju-maju. Harus kirim berjuta-juta orang ke Malaysia, Arab Saudi, Taiwan, Hongkong hanya untuk jadi kuli atau babi. Pejabat-pejabat tinggi, khususnya Presiden SBY, hanya sibuk berwacana tanpa efektivitas. Wibawa SBY terus merosot karena sebagian instruksinya tidak dipatuhi menteri-menterinya.

Yah, dalam suasana politik yang sarat korupsi, ketika Nazaruddin bolak-balik bikin serangan melalui televisi itulah, saya menikmati konser SSO. Satu-satunya orkes simfoni di Surabaya yang rutin bikin konser. Setelah dijamu minum teh dan makanan kecil, penonton masuk ke ballroom Hotel Shangri-La, Selasa (9/8/2011) malam. Dekorasi panggung dengan warna dominan merah-putih.

Si pembawa acara, Dewi, meminta penonton mematikan telepon seluler (HP) agar suasana konser musik klasik itu tetap terjaga. Ini penting karena orang-orang Indonesia umumnya kurang mengetahui etiket menonton konser musik klasik. Ternyata, peringatan Dewi ini terbukti tidak diindahkan sebagian penonton.

Lihat saja, selama konser mereka tetap bermain-main HP, berkirim SMS, chatting, atau berfoto ria. Bahkan, gadis-gadis cantik penerima tahu yang seharusnya kasih contoh tentang disiplin menonton musik klasik justru paling doyan main HP. Apa boleh buat. ‘Peradaban’ musik kita, kadar apresiasi dan disiplin orang Indonesia memang masih sangat elementer.

Pak Tong Tong, bos dan dirigen SSO, perlu memberikan edukasi yang lebih serius lagi sebelum Surabaya benar-benar dicoret dari daftar kota-kota di Asia yang layak dijadikan tempat pergelaran musik klasik.

Kembali ke Konser Kemerdekaan 2001. Kali ini Pak Tong tidak tampil sendiri. Guru musik senior ini mempercayakan Alvine Kurniawan dan Daniel Chandra, dua anak muda Surabaya, menjadi dirigen (konduktor) pendamping. Sebuah langkah regenerasi yang patut dihargai. Bisa dibayangkan masa depan SSO jika Pak Tong memutuskan untuk gantung baton. Jujur, di Surabaya belum ada pemusik klasik yang punya kapasitas selengkap Solomon Tong.

Konser diawali paduan suara anak-anak diiringi ensembel gesek siswa SSO. Kor bocah-bocah ini membawakan lagu TANAH AIRKU karya Ibu Sud dan INDONESIA PUSAKA (Ismail Marzuki). Sajian ini semacam ‘pemanasan’ sebelum menu utama. Setelah itu SSO bersama paduan suara membawakan INDONESIA RAYA disusul PADAMU NEGERI.

Salah satu komposisi patriotik andalan SSO malam itu adalah NYIUR HIJAU. Lagu nasional karya Raden Maladi itu dibuat orkestrasinya oleh Jazeed Djamin (sekarang almarhum). Score asli diserahkan Pak Jazeed kepada Pak Tong untuk dimainkan SSO kapan saja.

Pak Tong mempercayakan Alivine Kurniawan Suryantara, kelahiran Surabaya, 3 November 1982, untuk memimpin orkes simfoni lengkap itu.

Jazeed Djamin memang komponis luar biasa. Lagu NYIUR HIJAU, yang selama ini hanya kita kenal sebagai lagu anak sekolah, terasa begitu kaya dan berkelas ketika disusun untuk orkes simfoni. Variasinya banyak dan kaya. Tidak kalah dengan karya komponis-komponis hebat dunia.

Setelah Alvine Kurniawan, giliran Daniel Chandra ditugaskan Pak Tong untuk memimpin lima komposisi karya Ismail Marzuki secara medley: INDONESIA PUSAKA, HALO-HALO BANDUNG, SEPASANG MATA BOLA, JUWITA MALAM, MELATI DI TAPAL BATAS. Orkestrasi dan aransemen paduan suara disusun Pak Siswanto, pemain fagot SSO asal Jogjakarta.

“Lagu-lagu Ismail Marzuki itu melankolis, patriotik, dan menyulut semangat juang bangsa Indonesia,” kata Siswanto.

Konser SSO, seperti biasa, ibarat perjamuan makan malam dengan menu prasmanan. Begitu banyak corak dan gaya yang dijejalkan di satu konser. Maka, setelah nuansa perjuangan yang heroik, Pak Tong membawa orkesnya ke nomor-nomor opera Eropa, komposisi Tiongkok, concerto piano, serta paduan suara gerejawi.

Kali ini Lee I-Heung, pianis asal New York, USA, yang berdarah Tionghoa, memainkan karya Saint Saens, Piano Concerto in G Minor Opus 22. Komposisi sulit yang belum akrab di telinga penggemar musik di Kota Surabaya. Tapi Nona Lee mampu menghadirkan komposisi dalam tiga gerakan ini dengan asyik. Tak terasa, sekitar 32 menit penonton dibawa berkelana ke mana-mana oleh permainan pianis kelas dunia ini.

Tidak mudah bagi penonton di Indonesia menjaga konsentrasi selama setengah jam lebih untuk menikmati konserto piano bersama orkes simfoni. Syukurlah, sebagian penonton bertahan sampai pertunjukan selesai.

“Miss Lee, selamat, permainan Anda sangat mengesankan,” kata saya seraya menjabat tangan Lee I-Heung. Sang pianis kurus ini pun tersenyum lebar. Maka, dia pun senang diajak bicara singkat tentang perjalanan ke Surabaya hingga kegiatan-kegiatannya di Amerika Serikat.








1 comment:

  1. Bapak Lambertus Hurek Yth.,

    Saya senang musik klasik dan membaca tulisan Pak Hurek tentang setiap pegelaran Surabaya Symphony Orchestra. Mengapa belum ada liputan mengenai pegelaran SSO untuk November 2011?
    Saya juga membaca tulisan Pak Hurek yang lainnya.

    Sekian dan terimakasih.

    Hormat saya,


    Efendi

    Tasikmalaya.
    laytjanpen@hotmail.com

    ReplyDelete