04 August 2011

IJ Kasimo Katolik Nasionalis




Oleh HARRY TJAN SILALAHI
Sekjen Partai Katolik Republik Indonesia (1964-1971)

Sebagai orang yang secara pribadi mengenal Ignatius Joseph Kasimo (1900-1986), seorang pendiri dan pemimpin Partai Katolik Republik Indonesia, saya sering bertanya kenapa ia belum mendapat gelar pahlawan nasional secara formal. Padahal, dalam kenyataannya pengakuan itu sudah diberikan oleh masyarakat yang mengakui bobot perjuangan dan ketokohannya.

Bagi Kasimo, gelar itu pasti tidak penting, karena ia memang seorang pekerja tanpa pamrih. Tetapi pertanyaan itu muncul terkait dengan tema pluralisme bangsa yang menjadi wacana aktual dibicarakan sekarang. Kasimo adalah salah satu sosok pejuang kemerdekaan dan politis dari golongan Katolik yang sangat menjunjung tinggi pluralisme bangsa.

Di parlemen, Kasimo bisa berseberangan pendapat dengan Nasir dan kawan-kawan dari Masyumi, tetapi dalam keseharian hidup sebagai pribadi sesama anak bangsa, mereka amat dekat dan akrab. Keduanya mengaku amat diperkaya dengan sikap politik dan demokratis lewat peran dan interaksi di parlemen.

Di samping itu, sejumlah tokoh beragama Katolik yang mendapat gelar pahlawan nasional, seperti Ignatius Slamet Rijadi, Jos Soedarso, Agustinus Adisucipto muncul dari kalangan militer. Dan Mgr Soegijapranata SJ adalah anggota hirarki Gereja Katolik. Sebaliknya, tokoh politik dan masyarakat awam Katolik belum ada yang mendapat gelar pahlawan nasional.

PERJUANGAN KEMERDEKAAN

Kasimo adalah salah satu sosok yang memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan dan nation building Indonesia. Sejumlah fakta dapat dikemukakan mengapa IJ Kasimo pantas mendapat gelar pahlawan nasional.

Pertama, Kasimo telah memimpin umat Katolik di Nusantara ini untuk menjadi bangsa Indonesia yang merdeka. Setelah kemerdekaan, ia membina secara sosial politik kesadaran akan nasionalisme dan patriotisme Indonesia. Kasimolah pemberi ‘tenaga keindonesiaan’ bagi umat Katolik di Nusantara ini.

Sikap nasionalisme dan patriotisme itu telah ditanamkan benih-benihnya oleh para pendidiknya kepada Kasimo dan kawan-kawan sebaya semasa di sekolah di tempat Ndoro Toewan Pastor Van Lith, Pater Rijkevorsel, dan para guru lain di Kolese Xaverius di Muntilan.

Kalau KH Hasyim Ashary menganjurkan Jihad Fisabilillah dengan allahuakbar-nya melawan penjajahan Belanda pada 10 November 1945, maka Kasimo praktis menyerukan kepada orang Katolik (di) Indonesia untuk mendukung Proklamasi Republik Indonesia dan turut serta dalam ber-revolusi.

Kedua, Kasimo dalam memimpin perjuangan politik melalui Partai Katolik Republik Indonesia tidak menampilkan sikap sektarianisme Katolik, melainkan berdasar platform kebangsaan, yaitu Pancasila. Partai Katolik tidak menjadi partai konvensional, melainkan mendasarkan atas ajaran dan moralitas (Katolik). Bahkan, sejak awal kekatolikan Kasimo di dalam masalah-masalah sosial politik sungguh progresif revolusioner dan tidak konservatif.

Ketiga, kehadiran kepemimpinan Kasimo secara aktif di dalam revolusi kemerdekaan Indonesia sungguh turut ‘menguntungkan’ RI Merdeka di mata internasional meskipun umat Katolik di Indonesia kurang dari 2,5 persen dari jumlah penduduk pada waktu itu. keterlibatan Kasimo itu turut membentuk nasion Indonesia yang majemuk, multikultural-bhinneka tunggal ika, berdasarkan Pancasila. Faktor itu ditanggapi dan dimengerti oleh tokoh-tokoh nasional lain seperti Sutan Sjahrir, Bung Hatta, dan kemudian juga Bung Karno selama pembentukan nasion Indonesia. Pembentukan nasion itu dewasa ini kembali aktual.

Keempat, kedudukan Kasimo sebagai penjabat Komisariat Pemerintah Pusat di Djawa (KPPD) sehari-hari yang melakukan kerja sama yang sangat erat dengan Markas Komando di Jawa di bawah AH Nasution memiliki arti penting dalam penyelenggaraan pemerintahan selama presiden dan wakil presiden ditawan Belanda. Kedua tokoh itu banyak membuat keputusan-keputusan bersama sebagai legalitas formal dari pemerintah pusat RI di Jawa dalam masa gerilya Clash II dengan Belanda.

Sebagai pejuang kemerdekaan dan pengabdi masyarakat lewat sejumlah jabatan yang diembannya, selain jabatan dalam partai, Kasimo mencurahkan seluruh hidupnya. Dalam rangka totalitas melaksanakan tugas itu, ia rela berkorban dengan menomorduakan kepentingan keluarganya. Kasimo memang sepenuhnya hidup untuk partai dan perjuangan.

KESEDERHANAAN

Dalam keseharian hidup, Kasimo menunjukkan kesederhanaan dan sikap tanpa pamrih. Rekan-rekan yang sering bertandang ke rumahnya akan menjumpai bahwa selama 20 tahun mereka tetap disuguhi minum teh dengan cangkir yang sama. Menu makanan kesehariannya juga sederhana. Barangkali karena kesederhanaan itu, ia dianugerahi umur panjang.

Kesalehan pribadinya ditunjukkan tidak hanya dengan sikap doa dan ibadah, tetapi sikap yang terbuka dan selalu bersedia membantu orang lain dengan tulus hati. Kalau ia ditanya apakah benar ia telah membantu si A atau si B, maka jawaban standar dengan mengutip kata-kata dari Injil yang dikemukakan selalu: Kalau tangan kanan memberi, maka tangan kanan tidak boleh tahu.

Kesederhanaan juga ditunjukkan ketika para sahabatnya merayakan ulang tahunnya yang ke-80. Ia menyatakan bahwa ia tidak memberi kontribusi yang besar dan sebetulnya tidak layak dirayakan. Dalam undangan perayaan ditulis: “Resepsi sederhana.”

Kesederhanaannya juga ditunjukkan dengan jujur mengungkapkan salah satu vested interest-nya, yaitu “agar malam hari dapat tidur dengan nyenyak”. Kesederhanaannya menyebabkan Kasimo tahan terhadap godaan akan uang, jabatan, atau wanita. Sebagai pejabat negara, ia selalu menarik garis batas yang jelas antara mein und dein, milikku dan milikmu, termasuk milik negara dan masyarakat.

Meskipun dalam keseharian dan dalam acara resmi selalu berpenampilan gaya Jawa, tetapi dia tidak Java minded. Ia selalu berbahasa Indonesia dengan bersih, tanpa campur-campur bahasa Jawa. Demikian pula dalam berpolitik praktis, ia meskipun mengibarkan bendera Katolik, tapi kekatolikannya ditunjukkan dengan berpolitik ala Partai Katolik Demokrat di Eropa barat dan Amerika Latin.

Politik bagi Kasimo selalu memakai beginsel atau prinsip yang harus dipegang teguh. Kebijakan politik selalu ada dasar pemikiran yang melatarbelakangi sehingga setiap soal harus diajukan prealable vragen dulu. Oleh karena itu, sebagai politikus dari Partai Katolik yang berketuhanan, ia tidak mau berkompromi dengan Partai Komunis Indonesia. Menurut pengalaman di Eropa Timur, partai komunislah yang membunuh demokrasi karena memakai sistem totalier. Karena prinsip itulah, ia berani berseberangan dengan Bung Karno ketika dimunculkannya konsepsi presiden dengan Kabinet Empat Kaki Empat yang mengakomodasi partai komunis.

POLITISI BERKARAKTER

Kasimo teguh dalam prinsip, tetapi luwes dalam pergaulan dengan sesama anak bangsa. Dalam pergaulan ia lembah manah, rendah hati, dan bersemangat kekeluargaan. Ia tidak mau bombastis atau gegap gempita dalam pergaulan dengan mengorbankan perasaan orang lain secara pribadi. Benar-benar teladan seorang yang memegang teguh bhinneka tunggal ika atau yang sekarang disebut pluralisme atau keberagamaan.

Identitas kejawaan tidak menyebabkan ia sukuentris. Dari petarangan Katolik, tetapi bukan Katolik yang sempit atau fanatik, tetapi terbuka terhadap orang atau golongan lain. Apalagi bagi mereka yang memiliki tujuan dasar yang sama, yaitu mengabdi kepada bangsa dan negara ini. Baginya, demokrasi adalah harga mati. Demokrasi diartikannya sebagai tujuan, yaitu kedaulatan rakyat atau warga negara, juga proses yang telah disepakati bersama atau konsensus.

Karena demokrasi adalah proses, maka tidak ada tempat bagi politicking atau akal-akal politik yang menghalalkan cara untuk mencapai tujuan bagi diri sendiri maupun golongan. Berpolitik baginya adalah pengabdian sehingga menuntut pengorbanan. Pengorbanan itu telah diberikan Kasimo dengan rela hati sehingga tidak pernah menonjolkan jasa-jasa pribadinya kepada orang lain.

Sebagai seorang pluralitas sejati, Kasimo tidak alergi terhadap perbedaan, juga perbedaan ideologi yang bisa sangat tajam dalam parlemen atau konstituante. Bagi Kasimo, di negara bangsa Indonesia, semua orang tanpa kecuali harus merasa kerasan atau at home untuk tinggal di dalamnya. (*)

3 comments:

  1. Nice post!
    Ada sumber yg bisa dijadikan referensi? thanks :)

    ReplyDelete
  2. IJ Kasimo pahlawan berkarakter kuat

    ReplyDelete