05 August 2011

Felix Matarau - Pop Flores Timur



Kemajuan teknologi musik, komputerisasi, digitalisasi, membuat produksi musik saat ini jauh lebih muda ketimbang pada era 1980-an dan 1990-an. Juga lebih efisien. Siapa saja bisa bikin rekaman musik, klip video, dengan mudah. Rekaman bisa dilakukan di kamar rumah yang sempit.

Yang penting, Anda bisa main musik, menyanyi, syuting... maka semuanya beres. Nah, kemudahan ini juga dinikmati pemusik-pemusik lokal di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini. Ketika balik kampung beberapa waktu lalu, setelah cukup lama tinggal di Jawa Timur, saya kaget melihat begitu banyak CD/VCD lagu-lagu populer khas Flores.

Orang-orang Flores, dan NTT umumnya, seperti punya dunia sendiri. Selera musik mereka jauh berbeda dengan orang Jawa atau penduduk kota-kota besar di Indonesia. Kalau remaja-remaja di Surabaya, Jakarta, Bandung, Jogja, Semarang... gandrung band-band populer di televisi, senang RBT, orang-orang NTT masih seperti yang dulu: lebih suka lagu-lagu pop daerah.

Artis-artis pop daerah NTT begitu banyak. Dan sulit didata karena mereka rata-rata artis amatiran. Pekerjaan utama di kantor pemerintah, malamnya main gitar, nyanyi, menghibur orang. Guru-guru sekolah dasar di kampung kami di NTT banyak yang jadi komposer musik. Jangan lupa, hampir semua lagu liturgi populer di Gereja Katolik Indonesia yang versi Flores justru dikarang guru-guru sederhana di kampung.

Tiba di Kupang, ibukota Provinsi NTT, saya langsung terpikat oleh irama dolo-dolo yang rancak. Irama tarian khas etnis Lamaholot di Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata, kampung asal yang sederhana itu. kualitas rekamannya jauh lebih bagus daripada kaset-kaset lama era 1980-an dan 1990-an seperti album MAUMERE MANISE atau NONA METAN ALEN BELARA.

“Gila! Industri musik pop di NTT sudah maju banget,” kata saya dalam hati. Saya pun mengecek siapa gerangan penyanyi yang mengangkat irama dolo-dolo itu.

Ehm, ternyata artis lewotana itu tak lain FELIX MATARAU. Suaranya lantang, aransemen musiknya dibuat dinamis, meskipun syair lagu berbahasa Lamaholot itu penuh dengan cerita duka, kesedihan, cina ditolak calon mertua, tak mampu bayar belis gading, hingga penderitaan yang luar biasa karena kemiskinan struktural khas Flores.

Saya paling suka lagu NONA MASIH KECIL 3. Oh ya, lagu NONA MASIH KECIL yang menjadi pengiring tarian dolo-dolo itu memang sukses besar, sehingga Felix Matarau merasa perlu membuat NONA MASIH KECIL seri 4, 5, bahkan bisa 10.

Maklum, melodi, irama, dan syair dolo-dolo ini bisa dikembangkan dalam berbagai versi sesuai keinginan penyanyi. Sejak dulu dolo-dolo memang memberi peluang yang besar kepada orang-orang kampung untuk menyusun syair sesuai suasana hati, situasi, dan kondisi. Yang pasti, irama dolo-dolo ini membuat orang-orang Lamaholot di perantauan macam saya selalu punya kerinduan pada kampung halaman.

TEGA NONA MASIH KECIL
TATA GANTO CINTA
SAMPE, SAMPE, SAMPE NONA BESAR

KALAU NONA SUDAH BESAR
TATA BAWA CINTA
SAMPE, SAMPE, SAMBO DAGING DARAH

Syukurlah, rekaman musik pop daerah NTT macam FELIX MATARAU dan ARY DIAZ saat ini bisa dijangkau dengan mudah melalui internet, khususnya youtube. Teman-teman dari NTT, atau dari luar NTT yang ingin mengenal irama khas pedalaman Flores, cukup duduk manis, ngopi, dan berselancar di internet.

Ehm, saya senang melihat cara Ary Diaz, gadis manis khas Lamaholot, menari dolo-dolo sambil menyanyi dengan suaranya yang serak-serak basah:

ONEM PIA DI PASTI RELA
MARIN SAJA O GO TATA E
AKE KURAN AKE PERNOHIN ONEM

BIAR MOE MITEN BELE
GOE PIA DI PEDULI HALA
ASAL TATA MO PIARA GOE

Kuplet terakhir itu artinya begini:

BIAR KULITMU HITAM LEGAM
ADIK TAK ‘KAN PEDULI
ASAL ABANG MAU MERAWAT SAYA

Syair yang bagus untuk kaum laki-laki berkulit gelap macam awak inilah. Hehehe....

1 comment:

  1. Boss, msh ada lagu barunya? Saya senang sekali..!

    ReplyDelete