28 August 2011

Abdul Taufiq, Kajati Jawa Timur




Oleh LAMBERTUS HUREK

Meski hanya bertugas di Jatim selama tujuh bulan, Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur Abdul Taufiq berhasil mewujudkan klinik khusus untuk penderita gangguan jiwa (down syndrome) di Desa Paringan, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo. Klinik ini bakal diresmikan Taufiq pada 10 September 2011.

ORANG nomor satu di korps adhyaksa Jawa Timur ini memang dikenal gerak cepat dan tak banyak bicara. Dia ingin berbuat sesuatu yang konkret, bermanfaat, dan berkelanjutan. Karena itu, ketika diundang oleh para pengusaha Tionghoa Surabaya dalam acara perkenalannya sebagai kajati, Abdul Taufiq pun menyinggung informasi seputar ‘kampung idiot’ dan ‘kampung gila’ di Kabupaten Ponorogo yang memang sedang ramai diberitakan di media massa.

Sebagai putra kelahiran Jawa Timur, Abdul Taufiq merasa terenyuh dan tak tega melihat kondisi kejiwaan sejumlah saudara-saudari kita di Jenangan, Jambon, dan beberapa kawasan lain di Ponorogo yang kurang manusiawi itu. Harus ada action, tindak konkret, untuk mengatasi persoalan kesehatan dan kemanusiaan itu.

“Saya bilang kepada para pengusaha itu, kalau kita hanya adakan bakti sosial, membagi sembako, dimakan sebentar saja langsung habis. Saya ingin sesuatu yang bermanfaat dan berkelanjutan,” ujar Abdul Taufiq kepada Radar Surabaya di ruang kerjanya, Jumat (26/8/2011).

Setelah meminta informasi dari Kejari Ponorogo dan sumber-sumber dari instansi lain, dia akhirnya tahu bahwa selama ini warga yang mengalami down syndrome (DS) alias idiot itu selama ini kesulitan menjangkau rumah sakit untuk berobat.

Jarak perkampungan mereka dengan kota cukup jauh. Sehingga, dirasa perlu ada sebuah klinik atau balai pengobatan mini untuk menangani kasus DS yang cukup marak di Ponorogo itu. Beberapa instansi terkait seperti Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan pun merespons positif.

Nah, gagasan Kajati Abdul Taufiq ini kemudian di-sounding ke para pengusaha yang tergabung dalam Yayasan Bhakti Persatuan, Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya, dan Perhimpunan Pengusaha Indonesia Tionghoa (Perpit). Gayung pun bersambut. Para pengusaha yang dikoordinasi Ridwan S Harjono dan Liem Ouyen pun sepakat mewujudkan sebuah klinik khusus di Ponorogo.

Akhirnya, pada 16 April 2011 Kajati Abdul Taufiq memimpin langsung acara peletakan batu pertama klinik atau pusat rehabilitasi di Desa Paringan, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo. “Jadi, saya sebagai inisiatornya, tapi bukan donaturnya,” ujar Abdul Taufiq seraya tersenyum.

“Saya memberikan support agar pembangunannya lancar dan bisa segera digunakan,” tambahnya.

Gerak cepat Abdul Taufiq ternyata diikuti para pengusaha Tionghoa. Bangunan itu sudah kelar dan siap diresmikan. Tapi tiba-tiba muncul kabar bahwa Abdul Taufiq akan segera dipromosikan ke Kejaksaan Agung setelah Lebaran.
Tepatnya, pada 7 September 2011 Abdul Taufiq akan dilantik sebagai sekretaris jaksa agung muda intelijen.

“Saya akan ke Jakarta, tapi insyaallah tanggal 10 September saya akan meresmikan bangunan itu,” ujarnya.

Ayah tiga anak ini juga sudah melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk operasional klinik jiwa itu pascaperesmian. Fasilitas perabotan, misalnya, akan disediakan pihak kesra. Perlengkapan medis oleh dinas kesehatan provinsi. Pengelolaan selanjutnya ditangani Pemkab Ponorogo.

“Tenaga medisnya dari dinkes bekerja, kemudian tenaga psikiater dari RSUD dr Soetomo dan RS Jiwa Lawang,” tegasnya.

Dalam beberapa kesempatan Abdul Taufiq mengatakan, sebagai penegak hukum dan warga negara Indonesia, pihaknya tidak boleh hanya berkutat pada tugas rutin yang digariskan dalam undang-undang, tapi perlu melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Kalau dekat dengan masyarakat, insyaallah, kita akan banyak mendapat informasi dan menyerap rasa keadilan masyarakat,” pungkasnya. (*)


CV SINGKAT

Nama : Abdul Taufiq SH
Lahir : Tuban, 29 Mei 1953
Agama : Islam
Anak : 3 orang
Hobi : Tenis
Pendidikan terakhir : Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang

Jabatan :
Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur (sekarang)
Sekretaris JAM Intelinjen Kejaksaan Agung (per 7 September 2011)



Promosi ke Gedung Bundar

HANYA dalam tempo enam bulan menjadi kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Abdul Taufiq berhasil membawa Kejati Jatim meraih Sida Karya Adhyaksa. Ini merupakan penghargaan tertinggi untuk kejaksaan terbaik di seluruh Indonesia.

Beberapa saat kemudian Abdul Taufiq pun dipromosikan menjadi pejabat di Gedung Bundar, Kejaksaan Agung (Kejagung). Taufiq setelah Lebaran nanti akan digantikan Palti Simanjuntak, yang sebelumnya menjabat inspektur V pengawasan Kejagung.

Pria yang hobi main tenis ini bakal menempati posisi baru sebagai sekretaris jaksa agung muda intelejen Kejagung. Pria kelahiran Kauman, Tuban, ini mengaku legawa mendapat penugasan baru oleh pimpinannya. Karena itu, dia menyatakan siap mengabdi di jabatan baru di Gedung Bundar, Jakarta.

“Sebagai abdi negara, saya merasa bersyukur atas kepercaaan pimpinan sehingga diberi jabatan sesjamintel,” kata Abdul Taufiq kepada Radar Surabaya di ruang kerjanya.

Sebagai sekretaris jamintel, eselonnya sama dengan kajati. Hanya saja, skop tugas yang harus diemban sangat luas karena wilayahnya tersebar di seluruh tanah air. Beda dengan kajati yang ‘hanya’ bertanggung jawab atas penegakan hukum di wilayah provinsi. Dari segi penempatan pun posisi sekretaris jamintel boleh dikata di ‘atas’ kajati. Sebab, tidak ada sekretaris jamintel yang jadi kajati, tapi kajati yang naik jadi sekretaris jamintel.

Di bawah komando Abdul Taufiq, Kejati Jatim sedang mengejar sejumlah kasus korupsi yang diduga melibatkan pejabat-pejabat daerah. Di antaranya, dugaan korupsi tanah di Pemkab Jember, dugaan korupsi keuangan di Pemkab Mojokerto, dugaan korupsi SPBU di Madiun, dugaan korupsi proyek di Pemkab Nganjuk, dugaan korupsi Tol Juanda Surabaya, dan PSSI Jatim.

Apakah masa tugasnya sebagai kajati Jatim yang hanya enam bulan terlalu singkat?

Sebagai abdi negara, menurut Abdul Taufiq, tidak ada istilah ‘lama’ atau ‘singkat’ dalam mengemban suatu jabatan. Sebab, pimpinannya di lingkungan korps adhyaksa tentu sudah memikirkan yang terbaik demi kepentingan kejaksaan secara keseluruhan.
“Saya siap ditempatkan di mana saja,” tegasnya. (rek)

Dimuat RADAR SURABAYA edisi Minggu 28 Agustus 2011

1 comment:

  1. selamat dan sukses di gedung bundar...

    ReplyDelete