02 August 2011

Insya Allah dan Insya Tuhan




Sudah lama saya mencermati ungkapan INSYAALLAH yang sangat sering digunakan baik dalam bahasa tutur maupun tulis. Ungkapan ini dipakai karena si penutur tak ingin ‘melangkahi’ kehendak Tuhan.

“Kalau Allah menghendaki, saya datang,” begitu kira-kira maksudnya.

Bahkan, saya perhatikan, saat dilantik sebagai presiden Republik Indonesia, Jenderal Soeharto selalu pakai ungkapan ini: INSYAALLAH.

“Apakah Saudara Soeharto siap dilantik sebagai presiden Republik Indonesia?” tanya ketua Mahkamah Agung.

“Insyaallah!” jawab Soeharto.

Meskipun tentara sejati, jenderal tulen, Pak Harto tidak bilang SIAP, YA, LAKSANAKAN, dan sejenisnya. Di Jawa Timur, INSYAALLAH ini bisa kita dengar dalam percakapan mulai dari warung-warung kopi, restoran, hotel bintang lima, kantor media, hingga televisi.

Pertanyaannya, bagaimana penulisan INSYAALLAH yang benar menurut ejaan standar bahasa Indonesia? Ada beberapa versi:

Insyaallah (dirangkai)
InsyaAllah (dirangkai, Allah pakai A besar)
Insya Allah (paling banyak dipakai di Indonesia saat ini)
Insyallah (biasa dipakai politisi Partai Keadilan Sejahtera)


Kemarin, saya membaca lima koran dan satu tabloid hiburan. Saya menemui banyak ungkapan INSYAALLAH, maklum bulan RAMADAN (bukan RAMADHAN, bukan RAMADLAN, bukan RAMADHON, bukan RAMADLON, bukan ROMADLON, bukan ROMADHLON....).

Di majalah dan surat kabar di Indonesia, cara menulis INSYAALLAH memang berbeda-beda satu sama lain. Bahkan, di surat kabar yang sama penulisan INSYAALLAH berbeda di halaman 1, halaman 4, halaman 10, dan seterusnya. Apalagi bila surat kabar itu tidak punya copy editor atau penyunting bahasa yang berkualitas.

Mana yang standar?

Frase serapan bahasa Arab ini sebetulnya sudah dibahas JS Badudu, ahli bahasa Indonesia, pada tahun 1980-an. Tapi, seperti biasa, orang Indonesia sangat mudah lupa. Ingatan orang Indonesia memang pendek. Bahkan, terlalu banyak orang Indonesia yang kurang memperhatikan tata bahasa, morfologi, sintaksis, hingga ejaan standar.

Termasuk orang-orang yang seharusnya menjadi panutan macam guru, dosen, profesor, peneliti. Janganlah ditiru gaya bahasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memang sangat suka bersolek dengan ungkapan-ungkapan bahasa Inggris yang sudah ada padanan dalam bahasa Indonesia.

Nah, saya sendiri ingat betul uraian Jus Badudu meskipun buku lama terbitan Alumni Bandung milik saya itu sudah lama hilang. Menurut Pak Badudu, interjeksi serapan dari bahasa Arab itu HARUS ditulis serangkai. Tidak dipisahkan. Dan itu tak hanya berlaku untuk INSYAALLAH, tapi juga interjeksi-interjeksi sejenis.

Beginilah penulisan yang benar itu:

insyaallah BUKAN insya Allah BUKAN insyaAllah.


(Jika dipakai di awal kalimat, tentu saja ditulis dengan I besar, misalnya: “Insyaallah, Indonesia ikut Piala Dunia!”

masyaallah BUKAN masya Allah
subhahanallah BUKAN subhahana Allah
alhamdulillah BUKAN alhamduli Allah



Sering saya mendengar ungkapan menggelikan dari beberapa mahasiswa dan aktivis gereja, khususnya Gereja Katolik, di Surabaya. Hanya karena mencoba menghindari kata ALLAH (di Malaysia bisa diproses hukum, karena kata ALLAH tak boleh digunakan warga non-Islam!), maka beberapa dari mereka menggunakan ungkapan INSYA TUHAN. Hehehe....

Sejak kapan ada ungkapan INSYA TUHAN?

Hehehe.... Ada-ada saja!

Saya pernah menjelaskan secara panjang lebar kepada Anggraeni, mahasiswi Universitas Bhayangkara Surabaya, yang beragama Katolik. Cewek yang tinggal di Sidoarjo ini selalu menggunakan ungkapan INSYA TUHAN dalam kalimat tuturnya meskipun, saya tahu, ada nuansa guyon atawa informal khas remaja.

“Dalam bahasa Indonesia kita tidak kenal istilah INSYA TUHAN. Yang benar hanya INSYAALLAH. Dan ungkapan itu boleh dipakai semua orang Indonesia, apa pun agamanya,” kata saya menirukan penjelasan Pak Badudu, pakar bahasa yang saya kagumi itu.

“Lantas, bagaimana ucapan INSYAALLAH yang benar?”

“Harus mengikuti logat Arab karena INSYAALLAH ini termasuk serapan utuh.”

Mudah-mudahan Anggareni dan kawan-kawan tidak membuat pelesetan yang tidak perlu seperti MASYA TUHAN.

10 comments:

  1. Satu kupasan yang sangat baik dengan tingkat nilai ilmu yang bukan sembarangan.Namun pada hemat saya, perkataan INSYAALLAH bukan kata pinjaman biasa.Malah maksud perkataan ini juga sepatutnya disertai dengan satu denotasi dan bukan konotasi.

    Mungkin ini akan seperti tidak enak dibaca tetapi hakikatnya, INSYAALLAH seharusnya biarlah hanya disebutkan oleh umat ISLAM yang mana sangat jelas bahawa Tuhan bagi umat ISLAM ialah ALLAH bermaksud SATU atau ESA.Lagi pula sejarah membuktikan bahawa naskah al-Quran yang asli memang dalam bahasa ARAB. Tidak seperti kitab lain yang berbahasa Hebrew atau Ibrani.Tidak kira penganut ISLAM di China, Parsi atau di mana-mana ceruk dunia ini, mereka menggunakan ALLAH sebagai Tuhan mereka dan tidak menggunakan istilah lain.

    Jadi saya sangat bersetuju dengan penulis bahawa INSYA TUHAN itu kedengarannya tidak tepat untuk diseiringkan dengan denotasi INSYAALLAH yang bermaksud 'dengan izin Allah SWT'.GOD is not ALLAH but ALLAH is GOD.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebelum ada agama Islam, sudah ada orang Arab yang beragama Nasrani, selama 500 tahun lebih. Dan sudah ada orang Yahudi di tanah Arab. Selama setengah milenium lebih itu, umat Nasrani di Tanah Arab sudah menyebut Tuhan dengan Allah, jauh sebelum Muhammad mendirikan institusi agama Islam. Jadi umat Islam lah yang meminjam dan mengadopsi kata Allah, bukan sebaliknya. Janganlah membalik-balik dan mengklaim eksklusivitas. Ini Indonesia bukan Malaysia.

      Kata Insyaallah atau Astaghfirullah biarlah digunakan oleh mereka yang mampu berbahasa Arab (!) atau mampu mengucapkannya dengan baik karena kata atau penggalan kalimat tersebut sudah diserap sebagai ungkapan lazim dalam Bahasa kita. Baik yang beragama Islam, Nasrani, ataupun tidak. Umat Islam di Indonesia tidaklah mudah tersinggung secara bodoh seperti di Malaysia.

      Delete
  2. Bila interjeksi atau ujaran atau frasa atau kata "Insya Tuhan" TIDAK ADA maka marilah kita ciptakan dan biasakan menggunakan dia. Bukankah kata dan bahasa memiliki sejarahnya tersendiri sebelum itu menjadi populer, familiar dan membudaya? Jadi, ciptakanlah dan biasakan menggunakan kata 'Insya Tuhan' itu maka kata itu akan membudaya kelak.

    Selamat berkreasi

    Yandry MN

    ReplyDelete
  3. menarik ulasannya Om, Insyaallah sy tidak keliru lagi menuliskannya --sejak dulu sih sy nulisnya juga seperti itu-- :)



    Salam!

    ReplyDelete
  4. hehe... ada dua wawasan berharga yang saya dapat dari postingan ini, pertama cara penulisan Insyaallah yang benar menurut pakar bahasa, dan kenyataan ternyata ada ungkapan Insya tuhan di kalangan aktivis gereja hehe...

    ReplyDelete
  5. astagfirullah... selama ini salah donk...
    kadang bener, kadang salah nulisnya..
    makasih infonya ya admin :)

    ReplyDelete
  6. terima kasih sudah berbagi ilmu

    ReplyDelete