28 August 2011

Abdul Taufiq, Kajati Jawa Timur




Oleh LAMBERTUS HUREK

Meski hanya bertugas di Jatim selama tujuh bulan, Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur Abdul Taufiq berhasil mewujudkan klinik khusus untuk penderita gangguan jiwa (down syndrome) di Desa Paringan, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo. Klinik ini bakal diresmikan Taufiq pada 10 September 2011.

ORANG nomor satu di korps adhyaksa Jawa Timur ini memang dikenal gerak cepat dan tak banyak bicara. Dia ingin berbuat sesuatu yang konkret, bermanfaat, dan berkelanjutan. Karena itu, ketika diundang oleh para pengusaha Tionghoa Surabaya dalam acara perkenalannya sebagai kajati, Abdul Taufiq pun menyinggung informasi seputar ‘kampung idiot’ dan ‘kampung gila’ di Kabupaten Ponorogo yang memang sedang ramai diberitakan di media massa.

Sebagai putra kelahiran Jawa Timur, Abdul Taufiq merasa terenyuh dan tak tega melihat kondisi kejiwaan sejumlah saudara-saudari kita di Jenangan, Jambon, dan beberapa kawasan lain di Ponorogo yang kurang manusiawi itu. Harus ada action, tindak konkret, untuk mengatasi persoalan kesehatan dan kemanusiaan itu.

“Saya bilang kepada para pengusaha itu, kalau kita hanya adakan bakti sosial, membagi sembako, dimakan sebentar saja langsung habis. Saya ingin sesuatu yang bermanfaat dan berkelanjutan,” ujar Abdul Taufiq kepada Radar Surabaya di ruang kerjanya, Jumat (26/8/2011).

Setelah meminta informasi dari Kejari Ponorogo dan sumber-sumber dari instansi lain, dia akhirnya tahu bahwa selama ini warga yang mengalami down syndrome (DS) alias idiot itu selama ini kesulitan menjangkau rumah sakit untuk berobat.

Jarak perkampungan mereka dengan kota cukup jauh. Sehingga, dirasa perlu ada sebuah klinik atau balai pengobatan mini untuk menangani kasus DS yang cukup marak di Ponorogo itu. Beberapa instansi terkait seperti Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan pun merespons positif.

Nah, gagasan Kajati Abdul Taufiq ini kemudian di-sounding ke para pengusaha yang tergabung dalam Yayasan Bhakti Persatuan, Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya, dan Perhimpunan Pengusaha Indonesia Tionghoa (Perpit). Gayung pun bersambut. Para pengusaha yang dikoordinasi Ridwan S Harjono dan Liem Ouyen pun sepakat mewujudkan sebuah klinik khusus di Ponorogo.

Akhirnya, pada 16 April 2011 Kajati Abdul Taufiq memimpin langsung acara peletakan batu pertama klinik atau pusat rehabilitasi di Desa Paringan, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo. “Jadi, saya sebagai inisiatornya, tapi bukan donaturnya,” ujar Abdul Taufiq seraya tersenyum.

“Saya memberikan support agar pembangunannya lancar dan bisa segera digunakan,” tambahnya.

Gerak cepat Abdul Taufiq ternyata diikuti para pengusaha Tionghoa. Bangunan itu sudah kelar dan siap diresmikan. Tapi tiba-tiba muncul kabar bahwa Abdul Taufiq akan segera dipromosikan ke Kejaksaan Agung setelah Lebaran.
Tepatnya, pada 7 September 2011 Abdul Taufiq akan dilantik sebagai sekretaris jaksa agung muda intelijen.

“Saya akan ke Jakarta, tapi insyaallah tanggal 10 September saya akan meresmikan bangunan itu,” ujarnya.

Ayah tiga anak ini juga sudah melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk operasional klinik jiwa itu pascaperesmian. Fasilitas perabotan, misalnya, akan disediakan pihak kesra. Perlengkapan medis oleh dinas kesehatan provinsi. Pengelolaan selanjutnya ditangani Pemkab Ponorogo.

“Tenaga medisnya dari dinkes bekerja, kemudian tenaga psikiater dari RSUD dr Soetomo dan RS Jiwa Lawang,” tegasnya.

Dalam beberapa kesempatan Abdul Taufiq mengatakan, sebagai penegak hukum dan warga negara Indonesia, pihaknya tidak boleh hanya berkutat pada tugas rutin yang digariskan dalam undang-undang, tapi perlu melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Kalau dekat dengan masyarakat, insyaallah, kita akan banyak mendapat informasi dan menyerap rasa keadilan masyarakat,” pungkasnya. (*)


CV SINGKAT

Nama : Abdul Taufiq SH
Lahir : Tuban, 29 Mei 1953
Agama : Islam
Anak : 3 orang
Hobi : Tenis
Pendidikan terakhir : Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang

Jabatan :
Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur (sekarang)
Sekretaris JAM Intelinjen Kejaksaan Agung (per 7 September 2011)



Promosi ke Gedung Bundar

HANYA dalam tempo enam bulan menjadi kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Abdul Taufiq berhasil membawa Kejati Jatim meraih Sida Karya Adhyaksa. Ini merupakan penghargaan tertinggi untuk kejaksaan terbaik di seluruh Indonesia.

Beberapa saat kemudian Abdul Taufiq pun dipromosikan menjadi pejabat di Gedung Bundar, Kejaksaan Agung (Kejagung). Taufiq setelah Lebaran nanti akan digantikan Palti Simanjuntak, yang sebelumnya menjabat inspektur V pengawasan Kejagung.

Pria yang hobi main tenis ini bakal menempati posisi baru sebagai sekretaris jaksa agung muda intelejen Kejagung. Pria kelahiran Kauman, Tuban, ini mengaku legawa mendapat penugasan baru oleh pimpinannya. Karena itu, dia menyatakan siap mengabdi di jabatan baru di Gedung Bundar, Jakarta.

“Sebagai abdi negara, saya merasa bersyukur atas kepercaaan pimpinan sehingga diberi jabatan sesjamintel,” kata Abdul Taufiq kepada Radar Surabaya di ruang kerjanya.

Sebagai sekretaris jamintel, eselonnya sama dengan kajati. Hanya saja, skop tugas yang harus diemban sangat luas karena wilayahnya tersebar di seluruh tanah air. Beda dengan kajati yang ‘hanya’ bertanggung jawab atas penegakan hukum di wilayah provinsi. Dari segi penempatan pun posisi sekretaris jamintel boleh dikata di ‘atas’ kajati. Sebab, tidak ada sekretaris jamintel yang jadi kajati, tapi kajati yang naik jadi sekretaris jamintel.

Di bawah komando Abdul Taufiq, Kejati Jatim sedang mengejar sejumlah kasus korupsi yang diduga melibatkan pejabat-pejabat daerah. Di antaranya, dugaan korupsi tanah di Pemkab Jember, dugaan korupsi keuangan di Pemkab Mojokerto, dugaan korupsi SPBU di Madiun, dugaan korupsi proyek di Pemkab Nganjuk, dugaan korupsi Tol Juanda Surabaya, dan PSSI Jatim.

Apakah masa tugasnya sebagai kajati Jatim yang hanya enam bulan terlalu singkat?

Sebagai abdi negara, menurut Abdul Taufiq, tidak ada istilah ‘lama’ atau ‘singkat’ dalam mengemban suatu jabatan. Sebab, pimpinannya di lingkungan korps adhyaksa tentu sudah memikirkan yang terbaik demi kepentingan kejaksaan secara keseluruhan.
“Saya siap ditempatkan di mana saja,” tegasnya. (rek)

Dimuat RADAR SURABAYA edisi Minggu 28 Agustus 2011

25 August 2011

Pastor Eko Budi Susilo Gelar Buka Puasa Bersama

Uskup Surabaya Mgr Sutikno Wisaksono, Ibu Shinta Abdurrahman Wahid, dan Romo Eko Budi Susilo saat buka puasa bersama di halaman Gereja Katedral Surabaya.


Seperti tahun-tahun sebelumnya, di bulan Ramadan ini Romo Eko Budi Susilo (50) ikut sibuk mengurus sahur keliling dan buka puasa bersama. Pastor Katolik yang memimpin Gereja Hati Kudus Yesus (Katedral) Surabaya itu memang dipercaya sebagai salah satu koordinator ‘sahur keliling dan buka bersama’ yang digagas Ny Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid.

Program sahur keliling dan buka bersama ini bermaksud menyapa kaum duafa yang tersebar di berbagai kota di tanah air. Sejak awal istri almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mantan presiden Republik Indonesia, itu merangkul tokoh-tokoh lintas agama dan etnis untuk menjalin kebersamaan di antara sesama anak bangsa. Dan Romo Eko selalu ketiban sampur untuk menjadi koordinator di Kota Surabaya dan sekitarnya.

Bisa diceritakan sejarah sahur keliling dan buka puasa Anda tangani?

Itu merupakan program dari Ibu Shinta Nuriyah, istri almarhum Gus Dur, ketika beliau masih menjadi ibu negara pada tahun 2000. Tepatnya pada bulan Ramadan 1421 Hijriah. Acara sahur keliling ini diadakan di Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Banten, Jogjakarta, Surabaya, dan Medan. Nah, di Surabaya ini kita diminta Bu Shinta untuk membantu menyukseskan sahur keliling itu.

Dana untuk sahur keliling itu dari mana?

Ya, dari sumbangan umat, donatur, dan sebagainya. Saya umumkan di gereja kalau ada program sahur keliling dari Bu Shinta, dan ternyata respons umat sangat bagus. Mereka rame-rame menyumbang makanan, air minum, untuk keperluan sahur keliling itu. makanan-minuman itu dikumpulkan di gereja, kemudian menjelang sahur didistribusikan kepada warga di sejumlah titik yang telah ditentukan. Tentu saja, sebelumnya panitia sudah koordinasi dengan takmir masjid dan kelompok-kelompok masyarakat agar program ini tepat sasaran.

Program yang sudah berjalan 11 tahun ini apakah lancar-lancar saja?

Puji Tuhan, sampai sekarang tetap berjalan. Umat juga tetap antusias menyampaikan sumbangan dan turun langsung sebagai sukarelawan. Ini sungguh-sungguh mengharukan dan membanggakan kita semua. Hanya saja, setiap tahu selalu ada evaluasi terhadap program sahur keliling itu agar lebih efektif.

Ibu Shinta hanya beberapa saat menjadi ibu negara. Apakah setelah Gus Dur lengser program lintas agama ini tetap jalan?

Tetap jalan karena acara sahur keliling atau buka bersama ini benar-benar program dari bawah. Program yang murni digagas oleh Bu Shinta. Dan sama sekali tidak menggunakan anggaran atau fasilitas dari pemerintah. Karena itu, meskipun Bu Shinta tidak lagi menjadi ibu negara, ya, jalan terus. Bedanya, kalau dulu kalau ke mana-mana beliau selalu dikawal oleh paspampres, sekarang seperti warga negara biasa. Tapi semangat kebersamaan, pluralisme, bhinneka tunggal ika, persaudaraan sejati... tetap menjadi benang merah dalam setiap kegiatan kami.

Ada kesan bahwa acara sahur keliling ini tidak semeriah pada tiga tahun pertama?

Sebetulnya tetap meriah, hanya tidak mendapat liputan seluas ketika Bu Shinta masih menjadi ibu negara. Ketika Gus Dur masih menjadi presiden, otomatis acara-acara ibu negara dipublikasi di televisi dan media-media lain. Sekarang meskipun publikasinya kurang, di lapangan program ini terus berjalan. Kita memang sudah berkomitmen untuk mendukung program lintas agama yang sangat baik ini.

Setelah sahur keliling, dalam tiga atau empat tahun terakhir Anda dan Bu Shinta bikin kegiatan buka bersama kaum duafa. Apakah fokusnya memang sudah berubah?

Sahur keliling masih jalan, tapi dikoordinasi di Gereja Aloysius Gonzaga Surabaya. Saya lebih fokus ke buka bersama kaum duafa. Ini karena setelah dievaluasi oleh Bu Shinta, ternyata banyak warga kurang mampu yang tidak terjangkau di sahur keliling.

Harus diakui, selama ini banyak warga mampu yang memanfaatkan kesempatan untuk bertemu langsung dengan Bu Shinta. Padahal, Bu Shinta itu maunya fokus menemui orang-orang yang benar-benar tidak mampu. Karena itu, kita memperluas acara sahur keliling ini dengan buka bersama kaum duafa. Di situ Bu Shinta memberikan tausiyah dan motivasi kepada mereka untuk semakin maju dan berkembang. (lambertus hurek)




Giat Melestarikan Budaya Jawa

Ada suasana yang berbeda dalam perayaan Hari Kemerdekaan RI di halaman parkir Gereja Redemptor Mundi, Jl Dukuh Kupang Barat I/7 Surabaya, Rabu (17/8/2011) malam. Empat pastor tampil sebagai punakawan untuk mengisi adegan goro-goro pergelaran wayang kulit dengan dalang Ki Surono Gondo Taruna itu.

Mereka adalah Romo Sumarno sebagai Semar, Romo Budi Nuroto (Gareng), Romo Eko Budi Susilo (Petruk), dan Romo Paulus Gusti Purnomo (Bagong). Celetukan romo-romo, yang sehari-hari bertugas memimpin misa atau berkhotbah, ini mengundang gelak tawa hadirin. Romo Eko Budi Susilo tampil kocak dengan memimpin aba-aba dalam bahasa ‘Inggris Timur’.

“Ngompooool, grak!” teriak Petruk alias Romo Eko.

Maka, romo-romo yang lain kompak memeriksa bagian depan celana masing-masing, jangan-jangan ada yang nompol. Tidak ketemu. Akhirnya, Bagong, Gareng, dan Semara mendatangi si Semar yang diperankan Romo Eko. Kain di depan celana Romo Eko pun dibuka. Penonton yang sebagian besar umat Paroki Redemptor Mundi pun tertawa ngakak.

“Ngompoool iku artine kumpul,” ujar Semar dengan logat Madura.

Sebagai putra asli Karanganyar, Jawa Tengah, sejak kecil Eko Budi Susilo memang tak asing lagi dengan dunia pewayangan. Maklum, wayang-wayang kondang di tanah air banyak yang berasal dari kampung halamannya. Karena itu, Romo Eko paham betul tokoh-tokoh pewayangan berikut karakter-karakter fisik maupun suara yang khas.

Ketika masih kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana di Malang, kampus khusus untuk para calon pastor, minatnya terhadap wayang seakan mendapat penyaluran. Sebab, salah satu mahasiswa bernama Yustinus Slamet Riyadi, ternyata sangat jago memainkan wayang kulit. Di kala senggang, Yustinus yang sekarang jadi pastor di Malang ini selalu berlatih wayang, olah suara, hingga menggerak-gerakkan wayang dengan sabetan yang dahsyat.

Meski berstatus frater alias calon pastor, Yustinus diiizinkan atasannya untuk tampil mendalang di depan khalayak ramai. “Saya yang jadi sopirnya. Kami ke berbagai daerah untuk pentas wayang kulit semalam suntuk. Itu pengalaman yang sangat berkesan,” kenangnya.

Maka, ketika sudah menjadi pastor pun, Romo Eko selalu berusaha melestarikan kebudayaan Jawa, nguri-uri budaya, di paroki tempat dia bertugas. Obsesi itu akhirnya kesampaian ketika Romo Eko menjadi pemimpin Paroki Redemptor Mundi beberapa tahun lalu. Dia berhasil mengadakan perangkat karawitan untuk dimainkan jemaat dan warga sekitar.

“Sampai sekarang kelompok karawitan yang saya dirikan itu masih eksis. Mereka juga ikut mengisi acara tujuh belasan kemarin,” katanya. (rek)

Jawa Pos Terbaik di Dunia

Oleh Dahlan Iskan 

Alhamdulillah, saya pernah sakit keras! Yang membuat saya tidak mungkin lagi aktif memimpin Jawa Pos selama hampir dua tahun. Alhamdulillah, saya pernah sakit keras! Yang mengakibatkan saya harus lebih banyak berada di luar negeri sehingga jauh dari posisi kepemimpinan di Jawa Pos.


Alhamdulillah, saya pernah sakit keras! Yang mengakibatkan saya dila rang bekerja keras dan dilarang menjadi pemimpin No 1 di Jawa Pos. Kalau saja takdir tidak seperti itu, barangkali saya masih terus bercokol di Jawa Pos sampai hari ini, memimpin Jawa Pos dengan gaya saya, lalu ditertawakan oleh yang muda-muda. Sakit keras saya secara tidak langsung membawa implikasi percepatan proses regenerasi di Jawa Pos Saya dipaksa untuk rela meninggalkan kekuasaan yang hampir mutlak di Jawa Pos itu.

Saya juga dipaksa untuk menjalankan apa yang sudah sering saya kemukakan sendiri sebelumnya: percayalah kepada generasi muda! Tanpa saya sakit keras, barangkali saya akan dicatat sebagai pemimpin yang punya cacat besar: selalu menganjurkan regenerasi tapi dirinya sendiri terus bercokol. Sakit keras saya membuat saya konsekuen terhadap doktrin saya yang selalu saya dengungkan: hanya anak muda yang bisa membawa kemajuan.

Orang-orang Jawa Pos Group hafal dengan doktrin tersebut lantaran begitu seringnya saya kemukakan. Sebenarnya saya sudah berlatih untuk kehilangan kekuasaan sejak lama. Saya sudah berhenti menjadi pemimpin redaksi Jawa Pos atas inisiatif saya sendiri ketika umur saya masih 36 tahun. Saya sudah minta berhenti sebagai pemimpin umum Jawa Pos ketika umur saya ’baru’ 38 tahun.

Sayangnya, hehehe... sayangnya, saya meninggalkan jabatan itu karena sudah mendapat jabatan yang lebih tinggi. Misalnya, karena sudah menjadi direktur utama di hampir 100 perusahaan Jawa Pos Group. Tapi, tidak sepenuhnya begitu. Suatu ketika, saya juga memutuskan untuk berhenti dari semua jabatan direktur utama di semua anak perusahaan Jawa Pos Group. Tujuan saya: biar yang muda-muda di berbagai daerah itu yang menjadi direktur utama di setiap perusahaan setempat.

Saya melengserkan diri saya dari jabatan direktur utama untuk menjadi chairman saja di semua anak perusahaan tersebut. Ketika salah seorang direksi bertanya mengapa tiba-tiba minta berhenti dari semua jabatan direktur utama, saya hanya menjawab dengan sangat enteng: saya ingin merasakan bagaimana kehilangan jabatan yang begitu banyak, sekaligus.

Tapi, ternyata saya belum kehilangan apa-apa. Berhenti dari jabatan dirut, saya masih menjadi chairman. Karena itu, dua tahun kemudian, saya memutuskan untuk juga berhenti dari semua jabatan chairman di semua anak perusahaan tersebut. Dengan langkah itu, saya tidak punya jabatan apa pun di semua anak perusahaan. Saya ingin kembali merasakan bagaimana kehilangan jabatan yang begitu banyak.

Sekali lagi, ternyata saya tidak bisa kehilangan jabatan. Meski secara formal saya bukan siapa-siapa lagi di semua perusahaan itu, ternyata teman-teman di seluruh Indonesia tidak berubah sikap terhadap saya. Sampai-sampai, saya harus sering memberi tahu bahwa saya ini sudah bukan pemimpin Anda-Anda. Kata-kata saya jangan lagi dituruti dan jangan lagi dianggap perintah. Rupanya, semua itu ada hikmahnya. Saya menjadi sudah terbiasa kehilangan jabatan.

Karena itu, ketika akhirnya sakit keras dan harus meninggalkan jabatan di induknya pun, tidak ada perasaan owel (istilah Jawa, sulit merelakan) sama sekali. Saya bisa menjalani pengobatan saya dengan perasaan yang longgar dan sikap yang sumeleh, tawakal kepada- Nya. Pindahlah kepemimpinan Jawa Pos kepada yang jauh lebih muda. Dua tahun saya sakit. Dua tahun saya di luar negeri. Dua tahun saya nonaktif. Ternyata, semua baik-baik saja.

Di tangan anak-anak muda, bahkan Jawa Pos terus maju dan kian maju. Justru di tangan yang muda-muda itu Jawa Pos mencapai lebih banyak prestasi, seperti menjadi koran terbaik di jagat raya ini. Alhamdulillah, saya akhirnya sembuh.

Alhamdulillah, saya tidak punya keinginan ’merebut’ kembali jabatan itu. Alhamdulillah, saya segera punya tekad baru: ingin menjadi guru jurnalistik untuk lembaga pendidikan apa saja, sambil ikut mengurus pesantren di desa saya. Sambil terus menyaksikan dari jauh kemajuan dan kemajuan yang diraih generasi baru di Jawa Pos.

Sungguh menyesal seandainya saya punya pikiran: tanpa saya Jawa Pos bukan apa-apa! Sungguh menyesal seandainya saya punya sikap: tanpa saya Jawa Pos tidak akan bisa apa-apa!

Memang pernah ada majalah yang menulis artikel dengan judul ’’Jawa Pos adalah Dahlan Iskan dan Dahlan Iskan adalah Jawa Pos’’. Tapi, dalam perjalanannya, judul itu telah terbukti berlebihan dan mengada-ada. Alhamdulillah,, duh Gusti, saya pernah sakit keras! (*)

Sumber: Jawa Pos edisi 24 Agustus 2011

23 August 2011

Pidato SBY Bikin Ngantuk



Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu hambar, kurang garam. Lebih mirip kuliah bersama yang kering. Karena itu, tidak banyak orang Indonesia, kecuali anggota Partai Demokrat, yang senang mendengarnya.

Tahun ini, menteri sekretaris negara sampai membuat surat edaran agar semua anggota parlemen dari pusat sampai kabupaten/kota harus menyimak pidato itu lewat televisi pada 16 Agustus 2011. Toh, banyak anggota dewan yang mangkir.

Di Sidoarjo, misalnya, 15 anggota DPRD absen tanpa alasan jelas. Di daerah-daerah lain di Jawa Timur pun sama saja. Begitu banyak anggota parlemen sengaja mangkir karena malas dengar pidato SBY. Pidato SBY mirip-mirip pidato Presiden Soeharto yang juga kering. Tapi Pak Harto bisa komunikatif ketika memandu temu wicara secara lisan.

Di dunia ini, khususnya di Indonesia, tak banyak orang yang punya bakat pidato. Presiden Sukarno jelas paling top retorikanya. Orator ulung. Tak perlu pakai surat edaran, rakyat ramai-ramai duduk di depan radio hanya untuk dengar pidato sang proklamator. Puluhan ribu orang rela berdesak-desakkan di lapangan demi menyimak pidato Bung Karno.

Setiap tanggal 17 Agustus, Bung Karno menyusun pidato sendiri untuk disampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia. Isi dan cara membawakannya memang luar biasa. Karena itu, seluruh rakyat dengan senang hati menunggu-nunggu pidato Bung Karno. Tidak perlu ada instruksi atau ‘kewajiban’ mendengar pidato Bung Karno.

Kemampuan Presiden Megawati, putri Bung Karno, jauh di bawah bapaknya. Pidato Megawati terkesan sebagai orang yang baru belajar membaca. Vokalnya, intonasinya, bahasa tubuh... kurang asyik. Hampir semua anak Bung Karno tidak mewarisi bakat jenius ayahnya. Gaya public speaking Puan Maharani lebih parah lagi. Tak ada kesan sedikit pun bahwa si Puan ini cucu Bung Karno, negarawan besar kita.

Ini juga membuktikan bahwa intelektualitas, kepemimpinan, wawasan... tidak bisa diwariskan. Sukarno hebat, anak-anaknya gak hebat. Soeharto bisa jadi pemimpin kuat dan efektif, anak-anaknya hanya bisa memanfaatkan kedudukan bapaknya untuk berbinis. Cicit Pak Harto bahkan sekarang jadi terdakwa di pengadilan gara-gara makan psikotropika sabu-sabu.

Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, menurut saya, luar biasa. Ceramah-ceramahnya, baik yang bersifat keagamaan, kebudayaan, kesenian, politik, sepak bola, dan sebagainya selalu enak didengar. Juga berisi. Jauh sebelum jadi presiden, saya sudah tertarik dengan figur Gus Dur. Saya selalu berusaha datang ke tempat Gus Dur memberikan pengajian. Termasuk ke Denanyar, Jombang, kampung halaman almarhum guru bangsa itu.

Dari ceramah-ceramah Gus Dur, kita tahu bahwa beliau ini sejak kecil sudah ‘makan buku’. Sama dengan pemimpin-pemimpin pergerakan macam Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, Tan Malaka, Agoes Salim, Muhammad Yamin, dan seterusnya. Bukan tipe anak-anak pejabat zaman sekarang yang hanya nunut nama besar orang tuanya.

Saking banyaknya buku yang ‘dimakan’ Gus Dur, luasnya wawasan dan pergaulan, ceramah-ceramah Gus Dur memang sangat berbobot. Cara pembawaan santai, humoris, banyak joke, tapi tidak kehilangan esensi. Gak garing! Kehangatan, intimasi, kedalaman... itulah yang tak dipunyai SBY meskipun gelar doktor selalu ditempel di depan namanya. Orator ulung itu aneugerah Tuhan, tidak ada sekolahnya.

Pidato Presiden Amerika Serikat Barack Obama di Jakarta tahun lalu juga istimewa. Obama punya bakat orasi yang luar biasa. Di senyum secara wajar, menceritakan pengalaman masa kecilnya di Jakarta, menirukan ucapan penjual sate, soto, nasi goreng...

Kita, orang Indonesia, pasti senang mendengar pidato Presiden Obama. Dan tak akan pernah melupakan gaya dan materi pidato presiden Amerika Serikat yang pernah menjalani masa kecil di Jakarta ini.

19 August 2011

Farida (Mantan) Istri Ucok AKA




Minggu lalu saya iseng-iseng mampir ke lapak pedagang majalah dan buku bekas di Keputran, Surabaya. Kasihan, lapak milik pria sepuh asal Madura ini sepi. Jarang ada pembeli yang mampir karena koleksi majalah dan bukunya memang tak banyak. Pemburu buku-buku bekas di Surabaya lebih suka hunting di Jalan Semarang atau Blauran.

Saya menemukan majalah BINTANG FILM Nomor 20 Tahun 1976. sampulnya Lina Budiarti, bintang film lawas (lama), berpose menantang. Tak pakai kurang, kedua tangan Lina menggenggam kedua bukit di dadanya. Ehmm... saya pun tertarik memperhatikan macam apa gerangan isi majalah hiburan tempo dulu itu.

Majalah ini cukup komplet dan profesional dalam membahas kiprah bintang-bintang film pada 1970-an. Yatti Octavia jadi bahasan utama. Kemudian ada debat tentang gunting sensor yang membuat film-film Indonesia tidak utuh lagi. Sejumlah sutradara ternama masa itu, macam Ratno Timoer, menilai badan sensor kurang adil. Film-film Barat dan Mandarin kurang digunting, sementara film-film Indonesia digunting habis-habisan.

Di halaman 23 majalah itu, yang sudah lama tidak terbit, ada bahasan tentang film komedi berjudul Manusia Purba. Yoseano Waas, pemain dan produser PT Panca Aquila Film, selain menampilkan dirinya sendiri, juga bintang-bintang lain seperti Rahmat Kartolo, Ucok AKA Harahap, Ida Farida Harahap (istri Ucok), kemudian Sondang PN. Film kocak ini dimeriahkan Bagyo dan kawan-kawan, pelawak terkenal masa itu.

Wuih, membaca nama Ucok AKA Harahap dan istrinya, Ida Farida, semangat saya langsung naik. Apalagi membaca keterangan foto di halaman 23: Ida Farida Harahap dan Yoseano Waas. Wanita cantik, anak pejabat di Surabaya, yang pernah menjadi istri Ucok AKA Harahap (sekarang almarhum). Saya mengikuti cerita panjang perjalanan cinta Ucok, legenda rock Indonesia dari AKA Group (Ucok, Sunatha Tanjung, Arthur Kaunang, Sech Abidin), saat membaca buku biografi Ucok AKA Harahap yang ditulis Ita Nasyah, wartawan senior.

Di situ dipaparkan betapa cintanya si Ucok pada Farida. Keduanya kawin lari, karena tak direstui orang tua Farida, sempat menggelendang, hingga kemudian jadi bintang film laris pada era 1970-an. Cerita selanjutnya, Farida bersama dua anaknya, hasil perkawinan dengan Ucok, dijempu ayah-ibu Farida. Ucok terpukul, sempat gila beneran, karena kehilangan orang yang dikasihinya.

Kehidupan Ucok pun berantakan. Dia mulai mengawini sejumlah perempuan sebagai pengganti Farida. Tapi tak ada yang cocok. Berpisah, kawin lagi, pisah kawin, dan seterusnya. Total Ucok AKA Harahap menikah SEMBILAN kali. Hingga menjelang ajalnya di Rumah Sakit Dharmo Surabaya, saat dirawat Bu Sri, istri nomor sembilan, Ucok masih saja mengenang Farida. Padahal, mereka sudah lama terpisah 30-an tahun silam.

Beberapa hari sebelum meninggal dunia, Ucok yang sekarat di RS Dharmo mendapat tamu istimewa. Seorang perempuan cantik dan seorang laki-laki tampan. Keduanya tak lain anak kandung pasangan Ucok-Farida. Salah satunya Sutra Karmelia, yang sekarang presenter berita Global TV Jakarta. Wajah Ucok pun terlihat berseri meski badannya tetap diinfus dan pakai respirator.

Sejak ‘menemani’ Ucok AKA Harahap di rumah sakit itu, saya pun penasaran dengan Ida Farida alias Farida Harahap alias Farida Jasmine, aktris top 1970-an. Seperti apa gerangan wajah jelitanya yang membuat Ucok keranjingan itu? Setelah bertemu dan berjabat tangan dengan Sutra, yang memang cakep, saya hanya bisa membayangkan wajah Farida di era 1970-an. Kalau sekarang sih sudah nenek-nenek 60-an tahun yang berbeda jauh dengan masa muda dahulu.

Saya coba mencari informasi di Google tentang bintang film Ida Farida. Tak ada. Saya malah ‘diminta’ Google untuk membaca blog saya sendiri. Hehehe... Saya memang sempat menulis cerita panjang tentang Ucok AKA Harahap ketika sudah dirawat di hospital.

Membuka-buka buku tebal tentang perfilman Indonesia karya JB Kristanto, wartawan senior Kompas, saya menemukan sebuah sinopsis film yang dibintangi Farida. Tapi tak ada foto.

Akhirnya... setelah dua tahun kemudian, saya baru menemukan foto Ida Farida Harahap. Foto ketikasyuting film Manusia Purba di pantai Parangtritis, Jogjakarta, 1976.

Pelajaran moral: Jangan remehkan majalah, buku, atau koran lama!

Gereja Tak Kunjung Selesai



Gereja Katolik di Mawa, Lembata, yang baru separo jalan meski mulai dibangun sekitar 20 tahun lalu.

Orang Indonesia kebanyakan, yang kategori rakyat jelata, sulit sekali cari uang Rp 1.000.000 sebulan. Kalau di Nusatenggara Timur, khususnya Flores, lebih susah lagi. Yah, NTT memang termasuk provinsi paling miskin di Indonesia meskipun ada sumber daya alam di laut yang sebetulnya bisa diekplorasi.

Lain lagi dengan Muhammad Nazaruddin yang baru ‘ditangkap’ di Kolombia itu. Si Nazar ini kayak pabrik uang saja. Dia bisa dengan mudah mencari uang Rp 10.000.000.000 per hari. Maka, ongkos pesawat Kolombia-Indonesia sebesar Rp 4.000.000.000 itu sebetulnya bisa dengan gampang dikembalikan si Nazar.

Selama bulan puasa ini saya beberapa kali masuk kampung-kampung di pedesaan Jawa Timur, khususnya Kabupaten Sidoarjo. Wilayah tambak yang tenang dan eksotik. Rumah-rumah sederhana dari bambu. Angin semilir. Tanaman-tanaman khas pedesaan yang bikin betah seperti di Kedungpandan, Jabon.

Yang selalu bikin saya terkesan, sesederhana apa pun rumah mereka, masjidnya pasti bagus-bagus. Lantainya mengilat. Temboknya halus. Dicat bagus. Tempat air wudu sangat elok. Masjid-masjid di kawasan tambak terpencil di Sidoarjo, juga daerah-daerah lain di Jawa Timur, memang tak kalah dengan masjid-masjid di kota-kota besar.

Saya kira sebuah rumah ibadah, rumah Tuhan, memang harus dibuat bagus, nyaman, untuk berdoa bersama. Karena itu, pemerintah daerah bersama penduduk setempat selalu berusaha keras agar masjid-masjidnya dibikin sebagus mungkin. Di Jawa, ada dermawan atau yayasan yang siap mengucurkan uang untuk pembangunan masjid.

Inilah yang tidak jalan di NTT, khususnya Flores Timur dan Lembata. Ketika saya pulang kampung awal 2011, saya sempat memantau gereja-gereja di pedesaan. Kecuali Gereja Atawatung di Kecamatan Ile Ape, kondisi gereja-gereja berkapasitas 500 sampai seribu jemaat itu sangat buruk. Nyaris tak ada bedanya dengan ketika saya masih sekolah dasar di kampung.

Gereja di Mawa, misalnya, yang sudah dibangun sejak 20 tahun lalu sampai sekarang belum selesai. Padahal, ukurannya kecil saja, hanya untuk 300-500 orang. Umat sedang bergotong-royong untuk menyelesaikan pembangunan gereja mungil itu. Dan bisa-bisa butuh 10 tahun lagi hingga benar-benar selesai.

Gereja di Ebak, sekitar delapan kilometer dari Mawa, pun belum bisa dikatakan selesai. Gereja Lewotolok lumayan. Gereja Riangbao saya lihat dari jalan belum bisa dikatakan layak sebagai rumah Tuhan. Gereja di Hadakewa lumayan karena termasuk ‘agak kota’.

Mengapa gereja-gereja di Flores, yang mayoritas Katolik itu, cenderung sangat buruk dan tak terurus? Jawabnya jelas: uang! Orang-orang kampung di Flores tak punya cukup uang untuk membeli bahan-bahan bangunan. Kalaupun harus urunan, perlu waktu bertahun-tahun sampai bangunan gerejanya tegak.

Syukurlah, orang Flores rata-rata tidak punya target waktu sampai kapan gereja harus kelar. Mengalir sajalah sampai dua tahun, lima tahun, 10 tahun... 20 tahun, dan seterusnya. Kalau generasi sekarang tidak bisa menyelesaikan, ya, tunggu generasi berikut.

Setiap kali melihat pembangunan mal, plaza, atau hotel mewah dan megah di Surabaya yang secepat kilat, tak sampai setahun sudah jadi, saya sering geleng-geleng kepala. Takjub! Pikiran saya langsung terbang ke kampung halaman di Flores, membayangkan gereja-gereja kecil yang dibangun sejak 10 atau 20 tahun lalu, tapi tidak kunjung tuntas.

Juga ketika melihat aksesoris, kemudian perangkat AC berbiaya miliaran rupiah di beberapa gereja di Surabaya, saya hanya bisa tercengang. Betapa tidak. Ada lukisan atau ikon-ikon rohani di dalam gereja di Surabaya yang harganya ratusan juta rupiah. Artinya, harga sebuah lukisan itu setara dengan membangun 10 gereja stasi di Flores.

Ada lagi yang lebih ‘gila’. Biaya untuk mendatangkan artis atau pendeta terkenal untuk khotbah di Surabaya ternyata jauh lebih mahal ketimbang biaya membangun lima atau tujuh gereja di pedalaman Flores. Ekstrem sekali memang.

Saya juga heran dengan pejabat-pejabat, khususnya bupati dan anggota DPRD di NTT. Perhatian untuk membangun atau merehabilitasi gereja-gereja di kampung benar-benar tidak ada. Hampir semua gereja-gereja, juga masjid-masjid, di Flores itu tidak mendapat bantuan dana sedikit pun dari pemerintah. Semuanya harus dibangun swadaya masyarakat yang daya belinya sangat parah.

Beda banget dengan di Jawa Timur. Perhatian pemerintah terhadap masjid-masjid sangat tinggi. Maka, tak ada masjid yang membutuhkan masa pembangunan hingga 10-20 tahun macam di Flores... dan belum juga rampung. Padahal, bupati dan beberapa anggota parlemen baik tingkat kabupaten maupun provinsi berasal dari kampung saya.

Aneh bin ajaib!

Konser Kemerdekaan SSO Kurang Meriah



Konser kemerdekaan Surabaya Symphony Orchestra (SS0) tahun 2011 ini kurang greget dibandingkan tahun-tahun lalu. Penonton tak seramai biasanya. Kursi undangan VIP/VVIP pun saya lihat berkurang.

Maka, wartawan yang biasanya tak dapat kursi, hanya berdiri sepanjang konser, atau mengisi tempat duduk penonton yang ‘kabur’ duluan, kini dikasih tempat di bagian belakang. Itu pun yang datang meliput hanya dua orang: saya dan seorang teman fotografer lagi.

Sebetulnya tidak hanya konser ke-68 SSO ini saja yang kurang meriah. Di kampung-kampung pun acara tujuh belasan tak seheboh biasanya. Apakah karena bulan Agustus 2011 ini bersamaan dengan Ramadan, bulan puasa untuk umat Islam? Tidak juga. Tahun 2010 juga bersamaan dengan bulan puasa, tapi gebyar tujuh belasan sangat terasa.

Secara umum, saya kira, ‘suasana kebatinan’ orang Indonesia saat ini memang sedang resah. Resah melihat politisi-politisi dengan mudahnya merampok uang negara, memperkaya diri. Rakyat biasa begitu sulit mencari uang Rp 1.000.000 sebulan, sementara seorang Muhammad Nazaruddin dengan mudah mendapatkan Rp 10.000.000.000 sehari.

Politisi-polisi di parlemen baik di pusat dan daerah pun lebih doyan korupsi ketimbang membuat rakyat Indonesia makmur dan sejahtera. Maka, meskipun Indonesia sudah merdeka 66 tahun, negaranya tetap tak maju-maju. Harus kirim berjuta-juta orang ke Malaysia, Arab Saudi, Taiwan, Hongkong hanya untuk jadi kuli atau babi. Pejabat-pejabat tinggi, khususnya Presiden SBY, hanya sibuk berwacana tanpa efektivitas. Wibawa SBY terus merosot karena sebagian instruksinya tidak dipatuhi menteri-menterinya.

Yah, dalam suasana politik yang sarat korupsi, ketika Nazaruddin bolak-balik bikin serangan melalui televisi itulah, saya menikmati konser SSO. Satu-satunya orkes simfoni di Surabaya yang rutin bikin konser. Setelah dijamu minum teh dan makanan kecil, penonton masuk ke ballroom Hotel Shangri-La, Selasa (9/8/2011) malam. Dekorasi panggung dengan warna dominan merah-putih.

Si pembawa acara, Dewi, meminta penonton mematikan telepon seluler (HP) agar suasana konser musik klasik itu tetap terjaga. Ini penting karena orang-orang Indonesia umumnya kurang mengetahui etiket menonton konser musik klasik. Ternyata, peringatan Dewi ini terbukti tidak diindahkan sebagian penonton.

Lihat saja, selama konser mereka tetap bermain-main HP, berkirim SMS, chatting, atau berfoto ria. Bahkan, gadis-gadis cantik penerima tahu yang seharusnya kasih contoh tentang disiplin menonton musik klasik justru paling doyan main HP. Apa boleh buat. ‘Peradaban’ musik kita, kadar apresiasi dan disiplin orang Indonesia memang masih sangat elementer.

Pak Tong Tong, bos dan dirigen SSO, perlu memberikan edukasi yang lebih serius lagi sebelum Surabaya benar-benar dicoret dari daftar kota-kota di Asia yang layak dijadikan tempat pergelaran musik klasik.

Kembali ke Konser Kemerdekaan 2001. Kali ini Pak Tong tidak tampil sendiri. Guru musik senior ini mempercayakan Alvine Kurniawan dan Daniel Chandra, dua anak muda Surabaya, menjadi dirigen (konduktor) pendamping. Sebuah langkah regenerasi yang patut dihargai. Bisa dibayangkan masa depan SSO jika Pak Tong memutuskan untuk gantung baton. Jujur, di Surabaya belum ada pemusik klasik yang punya kapasitas selengkap Solomon Tong.

Konser diawali paduan suara anak-anak diiringi ensembel gesek siswa SSO. Kor bocah-bocah ini membawakan lagu TANAH AIRKU karya Ibu Sud dan INDONESIA PUSAKA (Ismail Marzuki). Sajian ini semacam ‘pemanasan’ sebelum menu utama. Setelah itu SSO bersama paduan suara membawakan INDONESIA RAYA disusul PADAMU NEGERI.

Salah satu komposisi patriotik andalan SSO malam itu adalah NYIUR HIJAU. Lagu nasional karya Raden Maladi itu dibuat orkestrasinya oleh Jazeed Djamin (sekarang almarhum). Score asli diserahkan Pak Jazeed kepada Pak Tong untuk dimainkan SSO kapan saja.

Pak Tong mempercayakan Alivine Kurniawan Suryantara, kelahiran Surabaya, 3 November 1982, untuk memimpin orkes simfoni lengkap itu.

Jazeed Djamin memang komponis luar biasa. Lagu NYIUR HIJAU, yang selama ini hanya kita kenal sebagai lagu anak sekolah, terasa begitu kaya dan berkelas ketika disusun untuk orkes simfoni. Variasinya banyak dan kaya. Tidak kalah dengan karya komponis-komponis hebat dunia.

Setelah Alvine Kurniawan, giliran Daniel Chandra ditugaskan Pak Tong untuk memimpin lima komposisi karya Ismail Marzuki secara medley: INDONESIA PUSAKA, HALO-HALO BANDUNG, SEPASANG MATA BOLA, JUWITA MALAM, MELATI DI TAPAL BATAS. Orkestrasi dan aransemen paduan suara disusun Pak Siswanto, pemain fagot SSO asal Jogjakarta.

“Lagu-lagu Ismail Marzuki itu melankolis, patriotik, dan menyulut semangat juang bangsa Indonesia,” kata Siswanto.

Konser SSO, seperti biasa, ibarat perjamuan makan malam dengan menu prasmanan. Begitu banyak corak dan gaya yang dijejalkan di satu konser. Maka, setelah nuansa perjuangan yang heroik, Pak Tong membawa orkesnya ke nomor-nomor opera Eropa, komposisi Tiongkok, concerto piano, serta paduan suara gerejawi.

Kali ini Lee I-Heung, pianis asal New York, USA, yang berdarah Tionghoa, memainkan karya Saint Saens, Piano Concerto in G Minor Opus 22. Komposisi sulit yang belum akrab di telinga penggemar musik di Kota Surabaya. Tapi Nona Lee mampu menghadirkan komposisi dalam tiga gerakan ini dengan asyik. Tak terasa, sekitar 32 menit penonton dibawa berkelana ke mana-mana oleh permainan pianis kelas dunia ini.

Tidak mudah bagi penonton di Indonesia menjaga konsentrasi selama setengah jam lebih untuk menikmati konserto piano bersama orkes simfoni. Syukurlah, sebagian penonton bertahan sampai pertunjukan selesai.

“Miss Lee, selamat, permainan Anda sangat mengesankan,” kata saya seraya menjabat tangan Lee I-Heung. Sang pianis kurus ini pun tersenyum lebar. Maka, dia pun senang diajak bicara singkat tentang perjalanan ke Surabaya hingga kegiatan-kegiatannya di Amerika Serikat.








13 August 2011

Tan Mei Hwa - Bu Nyai Gaul


Tan Mei Hwa lagi santai di rumah.

Di bulan Ramadan 1432 Hijriah ini, wajah Tan Mei Hwa kerap nongol di sejumlah stasiun televisi baik lokal maupun nasional. Sejak menekuni dunia dakwah pada 1993, karir ustazah keturunan Tionghoa ini terus melejit. Gaya ceramahnya yang santai, joke-joke segar, membuat Tan Mei Hwa kerap dijuluki Bu Nyai Gaul oleh ibu-ibu pengajian di Surabaya kian melejit.



Popularitasnya yang kian meluas, tak hanya di kawasan Jawa Timur, membuat Tan Mei Hwa juga dipercaya menjadi bintang iklan beberapa produk. Salah satunya produk tapal gigi alias odol yang diproduksi di Surabaya.

Berikut petikan wawancara LAMBERTUS HUREK dari Radar Surabaya dengan Tan Mei Hwa pekan lalu.

Selamat, tadi saya melihat Anda jadi bintang iklan di koran.

Hehehe.... Kebetulan saya diminta tolong sama teman saya untuk ikut mempromosikan produknya. Setelah saya pertimbangkan kok nggak masalah karena produknya baik, dibutuhkan masyarakat, dan bukan sesuatu yang haram. Lantas, saya ikut sesi foto sebagai bintang iklan itu. Tapi di iklan itu kita menyampaikan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa 1432 Hijriah.

Selain produk tapal gigi, apakah Anda juga diminta jadi bintang iklan untuk produk yang lain?

Hehehe.... Ada lah. Produk makanan franchise yang juga tidak mengandung komponen-komponen yang haram atau meragukan. Saya juga diajak untuk iklan pajak, ajakan ke tanah suci. Alhamdulillah, ternyata banyak orang, khususnya teman-teman dan relasi, mau memberikan kepercayaan kepada saya.

Apa kegiatan side job ini tidak mengganggu kegiatan ceramah Anda?

Nggaklah. Pengambilan gambar untuk iklan di media massa itu kan tidak membutuhkan banyak waktu. Ketika tidak ada jadwal ceramah, baru dilakukan pengambilan gambar. Bagi saya, kegiatan dakwah tetap nomor satu, menjadi prioritas yang paling saya utamakan. Saya kan sudah bilang kalau iklan itu karena kebetulan ada teman yang minta bantuan saya.

Lantas, bagaimana aktivitas dakwah Anda selama bulan Ramadan ini?

Alhamdulillah, untuk bulan Ramadan ini jadwal saya sudah penuh. Saya diundang ke mana-mana, keliling, untuk ceramah. Kebanyakan yang undang saya itu perusahaan-perusahaan, instansi-instansi, dan sebagainya.
Bahkan, saya juga diundang kalangan nonmuslim seperti jemaat kelenteng atau gereja untuk ceramah. Saya sih senang saja karena dapat kesempatan untuk menyampaikan sesuatu di hadapan audiens yang beragam. Sekalian menyampaikan syiar agama yang sejuk kepada masyarakat.

Anda tergolong penceramah ‘pendatang baru’. Belum 10 tahun menekuni dunia dakwah. Lantas, apa kiat Anda sehingga ceramah-ceramah Anda baik di televisi maupun di pengajian-pengajian diminati banyak orang?

Begini ya. Saya selalu berusaha melibatkan audiens. Jadi, mereka merasa dilibatkan, tidak digurui. Saya tahu hampir semua orang tidak suka digurui atau diceramahi. Selain itu, saya selalu berusaha dekat dengan jamaah di mana pun saya memberikan ceramah. Letak panggung harus dekat dengan jamaah. Dan saya tidak pakai podium, karena itu hanya membuat jarak dengan jamaah.

Kemudian ada bumbu-bumbu humor.

Humor itu memang perlu biar tidak tegang. Dan saya berusaha mengambil joke-joke yang sudah populer di masyarakat, khususnya di kalangan ibu-ibu.

Kenapa?

Karena ibu-ibu itulah yang paling tahu harga sembako di pasar, belanja, menyiapkan makanan, mendidik anak-anak, dan sebagainya. Saya punya pengajian khusus ibu-ibu sehingga saya bisa mendengar banyak cerita-cerita dari ibu-ibu itu.

Ada punya semacam rambu-rambu atau pedoman dalam berdakwah?

Jelas ada. Satu hal yang selalu saya pegang adalah tidak boleh menyudutkan orang lain. Juga tidak membeda-bedakan golongan. Sebab, bagi saya, dakwah itu pencerahan, bukan provokasi. Dan, yang tak kalah penting, apa yang kita ucapkan harus bisa menjadi perilakunya sehari-hari. Penceramah itu harus jadi pelaku juga. Jadi, tidak sekadar bicara, tapi harus melakukannya.

Sebagai istri, bagaimana Anda membagi waktu untuk suami dan putra Anda?

Bagaimanapun juga saya ini seorang istri, ibu rumah tangga. Maka, saya tidak boleh meninggalkan kewajiban sebagai istri. Setiap hari saya tetap memasak untuk suaminya. Saya tidak pernah menyuruh pembantu. Masakan terenak itu masakan istri lho. (*)


CV SINGKAT

Nama : Tan Mei Hwa
Julukan : Bu Nyai
Lahir : Surabaya, 27 Juli 1968
Suami : Aris Suparno
Gelar akademis : Sarjana Hukum
Alamat : Benowo, Surabaya
Moto : Memberi manfaat bagi banyak orang. Soal rezeki sudah diatur oleh Allah SWT.


Aktivitas :
-Ceramah, dakwah
-Gelar khitanan massal
-Bakti sosial pembagian dan pengobatan gratis bagi warga lansia
-Bintang iklan (dadakan)


Buka Jasa Konsultasi 
 
Selain rutin memberikan ceramah, Tan Mei Hwa bersama suami, Aris Suparno, juga mengelola Az-Zahra. Lembaga ini bergerak di bidang training, konsultasi, dan majelis zikir. Untuk training dan jasa konsultasi, Tan melayani berbagai perusahaan, termasuk yang nonmuslim.


“Kita terbuka untuk siapa saja,” kata Tan Mei Hwa. Untuk jasa konsultasi, Tan Mei Hwa mengaku tidak memungut biaya. Syaratnya, klien dibatasi satu orang saja per hari. Dengan begitu, masukan yang diberikan kepada klien lebih tepat sasaran.

“Selain itu, konsultan yang kami miliki memang terbatas,” katanya.

Lain lagi dengan majelis zikir. Majelis ini hanya khusus untuk kaum perempuan. Setiap Ahad pagi, Bu Nyai ini menggelar pengajian di rumahnya di kawasan Benowo Surabaya. Gara-gara punya majelis tetap inilah, kemampuan ceramah Tan Mei Hwa terus berkembang. Majelis ini sekaligus ajang ‘penggemblengan’ untuk berdakwah di depan khalayak yang lebih luas.

Di pengajian ibu-ibu itu, Tan juga menerima masukan tentang situasi aktual di masyarakat. Termasuk perkembangan harga bahan-bahan kebutuhan pokok di pasar. Karena itu, jangan heran isi ceramah-ceramah Tan Mei Hwa senantiasa pas dengan situasi yang di hadapi ibu-ibu di rumah.

Bukan itu saja. Az-Zahra juga bergerak di bidang sosial kemanusiaan. Tiap tahun bersama suami punya agenda rutin seperti mengadakan khitanan massal, bantuan sosial, dan pengobatan gratis bagi warga lansia. Hebatnya, semua dana yang digunakan diambil dari kantong pribadinya.

“Uang itu kalau disedehkahkan nggak akan kecil, malah tambah banyak. Saya yakin itu,” ujar sarjana hukum itu. (*)

Dimuat RADAR SURABAYA edisi Minggu 14 Agustus 2011


06 August 2011

Melantjong Petjinan Madoera





Setelah sukses menggelar city tour bertajuk Melantjong Petjinan Soerabaia, komunitas Jejak Petjinan pekan lalu mengadakan acara jalan-jalan ke Pulau Madura. Acara bertajuk Melantjong Petjinan Madoera ini diikuti sekitar 40 orang.

Para pelancong ini berasal dari berbagai kalangan, mulai pelajar, mahasiswa, karyawan, fotografer, blogger, hingga dosen dan pemerhati sejarah. “Kebanyakan justru peserta-peserta baru yang belum pernah ikut Melantjong Petjinan Soerabaia. Mereka dapat informasi dari milis, Facebook, maupun blog,” ujar Debby Ariyani, salah satu panitia, kepada Radar Surabaya, Senin (1/8/2011).

Berkumpul di depan Giant Supermarket, Jl Rajawali, rombongan berangkat dengan bus menuju ke Madura melalui Jembatan Suramadu. Perjalanan cukup asyik karena peserta bisa menikmati pemandangan alam di pelosok Madura, khususnya bagian utara, yang selama jarang dilalui kendaraan umum. Jalan raya di pantai utara ini lebih eksotik, penuh tebing-tebing yang indah, sehingga cocok untuk penggemar fotografi.

Salah satu objek kunjungan para turis lokal ini adalah sentra batik khas Madura di kawasan Tanjungbumi. Lintu Tulistyantoro, dosen Universitas Kristen Petra, yang juga peneliti batik madura, ikut memberikan penjelasan seputar ciri khas serta corak batik asal Pulau Garam itu.

Tak sedikit pelancong yang membeli kain batik khas Tanjungbumi untuk koleksi maupun suvenir.
Dari Tanjungbumi, rombongan bergerak ke Pasongsongan, Pantai Lombang, kemudian Museum-Kraton dan Asta Tinggi di Sumenep. Dalam perjalanan pulang ke Surabaya pada hari kedua, rombongan mampir ke TITD Kwan Im Kiong Pamekasan.

Kelenteng Tridharma di Pantai Talangsiring itu dikenal sebagai tempat ibadah yang unik dengan sangat toleran. Bayangkan, di dalam sebuah kompleks di kawasan hutan bakau ada tempat ibadah untuk lima agama sekaligus, yakni Khonghucu, Taoisme, Buddha, Hindu, dan Islam.

Tahun lalu, pengelola Kwan Im Kiong mendapatkan penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri). Belum lama ini, tepatnya 18 Juli 2011, kelenteng yang juga dikenal sebagai Vihara Avalokitesvara ini dikunjungi ribuan jemaat dari berbagai daerah di tanah air untuk mengikuti Kwan Im Shen Dien alias perayaan Dewi Kwan Im mendapat kesempurnaan. Selama dua hari digelar berbagai atraksi seni budaya, termasuk pergelaran wayang kulit semalam suntuk oleh dua dalang asal Ngawi.

Di Sumenep, rombongan pelancong yang dipimpin Paulina Mayasari ini berkunjung ke kompleks makam raja-raja Sumenep, masjid, keraton, dan bangunan-bangunan lain yang arsitekturnya dipengaruhi budaya Tionghoa.

“Pokoknya, ada banyak hal yang bisa diketahui peserta setelah ikut acara melancong ini,” kata Debby.

Dimuat RADAR SURABAYA edisi 2 Agustus 2011

05 August 2011

Felix Matarau - Pop Flores Timur



Kemajuan teknologi musik, komputerisasi, digitalisasi, membuat produksi musik saat ini jauh lebih muda ketimbang pada era 1980-an dan 1990-an. Juga lebih efisien. Siapa saja bisa bikin rekaman musik, klip video, dengan mudah. Rekaman bisa dilakukan di kamar rumah yang sempit.

Yang penting, Anda bisa main musik, menyanyi, syuting... maka semuanya beres. Nah, kemudahan ini juga dinikmati pemusik-pemusik lokal di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini. Ketika balik kampung beberapa waktu lalu, setelah cukup lama tinggal di Jawa Timur, saya kaget melihat begitu banyak CD/VCD lagu-lagu populer khas Flores.

Orang-orang Flores, dan NTT umumnya, seperti punya dunia sendiri. Selera musik mereka jauh berbeda dengan orang Jawa atau penduduk kota-kota besar di Indonesia. Kalau remaja-remaja di Surabaya, Jakarta, Bandung, Jogja, Semarang... gandrung band-band populer di televisi, senang RBT, orang-orang NTT masih seperti yang dulu: lebih suka lagu-lagu pop daerah.

Artis-artis pop daerah NTT begitu banyak. Dan sulit didata karena mereka rata-rata artis amatiran. Pekerjaan utama di kantor pemerintah, malamnya main gitar, nyanyi, menghibur orang. Guru-guru sekolah dasar di kampung kami di NTT banyak yang jadi komposer musik. Jangan lupa, hampir semua lagu liturgi populer di Gereja Katolik Indonesia yang versi Flores justru dikarang guru-guru sederhana di kampung.

Tiba di Kupang, ibukota Provinsi NTT, saya langsung terpikat oleh irama dolo-dolo yang rancak. Irama tarian khas etnis Lamaholot di Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata, kampung asal yang sederhana itu. kualitas rekamannya jauh lebih bagus daripada kaset-kaset lama era 1980-an dan 1990-an seperti album MAUMERE MANISE atau NONA METAN ALEN BELARA.

“Gila! Industri musik pop di NTT sudah maju banget,” kata saya dalam hati. Saya pun mengecek siapa gerangan penyanyi yang mengangkat irama dolo-dolo itu.

Ehm, ternyata artis lewotana itu tak lain FELIX MATARAU. Suaranya lantang, aransemen musiknya dibuat dinamis, meskipun syair lagu berbahasa Lamaholot itu penuh dengan cerita duka, kesedihan, cina ditolak calon mertua, tak mampu bayar belis gading, hingga penderitaan yang luar biasa karena kemiskinan struktural khas Flores.

Saya paling suka lagu NONA MASIH KECIL 3. Oh ya, lagu NONA MASIH KECIL yang menjadi pengiring tarian dolo-dolo itu memang sukses besar, sehingga Felix Matarau merasa perlu membuat NONA MASIH KECIL seri 4, 5, bahkan bisa 10.

Maklum, melodi, irama, dan syair dolo-dolo ini bisa dikembangkan dalam berbagai versi sesuai keinginan penyanyi. Sejak dulu dolo-dolo memang memberi peluang yang besar kepada orang-orang kampung untuk menyusun syair sesuai suasana hati, situasi, dan kondisi. Yang pasti, irama dolo-dolo ini membuat orang-orang Lamaholot di perantauan macam saya selalu punya kerinduan pada kampung halaman.

TEGA NONA MASIH KECIL
TATA GANTO CINTA
SAMPE, SAMPE, SAMPE NONA BESAR

KALAU NONA SUDAH BESAR
TATA BAWA CINTA
SAMPE, SAMPE, SAMBO DAGING DARAH

Syukurlah, rekaman musik pop daerah NTT macam FELIX MATARAU dan ARY DIAZ saat ini bisa dijangkau dengan mudah melalui internet, khususnya youtube. Teman-teman dari NTT, atau dari luar NTT yang ingin mengenal irama khas pedalaman Flores, cukup duduk manis, ngopi, dan berselancar di internet.

Ehm, saya senang melihat cara Ary Diaz, gadis manis khas Lamaholot, menari dolo-dolo sambil menyanyi dengan suaranya yang serak-serak basah:

ONEM PIA DI PASTI RELA
MARIN SAJA O GO TATA E
AKE KURAN AKE PERNOHIN ONEM

BIAR MOE MITEN BELE
GOE PIA DI PEDULI HALA
ASAL TATA MO PIARA GOE

Kuplet terakhir itu artinya begini:

BIAR KULITMU HITAM LEGAM
ADIK TAK ‘KAN PEDULI
ASAL ABANG MAU MERAWAT SAYA

Syair yang bagus untuk kaum laki-laki berkulit gelap macam awak inilah. Hehehe....

04 August 2011

IJ Kasimo Katolik Nasionalis




Oleh HARRY TJAN SILALAHI
Sekjen Partai Katolik Republik Indonesia (1964-1971)

Sebagai orang yang secara pribadi mengenal Ignatius Joseph Kasimo (1900-1986), seorang pendiri dan pemimpin Partai Katolik Republik Indonesia, saya sering bertanya kenapa ia belum mendapat gelar pahlawan nasional secara formal. Padahal, dalam kenyataannya pengakuan itu sudah diberikan oleh masyarakat yang mengakui bobot perjuangan dan ketokohannya.

Bagi Kasimo, gelar itu pasti tidak penting, karena ia memang seorang pekerja tanpa pamrih. Tetapi pertanyaan itu muncul terkait dengan tema pluralisme bangsa yang menjadi wacana aktual dibicarakan sekarang. Kasimo adalah salah satu sosok pejuang kemerdekaan dan politis dari golongan Katolik yang sangat menjunjung tinggi pluralisme bangsa.

Di parlemen, Kasimo bisa berseberangan pendapat dengan Nasir dan kawan-kawan dari Masyumi, tetapi dalam keseharian hidup sebagai pribadi sesama anak bangsa, mereka amat dekat dan akrab. Keduanya mengaku amat diperkaya dengan sikap politik dan demokratis lewat peran dan interaksi di parlemen.

Di samping itu, sejumlah tokoh beragama Katolik yang mendapat gelar pahlawan nasional, seperti Ignatius Slamet Rijadi, Jos Soedarso, Agustinus Adisucipto muncul dari kalangan militer. Dan Mgr Soegijapranata SJ adalah anggota hirarki Gereja Katolik. Sebaliknya, tokoh politik dan masyarakat awam Katolik belum ada yang mendapat gelar pahlawan nasional.

PERJUANGAN KEMERDEKAAN

Kasimo adalah salah satu sosok yang memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan dan nation building Indonesia. Sejumlah fakta dapat dikemukakan mengapa IJ Kasimo pantas mendapat gelar pahlawan nasional.

Pertama, Kasimo telah memimpin umat Katolik di Nusantara ini untuk menjadi bangsa Indonesia yang merdeka. Setelah kemerdekaan, ia membina secara sosial politik kesadaran akan nasionalisme dan patriotisme Indonesia. Kasimolah pemberi ‘tenaga keindonesiaan’ bagi umat Katolik di Nusantara ini.

Sikap nasionalisme dan patriotisme itu telah ditanamkan benih-benihnya oleh para pendidiknya kepada Kasimo dan kawan-kawan sebaya semasa di sekolah di tempat Ndoro Toewan Pastor Van Lith, Pater Rijkevorsel, dan para guru lain di Kolese Xaverius di Muntilan.

Kalau KH Hasyim Ashary menganjurkan Jihad Fisabilillah dengan allahuakbar-nya melawan penjajahan Belanda pada 10 November 1945, maka Kasimo praktis menyerukan kepada orang Katolik (di) Indonesia untuk mendukung Proklamasi Republik Indonesia dan turut serta dalam ber-revolusi.

Kedua, Kasimo dalam memimpin perjuangan politik melalui Partai Katolik Republik Indonesia tidak menampilkan sikap sektarianisme Katolik, melainkan berdasar platform kebangsaan, yaitu Pancasila. Partai Katolik tidak menjadi partai konvensional, melainkan mendasarkan atas ajaran dan moralitas (Katolik). Bahkan, sejak awal kekatolikan Kasimo di dalam masalah-masalah sosial politik sungguh progresif revolusioner dan tidak konservatif.

Ketiga, kehadiran kepemimpinan Kasimo secara aktif di dalam revolusi kemerdekaan Indonesia sungguh turut ‘menguntungkan’ RI Merdeka di mata internasional meskipun umat Katolik di Indonesia kurang dari 2,5 persen dari jumlah penduduk pada waktu itu. keterlibatan Kasimo itu turut membentuk nasion Indonesia yang majemuk, multikultural-bhinneka tunggal ika, berdasarkan Pancasila. Faktor itu ditanggapi dan dimengerti oleh tokoh-tokoh nasional lain seperti Sutan Sjahrir, Bung Hatta, dan kemudian juga Bung Karno selama pembentukan nasion Indonesia. Pembentukan nasion itu dewasa ini kembali aktual.

Keempat, kedudukan Kasimo sebagai penjabat Komisariat Pemerintah Pusat di Djawa (KPPD) sehari-hari yang melakukan kerja sama yang sangat erat dengan Markas Komando di Jawa di bawah AH Nasution memiliki arti penting dalam penyelenggaraan pemerintahan selama presiden dan wakil presiden ditawan Belanda. Kedua tokoh itu banyak membuat keputusan-keputusan bersama sebagai legalitas formal dari pemerintah pusat RI di Jawa dalam masa gerilya Clash II dengan Belanda.

Sebagai pejuang kemerdekaan dan pengabdi masyarakat lewat sejumlah jabatan yang diembannya, selain jabatan dalam partai, Kasimo mencurahkan seluruh hidupnya. Dalam rangka totalitas melaksanakan tugas itu, ia rela berkorban dengan menomorduakan kepentingan keluarganya. Kasimo memang sepenuhnya hidup untuk partai dan perjuangan.

KESEDERHANAAN

Dalam keseharian hidup, Kasimo menunjukkan kesederhanaan dan sikap tanpa pamrih. Rekan-rekan yang sering bertandang ke rumahnya akan menjumpai bahwa selama 20 tahun mereka tetap disuguhi minum teh dengan cangkir yang sama. Menu makanan kesehariannya juga sederhana. Barangkali karena kesederhanaan itu, ia dianugerahi umur panjang.

Kesalehan pribadinya ditunjukkan tidak hanya dengan sikap doa dan ibadah, tetapi sikap yang terbuka dan selalu bersedia membantu orang lain dengan tulus hati. Kalau ia ditanya apakah benar ia telah membantu si A atau si B, maka jawaban standar dengan mengutip kata-kata dari Injil yang dikemukakan selalu: Kalau tangan kanan memberi, maka tangan kanan tidak boleh tahu.

Kesederhanaan juga ditunjukkan ketika para sahabatnya merayakan ulang tahunnya yang ke-80. Ia menyatakan bahwa ia tidak memberi kontribusi yang besar dan sebetulnya tidak layak dirayakan. Dalam undangan perayaan ditulis: “Resepsi sederhana.”

Kesederhanaannya juga ditunjukkan dengan jujur mengungkapkan salah satu vested interest-nya, yaitu “agar malam hari dapat tidur dengan nyenyak”. Kesederhanaannya menyebabkan Kasimo tahan terhadap godaan akan uang, jabatan, atau wanita. Sebagai pejabat negara, ia selalu menarik garis batas yang jelas antara mein und dein, milikku dan milikmu, termasuk milik negara dan masyarakat.

Meskipun dalam keseharian dan dalam acara resmi selalu berpenampilan gaya Jawa, tetapi dia tidak Java minded. Ia selalu berbahasa Indonesia dengan bersih, tanpa campur-campur bahasa Jawa. Demikian pula dalam berpolitik praktis, ia meskipun mengibarkan bendera Katolik, tapi kekatolikannya ditunjukkan dengan berpolitik ala Partai Katolik Demokrat di Eropa barat dan Amerika Latin.

Politik bagi Kasimo selalu memakai beginsel atau prinsip yang harus dipegang teguh. Kebijakan politik selalu ada dasar pemikiran yang melatarbelakangi sehingga setiap soal harus diajukan prealable vragen dulu. Oleh karena itu, sebagai politikus dari Partai Katolik yang berketuhanan, ia tidak mau berkompromi dengan Partai Komunis Indonesia. Menurut pengalaman di Eropa Timur, partai komunislah yang membunuh demokrasi karena memakai sistem totalier. Karena prinsip itulah, ia berani berseberangan dengan Bung Karno ketika dimunculkannya konsepsi presiden dengan Kabinet Empat Kaki Empat yang mengakomodasi partai komunis.

POLITISI BERKARAKTER

Kasimo teguh dalam prinsip, tetapi luwes dalam pergaulan dengan sesama anak bangsa. Dalam pergaulan ia lembah manah, rendah hati, dan bersemangat kekeluargaan. Ia tidak mau bombastis atau gegap gempita dalam pergaulan dengan mengorbankan perasaan orang lain secara pribadi. Benar-benar teladan seorang yang memegang teguh bhinneka tunggal ika atau yang sekarang disebut pluralisme atau keberagamaan.

Identitas kejawaan tidak menyebabkan ia sukuentris. Dari petarangan Katolik, tetapi bukan Katolik yang sempit atau fanatik, tetapi terbuka terhadap orang atau golongan lain. Apalagi bagi mereka yang memiliki tujuan dasar yang sama, yaitu mengabdi kepada bangsa dan negara ini. Baginya, demokrasi adalah harga mati. Demokrasi diartikannya sebagai tujuan, yaitu kedaulatan rakyat atau warga negara, juga proses yang telah disepakati bersama atau konsensus.

Karena demokrasi adalah proses, maka tidak ada tempat bagi politicking atau akal-akal politik yang menghalalkan cara untuk mencapai tujuan bagi diri sendiri maupun golongan. Berpolitik baginya adalah pengabdian sehingga menuntut pengorbanan. Pengorbanan itu telah diberikan Kasimo dengan rela hati sehingga tidak pernah menonjolkan jasa-jasa pribadinya kepada orang lain.

Sebagai seorang pluralitas sejati, Kasimo tidak alergi terhadap perbedaan, juga perbedaan ideologi yang bisa sangat tajam dalam parlemen atau konstituante. Bagi Kasimo, di negara bangsa Indonesia, semua orang tanpa kecuali harus merasa kerasan atau at home untuk tinggal di dalamnya. (*)

02 August 2011

Insya Allah dan Insya Tuhan




Sudah lama saya mencermati ungkapan INSYAALLAH yang sangat sering digunakan baik dalam bahasa tutur maupun tulis. Ungkapan ini dipakai karena si penutur tak ingin ‘melangkahi’ kehendak Tuhan.

“Kalau Allah menghendaki, saya datang,” begitu kira-kira maksudnya.

Bahkan, saya perhatikan, saat dilantik sebagai presiden Republik Indonesia, Jenderal Soeharto selalu pakai ungkapan ini: INSYAALLAH.

“Apakah Saudara Soeharto siap dilantik sebagai presiden Republik Indonesia?” tanya ketua Mahkamah Agung.

“Insyaallah!” jawab Soeharto.

Meskipun tentara sejati, jenderal tulen, Pak Harto tidak bilang SIAP, YA, LAKSANAKAN, dan sejenisnya. Di Jawa Timur, INSYAALLAH ini bisa kita dengar dalam percakapan mulai dari warung-warung kopi, restoran, hotel bintang lima, kantor media, hingga televisi.

Pertanyaannya, bagaimana penulisan INSYAALLAH yang benar menurut ejaan standar bahasa Indonesia? Ada beberapa versi:

Insyaallah (dirangkai)
InsyaAllah (dirangkai, Allah pakai A besar)
Insya Allah (paling banyak dipakai di Indonesia saat ini)
Insyallah (biasa dipakai politisi Partai Keadilan Sejahtera)


Kemarin, saya membaca lima koran dan satu tabloid hiburan. Saya menemui banyak ungkapan INSYAALLAH, maklum bulan RAMADAN (bukan RAMADHAN, bukan RAMADLAN, bukan RAMADHON, bukan RAMADLON, bukan ROMADLON, bukan ROMADHLON....).

Di majalah dan surat kabar di Indonesia, cara menulis INSYAALLAH memang berbeda-beda satu sama lain. Bahkan, di surat kabar yang sama penulisan INSYAALLAH berbeda di halaman 1, halaman 4, halaman 10, dan seterusnya. Apalagi bila surat kabar itu tidak punya copy editor atau penyunting bahasa yang berkualitas.

Mana yang standar?

Frase serapan bahasa Arab ini sebetulnya sudah dibahas JS Badudu, ahli bahasa Indonesia, pada tahun 1980-an. Tapi, seperti biasa, orang Indonesia sangat mudah lupa. Ingatan orang Indonesia memang pendek. Bahkan, terlalu banyak orang Indonesia yang kurang memperhatikan tata bahasa, morfologi, sintaksis, hingga ejaan standar.

Termasuk orang-orang yang seharusnya menjadi panutan macam guru, dosen, profesor, peneliti. Janganlah ditiru gaya bahasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memang sangat suka bersolek dengan ungkapan-ungkapan bahasa Inggris yang sudah ada padanan dalam bahasa Indonesia.

Nah, saya sendiri ingat betul uraian Jus Badudu meskipun buku lama terbitan Alumni Bandung milik saya itu sudah lama hilang. Menurut Pak Badudu, interjeksi serapan dari bahasa Arab itu HARUS ditulis serangkai. Tidak dipisahkan. Dan itu tak hanya berlaku untuk INSYAALLAH, tapi juga interjeksi-interjeksi sejenis.

Beginilah penulisan yang benar itu:

insyaallah BUKAN insya Allah BUKAN insyaAllah.


(Jika dipakai di awal kalimat, tentu saja ditulis dengan I besar, misalnya: “Insyaallah, Indonesia ikut Piala Dunia!”

masyaallah BUKAN masya Allah
subhahanallah BUKAN subhahana Allah
alhamdulillah BUKAN alhamduli Allah



Sering saya mendengar ungkapan menggelikan dari beberapa mahasiswa dan aktivis gereja, khususnya Gereja Katolik, di Surabaya. Hanya karena mencoba menghindari kata ALLAH (di Malaysia bisa diproses hukum, karena kata ALLAH tak boleh digunakan warga non-Islam!), maka beberapa dari mereka menggunakan ungkapan INSYA TUHAN. Hehehe....

Sejak kapan ada ungkapan INSYA TUHAN?

Hehehe.... Ada-ada saja!

Saya pernah menjelaskan secara panjang lebar kepada Anggraeni, mahasiswi Universitas Bhayangkara Surabaya, yang beragama Katolik. Cewek yang tinggal di Sidoarjo ini selalu menggunakan ungkapan INSYA TUHAN dalam kalimat tuturnya meskipun, saya tahu, ada nuansa guyon atawa informal khas remaja.

“Dalam bahasa Indonesia kita tidak kenal istilah INSYA TUHAN. Yang benar hanya INSYAALLAH. Dan ungkapan itu boleh dipakai semua orang Indonesia, apa pun agamanya,” kata saya menirukan penjelasan Pak Badudu, pakar bahasa yang saya kagumi itu.

“Lantas, bagaimana ucapan INSYAALLAH yang benar?”

“Harus mengikuti logat Arab karena INSYAALLAH ini termasuk serapan utuh.”

Mudah-mudahan Anggareni dan kawan-kawan tidak membuat pelesetan yang tidak perlu seperti MASYA TUHAN.