18 July 2011

Wakil PM Malaysia Lawat Surabaya



Wartawan televisyen (televisi) Melayu Malaysia sibuk bikin laporan di kantor Radar Surabaya. Kerja keras!


Jumat 15 Juli 2011. Kaget juga saya menyaksikan begitu banyak orang berpenampilan formal berjubel di depan newsroom kami. Suasananya macam di Kuala Lumpur atau Johor saja. Kata-kata yang mirip bahasa Indonesia, tapi lagunya beda. Ada apa gerangan ini?

Aha, saya kenal seorang perempuan asal Sabah, Malaysia Timur, Aurelia. “Ape kaber? Selamat datang balik ke Surabaye!” sapa saya dengan logat Malaysia yang kurang fasih. Hehehe...

Akhirnya, saya dikasih tahu bahwa ada tamu sangat-sangat penting, VVIP, tengah mengunjungi markas Jawa Pos di Graha Pena Surabaya. Wakil Perdana Menteri Malaysia Tan Sri Dato’ H Muhyiddin Mohd Yassin. Sebagai pejabat penting negara jiran, Pak Muhyiddin membawa sejumlah staf, pejabat tinggi, dan tentu saja... rombongan wartawan. Sebagian besar Melayu, tapi ada beberapa berwajah India.

Saya juga lihat seorang xiaojie, seorang wartawati Tionghoa, yang meminjam tempat Indra Wijayanto, staf pemasaran Radar Surabaya, untuk mengetik berita dengan laptopnya. Sibuk benar pemberita-pemberita Malaysia sore itu. Dus, kita orang tidak bisa banyak cakap karena teman-teman Melayu ini harus mengejar tenggat, deadline. Mungkin, kali lain teman-teman pemberita dari Malaysia ini boleh melawat lagi dengan suasana yang lebih santai.

“Di mana tempat salat?” tanya seorang wartawan Melayu.

“Oh, sila tuan turun di tingkat dua, ada musala,” jawab saya.

Begitulah. Salat magrib petang itu di Graha Pena jadi istimewa, kata teman saya, karena langsung diimami Pak Muhyiddin, timbalan PM Malaysia.

“Moga-moga doa Pak Muhyiddin dan pejabat-pejabat Malaysia ini bisa membuat Indonesia lebih maju, makmur, kaya, tak lagi mengirim pembantu dan kuli-kuli kasar ke Malaysia...,” kata saya dalam hati.

Setiap kali bicara tentang Malaysia, saya memang selalu ingat pekerja-pekerja unskilled Indonesia, tenaga kerja Indonesia (TKI), yang jumlahnya lima juta atau mungkin delapan juta. Jauh lebih banyak daripada jumlah penduduk Singapura, apalagi Brunei Darussalam.

Jika Indonesia tetap tidak maju-maju, doyan korupsi, tak punya komitmen untuk membuat lapangan kerja... bukan tak mungkin TKI di Malaysia membengkak jadi 15 juta orang dalam beberapa tahun ke depan. Dan itu sangat mengerikan bagi citra Indonesia di mata orang Malaysia. Kita bakal tetap dipandang remeh, negara pengekspor pembantu, bangsa tak berpendidikan... dan bangsa kuli! Dan kuli tak pernah tegak sama tinggi, duduk sama rendah, dengan sang majikan.

Wakil PM Malaysia Muhyiddin Yassin petang itu juga berbincang-bincang dengan para kuli di Surabaya. Tapi yang ini kuli tinta alias kuli flashdisk alias kuli laptop alias wartawan. Kuli macam ini bolehlah diajak diskusi karena wawasan dan pendidikannya relatif lebih baik ketimbang jutaan TKI di Malaysia itu. Ada juga 16 pengusaha muda Surabaya yang diajak diskusi di sesi kedua.

Sebagai tamu yang baik, Pak Muhyiddin mengapresiasi Indonesia. Negara tetangga yang bahasa nasionalnya mirip karena memang diangkat dari bahasa Melayu. Hubungan Indonesia-Malaysia harus dijaga karena kedua negara saling membutuhkan. Masalah perbatasan selalu timbul tenggelam, tapi kedua negara selalu mengedepankan perundingan. Tak akan ada perang antara Malaysia dan Indonesia!

“Kecuali perang kata-kata dan saling gertak! Hehehe...,” yang ini tambahan saya sendiri.

Pak Muhyiddin melihat Indonesia, khususnya Provinsi Jawa Timur, punya potensi ekonomi yang besar. Dengan penduduk 40 juta, Jawa Timur punya kekuatan pasar. Apalagi, Surabaya sejak dulu menjadi lokomotif ekonomi di kawasan Indonesia Timur.

Kita di Surabaya layak bangga dengan apresiasi Wakil PM Malaysia. Begitu strategisnya Surabaya dan Jawa Timur, Pak Muhyiddin ‘tembak langsung’ ke Surabaya dengan pesawat pribadi (atau pesawat kerajaan?) tanpa melalui Jakarta. Pak Muhyiddin juga berani ‘menerobos’ pagar birokrasi atau protokoler. Kunjungan beliau ke Surabaya ini memang diniatkan untuk silaturahmi, diskusi, berbincang dengan redaksi media-media di lingkungan Grup Jawa Pos plus pengusaha muda Surabaya.

Terobosan Pak Muhyiddin ini, saya kira, tak lepas dari ‘provokasi’ Karim Raslan. Kolumnis terkenal dari Malaysia ini sudah lama memposisikan diri sebagai jembatan penghubung Indonesia-Malaysia. Karena banyak duit---Karim ini putra bankir terkenal Malaysia--Karim bisa dengan leluasa berkeliling kota-kota dan desa-desa di Malaysia dan Indonesia untuk mencari bahan tulisan. Karim Raslan selalu tenang, bijaksana, dan mampu melihat dengan jernih dinamika hubungan Malaysia-Indonesia.

Berbeda dengan wartawan-wartawan dan kolumnis-kolumnis Malaysia lainnya, sejak lama Karim Raslan melihat potensi Indonesia yang sangat besar di masa depan. Indonesia begitu luas, penduduknya banyak (230 juta), punya kekayaan alam, kaya seni budaya, alam nan indah... serta warga kelas menengah yang punya wawasan. Karim juga melihat demokrasi yang sedang berjalan sekarang, meski tidak mulus, membuat Indonesia ibarat ‘raksasa tidur’ yang sedang menunggu saat tepat untuk bangkit.

“Nanti justru orang-orang Malaysia yang datang ke Indonesia untuk cari kerja,” kata Karim Raslan. Basa-basi khas Melayu untuk menyenangkan tamu, atau bisa jadi pandangan optimistis ini ada benarnya. Kita lihat saja!

Eh, ngomong-ngomong bagaimana dengan kebebasan pers di Malaysia?

Wakil PM Malaysia Pak Muhyiddin dengan gaya yang cair bilang tak ada masalah dengan pers di Malaysia. “Pers di Malaysia cukup bebas. Kami tidak mengekang pers,” katanya.

Teman-teman pekerja pers di Surabaya tersenyum, ada yang tertawa kecil. Hehehe... Kita tentu tahu beberapa hari lalu polisi Malaysia membubarkan unjuk rasa ribuan orang di Kuala Lumpur, kemudian menangkap seribu lebih tokohnya. Pak Anwar Ibrahim, tokoh utama pembangkang (oposisi), sempat pula dirawat di hospital karena terkena pentungan aparat keamanan.

Media-media di Malaysia tentu saja menulis kejadian ini dengan ‘angle’ resmi pemerintah. Sangat musykil kita membaca pernyataan kritis orang macam Anwar Ibrahim di koran-koran utama Malaysia. Tak ada ruang bagi pembangkang untuk bikin koran atau media karena sistem pengawasan media di Malaysia tak ubahnya rezim Soeharto di Indonesia.

Menurut Yang Mulia Pak Muhyiddin, Malaysia punya aturan yang harus dipatuhi oleh semua media massa. Apakah aturan itu sama atau tidak dengan yang berlaku di Indonesia, “Itu soalan berbedza!” tegas Pak Muhyiddin.

Kata-kata Pak Muhyiddin tentang pers atau media ini mengingatkan saya pada Harmoko, menteri penerangan paling top di era Orde Baru, tangan kanan Presiden Soeharto (1966-1998). Tugas utama Harmoko adalah mengawasi pers, menentukan pemimpin redaksi hingga kebijakan redaksional demi mengamankan rezim Orde Baru yang otoriter. Tak ada ruang bagi oposisi. Menpen Harmoko dengan enteng mencabut izin surat kabar kapan saja.

Tapi, setiap kali dikritik, Menteri Harmono selalu mengatakan bahwa sistem pers di Indonesia paling baik di dunia. Alasan Harmoko: Indonesia tidak menganut paham liberal ala media-media Barat, juga bukan penganut sistem pers sosialis-komunis, melainkan PERS PANCASILA. Berkat sistem Pancasilan itulah Orde Baru bisa bertahan selama 32 tahun sebelum digulingkan oleh gerakan reformasi mahasiswa pada 21 Mei 1998.

Semoga Pak Muhyiddin, Karim Raslan, dan teman-teman wartawan Malaysia bisa mengambil hikmah kebijaksanaan dari sistem pers otoriter ala Indonesia yang ternyata keropos. Malaysia Boleh!

9 comments:

  1. Tiada apa di dunia ini yang bebas total. Setiap kebebasan juga ada batasnya. Sama seperti media.Adakala penulisan yang menggunakan emosi itu bakal hancur ketimbang tulisan dari akal. Malaysia masih tidak menghantar rakyatnya bekerja ke Indonesia seperti TKI sampai saat ini kerana Malaysia menghormati kebebasan yang ada batasannya.Permainan jalanan hanyalah untuk mereka yang mabuk kuasa.

    ReplyDelete
  2. Malaysia is a rich nation but not free...

    ReplyDelete
  3. indonesia perlu belajar dari malaysia bagaimana mengelola negara, membuat negara makmur, sehingga tak perlu ada lagi TKI-TKI yg cari kerja di malaysia. org butuh kerja, butuh makan, tak butuh demokrasi...

    buat apa demokrasi kalau rakyat indonesia tetap miskin?????

    ReplyDelete
  4. Betul Anon 9:09 PM, July 18, 2011.Demokrasi itu harus wujud berasaskan acuan negara itu sendiri. Jangan samakan demokrasi dengan negara lain.Sebagai rakyat Malaysia saya masih sedih, cerita Kedutaan Malaysia di lempar najis dan bendera Malaysia dibakar belum mendapat pembelaan sewajarnya dari kerajaan Indonesia.Pelakunya bakal membuat onar lagi atas nama kebebasan bersuara dan demokrasi kerana tiada siapa menghalangnya walhal itu bukan budaya kita orang Timur.Hari ini di Malaysia, cara sebegitu telah mula wujud.Apakah ini demokrasi yang kita mahukan???

    ReplyDelete
  5. paling baik: demokrasi dan makmur. negara2 berkembang macam indonesia agak susah kalau dipaksa menggunakan sistem demokrasi liberal ala USA. jadi kacau macam india.... saya lebih suka china yang keras dan otoriter tapi mampu membuat rakyatnya makmur.

    kita gak usahlah bicara demokrasi selama rakyat indonesia masih susah. merdeka!!!

    johny halmahera

    ReplyDelete
  6. tiap2 negara punya sistem yg berbeda. yg penting bagaimana membuat rakyat bisa makan, bisa kerja... itu yg gagal dilakukan indonesia sejak merdeka tahun 1945.

    ReplyDelete
  7. Negara Amerika Serikat sebelum jadi negara superpower di abad ke-20, tadinya sampai abad ke-19 juga negara berkembang. Tapi tetap demokrasi. Bedanya dengan di Indonesia sekarang ialah: elit politik di Amerika ialah orang-orang terpelajar dan berbudi pekerti tinggi, seperti para founding fathers Indonesia pada awalnya. Sayang sekali budaya politik Indonesia jadi bobrok busuk rusak dalam pemerintahan Suharto, dan sekarang penyakit tersebut susah sekali sembuh. Tunggulah satu generasi lagi (25 tahun). Dalam pada itu, jangan kebebasan pers dan demokrasi disalahkan, seperti di Malaysia.

    ReplyDelete
  8. malaysia tak cocok dg demokrasi krn tradisi n budaya feodal kebangsawanan. malaysia itu sejatinya kerajaan melayu islam, di mana bangsa melayu diutamakan di atas bangsa cina n india. kalo demokrasi maka semua kaum jadi setara n tak cocok dengan budaya bangsa melayu. lagipula, buat apa demokrasi kalau malaysia sudah makmur dgn sistim yg berlaku sekarang????

    ReplyDelete
  9. Kasian negaraku Indonesia.....rakyatnya jad pembantu di Malaysia

    ReplyDelete