19 August 2011

Gereja Tak Kunjung Selesai



Gereja Katolik di Mawa, Lembata, yang baru separo jalan meski mulai dibangun sekitar 20 tahun lalu.

Orang Indonesia kebanyakan, yang kategori rakyat jelata, sulit sekali cari uang Rp 1.000.000 sebulan. Kalau di Nusatenggara Timur, khususnya Flores, lebih susah lagi. Yah, NTT memang termasuk provinsi paling miskin di Indonesia meskipun ada sumber daya alam di laut yang sebetulnya bisa diekplorasi.

Lain lagi dengan Muhammad Nazaruddin yang baru ‘ditangkap’ di Kolombia itu. Si Nazar ini kayak pabrik uang saja. Dia bisa dengan mudah mencari uang Rp 10.000.000.000 per hari. Maka, ongkos pesawat Kolombia-Indonesia sebesar Rp 4.000.000.000 itu sebetulnya bisa dengan gampang dikembalikan si Nazar.

Selama bulan puasa ini saya beberapa kali masuk kampung-kampung di pedesaan Jawa Timur, khususnya Kabupaten Sidoarjo. Wilayah tambak yang tenang dan eksotik. Rumah-rumah sederhana dari bambu. Angin semilir. Tanaman-tanaman khas pedesaan yang bikin betah seperti di Kedungpandan, Jabon.

Yang selalu bikin saya terkesan, sesederhana apa pun rumah mereka, masjidnya pasti bagus-bagus. Lantainya mengilat. Temboknya halus. Dicat bagus. Tempat air wudu sangat elok. Masjid-masjid di kawasan tambak terpencil di Sidoarjo, juga daerah-daerah lain di Jawa Timur, memang tak kalah dengan masjid-masjid di kota-kota besar.

Saya kira sebuah rumah ibadah, rumah Tuhan, memang harus dibuat bagus, nyaman, untuk berdoa bersama. Karena itu, pemerintah daerah bersama penduduk setempat selalu berusaha keras agar masjid-masjidnya dibikin sebagus mungkin. Di Jawa, ada dermawan atau yayasan yang siap mengucurkan uang untuk pembangunan masjid.

Inilah yang tidak jalan di NTT, khususnya Flores Timur dan Lembata. Ketika saya pulang kampung awal 2011, saya sempat memantau gereja-gereja di pedesaan. Kecuali Gereja Atawatung di Kecamatan Ile Ape, kondisi gereja-gereja berkapasitas 500 sampai seribu jemaat itu sangat buruk. Nyaris tak ada bedanya dengan ketika saya masih sekolah dasar di kampung.

Gereja di Mawa, misalnya, yang sudah dibangun sejak 20 tahun lalu sampai sekarang belum selesai. Padahal, ukurannya kecil saja, hanya untuk 300-500 orang. Umat sedang bergotong-royong untuk menyelesaikan pembangunan gereja mungil itu. Dan bisa-bisa butuh 10 tahun lagi hingga benar-benar selesai.

Gereja di Ebak, sekitar delapan kilometer dari Mawa, pun belum bisa dikatakan selesai. Gereja Lewotolok lumayan. Gereja Riangbao saya lihat dari jalan belum bisa dikatakan layak sebagai rumah Tuhan. Gereja di Hadakewa lumayan karena termasuk ‘agak kota’.

Mengapa gereja-gereja di Flores, yang mayoritas Katolik itu, cenderung sangat buruk dan tak terurus? Jawabnya jelas: uang! Orang-orang kampung di Flores tak punya cukup uang untuk membeli bahan-bahan bangunan. Kalaupun harus urunan, perlu waktu bertahun-tahun sampai bangunan gerejanya tegak.

Syukurlah, orang Flores rata-rata tidak punya target waktu sampai kapan gereja harus kelar. Mengalir sajalah sampai dua tahun, lima tahun, 10 tahun... 20 tahun, dan seterusnya. Kalau generasi sekarang tidak bisa menyelesaikan, ya, tunggu generasi berikut.

Setiap kali melihat pembangunan mal, plaza, atau hotel mewah dan megah di Surabaya yang secepat kilat, tak sampai setahun sudah jadi, saya sering geleng-geleng kepala. Takjub! Pikiran saya langsung terbang ke kampung halaman di Flores, membayangkan gereja-gereja kecil yang dibangun sejak 10 atau 20 tahun lalu, tapi tidak kunjung tuntas.

Juga ketika melihat aksesoris, kemudian perangkat AC berbiaya miliaran rupiah di beberapa gereja di Surabaya, saya hanya bisa tercengang. Betapa tidak. Ada lukisan atau ikon-ikon rohani di dalam gereja di Surabaya yang harganya ratusan juta rupiah. Artinya, harga sebuah lukisan itu setara dengan membangun 10 gereja stasi di Flores.

Ada lagi yang lebih ‘gila’. Biaya untuk mendatangkan artis atau pendeta terkenal untuk khotbah di Surabaya ternyata jauh lebih mahal ketimbang biaya membangun lima atau tujuh gereja di pedalaman Flores. Ekstrem sekali memang.

Saya juga heran dengan pejabat-pejabat, khususnya bupati dan anggota DPRD di NTT. Perhatian untuk membangun atau merehabilitasi gereja-gereja di kampung benar-benar tidak ada. Hampir semua gereja-gereja, juga masjid-masjid, di Flores itu tidak mendapat bantuan dana sedikit pun dari pemerintah. Semuanya harus dibangun swadaya masyarakat yang daya belinya sangat parah.

Beda banget dengan di Jawa Timur. Perhatian pemerintah terhadap masjid-masjid sangat tinggi. Maka, tak ada masjid yang membutuhkan masa pembangunan hingga 10-20 tahun macam di Flores... dan belum juga rampung. Padahal, bupati dan beberapa anggota parlemen baik tingkat kabupaten maupun provinsi berasal dari kampung saya.

Aneh bin ajaib!

1 comment:

  1. Bung Hurek, mengapa tidak menghimbau Keuskupan Larantuka untuk membuka rekening untuk pembangunan Gereja Yang Tak Kunjung Selesai?

    ReplyDelete